Jumat, 02 Juni 2017

Seperti Hujan yang Jatuh Ke Bumi



Aku pernah belajar merelakanmu berkali-kali. Melepasmu pergi mencari cinta yang lain. Membiarkan kesempatan memilikimu hilang untukku. Sebab kamu berhak bahagia; meski sesungguhnya aku tidak bahagia dengan keputusan itu.

Kupikir hidup akan baik-baik saja. Semua harus berjalan seperti sedia kala. Kamu dengan seseorang yang dipilihmu. Aku entah dengan siapa,sendiri atau dengan yang lain. Aku mulai mencoba memberikan hatiku pada seseorang yang lain. Kubiarkan siapapun menggantikanmu. Namun, aku keliru. Melupakanmu ternyata tidak pernah semudah itu.

Ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Boy Chandra. Entah kenapa saya tertarik ketika melihat covernya dan tulisan belakang buku tersebut. Sebelumnya karena memang penasaran sih, btw kenapa di setiap bukunya ada kata senja atau hujan? Kenapa yah?

Mulai baca bab awal saya suka dengan gaya Boy Chandra bercerita. Di sana saya berkenalan dengan salah satu tokoh bernama Juned yang lagi patah hati, dan penggambaran patah hatinya itu dapat banget. Saya berpikir sekaligus penasaran gimana cara Juned menyembuhkan patah hatinya? Bayangin aja pacarnya dihamilin sahabatnya, untung cuma pacar. (perlu gak sih bilang kalo itu keberuntungan?)

Bab selanjutnya  saya bertemu dengan Nara dan Kevin, tapi saya masih belum menemukan benang merah antara mereka bertiga, Juned itu siapanya Nara dan Kevin? Ceritanya berubah, alurnya juga berubah, padahal saya masih menikmati kisah lelaki yang lagi patah hati itu! Ow... Ternyata yang ingin diangkat bukan kisah Juned, padahal ekspekstasi saya sudah terlalu besar di situ. Saya bertanya-tanya, kenapa ia dikhianati? Bagaimana  Juned melanjutkan hidupnya? Tetapi saya tidak menemukan itu.

Berbeda halnya dengan Kevin, ia berperan sebagai sahabat Nara yang diam-diam jatuh cinta, tapi tidak berani mengungkapkannya karena tidak mau menghancurkan persahabatan mereka. Yup, kisah yang sudah sering saya baca sebenarnya, tetapi setiap penulis memiliki karakter tulisannya sendiri, bukan?

Ngomong-ngomong proses pertemuan Juned dan Nara juga biasa saja, saya heran kenapa mereka bisa saling jatuh cinta, karena sebagai pembaca saya kurang mendapat feelnya.  Tetapi saya biasanya tidak menyelesaikan bacaan ketika saya tidak mood, tetapi berbeda dengan novel ini.  Meskipun saya kurang suka dengan alur ceritanya tetapi saya tetap lanjutkan membaca karena seperti yang saya bilang, saya suka dengan gaya tulisannya. Kata-kata yang disampaikan keren, sehingga saya memerlukan pensil untuk menandai beberapa kalimat yang saya suka dan saya menikmati saat membacanya. Mungkin suatu saat saya akan membaca tulisan Boy Chandra yang lain.

Quote’s Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi:

"Tidak ada yang tahu kapan cinta pastinya datang. Tetapi kita selalu tahu kapan kita harus memulai"
(Hal. 148)

Jika kamu menanam biji padi maka akan tumbuh menjadi padi, juga bila kamu menanam biji nangka akan tumbuh menjadi pohon nangka. Namun berbeda jika menanam "HARAPAN", bisa jadi yang tumbuh adalah kebahagiaan, atau malah kesedihan. Sebab, harapan bukan bibit berbentuk pasti. Harapan yang ditanam akan tumbuh tergantung bagaimana perawatannya.

Hal yang paling sulit dari memendam perasaan pada sahabat sendiri adalah saat dia bercerita tentang orang yang ia cintai, dan kita harus menyediakan wajah bahwa kita menyukai ceritanya.
(Hal. 32)

Andai kamu paham bagaimana rasanya mencintai seseorang yang terus memintamu mencintai orang lain.
(Hal. 161)

Penulis   :Boy Candra
Kategori Fiksi (Novel)
Penerbit Mediakita
288 halaman
Rp. 65.000


Peresensi: Erny Binsa

0 komentar: