Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Mei 2017

How to Win Friends and Influence People in the Digital Age



Buku-buku pengembangan kepribadian selalu menarik bagi saya.  Walau untuk menekuninya saya  membatasi  diri hanya membaca karya  beberapa penulis saja (maksudnya hanya beberapa penulis saja yang bahasanya nyambung dengan mesin prosesor di kepala saya yang sudah rada lemot). Dan buku karya  Dale Carnegie (DC) sebelumnya belum pernah menarik perhatian saya.

Namun  kalimat pembuka yang menggugah, serta merta  menggiring saya untuk melakukan  perjalanan pertama  menyelami pemikiran DC ini.Kalimat pembuka yang menggugah itu adalah: mengapa saran dari Carnegie masih penting?.. sungguh kalimat yang  sangat rendah hati. Lebih jauh, ternyata buku ini membahas hal hal terkait komunikasi di era digital berdasarkan saran2 atau prinsip2 berkomunikasi dari seorang  Carnegie yang  wafat tahun 1955.

Tahun 1936, Dale Carnegie melontarkan pernyataan:  ‘kemungkinan besar masalah terbesar yang anda hadapi adalah berurusan/ berhubungan/ berkomunikasi dengan orang lain’. Walau saat ini jaringan komunikasi telah meluas melewati batas teritori, industry dan ideology, pesan2 berkembang  dan berubah menjadi  pesan2 instan, namun  tampaknya pernyataan itu masih relevan hingga sekarang.

Di tengah belantara sosial media saat ini, kata kata yang salah atau salah dimengerti, atau kekurang-tepatan dalam berkomunikasi  bisa mengakibatkan bencana yang lebih luas/fatal.  Kasus  penistaan agama  yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini menjadi contoh yang paling nyata.

Buku ini adalah salah satu karya DC yang paling terkenal dan laris. Tulisan2 dan kursus2 beliau mungkin tidak memecahkan misteri terdalam di alam semesta ini. Namun  lebih dari siapapun dari generasinya,  beliau telah membantu manusia belajar cara untuk hidup bersama-sama, yang terkadang terasa seperti kebutuhan terbesar yang ada, demikian salah satu tulisan dari sebuah surat kabar di Washington.

Buku klasik yang telah terjual puluhan juta kopi ini masih menjadi salah satu buku terlaris, karena penjabarannya yang sederhana, ringkas dan  prinsip-prinsip nya yang  tak lekang oleh waktu. Buku ini adalah panduan hubungan manusia yang berasal dari lubuk hati yang terdalam.  Buku ini menuntun kita untuk memiliki pengaruh yang berkelanjutan sebagai hasil dari hubungan yang memberikan kemajuan dan keuntungan bersama. Setidaknya itu yang disampaikam dalam prakata buku ini..

Kehidupan di Era Digital adalah kehidupan yang menuntut kecepatan, instan, dan mencari keuntungan bisnis yang besar.. sehingga perlahan orang mulai mengabaikan sopan santun dan tata krama/etika.. tersinggung karena kata2 yang terasa kurang berkenan akan dibilang ‘baper’.. #dan kebanyakan orang cenderung ngga suka dibilang baper.. Padahal pengabaian pada hal hal yang berkaitan dengan penerimaan hati  tersebut.. justru kadang membuat hasil yang diharapkan cepat menjadi lambat.  Disinilah mengapa prinsip Carnegie tetap dibutuhkan..

Era digital, adalah era dimana teknologi bisa membuat reputasi lebih cepat dan lebih  mudah hancur dibanding era sebelumnya. Kritik tersembunyi bisa membuat anda didenda atau dipenjara. Keluhan sembrono bisa membuat kita dipecat. Berhentilah membuat boomerang bagi diri sendiri, tidak ada orang yang suka dicela.. karenanya jangan mencela. Cari dan gali lah hal hal baik dalam diri orang lain karena pada dasarnya setiap orang ingin dihargai, setiap orang butuh dihargai, setiap orang merasa berharga. Cari tahu, pahami dan penuhilah  kebutuhan inti orang lain  sebelum memenuhi kebutuhan diri kita sendiri. Jadilah seorang altruis..

Dan 3 point ini menjadi dasar/pondasi dalam suatu hubungan yang mempengaruhi dan bertahan lama. Sekalipun hubungan atasan dan bawahan, jika ingin mencapai kemajuan yang pesat, jadilah atasan yang memiliki pengaruh bukan sekedar karena  posisi/jabatan.  Terpenuhinya 3 hal ini pada diri seseorang menurut DC akan mampu menghubungkan dan mempengaruhi sekalipun secara fisik jarang berjumpa. 

Pada bab lainnya DC memaparkan tips2 atau langkah2 praktis untuk membangun hubungan seperti: tersenyum, mengingat nama, banyak mendengarkan, jangan pernah berkata: kamu salaah,  akui kesalahan, dan masih banyak lainnya. #Point2 yang sering dibahas di buku2 sentuhan hati juru dakwah..

Beberapa ahli memasukkan apa yang DC sampaikan sebagai soft skill.. yang walaupun diakui sebagai sesuatu yang dapat menunjang kesuksesan namun secara umum orang lebih banyak memperhatikan dan menghargai  terpenuhinya hardskill daripada softskill..

Akhirnya,  satu pesan menarik di akhir buku, amat sangat mempengaruhi saya: Memang benar bahwa saat ini dunia terbuka untuk bisnis. Tetapi tugas pertama Anda tetaplah bisnis kemanusiaan..

Penulis: Dale Carnegie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 257
Peresume: Trisa


Selasa, 28 Februari 2017

Sehari Di Kediaman Rasulullah

Mayoritas kaum muslimin pada hari ini terjebak diantara dua sikap yang kontradikrif terhadap Rasulullah, ada yang berlebih lebihan terhadap Beliau bahkan sampai terseret ke dalam perbuatab syirik dan ada pula yang memandang remeh kedudukan Beliau sebagai utusan Allah SWT.

Buku kecil ini hadir sebagai upaya memperkenalkan biografi dan seluk beluk kehidupan Rasulullah. Kehidupan Rasulullah SAW adalah sebagai penuh tauladan bagi umat, acuan dakwah sekaligus peduman hidup. “ Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”(Al-Qalam:4).

Kita akan mengadakan kunjungan istimewa, mengunjungi Rasulullah SAW di rumah beliau melalui untaian kata dan kalimat. Seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, banyak literatur-literatur yang dibaca kaum muslimin, mereka dapat dengan mudah mengunjungi Timur dan Barat melalui buku-buku, tulisan-tulisan dan film. Penulis mengingatkan kita akan kunjungan syar’i ke rumah Rasulullah SAW dari pada mereka.

Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa mencintai beliau termasuk salah satu sebab mendapat manisnya iman. Perjalanan menuju rumah Rasulullah SAW merupakan sebuah perjalanan yang sarat ibrah dan pelajaran, penuh teladan yaitu perjalanan melalui kitab-kitab dan riwayat-riwayat dari lisan para sahabat.

Rasulullah menetap di kota Mekkah selama lebih kurang sepuluh tahun setelah itu hijrah ke Madinah. Mengunjungi kota Madinah, maka akan terlihat gunung Uhud yang dikatakan Rasulullah SAW “ ini adalah gunung yang mencintai kami, dan kamipun mencintainya (Muttafaq ‘alaih).

sebelum memasuki kediaman Rasulullah SAW, sejenak kita melihat bangunannya. Sebuah bangunan kecil yang sangat sederhana yang sangat zuhud terhadap dunia. Beliau tidak menoleh pandangan pada kemewahan dan gemerlapan harta benda dunia. Yang menjadi penyejuk mata hati beliau hanyalah ibadah sholat.

‘ Aku tak tertarik dengan dunia! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengendara  yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera pergi dan meninggalkannya (untuk kembali melanjutkan perjalanan). (HR. At Tirmidzi).

Saat memasuki rumah beliau, terlihat kamar-kamar yang sederhana, dibangun dari pelepah kurma dan polesan tanah, sebagian lagi dengan batu yang di tata sedemikian rupa. Langit- langit rumah tersebut dapat dijangkau dengan tangan. Kesederhanaan itu penuh dengan cahaya keimanan dan ketaatan dengan wahyu dan risalah ilahi.

Sahabat yang melihat langsung Rasulullah SAW menceritakan agar kita seolah-olah melihat beliau. Al-Bara bin Azib menuturkan” nabi adalah seorang yang sangat tampan wajahnya, sangat bagus postur tubuhnya, beliau tidak jangkung dan tidak pula pendek.” (diriwayatkan oleh al-  Bukhari).

Beliau adalah seorang yang rendah hati lagi lemah lembut. Kepedulian beliau terhadap umat ialah dengan memperhatikan tingkatan intelektualitas dan pemahaman mereka di dalam berkomunikasi, hal itu menunjukkan beliau adala seorang yang sangat penyantun lagi sabar.

Rasulullah SAW biasa minum dengan sebuah gelas terbuat dari kayu yang tebal dan disepuh denga besi. Dengan gelas itu Rasulullah biasa meminum air, Nabidz, madu dan susu.

Beliau juga sangat setia menjaga hubungan tali silaturrahim dengan karib kerabat. Khadihah melukiskan sifat beliau dengan ucapannya “ Engkau adalah seorang yang suka menyambung tali silaturrahim dan selalu berkata jujur”. Betapa besarnya kecintaan Rasulullah kepada karib kerabatnya, beliau mendakwahi, membimbing, serta menyelamatkan mereka dari api neraka. Beliau begitu tabah dalam menghadapi segala macam kesulitan untuk itu. Saat berusia 7 tahun beliau menziarahi makam ibunya.

Aktivitas Rasulullah SAW, tidak ada satu perkarapun yang melalaikan Rasulullah dari beribadah dan berbuat ketaatan. Beliau segera menyambut seruan adzan dan meninggalkan segala aktivitas duniawi.

Dalam aktivitas terhadap makanan, beliau memakan apa yang disajikan, beliau tidak menolak makanan yang dihidangkan dan tidak mencari-cari apa yang tidak tersedia.

Rasulullah adalah seorang yang banyak berdoa, memohon dan menunjukkan ketergantungan kepada Allah. Beliau senantiasa berdoa dalam keadaan lapangmaupun sempit. Saat perang Badar, beliau berdoa kepada Alla SWThingga selendang beliau jatuh dari kedua pundaknya.

Dipenghujung kunjungan, Rasulullah  SAW memiliki hak yang wajib ditunaikan untuknya. Supaya menyempurnakan kebaikan yang kita peroleh.

Perpisahan, kita akan bertolak meninggalkan rumah yang dibangun di atas pilar-pilar iman dan ketaatan. Tinggalllah sunnah Rasulullah SAW dalam genggaman kita, sebagai rambu kehidupan yang menghendaki keselamatan dan sebagai pedoman bagi yang menghendaki hidayah.

Judul buku: Sehari Di Kediaman Rasulullah
Penulis: Abdul Malik Bin Muhammad Al-Qasim
Penerbit: Darul Haq
Halaman: 126
Peresume: Belia Laksmi Masril
24 Februari 2017


Rabu, 15 Februari 2017

Seni Kepemimpinan Para Nabi

Deskripsi

Kuliatas kepemimpinan menjadi salah satu indikator penting maju tidaknya suatu bangsa. Membahas tentang kepemimpinan berarti kita harus menguraikannya dalam konteks kekinian, tentang idealisme kepemimpinan menurut islam.
Buku ini disusun dengan semangat belajar dan meneladani best practises dari para nabi terdahulu dalam memimpin dan membawa umatnya menuju jalan cahayapada masa mereka. Mencontoh kepemimpinan para nabi terdahulu untuk memajukan bangsa dan negara.

Resume

Semua insan adalah pemimpin, minimal meimmpin dirinya sendiri. Dalam hidupnya setiap insan saling terhubung dan saling mencontoh. Contoh terbaik tentunya insan yang merupakan pilihan Allah swt. yaitu Para Nabi dan Rasulullah.
Kepemimpinan para nabi (profetik) memiliki tujuan yang sama yaitu mendapatkan kemerdekaan yang hakiki, yaitu membebaskan penghambaan kepada manusia atau mahluk Allah swt lainnya dan hanya menghamba kepada Allah swt semata.
Kepempinan profetik dapat dipelajari dari kisah-kisah para Nabi dalam Al Quran.

“Allah telah mengirim kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendakidari penghambaan kepada hamba menjadi penghambaan kepada Allah, dan dari sempitnya dunia menuju keluasan dunia akhirat, dari penyimpangan agama-agama yang ada menuju keadilan Islam”
-Rubai bin Amir kepada Panglima Persia, Rustum-

Tahapan kepemimpinan profetik menurut Kunto dalam Seni Kepempinan Para Nabi adalah :
1.      Misi humanisasi (ta’muruna bil ma’ruf). Memanusiakan manusia. Meningkatkan harkat dan martabat manusia dan menjadikan manusia bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
2.      Misi liberasi (tanhauna ‘anil munkar). Misi membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan ketertindasan.
3.      Misi transendensi (tuminuna billah). Manifestasi dari misi humnisasi dan liberasi yaitu berupa kesadaranIlahiah yang mampu menggerakan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan.

Pemimpin petama yang diciptakan oleh Allah adalah Nabi Adam as. Merupakan manusia pertama yang Allah ciptakan dan sekaligus merupakan pemimpin profetik manusia. Kisahnya termaktub dalam QS Al Baqarah ayat 30 :

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat :’Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata :’pakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di dunia, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman :”Sungguh aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Kriteria utama kesuksesan  seorang pemimpin adalah keasadaran akan peran dan fungsinya sebagaui khalifah atau wakil Allah di muka bumi.pemimpin harus memiliki visi dan misiilahiyah yang kuat sehingga membantu mewujudkan “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.”

Dalam yat-ayat lain di dalam Al Quran dituliskan bahwa seorang pemimpin profetik itu harus berilmu, kuat dan amanh. Misalnya tersurat dalam :

QS Al Baqarah: 247
“...Allah telah memilihnya (Thalut) menjadi raja kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa saja yang ia kehendaki, dan Allah maha Luas Maha mengetahui.”

QS Yusuf :22
“Dan ketika dia (Yusuf) telah cukup dewasa, kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu...”

Qs Al Anbiya : 79
“Maka kami telah memberikan pengertian kepad Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) kami berikan hikmah dan ilmu...”

QS Al qashash :26
“Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata : wahai ayahku (Syuaib), jadikanlah ia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”

Ilmu adalah pengetahuan dan hikmah adalah yang menjadikan sesorang bijaksana dalam mengambil keputusan. Sejalan dengan sunatullah dan akal sehat.
Seorang pemimpin jika lemah ilmunya, cenderung mudah mengeluh, emosional, gegabah dalam bertindak.
Pemimpin profetik juga adalah seorang yang amanah. Memiliki kredibilitas dan integritas tinggi.

Lebih terperinci  syarat kepempinan dalam Qs Al Maidah 55-56:
Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”

Resume by Erna Maryati on Janury 20th 2017
Identitas buku
Judul                : Seni Kepemimpinan Para Nabi
Penulis             : Bachtiar Firdaus
Penerbit           : Quanta
Tahun terbit     : 2016

Jumlah halaman : 291+xxxii


Anies, Tentang Anak Muda, Impian dan Indonesia

Berbicara tentang Anies Baswedan, memang tidak akan jauh-jauh dari bidang pendidikan. Di usia muda, Anies menjadi rektor Universitas Paramadina (halaman 113). Ini menjadi rekor, karena ini membuktikan Anies sebagai rektor termuda. Meski dianggap orang baru dan baru selesai kuliah, ternyata Anies mampu dan malah membuat keputusan dan kebijakan positif yang bisa disebut sebagai prestasi selama menjadi sebagai rektor. Salah duanya Anies membuat mata pelajaran anti korupsi dan membuat beasiswa Paramadina Fellowship.
            Anies juga terkenal sebagai penggagas Gerakan Indonesia Mengajar dan Gerakan Turun Tangan.  Gerakan Indonesia Mengajar adalah gerakan yang bertujuan mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah terkecil, menarik minat lulusan terbaik perguruan tinggi untuk mengajar, membangun jaringan peningkatan  pendidikan di daerah, dan meningkatkan kualitas pengajaran di Sekolah Dasar. Gerakan ini sangat diapresiasi dan diminati oleh banyak anak muda Indonesia, buktinya pada 10 November 2010, diberangkatkan angkatan pertama Pengajar Muda yang terseleksi dengan total 51 sarjana muda yang disebar ke lima propinsi di Indonesia (halaman 61).
            Anies mengakui bahwa gerakan ini bukan murni gagasannya, karena dia pun terinspirasi dari pendahulunya di UGM yaitu Prof. Dr. Koesnadi Harjasoemantri yang membuat Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) di tahun 1950. Karena menganggap gagasan PTM ini sangatlah bermanfaat, karenanya Anies meneruskan dengan membuat GIM dan angkatannya terus berlanjut hingga sekarang dan semakin luas jangkuan daerah terpencil yang didatangi.
               Di bawah naungan GIM ada gerakan lain yaitu gerakan Indonesia Menyala dan Kelas Inspirasi. Gerakan Indonesia Menyala adalah gerakan yang menyalurkan buku-buku untuk daerah terpencil. Sedangkan Kelas Inspirasi adalah gerakan yang mengajak para profesional untuk menginspirasi anak-anak sekolah dasar selama sehari. Tujuannya adalah agar anak-anak SD mengetahui ada banyak jenis pekerjaan di dunia ini, dan membiarkan mereka bermimpi akan menjadi apa nanti.
            Anies berharap Gerakan Indonesia Mengajar ini menjadi salah satu jalan untuk lahirnya anak-anak atau generasi Bangsa yang lebih cerdas dan bermanfaat bagi negara nantinya, layaknya Adrianus Mooy yang dulu menjadi murid-murid pengajar Pengerahan Tenaga Mengajar-nya Prof. Koesnadi. Selain itu juga menjadi sarana bagi generasi muda para sarjana tidak sekadar urun angan namun juga turun tangan. Karena menurut Anies, “Tak ada gunanya mengutuk kegelapan, karena kita bisa menyalakan cahaya kecil, meski itu hanya satu lilin (halaman 192).”
            Beberapa hal yang berkaitan dengan pendidikan di atas membuktikan bahwa Anies sangat mencintai dunia pendidikan. Karenanya, memang tidak salah jika Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Meski, hanya menjabat selama 20 bulan. Namun, Anies melakukan banyak hal yang membuat orangtua, guru bahkan para murid mengakui kemampuan Anies menjadi mendikbud. Di antaranya, dihapusnya MOS perploncoan dan kekerasan di sekolah, dihapusnya nilai UAN sebagai tanda kelulusan, dan juga gerakan mengantar anak ke sekolah yang mengingatkan para orangtua untuk tidak lupa bahwa anaknya sedang masa sekolah dan juga membuat orangtua lebih mengenal sekolah dan guru-guru anaknya.
            Begitulah Anies, ingin agar guru di VIP-kan. Karena, siapalah kita tanpa seorang guru? Tidak ada Direktur, CEO, bahkan Presiden  hari ini, jika dulu tidak pernah ada seorang guru yang mengajarnya. Karena jasa-jasanyalah, guru harus diistimewakan. Seperti pertanyaan Kaisar Jepang pasca Jepang dikoyak bom atom (halaman 170), “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” Hal ini menunjukkan bahwa Kaisar Jepang sangat menghormati dan membutuhkan seorang guru untuk kebangkitan negaranya. Karenanya, Anies pun pernah mengatakan, “Kalau kita mau memajukan bangsa ini. Majukan kualitas manusianya.”
            Anies terlahir dari keluarga pendidik, bahkan ibunya seorang guru besar di UNY. Ayahnya, pernah mendapat kesulitan dalam mengurus penuntasan kepegawainnya yang telah mengajar selama 25 tahun (halaman 140), bahkan sampai pensiun tidak jelas urusannya. Ini membuat Anies mengupayakan ketika menjadi Mendikbud, membuat peraturan agar administrasi guru tidak perlu ribet, karena guru harus harus sejahtera dan diistimewakan (halaman 172).

            Buku yang terdiri dari dua bab, yang dirangkai dari kisah dan surat pendek nan inspiratif tentang dan dari Anies ini sangatlah wajib dibaca oleh anak muda Indonesia. Karena, sosok Anies layak diteladani oleh generasi muda. Selamat membaca! 

Judul                            : Anies; Tentang Anak Muda, Impian dan Indonesia
Penulis                          : Syafiq Basri
Editor                           : Teguh Afandi
Penerbit                       : Noura Books
Tahun Terbit                : Pertama, Desember 2016
Jumlah Halaman          : 200 halaman
ISBN                           :  978-602-385-032-7
Peresensi           : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso 



Sabtu, 19 Maret 2016

Antara Umar Bin Khaththab Dan Khalid

Judul buku: Antara Umar Bin Khaththab Dan Khalid Bin Walid

Penulis: Hepi Andi Bastoni
Penerbit : Pustaka Al Bustan
Jumlh halaman: 203
Trisa yunita

Siapa yang tak kenal Umar bin Kaththab dan Khalid bin Walid. Keduanya adalah tokoh pemberani dan ahli perang. Namun yang menarik adalah bahwa ternyata karir keduanya berbeda. Umar, sepanjang hayatnya tak pernah diangkat menjadi panglima perang. Sementara Khalid belum genap 3 bulan sejak menyatakan keimanannya sudah dipercaya memimpin perang Mu’tah untuk menggantikan 3 panglima sebelumnya yang telah syahid. Dan sejak itu, hampir semua perang besar melawan orang murtad di era Abu Bakar ash Shiddiq, Khalid bin Walid lah panglimanya.

Namun walau sesama pemberani keduanya punya karakter yang berbeda. Keberanian Umar bersifat defensif sehingga lebih cocok untuk menjadi negarawan sementara Khalid bersifat ofensif sehingga lebih cocok menjadi panglima perang. Umar cenderung pada sikap hati hati dan bijaksana sementara Khalid bersifat mendobrak dan melawan. Mungkin karena faktor latar belakang keluarga yang berbeda. Umar berasal dari kabilah yang sering menjadi tempat bertanya dan meminta keadilan, sementara Walid berasal dari kabilah yang ahli perang dan mewah.

Nyatanya memang Nabi mengetahui perbedaan keberanian kedua tokoh ini. Sehingga kedua keberanian ini sama sama dibutuhkan dan saling melengkapi namun di tempatnya masing masing.

Hal yang menarik dari kedua tokoh pemberani ini adalah bahwa keduanya wafat di atas tempat tidur. ‘aku mencari kematian di berbagai tempat. Aku telah menghadapi musuh sehingga tak sejengkalpun dalam tubuhku kecuali ada bekas tebasan pedang atau tusukan panah, atau tikaman tombak. Tapi sekarang aku meninggal di tempat tidurku seperti keledai tua…’ (Khalid Bin Walid)

‘segala puji bagi Alloh yang telah menjadikan kematianku bukan di tangan seorang muslim’ (Umar Bin Khaththab)
Kesamaan lain dari keduanya.. kedua manusia pemberani ini ternyata menemui syahidnya di tempat tidur.

Buku tulisan Hepy Andi ini merupakan kumpulan beberapa artikel yang pernah dimuat di majalah Sabili. Berisi tentang beberapa kisah tentang Umar bin Kaththab, Khalid bin Walid , dan beberapa sahabat Nabi lainnya, seperti Abu Hurairoh, Amr bin Ash dll. Namun kemudian direvisi dengan lebih menekankan bukan pada biografinya namun pada kejadian kejadian yang dialami oleh mereka dan apa ibroh/hikmah yang bisa diambil dari kisah/kejadian itu.

Salah satu kisah yg diangkat adl saat Khalid bin Walid diberhentikan dari jabatan panglima perang oleh Umar bin Kaththab.

Pemberhentian itu termasuk hal pertama yang dilakukan oleh Umar setelah dilantik sebagai khalifah, dan saat itu Khalid sedang memimpin pasukan pada perang Yarmuk. Pemberhentian ini merupakan peristiwa politik yang sangat fenomenal dan penuh kontroversi. Namun disitulah dengan indahnya nilai2 islam bersinar. Para sahabat disebut sahabat karena mereka memahami islam bukan hanya sekedar norma namun benar benar sudah terinternailisasi ke dalam hati, pikiran dan semangat mereka.

Bagi Khalid, sekalipun sudah tidak menjadi panglima perang, beliau tetap gigih berperang di garis depan dengan berani dan mengantarkan kaum muslimin kembali pada kemenangan. Dengan mengatakan aku berperang karena Alloh bukan karena Umar. Tekad beliau tidak berkurang walau sedikit. Bahkan banyak yang mengatakan justru di perang inilah Khalid bin Walid mencapai puncak prestasi dalam hidupnya.

Bagi Umar, pemberhentian ini bukan karena ketidaksukaan pada Khalid namun untuk menghindarkan ketergantungan tentara muslimin pada sosok Khalid.

Bagi kaum muslimin sendiri mereka teruji keimanan dan ketaatannya dengan tetap menunjukkan performa yang prima tanpa melihat siapa yang menjadi pemimpin. Dan masih banyak ibroh lainnya.

Bukunya kecil, ringan dan enak dibaca sambil iseng.. He he
Cocok buat sy yg sedang bingung mau baca apa.. 🙈

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

Sabtu, 09 Mei 2015

Nasional.Is.Me



Judul Buku                  : Nasional.Is.Me
Penerbit                      : Bentang Pustaka
Penulis                        : Pandji Pragiwaksono
Jumlah halaman           : 233 Halaman
Tahun terbit                : 2011




“Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia
Mereka yang menuntut perubahan
Mereka yang menciptakan perubahan
Silakan pilih perjuanganmu.”
                           
Kutipan dari buku ini lumayan menyengat. Nasional.is.me adalah buku yang kental dengan candu-candu nasionalisme. Persis dengan judul bukunya. Buku ini menawarkan cara pandang baru tentang nasionalisme. Cara pandang yang mendebat segala jenis keputusasaan dan sikap skeptis dari sebagian besar masyarakatnya. Sebagian besar masyarakat Indonesia yang memandang pesimis atas masa depan dan realita Indonesia. Saya pribadi memandang buku ini cukup berhasil menekankan nasionalisme dari sisi yang berbeda.

Buku ini dikarang oleh seorang komika, penyiar juga, MC juga. Dia adalah Pandji Pragiwaksono. Bisa dibilang Pandji adalah public figure kreatif masa kini yang mewakili kalangan muda. Kalangan yang sebenarnya sering dipertanyakan wujud real dari nasionalisme mereka. Tapi seperti yang disinggung di buku ini, Kenali Indonesiamu, Temukan passionmu, Berkaryalah untuk masa depan bangsamu. Ya, memang benar, kita bisa mendisplay wujud nasionalisme kita sesuai dengan jalan yang kita ingini. Sesuai dengan hasrat yang menjadi bahan bakar kita menjalani kehidupan.

Buku ini dibuka dengan sebuah fragmen aktivitas wawancara Pandji dengan seorang wartawan. Topik yang menjadi wawancara adalah topik yang sempat menjadi trend di tahun 2009. Topik dari kejadian yang banyak menarik perhatian orang. Kejadian ini pulalah yang membuat Manchester United batal datang ke Indonesia. Kejadian yang seolah-oleh akan membuat mimpi buruk bangsa ini menjadi nyata. Tapi dengan adanya spirit campaign yang digelorakan olehnya dan beberapa kawannya, kita sebagai bangsa ternyata sudah terlatih menghadapi situasi buruk di negeri ini. Daya juang rakyat Indonesia dalam menghadapi beberapa momen yang tidak mengenakan telah mendapat apresiasi positif dari negara lain. Sebut saja bencana alam, terorisme, krisis ekonomi. Sejarah membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang mampu mengelola hal-hal tersebut dengan baik. Hal inilah kemudian yang melatarbelakangi spirit campaign saat itu. Spirit yang benar-benar menjadi trend kala itu. Spirit itu adalah #KAMITIDAKTAKUT yang kemudian berkembang menjadi viral di social media twitter. Tagar ini kemudian berevolusi menjadi #IndonesiaUnite (jadi tahu kan sejarahnya?). Awalnya trend spirit ini muncul atas reaksi Bom Marriot jilid 2. Disadari atau tidak, ternyata viral ini cukup berkembang dan menyebar menjadi sebuah gerakan. Banyak orang memakai hashtag dan profile picture dengan berbagai kreasi menvisualkan trend ini.

Si wartawan tersebut mengawali wawancara dengan sebuah pertanyaan yang membuat Pandji bingung. Ketika banyak wartawan bertanya mengenai Indonesia Unite, si wartawan ini malah memulai dengan pertanyaan yang tidak bisaa. ‘Kok masih bisa optimis dengan Indonesia di saat kebanyakan pesimis?’ Itulah yang ditanyakan. Pandji bingung karena pertanyaan itu mengesankan yang aneh itu adalah dirinya. Bukan justru mereka yang pesimis terhadap Indonesia. Dia seperti jadi minoritas yang menurutnya merupakan sebuah anomali. Maka yang keluar dari mulutnya sambil menatap wartawan itu kebingungan adalah, “Kalau orang-orang tahu apa yang saya tahu tentang Indonesia, mereka juga akan optimis..”            Di bagian kedua ini buku ini Pandji memang secara jelas apa yang membuatnya optimis tentang Indonesia. Di bagian ini ia banyak menceritakan tentang Indah-indahnya kota-kota yang ada di Indonesia. Paparannya seakan menampar kita yang sering mengeluh dan pesimis terhadap Indonesia karena apa yang kita lihat, padahal banyak tempat yang belum kita datangi. Kita sudah demikian pesimis, padahal kita cuma diam di satu tempat saja.

Buku ini sebenarnya di awali dengan sebuah perjalanan hidup penulisnya. Perjalanan hidup yang membentuk dia untuk konsekuen terhadap sebuah pilihan dan bersikap dewasa. Dari masa SD yang membuat dia merasa hadir sebagai seorang manusia. Dari masa SMP yang mulai mencecap hidup bersosial. SMA yang mulai bertanggung jawab dan mendewasakannya. Dan masa kuliah membangun diri dengan kemandirian. Secara gamblang Pandji menjelaskan milestone hidupnya dan secara terang menunjukkan apa alasannya mengapa dia bisa menjadi orang sekarang ini.

Ada satu bagian yang sangat menyentak di buku ini. Dan ini adalah favorit saya:

Hari ini, pemuda dan pemudi Indonesia nampak bengong setiap kali saya ajak mereka untuk menciptakan perubahan.
Wajah mereka sinis dan berkata “mana mungkin...”
“Saya ‘kan hanya mahasiswa.”
“Saya ‘kan hanya orang kantoran.”
“Saya ‘kan hanya orang bisaa, ga punya uang banyak, menciptakan perubahan nampak tinggi biayanya.” “Saya ‘kan hanya rakyat, bukan decision makers.”
....
Memalukan.
“Saya ‘kan HANYA...”
Pemuda dan pemudi Indonesia merendahkan diri mereka dengan menggunakan kata “hanya”.
Di saat pemuda dan pemudi masa lalu mempertaruhkan NYAWA mereka untuk meninggikan derajatnya di hadapan dunia asing. Di hadapan Jepang, Portugis, Inggris, dan Belanda yang berpikir mereka bisa menindas kita.
Pemuda pemudi yang bilang, “Saya ‘kan hanya rakyat,” harusnya pergi ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dan melihat betapa banyaknya makam yang hanya bertulisakan “Pemuda”
karena sang pejuang itu tidak dikenal identitasnya. Ia hanya rakyat yang ikut angkat senjata melawan penjajahan, mempertahankan kemerdekaan.
Malu.
Harusnya mereka malu kepada semua yang sudah gugur di Surabaya karena mereka tetap berusaha walaupun di hadapan 30.000 tentara lawan, menang nampak tidak mungkin.

Ya memang begitulah. Kalau dirasa terlambat memang, karena kebanyakan kita mungkin sudah meninggalkan masa middle class society. Tapi yang nanya membuat perubahan itu tidak tergantung pada usia. Perubahan ada pada orang-orang yang dengan jiwa dan raganya ia mampu membius orang lain untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita mulia manusia. Menjaga keseimbangan interaksi antarsesama.

Lalu apa yang bisa kita lakukan. Di buku ini Pandji banyak mencotohkan hal-hal sebenarnya simple namun di luar dugaan kita. Mungkin kebanyakan kita menampilkan wujud nasionalisme hanya pada suatu moment, atau pada sebuah retorika. Tapi ternyata sejatinya nasionalisme itu adalah sesuatu yang real. Maka Pandji mencontohkan dengan menjadi pendonor darah tetap untuk seorang bocah yang membutuhkan padahal sebelumnya dia belum pernah donor darah. Nasionalisme yang disadari juga bahwa dia perlu menjaga kondisi tubuhnya, karena sehatnya ia adalah juga untuk orang lain. Pandji juga menunjukkan pada kita betapa sederhananya kita bisa berkarya untuk negeri ini. Kepedulian yang bisa kita wujudkan bagi kaum tidak mampu, memberdayakan komunitas, memupuk rasa kepedulian social yang tentu di antara kita sendiri tahu apa saja contoh dari semua konsepsi nasionalisme tersebut.

The Server Leadership

Judul buku   : The Server Leadership
30 Kepemimpinan dan Kemampuan Pemimpin Sejati yang Wajib dimiliki Setiap Orang Sukses.
Penulis          : Urgyen Rinchen Sim
Pendamping  : Dodi Mawardi
Penerbit         : RAS – Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Group)
Tebal Hal       : 202 halaman



Saat ini di kantor saya sedang dilakukan restruktrurisasi manajemen dan untuk menambah ketrampilan karyawan maka diadakanlah beberapa kursus dan inhouse training yang berkaitan dengan komunikasi, pengembangan diri dan kepemimpinan. Sambil menyelam minum air, saya cari tambahan refensi untuk pembelajaran yang berkaitan dengan training dan saya jadikan resume, buku yang saya pilih adalah The Server Leadership persembahan dari pak Simon (Urgyen Rinchen Sim).
Buku ini berisi 30 kebiasan dan kemampuan pemimpin sejati, berdasarkan apa yang diajarkan oleh John C. Maxwell. Ditulis dengan semangat dan bertujuan menyebarkan nilai-nilai sederhana yang kadang sering kita lupakan, padahal ilmu kepemimpinan itu sendiri berisi sangat banyak nilai yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. 
The Server Leadersfhip, judul buku ini mengandung 3 filosofi, yaitu pelayan, inisiator dan pusat dari segala kegiatan. Sebagai seorang pemimpin memiliki tugas utama sebagai orang yang melayani orang-orang yang dipimpinnya dan menjadi yang pertama sebagai penolong, pemecah masalah, pembangkit motivasi orang-orang yang dipimpinya dan menjadi wadah utama yang menjadikan semuanya berjalan dengan lancar.
Berhasil atau tidak seorang pemimpin tergantung pada kemampuan, integritas dan pemahaman nilai-nilai kepemimpinan yang kita yakini dan jalankan. 
Mari kita simak tentang 5 level kepemimpinan yang antara lain;
1. Positional Leader, Kepemimpinan adalah wewenang (Right)
2. Permission Leader, Pemimpin melakukan tugasnya berdasarkan hubungan baik (Relationship)
3. Production Leader, Pemimpin level ini membuktikan dirinya sebagai pemimpian karena kualitas/kuantitas hasil kerjanya (Result)
4.People Development Leader, Pemimpin yang mampu menularkan kehebatannya kepada anak buah (Reproduction)
5. Personhood Leader, Dialah pemimpin sejati yang punya kemampuan komplit dan para pengikutnya sangat hormat kepadanya (Respect)
Selain itu ada beberapa mitos kepemimpinan yang mungkin berguna untuk menambah pemahaman tentang kepemimpinan.
1. Mitos manajemen. Anggapan bahwa pemimpin sama dengan pengelola adalah salah.
Management is about doing the thing right. Leadership is about doing the right thing.
Seperti contohnya kerjasama antara Bill Gates sebagai pendiri Microsoft dan co foundernya Pau Allen, sahabat Bill Gates. Bill Gates adalah pengelola dan pemimpin yang hebat namun ada pemimpin yang sesungguhnya yaitu Paul Allen, dia memiliki filisophi yang jelas, tegas dan professional yang terus membimbing pasukannya di Microsoft menjadi yang terbaik. 
2. Mitos wirausaha. Seorang usahawan sukses adalah seorang pemimpin tertinggi. Tidak selalu demikian, kadang seorang pengusaha perlu mencari partner yang memiliki kemampuan memimpin perusahaan untuk menjalankan usahanya. Contohnya ; Dick & Maurice Mc. Donald mereka wirausahana yang sukses dan kemudian menggandeng Ray Kroc, seorang professional yang piawai dalam penjualan dan kepemimpinan. Hingga akhirnya usaha Mc. Donald berkembang pesat hinggal memiliki 31.000 outlet tersebar di 119 negara.
3. Mitos pengetahuan. Knowledge is power. Tidak afdol seorang pemimpin jika tidak memiliki pengetahuan dan kecerdasan. Namun, ternyata semua itu tidak selalu benar.
Terkait dengan hal ini, kisah The Red Devil – MU yang menjadi klub sepakbola yang disegani kawan maupun lawan, berkembang setelah di tangani oleh seorang pelatih bernama Alex Ferguson. Dia hanya seorang mantan pemain sepak bola yang biasa-biasa saja, kemampuannya sangat jauh dibawah anak-anak asuhannya di club tersebut. Namun, visi dan ketajamannya membaca situasi dilapangan membawa dirinya dan timnya meraih kemenangan demi kemenangan.
4. Mitos pelopor. Siapapun yang berada di depan dialah pemimpin. Faktanya tidak demikian, untuk menjadi pemimpin tidak cukup menjadi pelopor. Kita mungkin menyadari bahwa Sir Edmun Hillary adalah orang pertama yang mencapi puncak Gunung Everest tahun 1953. Namun, ia bukanlah pemimpin ekspedisi tersebut melainkan John Hunt. 
5. Mitos posisi. Pemimpin ditentukan oleh posisi dan kedudukannya. Ini merupakan kesalahpahaman terbesar. Dalailama adalah salah satu contoh, dia bukanlah pemimpin pemerintahan Tibet akan tetapi Dalai Lama tetap pemimpin di hati para pengikutnya. 
Buku ini menarik karena 30 kebiasan dan kemampuan pemimpin sejati dirangkum dalam 5 server yang dituangkan satu persatu disertai contoh sehari hari dan kita diajak untuk memahami kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang pemimpin, mempelajari prinsip sederhana pemimpin hebat, belajar tentang hukum pemimpin modern, kualitas pemimpin sejati apa saja yang pantas kita tiru, memahami pelajaran emas pemimpin sesungguhnya. 
Cikarang, 2 Mei 2015 
Neny - IM3