Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepemimpinan Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2017

The Great Leaders, Kisah Khulafaur Rasyidin

Manusia kedua setelah Rasulullah SAW yang ingin saya jumpai (kelak-jika diridhoi Allah SWT) ialah Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Setelahnya ialah Umar bin Khaththab r.a., setelahnya lagi Ustman bin Affan r.a, dan setelahnya lagi Ali bin Abi Thalib r.a. Mencintai sahabat Rasulullah SAW dengan membaca sirahnya adalah salah satu cara menumbuhkan dan menambahkan rasa cinta saya kepada Nabi Muhammad SAW.

Buku ini salah satunya. Buku yang cukup lengkap mengisahkan tentang empat sosok khulafaur rasyidin. Empat khalifah  tersebesar sepanjang masa setelah Rasulullah SAW. Dalam versi aslinya (berbahasa arab), buku ini hadir dalam 4 jilid, dimana masing-masing jilid menceritakan kepribadian masing-masing khalifah, kehidupannya pada masa jahiliyah, awal mula mereka masuk islam, peristiwa hijrah hingga di medan pertempuran, masa-masa menjabat sebagai khalifah, hingga wafatnya para khulafaur rasyidin. Semua menjadi satu jilid dalam versi bahasa Indonesia, dan dalam satu bab pokok yang masih terbagi lagi menjadi subbab.

Maka saya awali dengan beberapa bab kisah khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. Subbab; Abu Bakar Ash-Shiddiq Selama Berada Di Mekkah, Keislamannya Hingga Peristiwa Hijrah. Di subbab ini kita akan lebih mengenal sisi lain Abu Bakar r.a., sahabat yang paling dicintai Nabi SAW.

Gelar ash-shiddiq yang tersemat pada Abu Bakar tak lain karena seringnya beliau membenarkan perkataan dan ajaran dakwah Rasulullah SAW. Salah satu contoh yang dikisahkan adalah saat peristiwa isra’ mi’raj Rasulullah SAW, dimana masyarakat saat itu baik kaum muslim maupun musyrik meragukan perkataan Nabi tentang perjalanan isra’ mi’raj Nabi SAW., melainkan hanyalah Abu Bakar yang membenarkannya. Pun semasa jahiliyah dikisahkan Abu Bakar tidak pernah meminum khamr dan tak pernah menyembah berhala. Karena beliau pernah melihat seorang kawannya meminum khamr dan mengakibatkan hilang akal dan kendali sehingga memasukkan kotoran ke dalam mulutnya. Adapun patung berhala yang ada, tak dapat mengabulkan semua permintaan Abu Bakar kecil, saat Abu Quhafah, sang Ayah menyuruhnya menyembah patung berhala. Maka bekerjalah logika Abu Bakar kecil untuk tak pernah mengimani berhala sebagai Tuhannya.
Disebutkan pula ciri-ciri fisik Abu Bakar yang dikisahkan Aisyah r.a., saat ada seorang lelaki bertanya ciri fisik Ayahnya.  Abu Bakar juga menikahkan putrinya, Aisyah r.a dengan Rasulullah SAW atas permintaan Rasulullah SAW. Pernikahan itu berlangsung sepeninggal wafatnya Ummul Mukminin, Siti Khadijah.

Satu bagian kisah yang kerap kita ingat adalah saat Abu Bakar r.a. menyelamatkan seorang budak berkulit hitam Bilal r.a. dan memerdekakannya. Di bab ini ternyata juga diceritakan bahwa Abu Bakar banyak memerdekakan budak-budak, semata mengharap keridhaan Allah SWT.

SEJAK KEISLAMANNYA SAMPAI PERISTIWA HIJRAH
Saat Abu Bakar menyatakan keislamannya dihadapan Rasulullah SAW, Rasulullah adalah orang yang merasa paling berbahagia dengan keislaman Abu Bakar. Setelahnya Abu Bakar pun segera menemui Ustman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah dan banyak kawan lainnya, mengajak dan menyeru untuk memeluk agama Allah SWT. Hal ini lebih mudah bagi Abu Bakar, mengingat Abu Bakar adalah lelaki asli keturunan kaum Quraisy yang paham betul baik buruk keadaan kaumnya, dicintai kaumnya dan dikenal pandai bergaul. Abu Bakar juga seorang pedagang yang memiliki akhlak terpuji. Sehingga banyak kaum Quraisy yang dengan mudah menerima ajaran Islam melalui Abu Bakar.

Dalam satu riwayat dari Aisyah r.a. pernah satu ketika jumlah kaum Muslim saat itu masih berjumlah sedikit, sekira 38 orang. Namun Abu Bakar meminta Rasulullah SAW untuk berdakwah secara terang-terangan. Nabi SAW. mengatakan bahwa saat itu bukan waktu yang tepat, mengingat jumlah kaum muslim  masih sangat sedikit. Abu Bakar tak bisa menahan diri, hingga akhirnya ia berpidato dihadapan semua orang sementara Rasulullah SAW duduk disampingnya. Abu Bakar menyeru agar semua kaum Quraisy menerima ajaran agama Allah SWT dan Rasul-Nya. Tak pelak, kaum musyrik yang melihat dan mendengar pidato Abu Bakar saat itu marah dan memukuli kaum Muslim dengan beringas. Abu Bakar pun tak luput dari pukulan seorang musyrik, Utbah bin Rabi'ah. Dengan beringas ia memukul perut Abu Bakar hingga darah mengucur deras dari hidungnya. Kericuhan terhenti saat Bani Tamim datang melerai dan membela Abu Bakar. Beliau lemah tak berdaya hingga baru tersadar keesokan harinya. Saat sadar, kalimat pertama yang terucap dari bibirnya adalah, "Bagaimana keadaan Rasulullah SAW?". Bertubi-tubi Abu Bakar hanya menanyakan keadaan Rasulullah SAW, hingga memaksa Ummu Jamil dan Ibundanya, Ummul Khair membopong tubuh penuh luka Abu Bakar ke hadapan Rasulullah SAW. Nabi SAW menyambut Abu Bakar dan menciumnya. Melihat sahabatnya lemah tak berdaya, Rasulullah SAW menangis tersedu-sedu, dan Abu Bakar masih sempat berkata, "Aku tak apa-apa Rasulullah."

Dikisahkan kembali saat Abu Bakar pernah menangis karena bahagia, setelah mengetahui bahwa dirinya terpilih untuk mendampingi Nabi SAW. hijrah ke Madinah. Abu Bakar sudah menyiapkan dua hewan tunggangan untuk hijrah dan merawatnya sejak jauh hari, tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW. Buku ini juga menceritakan tentang persembunyian  Rasulullah SAW dan Abu Bakar di dalam gua untuk menghindari kejaran kaum musyrik. Abu Bakar memeriksa semua lubang di dalam gua, memastikan keamanannya dari serangan hewan. Satu lubang ditutupnya dengan helai kain yang dirobek dari jubahnya, dan dua lubang lainnya beliau tutup dengan kedua kakinya. Rasulullah SAW pun tertidur nyaman di pangkuan Abu Bakar. Tak lama, kaki Abu Bakar pun tersengat hewan dari salah satu lubang. Tubuhnya tak bergeming, meski kakinya sakit disengat hewan. Abu Bakar takut, jika ia menggerakkan kakinya, Rasul Allah yang mulia itu terbangun dan terganggu tidurnya. Jadilah Abu Bakar hanya meringis dan menangis menahan sakit, hingga air matanya jatuh ke wajah Nabi SAW. Peristiwa itu terekam dalam Al-Qur'an surat At-Taubah: 40.

Abu Bakar mendampingi Nabi SAW. hingga memasuki Kota Madinah. Saat itu, masyarakat muslim Madinah (yang disebut kaum Anshar), sudah menunggu kedatangan Rasulullah SAW sejak pagi. Adalah mereka kaum anshar, yang mengimani agama islam bahkan sebelum bertemu Nabi SAW, dikisahkan juga di buku ini. Sesampainya di Madinah, Abu Bakar terserang wabah penyakit demam. Kala itu, Madinah adalah kota yang sering terserang wabah penyakit demam. Hingga akhirnya Rasulullah SAW berdoa agar wabah itu dipindahkan ke daerah lain. Abu Bakar dan sahabat-sahabat lainnya berangsur sembuh dari sakit.

Buku ini, meski baru sebagian subbab saja yang saya resume, semua poin terasa penting untuk diketahui karena penuh dengan hikmah. Membuat saya jadi semakin mengenal lebih personal sahabat kesayangan Rasulullah SAW ini, jika dibanding buku-buku tentang khulafaur rasyidin sebelumnya yang pernah saya baca juga. Subbab lain yang tak cukup dipaparkan disini, ialah tentang bagaimana sejarah perjuangan Abu Bakar di medan pertempuran, keutamaan-keutamaan Abu Bakar, peran-perannya saat menjabat sebagai khalifah umat muslim dan idenya untuk menghimpun Al-Qur’an.

Sejarah khulafaur rasyidin di buku ini selain ringkas, padat dan lengkap, setiap poin peristiwa yang dinukilkan mempunyai sumber jelas. Ada catatan kaki yang berisi info rujukan buku yang dikutip oleh penulis di setiap halamannya. Ini masih tentang khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, belum 3 khalifah agung lainnya.

Maka, tak ada persahabatan yang lebih indah, melebihi indahnya cinta para sahabat kepada Rasulullah SAW, begitupun sebaliknya. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad~

Judul Buku : The Great Leaders, Kisah Khulafaur Rasyidin
Penulis : Ahmad Abdul ‘Aal ath-Thahthawi
Penerbit : Gema Insani
Jumlah Halaman : 435 halaman

Peresume : Nafisah AR

Rabu, 15 Februari 2017

Seni Kepemimpinan Para Nabi

Deskripsi

Kuliatas kepemimpinan menjadi salah satu indikator penting maju tidaknya suatu bangsa. Membahas tentang kepemimpinan berarti kita harus menguraikannya dalam konteks kekinian, tentang idealisme kepemimpinan menurut islam.
Buku ini disusun dengan semangat belajar dan meneladani best practises dari para nabi terdahulu dalam memimpin dan membawa umatnya menuju jalan cahayapada masa mereka. Mencontoh kepemimpinan para nabi terdahulu untuk memajukan bangsa dan negara.

Resume

Semua insan adalah pemimpin, minimal meimmpin dirinya sendiri. Dalam hidupnya setiap insan saling terhubung dan saling mencontoh. Contoh terbaik tentunya insan yang merupakan pilihan Allah swt. yaitu Para Nabi dan Rasulullah.
Kepemimpinan para nabi (profetik) memiliki tujuan yang sama yaitu mendapatkan kemerdekaan yang hakiki, yaitu membebaskan penghambaan kepada manusia atau mahluk Allah swt lainnya dan hanya menghamba kepada Allah swt semata.
Kepempinan profetik dapat dipelajari dari kisah-kisah para Nabi dalam Al Quran.

“Allah telah mengirim kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendakidari penghambaan kepada hamba menjadi penghambaan kepada Allah, dan dari sempitnya dunia menuju keluasan dunia akhirat, dari penyimpangan agama-agama yang ada menuju keadilan Islam”
-Rubai bin Amir kepada Panglima Persia, Rustum-

Tahapan kepemimpinan profetik menurut Kunto dalam Seni Kepempinan Para Nabi adalah :
1.      Misi humanisasi (ta’muruna bil ma’ruf). Memanusiakan manusia. Meningkatkan harkat dan martabat manusia dan menjadikan manusia bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
2.      Misi liberasi (tanhauna ‘anil munkar). Misi membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan ketertindasan.
3.      Misi transendensi (tuminuna billah). Manifestasi dari misi humnisasi dan liberasi yaitu berupa kesadaranIlahiah yang mampu menggerakan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan.

Pemimpin petama yang diciptakan oleh Allah adalah Nabi Adam as. Merupakan manusia pertama yang Allah ciptakan dan sekaligus merupakan pemimpin profetik manusia. Kisahnya termaktub dalam QS Al Baqarah ayat 30 :

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat :’Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata :’pakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di dunia, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman :”Sungguh aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Kriteria utama kesuksesan  seorang pemimpin adalah keasadaran akan peran dan fungsinya sebagaui khalifah atau wakil Allah di muka bumi.pemimpin harus memiliki visi dan misiilahiyah yang kuat sehingga membantu mewujudkan “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.”

Dalam yat-ayat lain di dalam Al Quran dituliskan bahwa seorang pemimpin profetik itu harus berilmu, kuat dan amanh. Misalnya tersurat dalam :

QS Al Baqarah: 247
“...Allah telah memilihnya (Thalut) menjadi raja kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa saja yang ia kehendaki, dan Allah maha Luas Maha mengetahui.”

QS Yusuf :22
“Dan ketika dia (Yusuf) telah cukup dewasa, kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu...”

Qs Al Anbiya : 79
“Maka kami telah memberikan pengertian kepad Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) kami berikan hikmah dan ilmu...”

QS Al qashash :26
“Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata : wahai ayahku (Syuaib), jadikanlah ia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”

Ilmu adalah pengetahuan dan hikmah adalah yang menjadikan sesorang bijaksana dalam mengambil keputusan. Sejalan dengan sunatullah dan akal sehat.
Seorang pemimpin jika lemah ilmunya, cenderung mudah mengeluh, emosional, gegabah dalam bertindak.
Pemimpin profetik juga adalah seorang yang amanah. Memiliki kredibilitas dan integritas tinggi.

Lebih terperinci  syarat kepempinan dalam Qs Al Maidah 55-56:
Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”

Resume by Erna Maryati on Janury 20th 2017
Identitas buku
Judul                : Seni Kepemimpinan Para Nabi
Penulis             : Bachtiar Firdaus
Penerbit           : Quanta
Tahun terbit     : 2016

Jumlah halaman : 291+xxxii


Sabtu, 19 Maret 2016

Antara Umar Bin Khaththab Dan Khalid

Judul buku: Antara Umar Bin Khaththab Dan Khalid Bin Walid

Penulis: Hepi Andi Bastoni
Penerbit : Pustaka Al Bustan
Jumlh halaman: 203
Trisa yunita

Siapa yang tak kenal Umar bin Kaththab dan Khalid bin Walid. Keduanya adalah tokoh pemberani dan ahli perang. Namun yang menarik adalah bahwa ternyata karir keduanya berbeda. Umar, sepanjang hayatnya tak pernah diangkat menjadi panglima perang. Sementara Khalid belum genap 3 bulan sejak menyatakan keimanannya sudah dipercaya memimpin perang Mu’tah untuk menggantikan 3 panglima sebelumnya yang telah syahid. Dan sejak itu, hampir semua perang besar melawan orang murtad di era Abu Bakar ash Shiddiq, Khalid bin Walid lah panglimanya.

Namun walau sesama pemberani keduanya punya karakter yang berbeda. Keberanian Umar bersifat defensif sehingga lebih cocok untuk menjadi negarawan sementara Khalid bersifat ofensif sehingga lebih cocok menjadi panglima perang. Umar cenderung pada sikap hati hati dan bijaksana sementara Khalid bersifat mendobrak dan melawan. Mungkin karena faktor latar belakang keluarga yang berbeda. Umar berasal dari kabilah yang sering menjadi tempat bertanya dan meminta keadilan, sementara Walid berasal dari kabilah yang ahli perang dan mewah.

Nyatanya memang Nabi mengetahui perbedaan keberanian kedua tokoh ini. Sehingga kedua keberanian ini sama sama dibutuhkan dan saling melengkapi namun di tempatnya masing masing.

Hal yang menarik dari kedua tokoh pemberani ini adalah bahwa keduanya wafat di atas tempat tidur. ‘aku mencari kematian di berbagai tempat. Aku telah menghadapi musuh sehingga tak sejengkalpun dalam tubuhku kecuali ada bekas tebasan pedang atau tusukan panah, atau tikaman tombak. Tapi sekarang aku meninggal di tempat tidurku seperti keledai tua…’ (Khalid Bin Walid)

‘segala puji bagi Alloh yang telah menjadikan kematianku bukan di tangan seorang muslim’ (Umar Bin Khaththab)
Kesamaan lain dari keduanya.. kedua manusia pemberani ini ternyata menemui syahidnya di tempat tidur.

Buku tulisan Hepy Andi ini merupakan kumpulan beberapa artikel yang pernah dimuat di majalah Sabili. Berisi tentang beberapa kisah tentang Umar bin Kaththab, Khalid bin Walid , dan beberapa sahabat Nabi lainnya, seperti Abu Hurairoh, Amr bin Ash dll. Namun kemudian direvisi dengan lebih menekankan bukan pada biografinya namun pada kejadian kejadian yang dialami oleh mereka dan apa ibroh/hikmah yang bisa diambil dari kisah/kejadian itu.

Salah satu kisah yg diangkat adl saat Khalid bin Walid diberhentikan dari jabatan panglima perang oleh Umar bin Kaththab.

Pemberhentian itu termasuk hal pertama yang dilakukan oleh Umar setelah dilantik sebagai khalifah, dan saat itu Khalid sedang memimpin pasukan pada perang Yarmuk. Pemberhentian ini merupakan peristiwa politik yang sangat fenomenal dan penuh kontroversi. Namun disitulah dengan indahnya nilai2 islam bersinar. Para sahabat disebut sahabat karena mereka memahami islam bukan hanya sekedar norma namun benar benar sudah terinternailisasi ke dalam hati, pikiran dan semangat mereka.

Bagi Khalid, sekalipun sudah tidak menjadi panglima perang, beliau tetap gigih berperang di garis depan dengan berani dan mengantarkan kaum muslimin kembali pada kemenangan. Dengan mengatakan aku berperang karena Alloh bukan karena Umar. Tekad beliau tidak berkurang walau sedikit. Bahkan banyak yang mengatakan justru di perang inilah Khalid bin Walid mencapai puncak prestasi dalam hidupnya.

Bagi Umar, pemberhentian ini bukan karena ketidaksukaan pada Khalid namun untuk menghindarkan ketergantungan tentara muslimin pada sosok Khalid.

Bagi kaum muslimin sendiri mereka teruji keimanan dan ketaatannya dengan tetap menunjukkan performa yang prima tanpa melihat siapa yang menjadi pemimpin. Dan masih banyak ibroh lainnya.

Bukunya kecil, ringan dan enak dibaca sambil iseng.. He he
Cocok buat sy yg sedang bingung mau baca apa.. 🙈

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

Senin, 01 Juni 2015

Tarikh Khulafa

Judul buku  : Tarikh Khulafa
Pengarang : Imam As Suyuthi
Penerbit    : Pustaka Alkautsar
Tebal buku : 593
Resumed by : Era IM2
 

Buku ini dicetak dengan 2 penerbit dan pengarang yang sama. Penerbit Qisthi Press dan buku yg saya baca ini penerbit al kautsar. Buku Tarikh Khulafa ini baru beberapa bab yang saya baca, kalau mood lagi bagus maka saya akan membacanya, karena harus fokus untuk membaca buku ini agar bisa dicerna dengan baik. Saya meresume tentang Sosok Abu Bakar dan dan gambaran tentang sosok Umar.

Akhir akhir ini diindonesia mulai berkembang faham syiah, bagi yang belum mengetahui atau belum faham tentang sejarah penguasa islam saya anjurkan untuk membaca buku ini. Agar ketika ada yang mencoba untuk menggoyangkan pemahaman kita tentang sejarah islam,kita sudah siap dan sudah faham bagaimana sejarah islam.itu.
 
Buku ini terdiri dari 4 BAB:
BAB I Mukaddimah
BAB II Khulafa'urrasyidin (dimulai dari Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Ustman bin 'Affan dan Ali bin Abi Thalib)
BAB III Dinasti Bani Umayyah
BAB IV Dinasti Bani Abbasiyyah

Buku ini dikupas apa adanya oleh Imam As Sayuthi, seorang ulama besar yang hidup antara tahun 849-911 H, mengungkap perikehidupan para khilafah(penguasa) berdasarkan periwayatan yang terpercaya dan komentar-komentar para ulama yang langsung menjadi pelaku sejarah. Karya beliau merupakan warisan yang sangat berharga karena kaya dengan pelajaran yang mendalam dan menjadi rujukan sepanjang zaman bagi umat yang ingin memahami sejarah para penguasaha pendahulunya.

Membaca buku ini kita dapat menyaksikan pada perjalanan umat islam dari semenjak masa kenabian, masa khulafa'urrasyidin serta masa kedinastian Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.Kekhalifahan mengalami masa keemasan pada masa masa khulafa'urrasyidin terutama pada masa khalifah Abu bakar, Umar dan setengah dari masa kekhalifahan ustman bin affan.Setelah berakhirnya masa khulafa'urrasyidin, kekhalifahan berpindah secara turun temurun, adakalanya berada ditangan orang shalih dan adakalanya berada ditangan orang yang zhalim dan durhaka.Namun bagaimanapun kondisi mereka tetap lebih baik dibanding dengan masa pasca kejatuhan khilafah.

Abu Bakar melambangkan sosok pemimpin yang lembut dan tegasdalam menghadapi problema problema sulit dan genting.Keputusannya yang sangat menegangkan takkala berhasil menyakinkan para sahabat untuk menyerang orang murtad yang tidak mau membayar zakat pada pemerintahannya menjadi sebuah kebijakan yang sangat legendaris karena pada saat itu banyak sahabat yang tidak setuju Abu Bakar menyerang orang-orang murtad tadi. Andai kata bukan karena tindakan bijak dan tegas Abu Bakar mungkin saja umat islam telah terkubur sejak awal.Ajaran kewajiban membayar zakat mungkin sudah menjadi "dongeng". Abu Bakar pulalah yang telah berhasil mengumpulkan Al-Quran sehingga memudahkan Ustman untuk menyatukannya dalam satu mushaf yang kemudian kita kenal dengan nama Mushaf Ustmani.

Sementara itu Umar adalah penguasa yang menjunjung tinggi kesederhanaan hidup, kecepatan bertindak dan tidak pandang bulu terhadap siapa saja yang melakukan kesalahan serta sikapnya yang terbuka. Umarlah yang memakai pakaian bertambal, dia pula yang melakukan inspeksi kerumah rumah.penduduk dimalam hari untuk mengetahui kondisi riil denyut dan jeritan suara rakyatnya, Umarlah yang dengan tenang tidur di bawah pohon kurma hingga orang yang datang tidak mengenalnya bahwa dia adalah seorang khalifah. Dia telah berhasil membumikan kezuhudan ajaran yang ada dalam Al-Qur'an dan pribadi Nabi pindah terpancar pada dirinya. Dimasa pemerintahannya penegakan hukum dan keadilan menjadi terlihat nyata.

Buku ini merekam jejak sejarah penguasa muslim(khalifah) tanpa ada bias sedikit pun.dan tanpa kepentingan apapun. Pada masa kekhalifahan inilah islam benar-benar menemukan para pelaku sejati. Mereka adalah orang-orang yang pantas dijadikan sebagai suri teladan bagi siapa saja yang menginginkan sebuah pemerintahan yang berdasarkan pada petunjuk Allah.

Minggu, 05 April 2015

UMAR BIN AL- KHATHTHAB



 
     Judul               : ‘UMAR BIN AL- KHATHTHAB
            Penulis             : Lajnah Ilmiah HASMI
            Penerbit           : LBKI (LEMBAGA BUKU KECIL ISLAMI )
            Penulis resume : Yessy Esti Wijayanti

                        



                        Wajah Al- Khaththab bin Naufal tampak cerah menerima ucapan selamat dari kaum kerabatnya dan senang hatinya dengan kehadiran seorang putra kecil yang diberi nama “ Umar “ oleh ibunya Hantamah binti hasyim. Umar bin Khaththab kala itu belum masuk islam hingga suatu malam , ia keluar rumah hingga tiba di Masjidil Haram dan umar melihat Rasulullah SAW sedang melaksanakan shalat. Rasulullah SAW membaca surat al- Haqqah, umar menyimak dan mendengar dengan baik hingga ia takjub dengan susunan bahasanya.
Mulai saat itu Islam masuk kedalam hatinya dan hal ini juga karena doa Rasulullah SAW :
“ Ya, Allah. Kuatkanlah Islam dengan Umar bin Khaththab secara khusus.” (HR.Ibnu Majah,lihat Silsilah ash- Shahihah ) dan “ Ya Allah, muliakan islam dengan Umar bin Khaththab atau Amr bin Hisyam maka Umar setelah itu datang kerumah Arqam bin Abi al- Arqam untuk bersaksi dan masuk Islam.
1.      Umar bin Khaththab termasuk penghuni surga , Seorang yang disegani hingga setan akan lari jika berpapasan dengannya. Rasulullah SAW bersabda :
“ Demi jiwaku yang berada ditangan-Nya, kamu tidak akan menjumpai setan berjalan pada suatu jalan melainkan ia berjalan dijalan selain jalanmu( HR. Al- Bukhari dan Muslim ).
“ Sesungguhnya saya melihat setan- setan jenis manusia dan jin berlarian dari ‘Umar.” (HR.at- Tirmidzi)
2.      Kemuliaan Umar bin Khaththab
            Dibawah naungan tarbiyah nubuwah, hal ini membuahkan kejernihan dan keputihan hati Umar bin Khaththab serta lisan yang mengucapkan kebenaran. Umar bin Khaththab mengusulkan agar tawanan perang Badar dipenggal, lalu Al-Qur’an turun memberi persetujuan, ia berpendapat untuk menjadikan tempat Nabi Ibrahim AS saat berdiri mendirikan Ka’bah sebagai tempat shalat lalu Al-Qur’an turun memberikan persetujuan.
3.      Ia adalah salah satu orang yang mendapat ilham dari ALLAH SWT
“ Sungguh pada umat – umat terdahulu sebelum kalian, ada orang – orang yang diberi ilham , maka jika ada pada umatku seorang saja, sesungguhnya itu adalah Umar” (HR. Al- Bukhari dan Muslim )
4.      Salah satu sebab kejayaan Islam
“ Kita senantiasa dalam kemuliaan sejak ‘Umar masuk islam “ (HR. Al- Bukhari)
5.      Kepribadian Umar bin Khaththab sederhana, tatkala harta rampasan dari tentara Kisra
( Raja Persia ) dikirim kepada umar untuk dibagikan kepadanya dan kaum muslimin. Tiba – tiba beliau membandingkan pandangan mata dan bashirahnya dengan kehidupan kedua sahabatnya yaitu Rasulullah SAW dan Abu bakar ra. Maka ia pun takut jika diuji dengan harta yang menggoda tersebut sebagai istidraj ( kenikmatan yang menyeret seseorang kepada kebinasaan )
6.      Kedermawanan Umar bin Khaththab laksana angin yang berhembus. Beliau berlomba- lomba dengan Abu bakar ra untuk menginfakan harta bendanya dijalan Allah SWT.
7.      Rasa takut Umar bin Khaththab kepada ALLAH SWT
Al- Hasan ra berkata : Kadang – kadang ketika ‘Umar membaca satu ayat dari bacaan rutinya, maka ia terjatuh sakit hingga dijenguk berhari- hari.”
8.      Sosok problem sover, Saat minuman keras (Khamr) masih dihalalkan pada kaum muslimin, ‘Umar ra berpendapat bahwa khamr akan menghilangkan akal dan menghabiskan harta kemudian ia berdoa, “ Ya Allah berilah penjelasan kepada kami tentang perihal minuman keras (khamr) karena sesungguhnya ia dapat menghilangkan akal dan harta”. Dan turunlah wahyu kepada Nabi Muhammad SAW :
“ Hai orang- orang yang beriman, janganlah kalian shalat,sedang kalian dalam keadaan mabuk,sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan.” (QS. An- Nisa’(4):40)
9.      Peduli terhadap anak- anak , Umar ra memandang bahwa subsidi bagi anak-anak merupakan hak wajib yang diberikan. Ia berpendapat bahwa masalah utama dalam memberikan hak-hak mereka semenjak mereka disapih. Akan tetpi beliau memergoki seorang ibu yang tergesa-gesa menyapih anaknya, Umar berkata : berdosalah umar betapa banyak anak-anak kaum muslimin yang ia bunuh karena ibu anak- anak tersebut tergesa-gesa menyapih anaknya.Oleh karena itu ia menetapkan subsidi bagi anak yang baru lahir dan para janda.
10.  Pengangkatannya sebagai Khalifah
Ini adalah pernyataan Abu Bakar, Khalifah Muhammad SAW disaat akhir hidupnya didunia,dan memulai memasuki gerbang akhirat, dimana orang kafir beriman, orang yang zalim yakin, dan pendusta akan jujur ,aku mengangkat setelahku untuk memimpin kalian “ Umar bin Khaththab. Dengarkan dan taatilah ia, Sesungguhnya aku menginginkan kebaikan untuk Allah, RasulNya, AgamaNya, diriku dan kalian. Jika ia berbuat adil, maka itulah dugaan dan ijtihadku tentangnya.Dan jika ia berubah, maka aku tidak mengetahui perkara ghoib, setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakannya.Dan orang-orang zalim akan mengetahui tempat kembali mereka.
Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, Beliau berjuang bagi kepentingan umat dan memperhatikan kesejahteraan umat. Pada suatu malam, beliau berkeliling untuk mengetahui keadaan rakyat jelata yang sebenarnya. Umar bin Khaththab adalah orang yang membuat sistem Baitula Mal , Sistem administrasi yang sangat rapi dan pembagian harta rampasan dengan adil .Diantara tugas-tugasnya beliau meneruskan penaklukan kota- kota di Syam,Persia dan Benua Afrika, Pada Masa Khalifah Umar bin Khaththab termasuk zaman yang gemilang dengan melimpahnya uang, anak yang didalam kandungan pun mendapatkan jatah untuk kehidupannya. Keberhasilan Umar bin Khathtab dalam memerdekakan negara- negara dunia yang cukup luas, membuat para musuh Islam dipenuhi perasaan iri dan dendam terlib Yahudi dan Persia. Beliau wafat pada usia 63 tahun dengan gelar syahid. Abu Lu’luah membunuh Umar ra karena rasa ketidakpuasan atas keadilan yang diberikan oleh Umar ra terhadapnya menyangkut permasalahan kharraj dan dihancurkannya kerajaan Persia. Menjelang wafatnya, beliau membentuk dewan pemilihan khalifah yang terdiri dari 6 orang sahabat, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Beliau dimakamkan berdampingan dengan kedua sahabatnya (Rasulullah SAWdan Abu Bakar ra ).