Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Agustus 2018

Muhammad Al-Fatih


Ketika mendengar kisah tentang Sang Penakluk Konstantinopel, saya jadi penasaran dan itu terjadi sudah lama, mungkin tiga atau empat tahun ke belakang. Sampai akhirnya saya memiliki kisah tentangnya. Tentang seorang pemuda yang sangat ditakuti oleh para penguasa Eropa di masanya, termasuk Roma. Buku yang ditulis oleh Ustd. Felix Siauw ini setidaknya mengobati rasa penasaran saya, walaupun sebenarnya saya masih ingin mengoleksi buku tentang Muhammad Al-Fatih karya yang lainnya.

Awalnya dia dicemooh, nyinyiran demi nyinyiran datang silih berganti kepadanya. Menapikan kekuatannya karena dianggap bocah kecil oleh sebagian besar penguasa Eropa. Untuk kali pertama ia mengemban tampuk kekuasaan Utsmani (h. 44) (setelah ayahnya wafat Sultan Murad II) diusianya yang masih belia yakni 14 tahun, bahkan dikalangan para menteri Utsmani juga ada beberapa yang meragukan kepemimpinannya. H. 45

Tapi semua itu tidak menciutkan nyali Sang penakluk. Ditangan Syaikh Aaq Syamsuddin ia bermetamorfosa menjadi seorang yang tangguh, seorang yang dewasa di atas usianya. Inspirator utamanya adalah Rosululloh saw. Keyakinan utama mengenai bisyaroh Rosul adalah ketataannya kepada Allah swt., dengan tidak pernah meninggalkan sholat, baik wajib maupun sunnah. Bahkan ia tidak pernah sekalipun ketinggalan sholat berjamaah. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi yang diriwayatkan oleh HR. Ahmad yang berbunyi: “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang menaklukannya”h. 5

Tiap-tiap tugas yang ia tugaskan kepada para ghazi atau prajurit terbaiknya ia lakukan terlebih dahulu. Sehingga para prajuritnya menjadikan ia teladan sekaligus sebagai pembangkit semangat mereka sebagai prajurit pilihan Allah yang telah disabdakan oleh Nabi. Bahkan seorang sejarawan Phillip K. Hitti pernah menulis bahwa “Seseorang akan dianggap gila jika pada tahun ketiga abad ke-7 meramalkan bahwa dalam satu decade kedepan akan muncul satu kekuatan tersembunyi dan tak terduga dari kawasan semenanjung Arab yang akan menghancurkan dua kekuatan dunia saat itu, Sassaniyah (Persia) dan Byzantium (Romawi). Namun, itulah sebenarnya yang terjadi. Setelah Nabi wafat, semenanjung Arab yang gersang itu tampaknya telah berubah, seperti terkena sihir, menjadi tempat kelahiran para ksatria yang jumlah dan kualitasnya sulit ditemukan di tempat lain.” H. 104

Terlepas dari penyesatan yang telah dilakukan kaum orientalis tentang stigma sejarah Islam, namun fakta sejarah lah yang berbicara. Bahkan setelah penaklukan kaum muslim terhadap daerah-daerah kekuasaan membuat daerah tersebut menjadi kian makmur dan sejahtera terlebih bebas dalam melaksanakan praktik keagaamannya masing-masing tanpa ada paksaan dari pihak muslim. Konstantinopel contohnya, selain menjadi Negara adikuasa dimasanya Negara tersebut juga menjadi pusat perdagangan terbesar. H. 104

Pada abad ke-15, pasukan Utsmani dapat dianggap sebagai pasukan paling modern dan terorganisir. H. 109 mengapa dikatakan paling modern di masanya? Karena strategi-strategi yang mumpuni yang belum pernah diterapkan oleh kekaisaran manapun saat itu sehingga wajar saja jika program kesultanan Utsmani sampai saat ini menjadi penyokong ide terbesar secara langsung maupun tidak dalam arti mengakui ataupun tidak bahwa ide brilliant itu bersumber dari kesultanan Utsmani terkhusus pada masa Al-Fatih. Memang seperti apa strateginya itu hingga tak lekang dimakan zaman? Muhammad Al-Fatih 1453 lah jawabannya.
Menurut Al-Fatih kunci kemenangan ada dalam 3 hal ini; Mempelajari al-Qur’an, mengamalkannya dalam perbuatan. Hal utamanya adalah tidak meninggalkan sholat, terkhusus wajib dan lainnya sunnah pun sholat malam. Dan yang ketiga puasa sunnah. Tak ayal setengah dari prajuritnya selalu melaksanakan sholat tahajud. H. 110

Konstantinopel, selama lebih dari 1000 tahun tidak ada yang bisa menaklukan. H. 6. Terakhir Sultan Murad II terpaksa harus bertekuk lutut kepada Negara yang memiliki tembok paling perkasa di zamannya. Sudah tak terhitung senjata apapun coba menghancurkan tembok tersebut, tapi ujungnya adalah pantulan tumpul dari senjata, sekuat apapun itu. Bila saja bukan karena keimanan dan keyakinan yang kuat akan bisyaroh Nabi mungkin Al-Fatih dan pasukan akan mundur karena gempuran demi gempuran tetap saja dapat dihalau oleh prajurit Konstantinopel. Bahkan menurut Halil Pasha, salah satu wazir atau menteri pada saat ini menganggap perjuangan Al-Fatih untuk membebaskan Konstantinopel adalah perjuangan yang mustahil. Kekalahan demi kekalahan menimpa pasukan Al-Fatih. Tak terhitung lagi berapa puluh ribu pasukan yang meninggal akibat lemparan senjata dari para prajurit bertahan. H. 222

Namun, kenyataan ini telah diprediksi oleh Al-Fatih bahwa setiap usaha pasti ada rintangan yang menghadang. Hal itu tak lain menguji keimanan seorang hamba. Dengan langkah gontai para prajurit yang tersisa kembali ke perkemahan. Namun yang pasti siapa yang dapat bertahan dialah yang memperoleh kemenangan. H. 156 dan tanpa disadari tantangan terbesar justru sudah menunggu di depan.

Sultan Mehmed biasa ia dipanggil tidak dapat memejamkan mata barang sedikit saja. Kegiatannya di malam hari ia habiskan dengan membaca al-Qur’an dan sholat tahajud. Selain memikirkan bagaimana caranya agar dapat menggempur tembok Konstantinopel juga menguasai pertahanan para prajuritnya ia pun harus menghadapi persoalan yang lebih pelik bahkan yakni gejala tidak baik di kubu internal. Memang sejak zaman Rosul pun kaum munafik selalu menyertai kaum muslim terlebih sudah jauh-jauh hari dalil tentang itu tercantum dalam al-Qur’an surat A-Taubah: 47-50. H. 170-171

Sekali lagi yang membuatnya bangkit adalah pesan dari Sang Guru bahwa sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pesan tersebut kian menguatkan keimanannya kepada Sang Kholik. H. 177 dan saat yang ditunggu-tunggu itu tiba. Ketika senja memasuki malam dan bulan menampakkan bentuk sabit sama halnya dengan bendera muslim. Karena masyarakat Konstantinopel masih kental akan mistisisme maka mereka menyangka bahwa keburukan sebentar lagi kan menerpa mereka.

Saat kekuatan spirit itu full dan siap menerjang benteng kokoh itu pihak lawan mampu menumbangkan prajurit demi prajurit muslim. Saking banyak yang terbunuh saat menaiki benteng Konstantine maka yang terlihat adalah tumpukan manusia dengan darah segar mengalir membanjiri tanah yang dijanjikan. Dengan tetap mengomando Al-Fatih merasakan betapa pengorbanan itu teramat dahsyat. Sudah tak terhitung lagi berapa ratus ribu prajurit ksatrianya tumbang. Belum lagi diperparah dengan prajurit yang terluka berat. Ia tahu bahwa mereka telah syahid dijalan-Nya

Disaat perjuangan itu terasa perih ia tetap mengayuh semangat para prajuritnya. Pekikan suaranya telah menyembunyikan suara tangis dan air mata yang jatuh. Pilihan kita hanya dua, syahid atau menang. Itulah sepenggal spiritnya kepada para pejuang muslim.
Saat membaca bagian ini jujur hanya air mata di keheningan malam yang menemani saya. Pengorbanan itu teramat besar, yang meluluhlantakkan semuanya dalam kepasrahan kepada janji Allah. Tidak peduli lapar menerpa, sakit yang mengucurkan darah segar. Hanya perjuangan di jalan Allah tujuan mereka.

Kegentingan mulai menjalari Sang penakluk, ia menyuruh prajuritnya untuk memanggil Sang Guru agar menemaninya. Namun prajurit itu kembali sendiri tanpa Sang Guru. Dengan situasi tersebut Al-Fatih kembali ke perkemahan untuk menemui langsung Sang Guru. Penjaga tidak memperbolehkannya masuk. Ia tidak menggubris larangan penjaga. Ia merangsek masuk dan di sana terlihat Sang Guru tengah bersujud lama sekali. Saat mengangkat kepala matanya sangat sembab oleh air mata. Ya Allah, NabiMu bukan seorang pembohong dan janjiMu adalah sebenar-benar diatas semua kebenaran, bebaskanlah Konstantinopel oleh para pejuangMu. Do’a dengan kepasrahan akut kepada Sang Pemilik Bumi.

Melihat itu, dengan menahan tangis tanpa berkata-kata Al-Fatih kembali ke medan juang. Dan disaat yang bersamaan meriam yang dilemparkan ke tembok akhirnya runtuh dan meninggalkan lubang menganga yang besar sehingga dengan mudah para prajurit muslim merangsek masuk bak air bah. Dan seketika pihak musuh terkepung. Lalu bagaimana dengan masyarakat Konstantine?, kemudian nasib rajanya? Biarlah Al-Fatih 1453 yang menjawabnya.

Al-Fatih menginjakkan tanah Konstantine pertama kali di Hagia Sophia, sebuah gereja orthodox yang kemegahannya tak tertandingi di masanya. Di sana banyak masyarakat sipil, anak-anak, pendeta, dan perempuan. Mereka menampakkan wajah takut dan tegang saat melihat Al-Fatih masuk. Tangisan yang terdengar dalam keheningan. Al-Fatih melangkah mendekati perempuan yang menggendong seorang anak. Tampak di wajah perempuan kengerian yang kan menimpanya, ia mencoba mundur perlahan berharap tidak terbaca. Al-Fatih semakin mendekat, ia lalu menjulurkan tangan kanannya dan membelai pipi sang anak. Sang anak tersenyum padanya dengan dibalas senyum oleh Al-Fatih.

Al-Fatih memangku sang anak dan kembali mendekati pintu ke luar. Lalu ia mengucapkan kata-kata yang tidak pernah terbayang sebelumnya oleh mereka yang berada di Hagia Sophia. Memang kata-kata apa yang diucapkan oleh beliau? Jawabannya, selamat membaca.


Judul                            : Muhammad Al-Fatih 1453
Penulis                         : Utsd. Felix Siauw
Penerbit, th. Terbit       : Al-Fatih Press, cet. 10, 2016
Hal                               : 320 hal.+ xxvi
ISBN                            :978-602-17997-0-3

 September 2017
- Isaimamiqi -


Minggu, 19 Agustus 2018

Api Sejarah (Jilid Kesatu)


Buku ini sudah lamaa nangkring di rak buku. Awalnya semangat banget pengen baca ini buku karena kukira novel eh ternyata bukan, isinya serius banget hahaha. Honestly, bagus isinya, ditengah peredaran buku dan artikel sejarah yang seringkali membingungkan. Kehadiran buku ini bisa memberikan pencerahan khususnya bagi umat Islam yang saat ini sering gaduh, agar kita belajar dari masa lalu bahwa tidak mungkin umat Islam memenangkan perjuangan kala itu jika tak bersatu. Menyimak perjalanan sejarah negara manapun, kemenangan dibangun oleh kekuatan visi dengan perjuangan bersama.

Buku ini dibagi menjadi empat gerbang (begitu istilahnya) dari mulai gerbang (1) Kebangkitan Islam dan pengaruhnya di Nusantara; (2) Masuk dan perkembangan Islam di Nusantara; (3) Politik Islam menjawab Imperialisme Barat; dan (4) Peran ulama dalam membangun kesadaran nasionalisme Indonesia.

Beberapa penulis sejarah menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Masehi, namun di buku inidisebutkan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia jauh sebelum itu bahkan jauh sebelum Nabi Muhammad lahir. Di buku sejarah lain disebutkan bahwa Islam mulai dikenal luas dan diakui sebagai agama resmi di Nusantara sejak masa kerajaan Majapahit saat mendekati masa keruntuhannya. Simbol-simbol Islam melekat bahkan di mata uang yang kala itu beredar. Simbol tersebut diganti setelah kemerdekaan RI tahun 1945.

Islam masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan. Ini menjadi poin penting bagi umat Islam bahwa mayoritas muslim kala itu adalah pengusaha, spirit terbesar mereka adalah sosok Rasulullah dan para Sahabat yang juga menjadi pengusaha-pengusaha sukses. Pasar dari dulu sampai sekarangpun bukan hanya menjadi pertukaran barang dan jasa akan tetapi juga bahasa, ideologi, politik, budaya, agama, pertahanan, dan keamanan. Namun entah mengapa pengusaha muslim saat ini minoritas dan ditengah minoritas ini juga minim spirit dakwahnya.

Pada masa perkembangan Islam di Nusantara sekitar abad 9-15 M, pasar dan pesantren mampu melahirkan kekuasaan politik Islam atau kesultanan karena saat itu pengusaha muslim dengan spirit dakwah menguasai pasar. Saat ini umat Islam belum menguasai pasar (ekonomi), spirit dakwah masih ditataran ulama yang tersegmen dari dunia ekonomi, maka wajar saja jika politik kita saat ini belum berpihak kepada Islam,sejarah membuktikan bahwa siapa yang menguasai pasar dialah yang menguasai politik.

Di buku ini juga dijelaskan tentang Genghis Khan, yang dalam buku sejarah dulu saat di sekolah digambarkan sebagai sosok bengis yang anti Islam dan banyak melanggar nilai kemanusiaan. Referensi sejarah Mongol yang kaitannya dengan penyebaran agama Islam memang sangat minim sehingga interpretasi terhadap Genghis Khan lebih banyak negatif. Di buku ini dijelaskan bahwa setelah runtuhnya dinasti Abbasiyah muncul kekuasaan politik Mongol dibawah Hulagu Khan yang beragama Kristen (Hulagu ini adalah salah satu pemimpin Genghis Khan yang menghancurkan dinasi Abbasiyah).

Salah satu keturunan Hulagu yang bernama Takudar banyak bergaul dengan pengusaha muslim yang menyebabkan dia kemudian masuk Islam. Sejak saat itu Islam mulai menyebar di Mongol bahkan ditetapkan sebagaiagama resmi di Persia dan Imperium Mongol. Hampir seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Genghis Khan menjadikan Islam sebagai agama resmi. Bahkan banyak suku-suku yang semula beragama Kristen kemudian menjadi muslim. Namun sejarawan barat nampaknya kurang suka terhadap sepak terjang kaisar Mongol dalam penyebaran Islam bahkan kemudian banyak yang antipati sehingga banyak terjadi pemelintiran sejarah Genghis Khan.

Kekuasaan Genghis Khan yang saat itu dipimpin oleh Kubilai Khan bahkan sampai ke Cina, yang kemudian di Cina dikenal sebagai Dinasti Yuan. Pengaruh Islam di Cina kala itu sangat besar sehingga ditetapkan sebagai agama resmi negara. Dinasti Yuan kala itu juga mengirimkan utusan ke kerajaan Singasari untuk memperluas pengaruh agama Islam di Nusantara. Bukti-bukti sejarah yang berhasil ditelusuri penulis menunjukkan bahwa Islam berkembang pesat di Nusantara karena pengaruh dari pedagang Cina atau Mongol, bukan dari pedagang India (Ghujarat) seperti yang banyak dituliskan dalam buku sejarah sebelumnya. Atau bisa jadi keduanya benar namun wilayah yang pertama kali mereka datangi berbeda.

-bersambung insyaAllah ini baru gerbang 1 dan 2-

Judul Buku      : Api Sejarah (Jilid Kesatu)
Penulis             : Ahmad Mansur Suryanegara
Penerbit           : Suryadinasti
Tahun Terbit    : 2015
Halaman          : 597

Bandung, Oktober 2017
-        - Tri Hanifawati -


Bilik-Bilik Cinta Muhammad


Siapa yang ingin rumahnya menjadi surga dunia, tentu semua kita ingin rumah itu bagaikan surga, tenang, damai, saling memahami, saling motivasi, berbagi dan sebagainya. Tentu semua kita menginginkannya. Namun untuk menghadirkan surga dirumah tentu tak semudah mengatakannya, karena pada kenyataannya ada saja konflik di dalam rumah, baik itu antara adik kakak, ayah ibu, dan anggota keluarga lainnya yang ada.

Adakah rumah yang seperti surga penuh kedamaian itu? Ya tentunya ada. Bagaimana caranya?

Nah buku ini hadir untuk menjawab itu semua. Kumpulan kisah perjalanan Rosulullah, apa saja yang terjadi dan bagaimana cara menyikapinya.

Berawal dari rumah Abu Thalib, Muhammad kecil yang sudah menjadi yatim diasuh oleh kakenya dan setelah itu pamannya yaitu Abu Thalib. Sepeninggal kakeknya ia diterima Abu Thalib tinggal dirumahnya. Muhammad seolah tak bisa hidup tanpa pamannya, dimanapun sang paman berada, selalu ditemaninya. Begitu juga dengan bibi Fathimah bint Asad, istri Abu Thalib, ada ketulusan cinta yang tidak dijumpai pada wanita lain disekitarnya. Ada kelembutan dan kasih sayang yang Muhammad dapatkan di rumah Abu Thalib, sampai akhirnya Ia bertemu dan menikah dngan Khadijah.

Khadijah adalah sosok istri yang mampu berharmoni dengan irama kehidupan suaminya. Tak ada yang diinginkan dari suami tercinta selain ridanya. Begitu pula Muhammad, ia mengimbangi sikap tak kalah hormat kepada istrinya. Sebuah rumah tangga terbentuk, damai, tentram, bahagia tak tertandingi. Dalam jangka waktu yang lama Khadijah sukses menyiapkan kondisi spiritual Muhammad untuk menerima wahyu dan berjihad.

Disaat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, Khadijah dengan takjub dan berujar “alangkah indah kata-kata ini, Muhammad! Belum ku dengar sebelum ini! Disaat nabi Muhammad membacakan QS. Al-Alaq: 1-5. Walaupun hati khadijah bertanya-tanya dan khawatir. Tapi hal itu tak dilihatkannya di depan suaminya.

Dibuku ini juga dikisahkan bagaimana rumah ibu-ibu Kaum mukmin, tak lain adalah rumah istri-istri Nabi Muhammad, disaat bersama putra putri dirumah, bersama cucu, anak tiri dan anak anak lain. Bersama kerabat dan tamu dirumah, dirumah para sahabat, bersama budak dan pelayan, yang digambarkan dalam bentuk kisah-kisah.

Pelajaran yang dapat dimbil juga dirangkum dalam satu tema yaitu teladan suci rumah tangga nabi. Dimana nabi hidup sederhana, jauh dari kemewahan. Suatu kali Abdullah ibn Mas’ud masuk kebilik Nabi SAW. Melihat kondisi beliau demikian, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kubuatkan tali geriba untuk alas tidurmu sehingga tubuhmu terlindung dari tikar itu?” Beliau menjawab, “Dunia tak ada apa-apanya bagiku. Aku dan dunia hanyalah seperti seorang penunggang berteduh di bawah pohon, yang sebentar berlalu meninggalkan pohon itu.”

Teladan selanjutnya, Penuh cinta, cinta adalah rahasia kebahagiaan hidup rumah tangga. Rumah tanpa cinta bagaikan tubuh tanpa ruh. Di atas fondasi cinta inilah rumah Nabi berdiri, cinta yang memenuhi hati seluruh istrinya tanpa terkecuali.

Amanah, setia, santun, rendah hati dan melayani keluarga, tawakal dan mendahulukan orang lain, bersih dan wangi, cinta kasih,zikir dan ibadah, Amar Makruf nahi munkar, giat dan jauh dari hiburan, ilmu dan bimbingan, menghargai dan menghormati orang lain, adil dan  prihatin.

Begitulah cara Nabi dan keluarga menghadirkan ketentraman dan kedamaian dalam rumah tangga. Nabi adalah manusia biasa layaknya manusia pada umumnya. Rumah beliau tak berbeda dengan rumah para sahabat. Para sahabat berusaha mencontoh beliau. Beliau sukses membangun tatanan masyarakat madani yang berpengaruh dan didambakan para pemikir dan ilmuwan sepanjang zaman.


Judul buku: Bilik-Bilik Cinta Muhammad
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Halaman: 327

2        24    Juli 2018 
Belia Laksmi Masril -



Minggu, 16 Juli 2017

API SEJARAH (Jilid 2)


Hasil gambar untuk api sejarah


Api Sejarah 2 melanjutkan kupasan sejarah di Indonesia yang telah dituliskan dalam Api Sejarah 1. Jika dalam Api Sejarah 1 kita akan merasakan perubahan sudut pandang secara drastis terhadap Sejarah Indonesia, maka di sekuel keduanya ini rasa kepenasaran terhadap kebenaran sejarah indonesia akan tuntas, terutama dalam era pasca 1942 hingga orde reformasi.

Buku ini terbagi menjadi 5 bab yang merupakan kelanjutan dari bab pada Api Sejarah 1. Dimulai dari “Peran Ulama Dalam Pembangunan Organisasi Militer Modern”, dilanjutkan dengan “Peran Ulama Dalam Gerakan Protes Sosial dan Pemberontakan Tentara Pembela Tanah Air”. Dua bab awal ini lebih menonjolkan peran ulama pada masa penjajahan Jepang. Pada bab berikutnya, penulis menyajikan kupasan mengenai “Peran Ulama dalam Menegakkan dan Mempertahankan Proklamasi” yang dilanjutkan dengan “Peran Ulama Menegakkan dan Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, dua bab ini menjelaskan tentang pasang surut peran ulama dalam masa revolusi Indonesia dan masa orde lama yang perlahan mulai dikengkang oleh pejabat penting Indonesia. Serta bab “Langkah penyesuaian Ulama dan Santri di Orde Baru dan reformasi” menutup kisah kebenaran sejarah Indonesia yang ditulis pada buku ini.

Sesuai dengan judul buku ini, Api Sejarah 2 ini berhasil memberi sebuah cahaya ditengah kegelapan akan kebenaran sejarah Indonesia yang begitu terasa meragukan dan janggal. Melalui buku ini kita akan tahu begitu penting dan sentralnya peran ulama dan santri dalam penegakkan NKRI sejak awal kedatangan kaum imperialis diawal abad 16 hingga memasuki era modern sekarang ini yang sangat jarang ditampilkan kepublik. Melalui buku ini pula, Ahmad Mansyur Suryanegara membongkar upaya deislamisasi dan depolitisasi ulama penulisan sejarah Indonesia yang sudah berlangsung lama.

Jika ketika melihat buku-buku sejarah pada umumnya, terdapat pembatasan antara rangkaian peristiwa, tokoh dan gagasan yang melatarbelakangi peristiwa dan tokoh sejarah tersebut. Pada pembelajaran sejarah tingkat awal biasanya melakukan pendekatan melalui pengenalan peristiwa-peristiwa sejarah lalu pada tingkat lanjut kita mempelajari sejarah melalui pendekatan gagasan-gagasan yang tercipta dalam sejarah. Namun Api Sejarah ini dengan berani menyajikan ketiga hal tersebut sekaligus dan langsung menuntaskan semua pertanyaan mengenai sejarah-sejarah Indonesia yang terlupakan ini secara gamblang disertai dengan bukti pendukungnya.

Buku ini cukup merepotkan bagi yang belum terbiasa membaca tulisan sejarah yang menampilkan kerumitan antara peristiwa, tokoh dan gagasan. Untuk memahami setiap peristiwa dalam buku ini kita perlu membolak-balik halaman hingga maju mundur dalam membacanya. Selain itu dengan tema yang berloncat-loncat, peristiwa yang dikupas secara singkat, dan penyelipan foto tokoh-tokoh sejarah dengan penjelasan singkat ini masih menimbulkan rasa penasaran bagi para pembacanya. Namun jika dilihat dari ruang lingkup bahasan sejarah pada buku ini yang terbatas pada peran Ulama dalam menegakkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik indonesia, maka rasa penasaran tersebut benar-benar sudah terjawab di buku ini.

Secara umum, buku ini benar-benar layak untuk dibaca oleh semua pecinta sejarah Bangsa ini. Bahasa yang ditampilkan secara lugas, cerdas, dan berkualitas telah menyajikan sejarah Islam Indonesia sebagai sesuatu yang patut diingat dan dihargai. Menjadi sebuah api yang menjadi pelita ummat Islam untuk selalu berusaha menorehkan sejarah terbaiknya selama hidupnya di dunia ini.

Ulama dan Santri, walaupun demikian akbar mahakaryanya tetapi tetap tidak sunyi dari adanya lawan. Dengan Deislamisasi penulisan sejarah Indonesia, mereka akan mengubah pikiran bangsa dan memadamkan cahaya Islam. Berhasilkah usaha lawan Islam? Allah dalam Al-Quran menjawab, justru lebih menyempurnakan jalan dan hukum syariat Islam.



Judul Novel                    : Api Sejarah Jilid II
Penulis                            : Prof. Ahmad Mansur Suryanegara
Penerbit                          : PT. Salamadani Pustaka Semesta, Bandung
Tahun Terbit                 : 2010


Bandung, 11 Juli 2017
Muhammad Insan Aulia

API SEJARAH (Jilid 1)

Gambar terkait
Ahmad Mansur Surynegara menceritakan bahwa Islam mempunyai peran yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Pengarang ingin mencoba menjelaskan tentang pengaruh Islam dan ulama dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Namun, akan terlalu berlebihan jika menuding buku ini hanya menonjolkan peran satu golongan. Sebab, buku ini mengajak kita untuk bersedia mengoreksi dan meletakkan fakta-fakta yang belum terungkap secara proporsional.

Secara garis besar buku ini dibagi dalam beberapa sub pembahasan berdasarkan pembabakan waktu sejarah. Pembahasan tersebut di kelompokkan dalam 4 bab, yaitu :

Bab Pertama (Pengaruh Kebangkitan Islam di Indonesia)

· Penamaan berbagai tempat dan selat dengan bahasa Arab, karena sudah sejak lama Islam telah banyak melahirkan cendikiawan muslim jauh sebelum Barat tampil sebagai imperialis.

·  Persinggungan yang kuat dengan Islam, maka sampai muncullah kekuatan politik Islam seperti: Leran Gresik, Samodra Pasai, Aceh, Demak, Mataram, Cirebon, Banten, Jayakarta, Sumedang, Pontianak, Ternate, Tidore, Ambon, Malaka, Brunei, dll

Bab Kedua (Masuk dan Perkembangan Agama Islam di Nusantara Indonesia)

· Teori Gujarat dari Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje (Orientalis Belanda). Katanya tidak mungkin Islam masuk tanpa melalui ajaran tasawuf di India, dan daerah yang pertama dimasuki adalah Kesultanan Samodra Pasai pd abad ke-13. Dr. Snouck tak mampu membedakan kapan Islam masuk dan kapan Islam berkembang, kemudian mahzab apa? Sungguh sangat lemah pendapatnya ini.

·  Teori Makkah menurut Prof. Dr. Buya Hamka (Medan, 1963), didasarkan pada berita Cina Dinasti Tang, telah ada hunian bangsa Arab Islam di pantai Barat Sumatera pada abad ke-7 Masehi.

· Teori Cina dari Prof. Dr. Slamet Muljana (1968), mengatakan bahwa Sultan Demak adalah peranakan Cina, dan bahkan Wali Songo juga merupakan peranakan Cina. Didasarkan pada Knonik Klenteng Sam Po Kong yang menyebutkan Sultan Demak Penembahan Fatah dg Panembahan Jin Bun, Sultan Trenggana dg Tung Ka Lo, Sunan Ampel dg Bong Swi Hoo, dan Sunan Gunung Jati dg Toh A Bo.

·  Teori Maritim menurut N.A Baloch sejarawan Pakistan. Disebutkan bahwa Umat Islam telah memiliki navigator/mualim dan wirausaha muslim yang dinamik dalam penguasaan maritim dan pasar. Karenanya melalui aktivitas tersebut ajaran Islam mulai diperkenalkan di sepanjang laut niaga di pantai-panti tempat persinggahannya pada masa abad ke 1 Hijriah/7 Masehi.

 Bab Ketiga (Peran Kekuasaan Politik Islam Melawan Imperialisme Barat)

·  Wirausahawan muslim yang datang ke Indonesia tidak hanya sebatas bertindak sebagai pelaku pasar semata, namun juga pengaruh pasar juga mengakumulasi kebutuhan ekonominya dan dari pasar tumbuh kebutuhan lain, yakni pendidikan generasi muda dan pesantren maka lahirlah komunitas baru di tengah masyarakat Nusantara Indonesia yang antara lain: 1)Wirausahawan dari pasar dan Bandar pelabuhan; 2)Ulama dari pesantren dan masjid serta pasar; 3)Santri dari masyarakat, putra sultan dan putra wirausahawan; 4)Perkembangan berikutnya komunitas ini, menuntut dibentuknya pemerintahan atau kekuasaaan politik Islam atau Khilafah.

·  Pada abad ke-9 Masehi telah terbentuk kekuasaan politik Islam di Aceh. Abad ke-11 Masehi telah berdiri pula kekuasaan politik Islam di Leran Gresik, Jawa Timur, yang dibangun oleh Fatimah Hibatoellah binti Maimoen jauh sebelum Keradjaan Hindoe Madjapahit dibangun di Trowulan Mojokerto, Jawa Timur 1294 Masehi.

·  Perlawanan kekuasaan politik Islam terhadap Barat adalah karena imperialisme mereka yang hendak menjadikan rakyat Indonesia sebagai budak di tanah sendiri.

·  Muncul berbagai perlawanan kekuasaan politik Islam seperti Kesultanan Demak dan Kesultanan Aceh untuk merebut kembali Malaka, 1512 Masehi yang telah direbut oleh Imperialis Katolik Portoegis, Albuquerque 1511 Masehi. Kesultanan Cirebon oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati 1527 Masehi, Kesultanan Banten/Mataram oleh Sultan Agung 1613-1645 Masehi, Sultan Hasanuddin Makasar 1653-1669 Masehi, Pangeran Diponegoro 1825-1830 Masehi, Imam Bonjol Sumatera Barat 1821-1837 Masehi, Si Singamangaradja XII 1872-1907 Masehi.

·  Memasuki abad ke-20, 1900-1939 Masehi muncullah beberapa -Isme yang timbul pada masa kebangkitan kesadaran nasional Indonesia yang dipelopori oleh Nasionalisme Islam diikuti oleh –Isme kontranya: 1)ISLAMISME (memelopori bangkitnya kesadaran nasionalisme Islam seperti Djamiatoel Choir, Al-Irsjad, Sjarikat Dagang Islam, Sjarikat Islam, Persjarikatan Moehammadijah, Persjarikatan Oelama, Matla’oel Anwar, Nahdlatoel Oelama, Nahdlatul Wathan, Persatoean Moeslimin Indonesia dan Persatuan Islam; 2)Djawanisme, Tradisionalisme, Kesoendenisme (Boedi Oetomo, Serikat Prijaji, Igama Djawa Pasoendan, Seloso Kliwon-Taman Siswa; 3)Komunisme (Ide komunis internasional yaitu Perserikatan Kommunist di India (PKI) diikuti ide komunis nasional; 4)Marhaenisme (Perserikatan Nasional Indonesia/PNI); dan 5)Kebangsaan Sekuler (Partai Indonesia Radja/Parindra, Gerakan Rakjat Indonesia/Gerindo).

Bab Keempat (Peran Ulama dalam Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional)

Peran Ulama dalam Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional (1900-1942). Bab ini dimulai dengan munculnya organisasi pertama yang memelopori perjuangan kemerdekaan, yaitu Serikat Islam yang dipimpin Oemar Said Tjokroaminoto. Karena Belanda terlalu khawatir, sehingga dibentuklah organisasi tandinganya Budi Utomo, Budi Utomo ini organisasi yang eksklusif khusus buat Priyayi saja. Sehingga Budi Utomo tidak lebih merakyat dibandingkan Serikat Islam. Selain Serikat Islam ada juga Serikat Ulama, Muhamadiyah, NU dan lain-lain.



Judul Novel                    : Api Sejarah Jilid I
Penulis                            : Prof. Ahmad Mansur Suryanegara
Penerbit                          : PT. Salamadani Pustaka Semesta, Bandung
Tahun Terbit                 : 2009

Bandung, 11 Juli 2017
Muhammad Insan Aulia

Selasa, 28 Februari 2017

Sehari Di Kediaman Rasulullah

Mayoritas kaum muslimin pada hari ini terjebak diantara dua sikap yang kontradikrif terhadap Rasulullah, ada yang berlebih lebihan terhadap Beliau bahkan sampai terseret ke dalam perbuatab syirik dan ada pula yang memandang remeh kedudukan Beliau sebagai utusan Allah SWT.

Buku kecil ini hadir sebagai upaya memperkenalkan biografi dan seluk beluk kehidupan Rasulullah. Kehidupan Rasulullah SAW adalah sebagai penuh tauladan bagi umat, acuan dakwah sekaligus peduman hidup. “ Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”(Al-Qalam:4).

Kita akan mengadakan kunjungan istimewa, mengunjungi Rasulullah SAW di rumah beliau melalui untaian kata dan kalimat. Seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, banyak literatur-literatur yang dibaca kaum muslimin, mereka dapat dengan mudah mengunjungi Timur dan Barat melalui buku-buku, tulisan-tulisan dan film. Penulis mengingatkan kita akan kunjungan syar’i ke rumah Rasulullah SAW dari pada mereka.

Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa mencintai beliau termasuk salah satu sebab mendapat manisnya iman. Perjalanan menuju rumah Rasulullah SAW merupakan sebuah perjalanan yang sarat ibrah dan pelajaran, penuh teladan yaitu perjalanan melalui kitab-kitab dan riwayat-riwayat dari lisan para sahabat.

Rasulullah menetap di kota Mekkah selama lebih kurang sepuluh tahun setelah itu hijrah ke Madinah. Mengunjungi kota Madinah, maka akan terlihat gunung Uhud yang dikatakan Rasulullah SAW “ ini adalah gunung yang mencintai kami, dan kamipun mencintainya (Muttafaq ‘alaih).

sebelum memasuki kediaman Rasulullah SAW, sejenak kita melihat bangunannya. Sebuah bangunan kecil yang sangat sederhana yang sangat zuhud terhadap dunia. Beliau tidak menoleh pandangan pada kemewahan dan gemerlapan harta benda dunia. Yang menjadi penyejuk mata hati beliau hanyalah ibadah sholat.

‘ Aku tak tertarik dengan dunia! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengendara  yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera pergi dan meninggalkannya (untuk kembali melanjutkan perjalanan). (HR. At Tirmidzi).

Saat memasuki rumah beliau, terlihat kamar-kamar yang sederhana, dibangun dari pelepah kurma dan polesan tanah, sebagian lagi dengan batu yang di tata sedemikian rupa. Langit- langit rumah tersebut dapat dijangkau dengan tangan. Kesederhanaan itu penuh dengan cahaya keimanan dan ketaatan dengan wahyu dan risalah ilahi.

Sahabat yang melihat langsung Rasulullah SAW menceritakan agar kita seolah-olah melihat beliau. Al-Bara bin Azib menuturkan” nabi adalah seorang yang sangat tampan wajahnya, sangat bagus postur tubuhnya, beliau tidak jangkung dan tidak pula pendek.” (diriwayatkan oleh al-  Bukhari).

Beliau adalah seorang yang rendah hati lagi lemah lembut. Kepedulian beliau terhadap umat ialah dengan memperhatikan tingkatan intelektualitas dan pemahaman mereka di dalam berkomunikasi, hal itu menunjukkan beliau adala seorang yang sangat penyantun lagi sabar.

Rasulullah SAW biasa minum dengan sebuah gelas terbuat dari kayu yang tebal dan disepuh denga besi. Dengan gelas itu Rasulullah biasa meminum air, Nabidz, madu dan susu.

Beliau juga sangat setia menjaga hubungan tali silaturrahim dengan karib kerabat. Khadihah melukiskan sifat beliau dengan ucapannya “ Engkau adalah seorang yang suka menyambung tali silaturrahim dan selalu berkata jujur”. Betapa besarnya kecintaan Rasulullah kepada karib kerabatnya, beliau mendakwahi, membimbing, serta menyelamatkan mereka dari api neraka. Beliau begitu tabah dalam menghadapi segala macam kesulitan untuk itu. Saat berusia 7 tahun beliau menziarahi makam ibunya.

Aktivitas Rasulullah SAW, tidak ada satu perkarapun yang melalaikan Rasulullah dari beribadah dan berbuat ketaatan. Beliau segera menyambut seruan adzan dan meninggalkan segala aktivitas duniawi.

Dalam aktivitas terhadap makanan, beliau memakan apa yang disajikan, beliau tidak menolak makanan yang dihidangkan dan tidak mencari-cari apa yang tidak tersedia.

Rasulullah adalah seorang yang banyak berdoa, memohon dan menunjukkan ketergantungan kepada Allah. Beliau senantiasa berdoa dalam keadaan lapangmaupun sempit. Saat perang Badar, beliau berdoa kepada Alla SWThingga selendang beliau jatuh dari kedua pundaknya.

Dipenghujung kunjungan, Rasulullah  SAW memiliki hak yang wajib ditunaikan untuknya. Supaya menyempurnakan kebaikan yang kita peroleh.

Perpisahan, kita akan bertolak meninggalkan rumah yang dibangun di atas pilar-pilar iman dan ketaatan. Tinggalllah sunnah Rasulullah SAW dalam genggaman kita, sebagai rambu kehidupan yang menghendaki keselamatan dan sebagai pedoman bagi yang menghendaki hidayah.

Judul buku: Sehari Di Kediaman Rasulullah
Penulis: Abdul Malik Bin Muhammad Al-Qasim
Penerbit: Darul Haq
Halaman: 126
Peresume: Belia Laksmi Masril
24 Februari 2017


The Great Leaders, Kisah Khulafaur Rasyidin

Manusia kedua setelah Rasulullah SAW yang ingin saya jumpai (kelak-jika diridhoi Allah SWT) ialah Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Setelahnya ialah Umar bin Khaththab r.a., setelahnya lagi Ustman bin Affan r.a, dan setelahnya lagi Ali bin Abi Thalib r.a. Mencintai sahabat Rasulullah SAW dengan membaca sirahnya adalah salah satu cara menumbuhkan dan menambahkan rasa cinta saya kepada Nabi Muhammad SAW.

Buku ini salah satunya. Buku yang cukup lengkap mengisahkan tentang empat sosok khulafaur rasyidin. Empat khalifah  tersebesar sepanjang masa setelah Rasulullah SAW. Dalam versi aslinya (berbahasa arab), buku ini hadir dalam 4 jilid, dimana masing-masing jilid menceritakan kepribadian masing-masing khalifah, kehidupannya pada masa jahiliyah, awal mula mereka masuk islam, peristiwa hijrah hingga di medan pertempuran, masa-masa menjabat sebagai khalifah, hingga wafatnya para khulafaur rasyidin. Semua menjadi satu jilid dalam versi bahasa Indonesia, dan dalam satu bab pokok yang masih terbagi lagi menjadi subbab.

Maka saya awali dengan beberapa bab kisah khalifah pertama, Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. Subbab; Abu Bakar Ash-Shiddiq Selama Berada Di Mekkah, Keislamannya Hingga Peristiwa Hijrah. Di subbab ini kita akan lebih mengenal sisi lain Abu Bakar r.a., sahabat yang paling dicintai Nabi SAW.

Gelar ash-shiddiq yang tersemat pada Abu Bakar tak lain karena seringnya beliau membenarkan perkataan dan ajaran dakwah Rasulullah SAW. Salah satu contoh yang dikisahkan adalah saat peristiwa isra’ mi’raj Rasulullah SAW, dimana masyarakat saat itu baik kaum muslim maupun musyrik meragukan perkataan Nabi tentang perjalanan isra’ mi’raj Nabi SAW., melainkan hanyalah Abu Bakar yang membenarkannya. Pun semasa jahiliyah dikisahkan Abu Bakar tidak pernah meminum khamr dan tak pernah menyembah berhala. Karena beliau pernah melihat seorang kawannya meminum khamr dan mengakibatkan hilang akal dan kendali sehingga memasukkan kotoran ke dalam mulutnya. Adapun patung berhala yang ada, tak dapat mengabulkan semua permintaan Abu Bakar kecil, saat Abu Quhafah, sang Ayah menyuruhnya menyembah patung berhala. Maka bekerjalah logika Abu Bakar kecil untuk tak pernah mengimani berhala sebagai Tuhannya.
Disebutkan pula ciri-ciri fisik Abu Bakar yang dikisahkan Aisyah r.a., saat ada seorang lelaki bertanya ciri fisik Ayahnya.  Abu Bakar juga menikahkan putrinya, Aisyah r.a dengan Rasulullah SAW atas permintaan Rasulullah SAW. Pernikahan itu berlangsung sepeninggal wafatnya Ummul Mukminin, Siti Khadijah.

Satu bagian kisah yang kerap kita ingat adalah saat Abu Bakar r.a. menyelamatkan seorang budak berkulit hitam Bilal r.a. dan memerdekakannya. Di bab ini ternyata juga diceritakan bahwa Abu Bakar banyak memerdekakan budak-budak, semata mengharap keridhaan Allah SWT.

SEJAK KEISLAMANNYA SAMPAI PERISTIWA HIJRAH
Saat Abu Bakar menyatakan keislamannya dihadapan Rasulullah SAW, Rasulullah adalah orang yang merasa paling berbahagia dengan keislaman Abu Bakar. Setelahnya Abu Bakar pun segera menemui Ustman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah dan banyak kawan lainnya, mengajak dan menyeru untuk memeluk agama Allah SWT. Hal ini lebih mudah bagi Abu Bakar, mengingat Abu Bakar adalah lelaki asli keturunan kaum Quraisy yang paham betul baik buruk keadaan kaumnya, dicintai kaumnya dan dikenal pandai bergaul. Abu Bakar juga seorang pedagang yang memiliki akhlak terpuji. Sehingga banyak kaum Quraisy yang dengan mudah menerima ajaran Islam melalui Abu Bakar.

Dalam satu riwayat dari Aisyah r.a. pernah satu ketika jumlah kaum Muslim saat itu masih berjumlah sedikit, sekira 38 orang. Namun Abu Bakar meminta Rasulullah SAW untuk berdakwah secara terang-terangan. Nabi SAW. mengatakan bahwa saat itu bukan waktu yang tepat, mengingat jumlah kaum muslim  masih sangat sedikit. Abu Bakar tak bisa menahan diri, hingga akhirnya ia berpidato dihadapan semua orang sementara Rasulullah SAW duduk disampingnya. Abu Bakar menyeru agar semua kaum Quraisy menerima ajaran agama Allah SWT dan Rasul-Nya. Tak pelak, kaum musyrik yang melihat dan mendengar pidato Abu Bakar saat itu marah dan memukuli kaum Muslim dengan beringas. Abu Bakar pun tak luput dari pukulan seorang musyrik, Utbah bin Rabi'ah. Dengan beringas ia memukul perut Abu Bakar hingga darah mengucur deras dari hidungnya. Kericuhan terhenti saat Bani Tamim datang melerai dan membela Abu Bakar. Beliau lemah tak berdaya hingga baru tersadar keesokan harinya. Saat sadar, kalimat pertama yang terucap dari bibirnya adalah, "Bagaimana keadaan Rasulullah SAW?". Bertubi-tubi Abu Bakar hanya menanyakan keadaan Rasulullah SAW, hingga memaksa Ummu Jamil dan Ibundanya, Ummul Khair membopong tubuh penuh luka Abu Bakar ke hadapan Rasulullah SAW. Nabi SAW menyambut Abu Bakar dan menciumnya. Melihat sahabatnya lemah tak berdaya, Rasulullah SAW menangis tersedu-sedu, dan Abu Bakar masih sempat berkata, "Aku tak apa-apa Rasulullah."

Dikisahkan kembali saat Abu Bakar pernah menangis karena bahagia, setelah mengetahui bahwa dirinya terpilih untuk mendampingi Nabi SAW. hijrah ke Madinah. Abu Bakar sudah menyiapkan dua hewan tunggangan untuk hijrah dan merawatnya sejak jauh hari, tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW. Buku ini juga menceritakan tentang persembunyian  Rasulullah SAW dan Abu Bakar di dalam gua untuk menghindari kejaran kaum musyrik. Abu Bakar memeriksa semua lubang di dalam gua, memastikan keamanannya dari serangan hewan. Satu lubang ditutupnya dengan helai kain yang dirobek dari jubahnya, dan dua lubang lainnya beliau tutup dengan kedua kakinya. Rasulullah SAW pun tertidur nyaman di pangkuan Abu Bakar. Tak lama, kaki Abu Bakar pun tersengat hewan dari salah satu lubang. Tubuhnya tak bergeming, meski kakinya sakit disengat hewan. Abu Bakar takut, jika ia menggerakkan kakinya, Rasul Allah yang mulia itu terbangun dan terganggu tidurnya. Jadilah Abu Bakar hanya meringis dan menangis menahan sakit, hingga air matanya jatuh ke wajah Nabi SAW. Peristiwa itu terekam dalam Al-Qur'an surat At-Taubah: 40.

Abu Bakar mendampingi Nabi SAW. hingga memasuki Kota Madinah. Saat itu, masyarakat muslim Madinah (yang disebut kaum Anshar), sudah menunggu kedatangan Rasulullah SAW sejak pagi. Adalah mereka kaum anshar, yang mengimani agama islam bahkan sebelum bertemu Nabi SAW, dikisahkan juga di buku ini. Sesampainya di Madinah, Abu Bakar terserang wabah penyakit demam. Kala itu, Madinah adalah kota yang sering terserang wabah penyakit demam. Hingga akhirnya Rasulullah SAW berdoa agar wabah itu dipindahkan ke daerah lain. Abu Bakar dan sahabat-sahabat lainnya berangsur sembuh dari sakit.

Buku ini, meski baru sebagian subbab saja yang saya resume, semua poin terasa penting untuk diketahui karena penuh dengan hikmah. Membuat saya jadi semakin mengenal lebih personal sahabat kesayangan Rasulullah SAW ini, jika dibanding buku-buku tentang khulafaur rasyidin sebelumnya yang pernah saya baca juga. Subbab lain yang tak cukup dipaparkan disini, ialah tentang bagaimana sejarah perjuangan Abu Bakar di medan pertempuran, keutamaan-keutamaan Abu Bakar, peran-perannya saat menjabat sebagai khalifah umat muslim dan idenya untuk menghimpun Al-Qur’an.

Sejarah khulafaur rasyidin di buku ini selain ringkas, padat dan lengkap, setiap poin peristiwa yang dinukilkan mempunyai sumber jelas. Ada catatan kaki yang berisi info rujukan buku yang dikutip oleh penulis di setiap halamannya. Ini masih tentang khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, belum 3 khalifah agung lainnya.

Maka, tak ada persahabatan yang lebih indah, melebihi indahnya cinta para sahabat kepada Rasulullah SAW, begitupun sebaliknya. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad~

Judul Buku : The Great Leaders, Kisah Khulafaur Rasyidin
Penulis : Ahmad Abdul ‘Aal ath-Thahthawi
Penerbit : Gema Insani
Jumlah Halaman : 435 halaman

Peresume : Nafisah AR

Selasa, 28 Juni 2016

TARIKH KHULAFA





Sejarah adalah tak lebih merupakan kumpulan biografi orang-orang besar (Thomas Carlyle). Kalimat tersebut adaah ungkapan yang paling tepat untuk melukiskan makna sejarah sebab hanya mereka yang pernah melakukan pekerjaan yang agung dan besarlah yang berhak untuk dicantumkan dalam sejarah. Buku yang di tulis oleh Imam As Suyuthi ini berisikan rekam jejak sejarah penguasa Islam tanpa ada bias sedikitpun. Membaca buku ini benar-benar membuka cakrawala kesejarahan saya yang selama ini begitu menyedihkan.😆 Sebab buku ini memaparkan fakta yang selama ini belum saya temui. Ini salah satu buku favorit saya karena perkenalan dengannya pun istimewa.

Kali ini saya akan meresume tentang khalifah Ustman bin Affan. Jika sebelumnya Umar diangkat langsung menjadi khalifah oleh Abu Bakar, beda halnya dengan Ustman. Beliau diangkat menjadi khalifah setelah hasil musyawarah atas titah Umar saat masa-masa kritisnya.
Ustman adalah sosok yang sangat pemalu, bahkan dalam sebuah riwayat dikatakan saking pemalunya Ustman, malaikat pun malu padanya. Ustman dikenal sosok yang dermawan. Dalam beberapa peperangan bersama Rasulullah beliau selalu tampil menjadi penyumbang dana terbesar, hingga Rasulullah berkata "tidak ada pekerjaan Ustman yang membahayakan dirinya setelah ini". Dzun-Nurain, begitu beliau digelari yang berarti pemilik dua cahaya, karena keistimewaannya menikahi dua putri Rasulullah yaitu Ruqayyah dan Ummu Kaltsum.

Dimasa pemerintahannya banyak wilayah yg dengan sukarela masuk Islam, wilayah-wilayah besar seperti Afrika, Andalusia dan cyprus takhluk di tangannya. Termasuk peperangan melalui laut yang pertama di lakukan oleh sang khalifah. Diantara gebrakan baru yang dilakukan yang tetap dikenal hingga hari ini adalah pengumpulan Alquran dalam satu mushaf yang dikenal dengan mushaf ustmani.

Ustman memangku jabatan selama 12 tahun. Enam tahun pertama pemerintahan tidak ada seorang pun yang menyatakan kebencian padanya. Sebab sikapnya yang lunak cenderung disukai masyarakat kala itu selepas kekhalifan di masa Umar yang tegas. Namun enam tahun kedua mulai terjadi pergolakan demi pergolakan. Beberapa sahabat mulai tidak setuju dengan keputusannya mengangkat pejabat pemerintahan dari kerabat dekatnya. Hingga akhirnya fitnah itu pun muncul, yang jauh-jauh hari telah dikabarkan oleh Rasulullah "fitnah yang pertama kali terjadi adalah terbunuhnya Utsman sedangkan fitnah yang terakhir adalah turunnya dajjal". Fitnah yang mengatasnamakan utsman sebagai khalifah kala itu, rumah beliau dikepung termasuk di dalamnya Muhammad bin Abu Bakar. Para sahabat mencoba meredam suasana namun mereka enggan mendengarkan. Hingga akhirnya Ali, Talhah, Zubair dan sahabat lainnya mengutus anak-anaknya untuk berjaga di depan pintu rumah Ustman. Mereka terluka dan berdarah terkena lemparan batu. Sebelumnya ada sahabat yg mengusulkan agar Ustman keluar dari rumah dan memerangi mereka karena masih banyak kaumnya yang berpihak padanya namun Ustman tidak ingin pertumpahan darah antara sesama kaum muslimin.

Pada akhirnya pemberontak berhasil masuk dengan memanjat pagar melewati rumah sebelah yang dikomandoi Muhammad bin Abu Bakar. Saat berhasil masuk dia memegang jenggot Ustman, lalu Ustman berkata "andai ayahmu melihat apa yang kamu lakukan padaku, niscaya dia tidak akan senang dengan sikapmu ini". Muhammad bin Abu Bakar langsung menarik tangannya. Sesaat setelahnya orang yang ikut bersama Muhammad bin Abu Bakar langsung memukul Ustman hingga meninggal. Kemelut ini makin memuncak karena tidak ada yang tau siapa yang ikut masuk bersama Muhammad bin Abu Bakar kedalam rumah Ustman.

Dua sifat Ustman yang tidak dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar adalah, kesabarannya saat dikepung hingga terbunuh dan penghimpunan Alqur'an ke dalam bentuknya yang sekarang. Rahimahullah Ustman bin Affan.

Padang, 14 Mei 2016

Judul Buku           : Tarikh Khulafa
Penulis                  : Imam As Suyuthi
Penerbit                : Pustaka Al Kautsar
Peresume              : Paramudika H

Jumat, 25 Maret 2016

TARIKH KULAFA


Judul                : TARIKH KULAFA
Penulis             : Imam Suyuthi
Penerbit           : Pustaka Al Kautsar

Peresume         : Paramudika H, IM1

Buku ini mengupas tentang sejarah penguasa Islam (Khulafa), dari khulafaur rasyidin sampai para khalifah setelahnya yang menggunakan sistem monarki. Bagi saya buku ini seperti menapak tilas fase-fase kehidupan para penguasa Islam, betapa perjuangan, pengorbanan dan keimanan mereka mampu menyadarkan diri bahwa kita hari terutama saya masih jauh dari kata teladan. Maka wajar jika dikatakan membaca sirah nabawiyah dan para sahabat sahabiyahnya menjadi wajib mengingat motivasi dan semangat juang serta ibadah yang kerap lemah. Semoga kita tetap jadi jiwa pembelajar dan pengambil teladan.

Saya awali dengan Khalifah pertama setelah Rasulullah yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq. Orang yang paling bersih di masa jahiliyahnya. Abu Bakar tidak pernah melantunkan sebait syairpun dimasa jahiliyahnya pun di masa Islamnya. Dia juga tidak pernah minum minuman keras di zaman jahiliyahnya meski belum ada larangan kala itu.

Beliau 2 tahun 2 bulan lebih muda dari Rasulullah, wafatnya sama dengan umur wafatnya Rasulullah. Para ulama berkata Abu Bakar menemani Rasulullah dari sejak masuk Islamnya hingga meninggalnya Rasulullah. Dia selalu ada dimana Rasulullah berada kecuali jika Rasulullah mengizinkan beliau untuk mengerjakan sesuatu hal. Dia mengikuti semua peperangan, hijrah bersama Rasulullah, meninggalkan istri, anak dan kerabatnya sebagai bukti kecintaannya kepada Allah dan RasulNya. Hingga Rasulullah bersabda “sesungguhnya orang yang paling setia dalam persahabatannya denganku dan dalam hartanya adalah Abu Bakar. Andaikata saya boleh mengambil khalil selain Tuhanku , niscaya saya akan memilih Abu Bakar.

Abu Bakar sahabat yang paling dermawan. Ketika awal masuk Islam hartanya dipergunakan untuk membebaskan budak-budak yang disiksa kafir Quraisy karena keimanannya kepada Allah. Sehingga banyak budak-budak yang bebas dan merdeka olehnya. Suatu ketika Rasulullah menyuruh untuk mengeluarkan sedekah, Umar kemudian maju dan memberikan setengah hartanya. Rasulullah bertanya “apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?”. Umar menjawab “saya meninggalkan seperti apa yang saya sedekahkan”. Lalu Abu Bakar datang kepada Rasulullah dan menginfakkan seluruh harta yang dimilikinya. Rasulullah bertanya “apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab “saya menyisakan untuk mereka Allah dan RasulNya. Kemudian Umar berucap saya tidak akan mampu mengalahkan Abu Bakar dalam segala hal.

Abu Bakar sahabat yang paling utama. Jika ada yang menanyai Rasulullah tentang siapa orang yang paling dicintainya, maka Rasulullah akan menjawab Abu Bakar (dari kalangan laki-laki). Kemudian ada beberapa ayat juga yang turun berkenaan dengan Abu Bakar, seperti QS At taubah ayat 40 yang menceritaka tentang keberadaan dirinya didalam gua bersama Rasulullah.

Setelah Rasulullah wafat, tatkala dirinya telah menjadi khalifah, banyak kemudian muslimin yang membelot, shalat namun enggan berzakat. Umar meminta Abu Bakar tetap bersikap penuh kasih namun Abu Bakar menolaknya, beliau akan tetap memerangi mereka yang membelot meski hanya menolak memberikan seutas tali yang pernah diberikan Rasulullah. Betapa berani dan kuat keinginannya dan yang paling semangat terhadap satu perkara yang mungkin sepele bagi orang lain tatkala dimasa kekhalifannya. Inilah kemudian yang menimbulkan semangat juga bagi sahabat-sahabat lainnya.

Pengumpulan Alqur’an juga dimasa kekhalifannya, mengingat banyak para sahabat hafal Qur’an yang gugur dimedan perang sehingga ada ketakutan jika tidak dikumpulkan maka Qur’an itu terkubur bersamaan dengan wafatnya seluruh para penghafal Quran. Maka ayat-ayat Qur’an mulai di tulis di daun, pelepah korma dan tulang belulang. Abu Bakar menyimpannya hingga akhir hayatnya. Baru kemudian diserahkan ke khalifah setelahnya.

Abu bakar sakit sesaat setelah mandi, dia merasa kedinginan lalu demam selama 15 hari sehingga tidak bisa mengikuti shalat berjamaah. Dia meninggal pada malam selasa pada umur 63 tahun. Setelah berunding dengan sahabat lainnya Abu Bakar memilih Umar menjadi khalifah setelahnya.

Begitulah sosok seorang Abu Bakar, sangat ringkas memang yang ditulis. Tentangnya, takkan cukup untuk dituliskan meski satu rim kertas sekalipun. Dan pada mereka para generasi terbaik sepanjang zaman sajalah hendaknya kita berkiblat dalam berakhlak dan bersikap.

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca.