Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2018

Fiqih Sunah Jilid 2


Masih meresume salah satu bab dari seri kitab Fiqih Sunah, kali ini pilihan saya jatuh pada bab munakahat atau masalah-masalah yang berkaitan seputar pernikahan. Salah satu pokok bahasan terpanjang pada buku Jilid 2.

Membuka pembahasan ini, ustadz mengungkapkan firman Allah pada surat Adz Dzariyat ayat 49, Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. Demikianlah, bahwa tujuan dari diciptakannya suatu pernikahan adalah agar seseorang semakin dekat pada Allah, agar tampak kekuasaan dan kekuatan Allah, agar seseorang semakin mudah bertemu dengan Allah, agar seseorang semakin mengingat kebesaran Allah.

Sehingga sebelum membahas detil segala sesuatu menyangkut pernikahan ini, pembaca diajak merenungi apa saja hikmah diciptakannya pernikahan.

Beberapa hadits yang disebut pada buku ini menunjukkan bahwa dalam Islam, menikah adalah salah satu cara agar anak keturunan Adam dapat bahagia, menikah adalah keuntungan yang baik, menikah adalah sebaik-baik kesenangan. #jadi sebahagia apapun pengakuan para jomblo, sebenarnya mereka tetap belum merasakan kebahagiaan yang sejati.

Dari pernikahan, seorang manusia akan dilatih rasa tanggung jawabnya, akan muncul naluri  kebapakkan atau keibuannya.  Menikah akan memunculkan naluri mendidik, melindungi, mengasuh, dan pada akhirnya memunculkan naluri menafkahi, dan menghebatkan kemampuan untuk mencari nafkah. Maka benarlah firman Allah “menikahlah, jika ia miskin, akan Aku kayakan”, surat An Nur ayat 32. Siapa yang mau kaya, menikahlah, demikian kesimpulan sederhananya.

Bahkan menikah disebut sebagai ibadah yang lebih wajib didahulukan daripada menunaikan ibadah haji. Karena manfaat berhaji hanyalah bertambahnya keimanan pada diri sendiri, sementara menikah membawa manfaat pada lebih banyak orang. Setelah termotifasi menikah, maka masuklah pada pembahasan kriteria memilih suami dan istri.

Hal yang menarik perhatian saya adalah bahwa pembahasan memilih calon  istri lebih banyak daripada pembahasan memilih calon suami. Kriteria calon suami hanya disebutkan “nikahilah putrimu dengan lelaki yang takut pada Allah, jika mencintainya, ia akan memuliakannya. Dan jika ia tidak menyukainya, ia tidak akan menzaliminya”.

Bersikap hati-hati dalam menikahkan sang buah hati harus sangat dilakukan, sebagaimana sabda Nabi: “siapa yang menikahkan buah hatinya dengan lelaki fasik,  berarti ia telah memutuskan hubungan kekeluargaannya”.  Dari hadits ini tersirat, menikahkan atau mencarikan jodoh sang putri si buah hati adalah tugas dan tanggung jawab wali/orang tua si wanita.

Sementara wanita dinikahi karena 4 hal, yaitu kecantikannya, keturunannya, kekayaannya dan karena agamanya. Jika tidak ada ke-empatnya, maka nikahilah wanita karena agamanya. Dikatakan dalam hadits lainnya, wanita yang agamanya baik tidak akan membuat jatuh miskin.

Rasulullah saw mengungkapkan ciri-ciri  wanita sholih yang layak dinikahi, yaitu: cantik menurut suaminya, patuh dan berbakti pada suaminya serta taat menjaga amanah suaminya.  Dalam riwayat yang lain, wanita yang sholih adalah wanita yang subur dan besar rasa sayangnya pada anak-anak.

Rasulullah saw, mengungkapkan “wanita paling baik yang menunggang kuda adalah wanita-wanita Quraish yang sholih. Mereka lebih menyayangi anak yang ditinggal mati ayahnya semasa kecil dan lebih pandai menjaga harta suaminya”. Hal ini beliau ungkapkan ketika pinangannya ditolak seorang wanita Quraish dengan alasan: saya punya anak yang banyak.

Hal lainnya yang tak kalah penting ketika memilih calon suami atau istri adalah perlunya memperhatikan kesenjangan yang tidak terlalu besar. Ketika Abu Bakar serta Umar hendak meminang Fatimah, Rosulullah menolak dengan alasan Fatimah masih terlalu kecil. Namun Rosul menerima pinangan Ali dan menikahkannya.

Demikianlah, memilih calon suami berarti memilih calon pemimpin dalam keluarga, pemimpin sebuah generasi. Dan sebaik-baik pemimpin adalah yang taat pada agamanya serta besar takutnya pada Allah. Sementara istri memiliki fungsi sebagai pemberi ketenangan pada suami, menjadi ladang yang subur bagi suaminya. Istri merupakan belahan jiwa suaminya, pemimpin rumah tangga suaminya, tempat penyimpanan rahasia suaminya, pakaian bagi suaminya serta ibu atau sekolah yang utama bagi anak-anak suaminya.

Menikah adalah ibadah yang dilakukan bersama sama antara suami dan istri, namun dengan pembagian tugas yang berbeda.

Setidaknya itulah pondasi dasar bab pernikahan dalam kitab Fiqih Sunnah ini. Adapun beragam permasalahan pokok lainnya terkait munakahat ini, juga diuraikan secara detil, yang akan lebih enak dibaca sesuai kebutuhan permasalahan yang dihadapi.
^^^^
Judul Buku : Fiqih Sunnah Jilid 2
Penulis        : Sayyid Sabiq
Penerbit      : Al Itishom

-          - Trisa -

Fiqih Sunah Jilid 1


Pendahuluan,
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rosulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menyusuri jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan untuk ke surga.” Dan salah satu hal pokok bagi seorang muslim adalah memahami ilmu fiqih.

Fiqih itu sendiri artinya kesimpulan hukum yang dipahami dari dalil-dalil yang ada tentang satu permasalahan. Banyak yang menyangka mempelajari ilmu fiqih adalah sesuatu yang berat dan membosankan.  Namun ternyata hal itu terbantahkan sama sekali ketika membuka buku Fiqih Sunah karya Sayyid Sabiq ini. Setidaknya bagi anak ke-enam saya. Dia yang saat itu masih duduk di kelas 8 dan lebih menyenangi bermain musik atau games, dapat berlama-lama menekuni baris demi baris halaman buku setebal 722 halaman ini.

Mengawali pembahasan tentang pokok-pokok permasalahan yang akan dibahas pada buku ini, penulis mengajak pembaca untuk memahami bahwa Islam adalah ajaran yang Universal, tidak dibatasi waktu dan tempat serta tidak dibuat hanya untuk sekelompok orang saja untuk masa tertentu.  “Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” demikian firman Allah dalam surat Saba ayat 28.

Hal itu mengakibatkan Islam dijadikan Allah sebagai ajaran yang mudah dipahami, tidak mengalami perubahan dan bertujuan untuk menyucikan jiwa, akal, keturunan dan harta. Namun dalam penerapannya, ajaran Islam menemui banyak situasi dan kondisi yang membutuhkan pemikiran yang dalam, pertimbangan-pertimbangan menyangkut dampak atau manfaat serta mudharatnya.  Dan pertimbangan-pertimbangan itu secara tak terhindarkan ada kalanya menemui perbedaan-perbedaan di kalangan para sahabat. Perbedaan itu ada yang didiamkan oleh Rasulullah, dan ada yang diluruskan. Inilah yang mengakibatkan munculnya perbedaan penafsiran atas satu permasalahan.

Abad demi abad berlalu, generasi datang dan pergi silih berganti,  perselisihan dan perbedaan di kalangan umat Islampun semakin banyak dan meluas. Beberapa penguasa bahkan hanya menerapkan satu madzhab saja. Umat Islam dibungkam daya nalarnya. Dipaksa untuk menjadi pengikut satu madzhab secara buta dengan fanatisme yang berlebihan. Kondisi inilah yang mengakibatkan umat Islam masuk kedalam keterpurukan dan jauh dari jalan hidayah. Keindahan dan kemuliaan ajaran Islam tertutupi oleh sikap umatnya sendiri, dengan argumen kelompok mereka adalah kelompok yang terbenar. Maka pemahaman akan ilmu fiqih secara baik dan benar adalah satu kebutuhan mutlak bagi setiap manusia.

Pemahaman Islam yang benar akan mengantarkan umat Islam pada kejayaan, sebagaimana pada masa Khalifah Umar bin Khaththab pernah ada seekor srigala yang menyusu pada domba yang menandakan negara benar-benar dalam kondisi yang aman dan tentram.

Sementara pemahaman yang buruk akan ajaran Islam akan mengakibatkan kehancuran sebagaimana diceritakan dalam al Qur’an tentang  kaum ‘Aad yang walaupun kecerdasan dan kepandaiannya mampu mengantarkan mereka sebagai bangsa yang besar, mampu memotong batu-batu besar di lembah,  namun perbuatannya mendatangkan murka Allah sehingga mereka dibinasakan dan dimusnahkan semua tanpa terkecuali.

Firman Allah dalam surat Al Jumu’ah ayat 2:
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Sesungguhnya, sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Demikianlah, hakikat ilmu sejatinya adalah untuk menyucikan jiwa. Itulah sebabnya Rasul mengatakan orang yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu hakikatnya menempuh jalan menuju surga.m Dan buku Fiqih Sunah karya ulama besar Syaikh Sayyid Sabiq ini disajikan dengan sederhana, mudah dicerna, menyangkut semua permasalahan yang dibutuhkan oleh umat Islam tanpa menyebutkan perbedaan di kalangan ulama kecuali memang sangat diperlukan.

Dan dikarenakan pembahasan yang cukup detil terkait semua masalah pokok ajaran Islam. Maka buku ini terdiri atas 3 jilid. Mengambil satu contoh permasalahan yang dibahas pada buku jilid 1, mata saya tertuju pada Bab Zakat. Maraknya kehadiran lembaga amil zakat di tengah masyarakat, membuka dan meningkatkan wawasan serta kesadaran umat Islam tentang pentingnya menunaikan rukun Islam ke empat ini.

Zakat, artinya adalah bagian hak Allah swt, yang diberikan oleh manusia kepada orang miskin. Dinamakan zakat karena mengandung harapan mendapatkan keberkahan, penyucian diri dan tambahan kebaikan. Surga terbaik adalah surganya Al Abror (golongan orang-orang yang senang berbuat baik) dan salah satu ciri Al Abror adalah mengasihi orang miskin.

Sementara bagi mereka yang bakhil atau bahkan menolak mengeluarkan zakatnya, padahal  memiliki simpanan, maka ulama sepakat memasukkan mereka pada golongan orang yang keluar dari agama (murtad). Di samping penjelasan cukup banyak tentang siapakah yang wajib membayar zakat, jenis-jenis dan cara menghitungnya, penjelasan yang menarik bagi saya ada pada bagian golongan yang berhak dan haram menerima zakat.

Para suami, haram memberikan zakat pada anak dan istri, orang tua, karena mereka adalah orang yang wajib dinafkahi bukan dizakati. Kecuali jika istri  termasuk ghorimin (orang yang banyak berhutang), maka boleh mengeluarkan zakat untuk membayarkan hutang istri.  Sementara istri boleh bahkan dianjurkan mengeluarkan zakat pada suami atau kerabat karena mereka bukan orang yang harus dinafkahi oleh istri.

Dilarang mengeluarkan zakat pada orang yang pekerjaannya meminta-minta. Dan sangat dianjurkan mengeluarkan zakat pada orang yang sholeh, yang menahan diri dari meminta-minta.  Pencari ilmu boleh menerima zakat sementara ahli ibadah tidak. Orang yang miskin tapi tidak salat tidak boleh diberi zakat sampai ia mau betobat dan mengerjakan solat.

Zakat, adalah cara Allah menjaga agar hati orang beriman senantiasa bersih dan terjaga dari sifat bakhil, cinta dunia, namun juga dalam penerapannya, zakat sekaligus memperbaiki hubungan sesama manusia. Sehingga benarlah bahwa Islam adalah rahmatan lil’alamin.

Judul Buku : Fiqih Sunah, jilid 1
Penulis        : Sayyid Sabiq
Penerbit      : Al Itishom
-       
             - Trisa -

Selasa, 21 Agustus 2018

Lost in Pesantren Balada Kehidupan di Pesantren


Dunia pesantren pesantren memang punya sejuta cerita. Ada suka dan duka. Banyak pula cerita menggelitik, menarik, dan unik. Disanalah perjalanan memetik nilsi, hikmah, dan falsafah kehidupan.

Buku ini ditulis oleh seorang santri yang kemudian jadi pengajar di Pesantren Pesantren Daar el-Qolam Gintung, Tangerang, Banten. Dengan dua peran itu, berimbanglah penulis mengisahkan cerita di pesantren.
Mendidik anak di pesantren adalah tuntutan hidupdi saat lingkungan tak kondusif bagi mental dan katakter anak-anak. Itu pula yang dilakukan ayah penulis terhadapnya. Di usia 13 tahun harus berpisah dengan keluarga. Menimba ilmu di pesantren untuk belajar agama menempa diri. Sama seperti kebanyakan santri, penulis mengawali belajar di pesantren dengan berat hati. Namun, ketika sudah berada di pesantren, semua kehidupan itu pun harus dijalani. ‘Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang. Hidupnya ialah berjuang. Jikalau perahunya telah ia kayuh ke tengah. Ia tak boleh bersurut pulang. Meskipun bagaimana besar gelombang, biarkan kemudi patah, Biarlah layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang (Buya Hamka)’.
Penulis sangat menjadikan teladan Kyai Ahmad Rifa'i Arief, sang pendiri pesantren di tahun 1968. Beliau adalah alumni Gontor. Di awal pendirian, banyak tolakan masyarakat. Mengajarkan bahasa Indonesia bagi masyarakat adalah tabu. Kyai mendapatkan cibiran 'Rek Mindahkeun Jakarta ka Gintung' kata orang. 'Mau mindahkan Jakarta ke Gintung'.

Begitu pula ketika di pesantren diajarkan bahasa Arab, muncul pula cibiran 'Rek Mindahkeun Mekah ka Gintung (Mau Mindahkan Mekah ke Gntung)'. Apalagi ketika Kyai mengajarkan bahasa Inggris, beliau dituduh mengajarkan bahasa irabg kafir! Namun Kyai tidak peduli. Beliau hanya ingin santri-santrinya berwawasan global dan berpikiran luas walaupun tinggal di pelosok kampung.

‘Tidak ada kesenangan tanpa kesulitan, kesabaran akan menolong setiap pekerjaan, orang yang bersungguh-sungguh pasti berhasil’. Kehidupan di pesantren mengajarkan tentang hidup sederhana dan perjuangan. Hidup dalam segala keterbatasan. Kebersamaan santri dengan beragam ironi menjadi kebiasaan. Satu gayung bersama, sabun, pasta gigi, hingga kadang sikat gigi untuk bergantian dua mulut. Begitulah adanya.
Public speaking atau muhadarah menjadi bagian uji nyali yang ditakuti. Berbicara di depan umum membutuhkan keberanian mengalahkan rasa grogi, takut dan rendah diri. Namun itu tetap dipertahankan. Tidak peduli dengan keluhan santri. Sebab santrilah yang harus mengikuti sistem atau peraturan, dan bukan sebaliknya.

Keikhlasan. Itulah kunci pesantren ini menjadi besar. Mengawali pendirian pesantren, Kyai mendapat hibah satu hektare tanah dari neneknya. Santri-santri pertamanya berjumlah dua puluh orang mengawali belajar di dapur tua berdekatan dengan kandang kerbau. Kemudian pesantren itu bermetamorfosis menjadi pesantren terbesar dengan total areanya lima puluh hektare dan santri berjumlah lima ribu orang. Metode lebih penting daripada materi, guru lebih penting daripada metode, dan jiwa seorang guru adalah segala-galanya.
Pendidikan di pesantren dengan segala rupaya mampu menjadi benteng dan tameng untuk menghadapi hidup dalam masyarakat. Semangat yang ditanamkan adalah berguna bagi masyarakat. Bukan sekedar angka-angka. 'Ijazahmu yang sebenarnya adalah penghargaan dari masyarakat atas jasa-jasamu. Berjasalah, jangan minta jasa' demikian petuah sang Kyai.

Kehilangan benda-benda merupakan hal yang lumrah. Sandal, pakaian, dan sarung bisa berpindah tempat ke mana saja. Yang harus dilakukan adalah mampu menghadapi kehilangan itu dengan lebih teliti dalam merawat barang pribadi. Kemampuan yang dibutuhkan dalam abad 21 adalah kemampuan berpikir kreatif dan inovatif serta menyelesaikan masalah. Dan kemampuan itu bisa didapatkan di pesantren.

Ada beberapa karakteristik pendidikan di pesantren. Pertama, kemampuan meregulasi diri. Santri di pesantren harus terbiasa dengan disiplin yang ketat. Mengatur uang jajan, merawat dan menjaga barang pribadi. Meregulasi diri lebih nyaman daripada didisiplinkan orang lain. Santri harus mahir mengatur waktu kapan bermain dan belajar. kedua, kemampuan mengendalikan perhatian dan perbuatan. Santri harus fokus pada diri dan sekitarnya. Kehilangan benda-benda salah satunya disebabkan keteledoran dalan menjaga miliknya dari ulah tangan-tangan jahil. Ketiga, kemampuan mengolah daya tahan (persistensi). Pesantren membangun kebiasaan (habit) kepada santri untuk siap hidup dalam tekanan dan waktu yang ketat. Keterbatasan dan keprihatinan. Tidak ada opsi menu makanan. Waktu makan, tidur, mandi, olahraga, dan bermain diatur. Keempat, kemauan menunda kenikmatan. Di saat usia sekolah sedang asyik bermain gadget, nonton TV, atau menikmati hari libur, santri tidak merasakan semua itu. Menunda kenikmatan sesaat untuk tujuan-tujuan jangka panjang untuk memilih mana yang prioritas-prioritas yang harus didahulukan.

Kelima, ketekunan menghadapi kejenuhan. Selama beberapa tahun santri dihadapkan pada siklus dan irama pesantren yang membosankan dari bangun tidur sampai tidur lagi. Santri harus pandai mengelola perasaan dan membuat variasi supaya kejenuhan dan rutinitas menjadi berwarna. Keenam, kemampuan menghadapi tekanan. Godaan teman yang menjengkelkan, senioritas yang menyebalkan, aturan dan disiplin, pelajaran dan kegiatan pesantren berjalan di atas tekanan manusia atau waktu. Ketika tekanan waktu dirasakan oleh mereka menyiksa, maka akan muncul kesadaran akan pentingnya waktu dan efektivitas penggunaannya. Ketujuh, kemampuan menjalankan rencana. Waktu berjalan dengan ketat. Maka santri harus mampu membuat perencanaan jangka pendek atau jangka panjang. Kegiatan mingguan, bulanan, atau tahunan. Santri yang terdidik dengan perencanaan yang matang memberikan garansi keberhasilan dalam pendidikan dan karir.
Kehidupan pesantren bukan hanya full day school namun lebih dari itu adalah full year school. Bersama sekurang-kurangnya enam tahun di pesantren membuat santri sangat hafal watak dan sifat teman. Inilah bagian implementasi dari konsep yang diusung UNESCO: Learning to Life Together.

Dan bersabarlah atas kepedihan yang mengisi hari-harimu, di dalamnya ada pintu menuju kesuksesan dan kejayaan. Belajar di pesantren ibarat meminum obat. Kadang terasa pahit namun berguna mengobati sakit dan menyehatkan badan. Filosofi pendidikan pesantren ‘Memelihara nilai-nilai lama yang masih baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik’ menjadi jaminan bahwa belajar di pesantren bukan berarti ketinggalan jaman, terkucil dari dunia luar, dan buta perkembangan zaman. Sebab banyak pula orang hebat yang lahir dari pesantren (terutama pesantren Dar el-Qolam ini) misalnya Ustadz Jefri al-Bukhori (Udje), TB Iman Ariyadi (Walikota Cilegon), atau Band Wali (Pesantren La Tansa, Rangkasbitung).

Secara jujur buku ini mengisahkan kenakalan-kenakalan yang terjadi di pesantren. Kabur dari pesantren, fenomena ghosob (mengambil tanpa izin), memalsukan tanda tangan, bolos belajar, berkelahi, dan lainnya. Juga tidak menutup fakta bahwa orang tua banyak menganggap pesantren sebagai penitipan anak. Yah, pesantren kerap dijadikan tempat yang cocok orangtua yang rumah tangganya tengah diterjang badai. Pesantren sering kali dijadikan tempat layak bagi orang tua yang sudah ‘angkat tangan’ mendidik anak. Orang tua berharap dengan dititipkan di pesantren perilaku anaknya bisa berubah. Boleh–boleh saja memang orang tua punya motivasi seperti itu. Namun alangkah baiknya jika hal tersebut diinformasikan kepada pihak pesantren agar tepat pula penanganannya.

Buku ini menjadi pemantik kenangan masa lalu santri, pelecut semangat santri yang tengah belajar di pesantren, dan referensi calon santri.

Judul                : Lost in Pesantren. Perjalanan Memetik Nilai, Hikmah, dan Falsafah Kehidupan
Penulis             : Saeful Bahri
Editor               : Muhammad Iqbal Santsa
Penerbit           : Republika Penerbit
Thn Terbit        : Agustus, 2017
Jmlh Hlm         : 195 halaman
ISBN                : 978-602-08-2281-5

- Supadilah -

Jumat, 13 Oktober 2017

Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan



"Di zaman jahiliyyah, kami tidak memandang perempuan ada, dan mereka tidak pernah kami masukkan dalam perhitungan kami." Sayyidina Umar bin Khaththab

Abdullah bin Abbas mengatakan, "Perempuan pada zaman jahiliyyah jika mengandung, setelah merasa sakit akan beranak, digalikanlah lubang, lalu mereka disuruh mengejankan anaknya di muka lubang tersebut. Setelah anak lahir dilihatlah oleh Ayahnya. Jika yang lahir anak perempuan dibiarkanlah bayi tersebut masuk langsung kedalam lubang dan lubang tersebut langsung ditimbun tanah. Jika yang lahir laki-laki, barulah disambut dengan gembira."

Betapa tiada harganya seorang anak perempuan dimata orang jahiliyyah, adanya mereka yang lahir dari darah daging sendiri menjadi petaka, malu, marah dan seakan sebuah kutukan karena alasan anak yang lahir adalah perempuan. Begitu kejam tabiat seorang laki-laki dalam memperlakukan anak perempuannya, bahkan sahabat Qis bin Ashim at-Tatimi saat masa jahiliyyah ia pernah menguburkan secara hidup-hidup anak perempuanya dengan jumlah 8 (delapan) orang. Betapa tak manusiawinya mereka, bahkan nyawa manusia pun tiada harganya bagi orang jahiliyyah.

Hingga Allah turunkan surat At-Takwiir ayat ke 8 dan 9 "dan Apabila bayi-bayi perempuan yang dikuburkan hidup-hidup ditanya. karena dosa apakah dia dibunuh?."

Ayat ini bagi kaum perempuan Arab mereka mendapatkan kembali kepribadiannya, harga diri, dan kedudukan mereka. Beberapa ayat lain dalam Al Quran juga menegaskan jika peranan perempuan sama halnya dengan laki-laki dalam pembangunan islam. Tiada beda antara perempuan dan laki-laki, tiada yabg lebih buruk atau lebih baik karena Allah akan melihat Takwa setiap insan manusia. Dalam perjalanya peranan yang dimiliki kaum perempuan dan laki-laki dalam pembangunan, perekonomian serta dalam perjuangan dakwah adalah sama-sama berkewajiban hanya berbeda tugas dan pekerjaan yang harus dibagi.

Islam sangat memuliakan perempuan, dari mereka yang tidak dianggap, tidak diperhitungkan hingga mereka harus dimuliakan, bahkan hormatnya, baktinya, seorang laki-laki yang lebih utama adalah kepada perempuan yaitu Ibu, dibandingkan dengan laki-laki yaitu Ayahnya.

Dalam pandangan dunia liberalisme yang pada nyatanya tidak menyukai cara Islam dalam memuliakan wanita, mereka membuat isu seputar feminisme, perang melawan perempuan, kesetaraan gender, dan perang pemikiran lainnya. Hingga menonjolkan aturan Islam seakan aturan Islam itu membungkam, meyudutkan dan membatasi gerak para perempuan.

Disisi lain Islam lah yang sangat melindungi para perempuan, dimana hak akan seorang istri haruslah sang suami yang memenuhi, kebutuhan pokok, hidup, sandang, pangan semua haruslah dicukupi oleh suami. Tapi belakangan ini atau memang sudah ada dari dulu, kaum perempuan yang mendapatkan gaji lebih tinggi dari suaminya merasa dialah yang ikut andil besar dalam keluarga, atau malah perempuan sebagai tulang punggung keluarga, jika kita lihat banyak bukan para saudari kita yang menjadi TKW sedangkan suami mereka berada di rumah, atau kerja buruh pabrik yang lebih memilih tenaga perempuan dari pada laki-laki.  

Dalam surat  (An-Nisā'):34 - Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."

Pemimpin yang bertanggung jawab penuh tentulah laki-laki, kemudian dengan fisik laki-laki yang berbeda dengan kaum perempuan, sudah terlihat nyata bagaimana sosok pemimpin itu. Laki-laki dimuliakan dengan keluar rumah untuk berjuang menghidupi keluarganya, sedangkan wanita dimuliakan di dalam rumah dengan menjaga kehormatan dan harta benda suaminya. Sudah cukup jelas pembagian tugas ini, jika kaum liberalis mengatakan "kaum perempuan tertindas hanya dengan di rumah saja." apakah tidak malah sebaliknya, "kaum perempuan tertindas dengan menjadi tulang punggung keluarga dalam menghidupi keluarganya." tentunya dengan kondisi suami yang sehat, tiada kurang suatu apapun.

Buya Hamka berkata "Jika kedepan perempuan yang memimpin, sedangkan laki-laki hanya duduk saja mengadu balam, menganggur, mendengar bunyi berkutut atau mengadu ayam menandakan bahwa laki-lakinya tidak "beres" lagi."

Baiklah buku ini sarat akan makna, pengingat bagi kita akan kemuliaan wanita serta bagaimana memuliakan wanita. Dan akhirnya wanita menjadi mahluk mulia dengan ia taat terhadap suaminya, serta sang suami akan menjadi orang yang sholeh dengan ia menghormati dan berbakti kepada wanita (ibu nya) dan tentunya melindungi dan mengayomi istri dan anak anaknya.

Judul Buku : Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan
Penulis : Prof. Dr. Hamka
Jumlah Hal : 134
Penerbit : Gema Insani
 Eko Yasin

Jumat, 25 Agustus 2017

Awe-Inspiring Me



Duhai Ukhti, Jadilah Luar Biasa!



“Hidupmu adalah pesan bagi dunia. Buatlah hidupmu menginspirasi. Dan ingat, kamu adalah penulis buku kehidupanmu di akhirat, pastikan buku itu berarti untuk dibaca.” (hlm.12)



Itulah kalimat pembuka dari penulis yang menggambarkan tujuan dibuatnya buku ini, yaitu sebagai pengingat dan pemotivasi bagi muslimah untuk jadi ‘awesome’ sekaligus ‘inspiring’ dan bahwa setiap aktivitas haruslah diniatkan semata-mata karena Allah, karena mengharap ridho-Nya. Buku bersampul merah jambu ini terdiri dari enam bab yang menjelaskan proses menjadi muslimah yang bisa menginspirasi tidak hanya bagi dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik, tapi juga ambil peran dalam menginspirasi dunia sebagai bekal ke akhirat tentunya! Di dalamnya terdapat banyak sekali quotes motivasi yang dikutip penulis maupun quotes islami ditambah dengan gambar dan ilustrasi yang ditandai dengan tulisan warna yang sama dengan sampulnya. Hmm, bukunya cewek banget pokoknya!



Pada bab pertama, penulis membeberkan tentang kontribusi muslimah terkait tentang melanjutkan studi setinggi-tingginya, menuai prestasi, pekerjaan hingga menjemput jodoh. Penulis menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini diajukan kepadanya melalui sosial media, karena sebelumnya ia lebih dikenal dari tulisan-tulisannya di blog pribadinya. Sebagai informasi, Dewi Nur Aisyah adalah alumni Universitas Indonesia yang saat ini sedang melanjutkan S3 nya di London, sekaligus membesarkan anaknya bersama suaminya (yang juga kuliah di London). Dewi terkenal sebagai muslimah yang produktif. Berkeluarga dan memiliki anak tidak menjadi penghambat baginya dalam beraktivitas dan menuai prestasi. Ia mengistilahkan, tidak ada namanya istri paruh waktu atau ibu paruh waktu karena baginya tujuan ia hidup di dunia ini adalah menjadi hamba sepenuh waktu, tak lain untuk mengharap ridho Allah SWT.



Lalu bagaimana ia bisa melakukan itu semua? Nah pada bab-bab selanjutnya yang merupakan inti dari buku ini, Dewi mengajak pembaca untuk mengelola masa depannya sedari masih muda, mulai dari menetapkan cita, menulis perencanaan dan target-target kedepan, menyibukkan diri dengan hal-hal positif, serta mengakarkan motivasi hanya kepada Allah.



“Cara terbaik kau bisa memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya”- Stephen Covey (hlm.42)



 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”( QS Al-Hasyr:18)



Tuh kaan…bahkan Islam pun menganjurkan agar kita memperhatikan apa yang harus dikerjakan di hari esok, memberikan perhatian pada masa depan, dan tentunya masa depan akhirat kita. Setiap muslim haruslah menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhiratnya, maka penting sekali bagi kita untuk membuat rencana-rencana di dunia, pun perencanaan akhirat kita. (hlm.43)



Pada bagian ini, Dewi menjabarkan secara rinci bagaimana membuat perencanaan yang detail dan melaksanakannya serta bagaimana mengatasi kemalasan atau kendala untuk fokus pada rencana yang telah dibuat. Perencanaan tersebut diuraikan setidaknya dalam 7 tahapan, yaitu:

1. Target pencapaian hidup hingga usia 60 tahun

2. Target jangka menengah (5 tahun pertama)

3. Target jangka pendek (per 1 tahun)

4. Target detail per 6 bulan

5. Evaluasi pencapaian tengah tahun dan akhir tahun

6. Detail aktivitas penunjang setiap harinya (target harian)

7. Peta amanah per tahun (opsional)



Selain itu, seperti halnya berusaha, tentunya ada yang berhasil dan juga gagal. Dalam buku ini penulis mengupas bagaimana sikap yang baik dalam menghadapi kegagalan serta tips untuk menghadapinya.



Melengkapi bukunya, pada dua bab terakhir penulis membahas tentang virus merah jambu yang sering melanda kaum hawa, yakni virus cinta #ciee. Menurut penulis, cinta bukanlah suatu hal yang terlarang, namun bagaimana kita menyikapinya-lah yang menjadikan ia diperbolehkan atau tidak. Dalam hal ini, penulis membagikan pengalamannya bagaimana ia bertemu dengan jodohnya hingga akhirnya berkeluarga sampai dengan saat ini. Ia mengajak pembaca untuk terus-menerus memperbaiki diri dan meluruskan niatnya dalam berkeluarga, dan dalam tulisannya, Dewi juga men-highlight tentang perencanaan antara suami dan istri untuk menjalani rumah-tangganya. Pasangan ini nantinya harus tau kedepannya akan dibawa seperti apa, dan memastikan bahwa setiap pencapaian dan cita-cita yang direncanakan haruslah menjadikan keluarga mereka semakin mendekat ke surga-Nya. Buku ini sangat recommended buat dibaca dan juga diamalkan!



Judul Buku : AWE-INSPIRING ME

Nama Penulis : Dewi Nur Aisyah (@dewi.n.aisyah)

Penerbit : Ikon

Tahun Terbit : Januari 2017

Jumlah Halaman : 231 halaman



Bandar Lampung, 16 Agustus 2017

Mustika Rizky Amalia

Sabtu, 03 Juni 2017

Tarbiyah Politik Hasan al Banna

Hasil gambar untuk Tarbiyah Politik Hasan al Banna



Buku kecil karya Syaikh Dr. Yusuf Qordhawi ini seyogyanya adalah buku saku yang mudah dan cepat untuk dibaca dan dipahami, namun mungkin karena prosesor di kepala saya udah mulai lemot.. alhasil saya butuh waktu sangat panjang untuk menyelesaikan dengan setengah paham. Saya coba meresumekan.. untuk menyimpan pemahaman yang sedikit itu..

Buku ini merupakan pelengkap atau penyempurna buku beliau sebelumnya: Pendidikan Islam dalam madrasah Hasan Al Banna.  Dengan pembahasan lebih mendalam pada aspek politiknya.

Serunya situasi politik di tanah air saat ini  mendorong saya membuka buku ini  sebagai upaya untuk menelusuri kembali apa makna politik dalam Islam.. dan bagaimanakah politik yang islami itu..

Imam Al Banna mengatakan tentang hubungan antara agama dan politik:

Setiap kali seseorang berbicara kepada anda tentang politik dan islam, anda biasanya akan mendapatkan orang tersebut memilah antara keduanya. Ia meletakkan dua pengertian yang berbeda. Islam dan politik bagi banyak orang tidak bisa dipadukan dan disatukan. Dari pemahaman inilah muncul penamaan organisasi islam dan organisasi politik. Seolah sudah menjadi kesepakatan bahwa: tidak ada politik dalam agama. Bahkan beberapa organisasi agama menuliskan prinsip organisasinya dengan kalimat: organisasi ini tidak boleh berbenturan dengan masalah politik. Atau sebaliknya: organisasi politik tidak boleh sibuk mengurusi urusan keagamaan.

Akibatnya adalah kebanyakan organisasi yang ada menerapkan kembali budaya jahiliyah seperti Fir’aunisme, rasisme, nasionalisme yang sempit, dll. Walau ada juga organisasi yang agak seimbang pemahamannya dalam hal agama dan politik.

Namun Imam Al Banna meyakini bahwa ini semua terjadi lebih karena adanya pemahaman yang keliru tentang hubungan antara agama dan politik. Akibat dari kebodohan pada ajaran islam dan kecenderungannya pada hawa nafsu, diperpanjang oleh penjajahan pada pengetahuan yang terus dipelihara.

Itulah sebabnya ketika organisasi yang beliau dirikan disebut organisasi politik dan seruannya adalah kampanye politik, maka beliau menjawab: Ini adalah islam dan kami tak mengenal pembagian seperti itu. Kami menyeru kepada Al Qur’an di tangan kanan dan as sunnah di tangan kiri. Kami menyeru pada prilaku salafus sholih yang menjadi tauladan kami. Kami menyeru pada islam dan nilai-nilai islam. Jika ini dianggap politik maka itulah politik kami. Jika prinsip kami disebut politik maka kamilah orang paling politik. Sebutlah apa yang kalian kehendaki. Kami tidak takut dengan sebutan/label kalian.

Hal lain yang juga beliau ungkapkan sebelum memulai pendidikan politiknya adalah: adanya gab yang lebar antara partai dan politik.  Seorang politikus dengan segala pemahamannya pada politik ternyata bisa saja tidak setia pada partai. Namun adakalanya seorang aktifis partai tidak paham tentang politik. Dan bisa jadi ada orang yang mampu menghimpun keduanya: seorang aktifis partai yang juga memiliki pemahaman politik yang baik.

Yang dimaksud pemahaman politik bagi Imam Al Banna adalah Perhatian pada seluruh masalah masyarakat secara internal dan eksternal tanpa dikaitkan dengan partai politik tertentu. Itulah sebabnya, menurut Imam Al Banna, islam adalah politik itu sendiri. Masalah Islam bukan hanya mengenai jumlah raka’at saja, bukan hanya untaian sya’ir saja seperti yg ditanamkan oleh para musuh islam/agen Barat.

Dan pendidikan politik islam yang diajarkan Hasan Banna terurai pada 8 pilar:
1. memadukan antara islam dan politik (agama dan Negara)
2. membangkitkan kesadaran akan kewajiban membebaskan tanah air islam
3. membangkitkan kesadaran akan kewajiban mendirikan pemerintahan yang islami
4. membangun eksistensi umat islam
5. menyadarkan kewajiban persatuan umat islam
6. menyambut sistem perundang-undangan
7. mengkritisi multi partai dan kepartaian
8. melindungi kelompok minoritas dan unsur asing

Uraian pendidikan politik Hasan Banna ke dalam 8 pilar ini dipengaruhi oleh situasi politik negara tempat tinggal beliau saat itu yaitu Mesir. Yang walaupun beliau membolehkan sistem konstitusi dan parlemen, namun beliau menyesalkan kondisi banyaknya partai yang memunculkan perselisihan dan perpecahan.

Sebagai ringkasan, tarbiyah politik Hasan Banna hakikatnya adalah pendidikan islam yang seimbang dan komprehensif, pendidikan yang positif dan sadar, dibangun di atas pemahaman bukan lelucon, di atas kerja nyata bukan sekedar ngomong, untuk membangun bukan menghancurkan, di atas kebenaran bukan hawa nafsu, di atas pengorbanan dan pengekangan diri bukan menuruti syahwat. Hingga pendidikan ini memberikan buah pada jiwa dan kehidupan.

Trisa

Judul: Tarbiyah Politik Hasan al Banna
Penulis: Dr. Yusuf Qardhawi
Penerbit: Arah Press
Jumlah hal: 228

Kamis, 25 Mei 2017

Gold Dinar



Apa pendapat anda bila ternyata selama ini negara² didunia terutama negara berkembang seperti indonesia diperas keringatnya, untuk membayar defisit perdagangan amerika yg sangat besar? Karena ternyata amerika sekarang sdh berubah dari negara pemberi hutang menjadi negara yg memiliki hutang terbanyak sehingga sulit bagi negara ini utk bisa membayar defisitnya dan mendanai mesin perangnya

Nah demi membayar defisitnya tersebut amerika melalui bank sentralnya the fed mencetak uang kertas dollar banyak² tanpa jaminan logam berharga dan disebar ke negara² pengguna mata uang dollar sehingga secara tdk langsung 60% dr penduduk dunia menyerahkan kopi, emas, tuna,kayu hutan dan kekayaan lainnya untuk membayar inflasi yg ditimbulkan akibat dollar yg dicetak unlimited...luar biasa bukan?

Sistem moneter yg tidak adil seperti ini secara pelan namun pasti akan mengakibatkan kehancuran ekonomi, maka alternatif penggunaan emas sebagai alat transaksi menjadi sebuah keniscayaan.

Akan tetapi mempromosikan emas sebagai alat transaksi tidak mudah, banyak yg beralasan karena emas tidak fleksibel, berat dan tdk praktis seperti halnya uang kertas yg mudah dilipat dan masuk dompet, namun melihat perkembangan teknologi memungkinkan adanya Digital Gold sehingga transaksi bisa dilakukan senyaman uang kertas atau kartu kredit, tinggal gesek transaksi tuntas

Buku ini memberi gambaran bagaimana Gold Dinar alias Mata Uang Emas merupakan solusi untuk memajukan perdagangan internasional yg berkeadilan terutama bagi negara² berpenduduk mayoritas muslim yg saat ini sangat bergantung pada barat atau eropa ketimbang dengan sesama negara muslim sendiri

Padahal...negeri² muslim dikaruniai sumber daya yg melimpah seperti 70% energi dan 40% bahan dasar dunia tersimpan diperut bumi mereka, namun kontribusi mereka dalam perdagangan internasional pada thn 2004 baru sekitar 6% dari total volume perdagangan dunia

Kebanyakan beralasan karena tidak becusnya negara itu mengurus perdagangan mereka, argumentasi ini tidak sepenuhnya tepat karena meski mereka mampu untuk mengelola tapi karena sistem moneter internasional yg menjadikan fiat money sebagai kendaraannya membuat negara super power bisa memainkan peranan ekonomi sesuka dia

Dan AS menjadi negara terdepan yg akan merintangi penggunaan gold dinar sebagai alat transaksi karena dengan demikian dia tidak akan memiliki kekuasaan utk mengatur perekonomian dunia seperti yg tengah dilakukannya saat ini

Sementara menunggu peluang gold dinar bisa direalisasikan, gold dinar dalam bentuk fisik emas bisa digunakan untuk transaksi yg lebih sederhana dalam kehidupan sehari-hari seperti untuk membayar zakat, investasi atau tabungan haji

Menggunakan emas sebagai alat pembayaran haji sekaligus investasi memberi keuntungan buat investor (jamaah haji):

  • ·       Kecenderungan harga emas naik
  • ·       Akumulasi keuntungan dari selisih investasi emas yg dilakukan pada saat yg tepat
  • ·       Biaya pengelolaan yg dilakukan bank lebih efisien
  • ·       Investasi ini relatif terjaga keamanannya

Dalam skup yg lebih besar emas bisa digunakan untuk pembayaran transaksi minyak sehingga akan mengurangi dominasi dollar karena otomatis negara² pengimpor minyak harus menukar cadangan dollarnya dgn emas yg secara ekonomi menguntungkan mereka karena emas memiliki nilai intrinsik sendiri tidak seperti dollar

Buat saya pribadi wacana menjadikan gold dinar sebagai alat transaksi cukup menarik karena melihat fakta yg cukup mudah dimengerti bagi orang yg awam ilmu ekonomi seperti saya bahwa nilai emas dari zaman rasulullah hingga kini relatif stabil sebagai contoh harga kambing saat itu 1 dinar setara 2,54 gr emas dibandingkan dengan harga kambing sekarang yaa ga beda jauh


Tangerang,22 mei 2017
Nusifera



Judul: Gold Dinar
Penulis: M. Luthfi Hamidi,MA
Penerbit: Senayan Publishing
Halaman: 222 hal
Tahun: 2007

Selasa, 16 Mei 2017

7 Keajaiban Rezeki


Hasil gambar untuk 7 Keajaiban Rezeki buku

Judul buku, cuplikan isi dicover belakang buku, daftar isi, testimoni dan penulis biasanya menjadi tolak ukur yg sy pakai untuk menentukan sebuah buku itu menarik atau tidak

Ini juga yg sy pakai saat memutuskan utk membeli buku ini...sy lupa apakah lebih dulu membeli bukunya lalu mengenal sosok ippho santosa sebagai penulis atau mengenal sosok ippho di medsos terlebih dahulu sehingga tertarik untuk membeli bukunya?

Yg pasti isi bukunya memang dahsyat...!!! Menguak 7 keajaiban dari rezeki dengan otak kanan....yaa otak kanan

Hampir semua keajaiban yg tertera bermula dr Lingkar Diri, yg artinya segala sesuatu bermula dari diri sendiri, dialah faktor penentunya, aktor utamanya...jadi, jangan sampai sibuk menengok keluar dan lupa melongok ke dalam

Adapun tujuh keajaiban itu adalah:

1. Sidik Jari Kemenangan

Setiap diri itu unik punya cara tersendiri untuk meraih kemenangan dengan lebih cepat, yg mungkin hanya berlaku pada dirinya namun tidak berlaku pada orang lain layaknya sidik jari

Jalan hidup penulis yg mampu merubah dari pecundang menjadi pemenang adalah bukti saat dia menemukan sidik jari kemenangannya

2. Sepasang Bidadari

Bidadari yg pertama adalah orang tua sementara bidadari yg kedua adalah pasangan hidup

Selaraskan impian dan doa dengan sepasang bidadari ini yg akhirnya memancing hukum tarik menarik atau Law of Attraction demi mempercepat terkabulnya doa, terwujudnya impian yg pada akhirnya mempercepat berubah nya nasib

3. Golongan Kanan

Amat sukar memahami rezeki dengan otak kiri, karena ditilik dari sisi manapun semuanya tampak serba tak masuk akal

Disatu sisi rezeki itu pasti, yaitu pasti ada tapi disisi lain jg serba tak pasti: berapanya, dimananya, kapannya,dan bagaimananya...jadi,lebih besar unsur tak pasti daripada pastinya...nah orang yg kuat otak kanannya mampu menyikapi ketidakpastian, perubahan dan resiko, inilah yg disebut Golongan Kanan

4. Simpul Perdagangan

Seorang Hermawan Kartajaya mengatakan," Nabi Muhammad itu kan pengusaha. Mestinya sih Muslim itu jg jadi pengusaha."

Islam tidak asing dgn perdagangan malah islam sangat menganjurkan perdagangan, mereka yg menguasai simpul perdagangan maka mereka yg mengendalikan Dunia

Contohnya yahudi yg hanya belasan juta jiwa saja namun mereka berhasil memegang tengkuk amerika dan eropa

5. Perisai Langit

Sedekah merupakan salah satu ruas dlm perisai langit dari lima ruas yg ada

Ruas yg lain adalah shalat, sikap, perkataan dan perbuatan

6. Pembeda Abadi

Carilah sesuatu yg diminati, dikuasai,menghasilkan dan membahagiakan, jadikan itu sebagai pembeda abadi, ekspos lalu pertahankan

7. Pelangi Ikhtiar

Dihiasi 7 bias yg merupakan kebiasaan² dari seorang pemenang yaitu: impian, tindakan, kecepatan, keyakinan, pembelajaran, kepercayaan dan keikhlasan

Lantas apa yg menjadi rujukan utama dari 7 keajaiban rezeki diatas? Tak lain dialah biang keajaiban yg menjadi pembeda abadi nabi Muhammad saw yaitu Al Qur'an buatan Yang Maha Pencipta, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Menabur Rezeki

Al Qur'an amat erat kaitannya dgn keajaiban² rezeki karena: *pertama* merupakan rujukan utama terkait keajaiban rezeki, *kedua* merupakan panduan utama dalam mencari rezeki, *ketiga* membacanya menjadi salah satu syarat agat perniagaan tidak merugi



Tangerang, 1 mei 2017
Nusifera

Judul: 7 Keajaiban Rezeki
Penulis: Ippho Santosa
Penerbit: Elex Media Computindo
Halaman:191 hal

Minggu, 14 Mei 2017

TRAVEL GUIDE HAJI & UMROH



TRAVEL GUIDE HAJI & UMROH

Alhamdulillah ala kulli hal atas nikmat kesehatan dan waktu luang untuk bisa memperpanjang nafas di grup IM. Setelah sebelumnya saya meresume buku yang berjudul “Umroh Backpacker” selanjutnya saya akan meresume buku yang saya temukan, lebih tepatnya saya cari di lemari buku di rumah yang tujuannya untuk mempersiapkan ilmu dan praktek ibadah umroh yang jujur sampai satu bulan keberangkatan saya masih belum tau jadi berangkat atau enggaknya hehe. Alhamdulillah namanya rejeki umroh, ada aja jalannya buat bisa berangkat, syaratnya satu, lurusin niat.