Senin, 10 September 2018

Man's Search For Meaning


"Apapun bisa dirampas dari Manusia kecuali satu : Kebebasan terakhir seorang manusia, Kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan. Kebebasan untuk memilih jalan nya sendiri"
Pernahkah kalian berfikir bahwa penderitaan tidak benar - benar melahirkan derita ?

Seorang psikiater muda, gagah dan kuat dihadapkan dengan "Kenyataan" yang cukup pahit bila dikenang bahkan teman seperjuangan nya dalam kamp berkata : "Biarlah tangan ini dipotong jika saya tidak melumurinya dengan darah saat saya tiba dirumah.” Teman saya bukanlah orang jahat, dia adalah teman terbaik saya di kamp dan setelahnya. Ketika kebebasan itu benar-benar datang kepada "tawanan kamp"  sehingga mereka merasakan penurunan moral mental secara mendadak dikarenakan terlepas beban penderitaan mereka selama ini.

Penderitaan selama tiga tahun di kamp kosentrasi membuat beberapa tawanan merasakan "kehampaan" setelah mereka kembali kerumah mereka dan mendapati tidak ada satu orang pun sanak saudara yang masih hidup untuk menyambut mereka . Sebuah perjuangan dalam mencari makna kehidupan untuk bertahan di Kamp kosentrasi, ketika para tawanan sampai di Sebuah Kamp Kematian Nazi yaitu Kamp Auschwitz . Para tawanan merinding ketika mereka membaca "Kamp Auschwitz" kamp ini terdiri dari : Kamar Gas, Kamar Pembakaran mayat dan Pembantaian Massal. Setelah mereka turun dari kereta, mereka disambut oleh beberapa "Capo" (Capo adalah tawanan yang bertindak sebagai kepercayaan Nazi dan dengan demikian mendapat sejumlah keistimewaan).

Ketika pagi datang, kami selalu di bangunkan oleh suara peluit capo untuk bergegas bekerja. Saat suhu udara 2 derajat fahrenheit, kami bekerja menggali tanah yang beku untuk memasang pipa saluran air. Ia berkata kepada saya "hai, kamu babi, saya sudah mengamati kamu sejak tadi ! Saya belum mengajari kamu cara bekerja ,tunggu saja sampai kamu harus menggali dengan gigimu - kamu pasti akan mati seperti seekor binatang! Saya akan menghabisi kamu kamu dalam dua hari! Kamu pasti tidak pernah bekerja seumur hidupmu! Apa kerjammu dulu, Babi ? Pengusaha ?" Saya menjawab langsung dengan posisi berdiri tegak dan langsung menatap matanya. "Saya adalah seorang dokter - seorang spesialis" dan Capo tersebut berkata "Apa? Seorang dokter ? Saya berani bertaruh, kamu mendapat banyak uang dari orang - orang."

Kebetulan, saya sama sekali tidak bekerja untuk uang dan saya bekerja di sebuah klinik khusus untuk orang miskin. Setelah penjelasan yang saya berikan tidak ada harganya menurut capo tersebut, ia menghampiri saya dan memukul saya hingga jatuh. Bekerja di suhu 2 derajat membuat kami mengalami edema, kaki kami bengkak dan kami tidak mengikat tali sepatunya agar kaki kami muat, saat bekerja kaki kami dipenuhi salju dan terasa sangat gatal.

Perjuangan saya dan teman teman belum berakhir, kami diberikan makan dengan sup encer + sepotong roti. Ada suatu kejadian ketika kami ingin makan, para capo bertanya tentang siapa pencuri kentang tadi malam ?  Jika tidak ada yang menjawab maka tidak ada jatah makan, namun saya dan teman-teman memilih untuk diam dan menguatkan diri untuk tidak menyebutkan pelakunya. Saat malam hari kami berkumpul disebuah barak menjelang tidur, kami mengadakan beberapa aksi lucu untuk menghibur diri Sendiri. " Jika hidup benar - benar memiliki makna. Maka harus ada makna didalam penderitaan, karena penderitaan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Meskipun penderitaan itu merupakan nasib dan dalam bentuk kematian , tanpa penderitaan dan kematian. Hidup manusia tidak sempurna."  

Saya dan teman - teman merindukan keluarga, istri, anak dan orangtua kami. Saya pernah merawat Seorang wanita yang mata nya penuh rasa hampa dan ia berkata "saya bersyukur atas penderitaan ini karena dahulu saya sangat manja dan sekarang saya hanya memiliki satu teman yaitu Pohon sambil menunjuk pohon tersebut." Kita perlu menghadapi seluruh penderitaan kita, dan berusaha meminimalkan perasaan lemah dan takut tetapi kita tidak perlu malu untuk menangis. Karena air mata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar yakni keberanian untuk menderita. Saya sebagai seorang psikiater belajar banyak tentang permasalah-permasalahan yang ada di kamp tersebut, selama tiga tahun dan ditempatkan di tiga kamp yang berbeda membuat saya banyak belajar tentang makna kehidupan.

Setelah hari pembebasan dari kamp Turk helm pada 1945 ketika ia nyaris kehilangan nyawa karena penyakit tifus, Saya baru menyadari bahwa dirinya itu benar - benar sebatang kara. Saat ia kembali ke Wina pada Agustus 1945 kembali kerumah tanpa ada penyambutan, Saya meneruskan karier sebagai psikiater, pilihan yang tidak biasa ketika begitu banyak orang lain terutama psikoanalisis dan psikiater yahudi beremigrasi ke negara-negara lain namun saya memilih tetap tinggal di Wina,

Frankl merasakan adanya hubungan erat dengan Wina terutama dengan pasien-pasiennya yang membutuhkan bantuanya selama pasca perang. Teori yang dimiliki Frankl ialah Teori Logoterapi, psikoterapi yang memusatkan upaya pada pencarian makna hidup, pada saat yang sama Logoterapi mengurai semua bentuk lingkaran setan dan mekanisme umpan balik yang memainkan peranan penting dalam kemunculan neurosis. Dengan kata lain, perilaku mementingkan diri sendiri yang menjadi ciri khas penderita neurosis dihilangkan dan bukan terus dikembangkan dan diperkuat. Viktor E Frankl bukan seorang Psikoanalis tapi ia seorang psikiater yang memiliki Teori Logoterapi untuk membantu pasien - pasiennya. Tulisan Frankl yang pertama kali diterbitkan di Jerman pada 1946 sebagai A Psychologist Experience the Concentration Camp dan kemudian menggunakan judul “Say Yes to Life in Spite of Everything.” Dan versi terjemahan Inggrisnya,yang pertama kali diterbitkan pada 1959 diberi judul “Man's Search For Meaning.”


Judul            : Man's Search For Meaning
Penulis        : Viktor E. Frankl
Halaman     : 233
Diterbitkan oleh : Noura Publishing

           Juli, 2018
-           Yessy Esti Wijayanti -

Hari Anjing-Anjing Menghilang



Hari anjing-anjing menghilang merupakan salah satu judul cerpen dalam buku kumpulan cerpen pilihan kampus fiksi emas 2017 karya Umar Affiq. Cerpen ini mengisahkan kejadian di Jakarta pada Mei 1998. “Jakarta kelam” masyarakat luas menyebutnya begitu. Saat itu, saya masih duduk di bangku SLTP kelas 7.

Pertengahan Mei sembilan-delapan. Jakarta berlari melintasi mimpi buruk yang belum juga usai. Pintu-pintu tertutup, jalanan menjadi semacam koridor tanpa ujung yang terus menerus menjerat orang-orang lemah dan lengah. Manusia adalah karya tuhan yang paling sewenang-wenang, bahkan kepada sesamanya sendiri. Tak ada jalan keluar. Tak ada messiah yang mampu menggugurkan kemelut, tidak juga Marie (halaman 192).

Dunia semakin gila, dan tak ada yang bisa dilakukan manusia. Manusia bisa apa jika jumlah mereka yang berjuang kalah banyak dari mereka yang menyerang? Manusia bisa apa jika pkirannya dimasuki setan-setan beringas, binatang paling buas dengan polah yang kasar? Manusia bisa apa jika kemanusiaan diletakkan begitu saja, sedangkan kebencian yang mengendap di bawa permukaan kemudian dilepaskan di mana-mana seperti virus jahanam? Aku tidak tahu manusia bisa apa, selain larut dalam ketakutan dan kesedihan (halaman 255).

Bermula dari kejengahan rakyat pada masa orde baru. Di mana kekuasaan seakan menjadi candu yang mengasyikkan. Dan rakyat merindukan hadirnya pemimpin baru. Harga yang meroket membuat rakyat meringis. Demonstrasi terjadi di mana-mana. Orang-orang bermata sipit dan berkulit putih pucat menjadi tumbal.  Penjarahan mewarnai jakarta semakin kelam. Bahkan manusia kehilangan rasa kemanusiaannya. Pemerkosaan pada wanita terjadi di mana-mana.

Kalau kamu datang lebih awal, kamu akan tahu bahwa pelaku penjarahan bisa digerakkan dengan sebuah provokasi yang pintar. Provokasi yang memanfaatkan setitik rasa kecemburuan sosial akibat kesenjangan penghidupan (halaman 134). Seorang wanita dipaksa turun dari bus yang dinaikinya, oleh sekelompok massa. Bus itu dibakar. Semua penumpang dimintai uang. Tidak ada uang banyak di dompet wanita itu (halaman 143).
Efek trumatis terjadi. Tidak hanya pada korban, tapi juga pelaku kerusuhan. Seperti seseorang yang berkepribadian ganda. Dia seakan memasuki dimensi lain. Dimensi yang memisahkan dirinya dengan kenyataan.
Anak bungsunya diam. Mereka berdua menunggu penjelasan.

Ibunya benar, semalam lelaki tua atau ayahnya itu tidak bermimpi karena ia memang tidak tidur. Semalam pada tiga dini hari, ketika anak bungsunya sedang sibuk menerjemahkan buku, ia melihat ayahnya ke luar rumah, berjalan bolak-balik di teras rumahnya, menjatuhkan diri, bangkit lagi, menjatuhkan diri lagi, berjalan bolak-balik, menjatuhkan diri  (halaman159).

Seperti itu. Berulang-ulang. Anaknya mendekati dan mencoba menenangkan ayahnya yang meracau pelan. Lelaki tua itu mengatakan tiga hal; maaf saya sudah membakar, maaf saya sudah memperkosa, maaf saya sudah mengambil barang yang bukan milik saya (halaman 160). Selain menyerang perempuan bermata sipit dan berkulit putih pucat, pengacau itu juga menyerang laki-laki. Sebagaimana yang dialami oleh Nyo. Dia kehilangan ayahnya di hari yang sama dia kehilangan anjing-anjingnya. Tidak hanya itu. Yang dialami lebih parah.

Si Kopet mendekat. Hal yang tak terbayangkan oleh Nyo, mereka menelanjangi dirinya, melepaskan celanya Nyo yang setengah basah dan pesing, membiarkan burung Nyo yang kecil semakin kecil berkerut karena takut, terpampang. Si Kopet mengeluarkan pisau. Ia menyemprotkan sesuatu ke burung emprit Nyo lalu dengan cepat memenggal paruh burung emprit itu. Satu-dua darah menetes. Burung pipit itu menunjukkan kepala sesungguhnya. Dan prosesi selesai (halaman 269).

Buku ini seakan melukiskan kondisi Jakarta yang teramat sangat mengerikan. Banyak sekali kata-kata kasar dan umpatan di dalamnya. Seperti ; sial. Bangsat. Tengik! Bajingan! (halaman 37), maka buku ini lebih cocok dibaca oleh mereka yang dapat mengambil esensi sebuah buku, bukan sekadar membaca tanpa review.

Beberapa cerpen memiliki kesalahan ejaan, seperti pada halaman 34, kata kaos apakah yang dimaksud adalah chaos? (kaos ini cepat sekali menyebar, seperti api, seperti cemburu, menjangkiti siapa saja layakya virus ganas.)
Buku ini layak dibaca bagi mereka yang duduk minimal di bangku kelas menengah atas.


Penulis        : Umar Affiq dkk
Judul           : Hari Anjing-Anjing Menghilang
Penerbit      : Diva Press
Cetakan      : Pertama, 2017
Halaman     : 312 halaman
ISBN           : 978-602-391-406-7

-          Susi Ummu Fatih -

Kamis, 06 September 2018

Belajar pada Pengusaha Muda, Kaya dan Berjaya


“Pelajari siapa pun yang hebat, dan kau akan menemukan bahwa dulu mereka magang pada seorang guru besar, atau beberapa guru besar. Karena itu, jika kau ingin mencapai tingkat hebat, terkenal, dan kesuksesan luar biasa, kau harus magang pada seorang guru besar.” Robbert Allen

Tersebut adalah kata motivasi untuk kita semua yang meniti jalan kesuksesan sesuai dengan persepsi masing-masing. Buku setebal 136 halaman ini berkisah tentang sosok yang sedang naik daun beberapa tahun ini yaitu Sandiaga Salahudin Uno. Jika kini kita melihat beliau sebagai pejabat, maka buku ini ditulis jauh sebelum beliau terjun kedunia politik tepatnya pada Mei 2013, saat beliau masih aktif menjadi Pebisnis dan ketua UMKM Indonesia.

Tahun 2007 majalah Asia Globe menobatkan Sandiaga sebagai orang terkaya no 122 di Indonesia dengan aset kekayaan US$ 80 juta. Sedangkan tahun 2009 versi majalah Forbes pak Sandi menduduki peringkat ke 29 dengan total asset perusahaan US$ 400 juta setara dengan 3.7 Triliun Rupiah dengan nilai tukar rupiah Rp. 9300 / USD. Kemudian di tahun ini kita mendengar kekayaan beliau sudah mencapai 5.5 Triliun rupiah. Melalui usaha beliau dengan mendirikan perusahaan PT. Recapital Advisor pada tahun 1997 bersama Rosan Perkasa  Roeslani yang merupakan teman SMA. kemudian di tahun 1998 mendirikan perusahaan Saratoga Investama Sedaya bersama Edwin Soeryadjaja. Pak Sandi dulu juga melirik dunia penerbangan, melalui PT. Saratoga Investama beliau membeli saham perusahaan transportasi udara Mandala Airlines, untuk pesawat ini apa masih ya ? kemarin saya searching enggak nemu.

Terlihat istimewa memang harta kekayaan pak Sandi, kita tentu ingin menjadi seperti beliau, dengan hasil usahanya saat ini, Takkan ada yang bisa didapat tanpa usaha, memtik buah di pohon rindang sekali pun kita butuh usaha dengan berjalan, memetik dengan tangan, baru bisa kita makan. Dalam buku ini dikisahkan  awal mula pak Sandi meniti karir untuk menjadi seperti sekarang. Hasil takkan menghianati Usaha, bisa diterapkan untuk pak Sandi dalam meniti karir nya, ternyata dalam berwirausaha tak ada yang mudah untuk menggawali, ada jerih payah yang harus dilewati, harus kuat diawal membentuk pondasi dan kemudian menjalankan roda bisnis perusahaan sampai mencapai kesuksesan.

Pak Sandi memiliki dasar pendidikan yang prestisius lulus Bachelor of Business Administration dari Wichita State University dan Master of Business ditamatkan di The George Washington University. Pada tahun 1995 Beliau pernah menjadi karyawan sebagai Executive Vice President NTI Resources Ltd. Perusahaan migas yang ada di Kanada dengan gaji USD8000 per bulan (kalo sekarang berati sekitar 116 M). Tapi Allah Maha membolak balikkan manusia, kedudukan, jabatan, harta, tahta dan lain sebagainya. Dengan gaji sebesar itu Nampak cukup untuk segalanya, namun di tahun 1997 perekonomian dunia mengalami krisis moneter. Gaji yang saat itu diinvestasikan akhirnya ikut raib karena krisis moneter dunia. pak Sandi pulang ke Indonesia tanpa membawa apa-apa. Inilah awal mula pak Sandi memulai usaha, sebuah jalan yang sebelumnya tidak terpikirkan, langkah yang bukan pilihannya .

Pak Sandiaga Uno memiliki rumus untuk mencapai kesuksesannya dalam usaha yang ditekuni selama ini, rumus pertama (1) adalah Kerja Keras “Setiap Entrepreneur sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Tapi jangan menyerah, Rayakan kegagalan itu.” Rumus kedua (2) yaitu Saat Menemui Kegagalan, Pantang Menyerah. “It’s Ok When sometime you were failed. Tapi jangan menyerah.” Rumus ketiga (3) adalah Bekerja dengan Cerdas. “Bekerja cerdas adalah bekerja yang dilakukan dengan usaha dan pertimbangan matang-matang.” Rumus keEmpat (4) Bekerja secara Tuntas. “Banyak para wirausahawan yang bersemangat hanya diawal saja, perlu sebuah komitmen kuat dalam berwirausaha. Komitmennya selalu setia serta bersedia dan siap dengan segala kemungkinan yang akan dihadapi.” Sedangkan rumus terakhir keLima (5) Bekerja dengan Ikhlas. “Ikhlas berbeda dengan pasrah dan menyerah. Bekerja dengan ikhlas yaitu diawali dengan niat yang baik, dilakukan dengan ikhtiar yang maksimal kemudian menyerahkan hasil usaha kita kepada Allah.”

Pak Sandi sangat mendukung terbentuknya dan berkembangnya UMKM menjadi langkah perekonomian masyarakat untukmembentuk para wirausahawan,  kemudian pak Sandi juga membangun Inotek (inovasi dan teknologi Indonesia) merupakan yayasan yang bergerak dibidang teknologi yang aplikatif dan tepat guna. Pak Sandi mengutarakan Waktunya Indonesia Setara. Setara untuk membangun Indonesia, melalui sumber daya alam dikelola sendiri, dimanfaatkan sendiri dan menjadi mandiri tanpa tergantung dengan tetangga (Negara). Rekomendasi untuk dibaca di sela waktu luang.

Judul Buku          : Belajar pada Pengusaha Muda, Kaya dan Berjaya
Penerbit                : Kamea Pustaka
Jml Hal                : 136
Tahun terbit         : Mei 2013

Probolinggo, Agustus 2018
-          Eko Yasin -

Rencana Besar

Beberapa bulan lalu saya sempat meresume sekuel berikutnya dari novel ini. Sebenarnya bukan sekuel sih, tapi lebih ke cerita spin-off. Novel itu berjudul Sudut Mati. dan inilah novel yang di-spin-off-i oleh novel Sudut Mati tersebut.

Pengantar
Sangat jarang naskah fiksi di Indonesia yang mengusung genre thriller atau mungkin genre suspense. Untungnya para penerbit sekarang sudah mulai ramai menerbitkan novel genre seperti ini. Kita bisa menemukan berbagai naskah fiksi yang mengusung genre seperti ini di berbagai toko buku. Dan beberapa ada yang menjadi best seller. Saya senang genre seperti ini, tidak terlalu berat namun juga sangat berisi dan banyak informasi penting yang dapat kita peroleh. Pada kesempatan kali ini saya akan meresume Novel berjudul “Rencana Besar” karya Tsugaeda (kayaknya sih nama pena). Novel ini merupakan novel dengan genre thriller dengan setting cerita di dunia perbankan. Lebih khusus lagi adalah fraud perbankan. Apa yang menjadi premis di novel ini sangat menarik. Diceritakan bahwa lenyapnya uang 17 miliar rupiah dari pembukuan Universal Bank of Indonesia menyeret tiga nama karyawan ke dalam daftar tersangka. Seorang penghancur, seorang pembangun, dan seorang pemikir dengan motifnya masing-masing. Penyelidikan serius dilakukan dari balik selubung demi melindungi reputasi UBI. Seorang tokoh konsultan SDM dipercaya oleh temannya yang juga wakil direktur UBI untuk menyelediki kasus ini. Berhasilkah Sang Konsultan SDM tersebut (yang di cerita ini, walaupun jadi tokoh utama, tapi porsi penceritaannya tidak terlalu banyak) mengungkap tersangkanya? Namun ternyata persoalannya tak sesederhana itu. Ada “Rencana Besar” dibalik hilangnya pembukuan 17 miliar rupiah di UBI. Rencana besar yang menyeret tokoh-tokoh besar dan punya pengaruh di UBI.

And the story goes....
Cerita dimulai dari seorang pria klimis usia 40-an yang sedang menunggu temannya di sebuah cafe. Temannya ini adalah wakil direktur UBI, Agung Sudiatma. Agung meminta Makarim (sang tokoh utama yang telah menunggunya di cafe) untuk menyelidiki kasus hilangnya 17 M di pencatatan keuangan UBI. Awalnya Makarim menolak karena merasa bukan bidangnya. Namun atas desakan sahabatnya semasa kuliah tersebut, dan diming-imingi professional fee sebesar 2 M, akhirnya Makarim pun menerima tantangan tersebut. Ia merencanakan cuti selama sebulan (seingat saya) dari pekerjaannya di perusahaan yang telah ia bentuk bersama dua rekannya. Selama cuti tersebut Ia terbang ke Surabaya untuk memulai menyelidiki kasus

Tersebutlah tiga nama karyawan UBI Cabang Surabaya.
Rifad Akbar, seorang lelaki yang keras dan tangguh. Dia adalah asisten manajer treasury UBI Jawa Timur. Dia aktif memimpin Serikat Pekerja dan vokal dalam memperjuangkan hak para buruh.

Reza Ramaditya, lelaki cerdas dengan karier gemilang. Dia merupakan asisten manajer operasional UBI Jawa Timur. Sayangnya tiba-tiba dia seperti kehilangan semangat kerjanya tanpa alasan yang jelas.

Amanda Suseno, wanita yang menarik dan pintar melihat peluang. Dia menjabat sebagai asisten manajer marketing UBI Jawa Timur. Dia dipercaya dan ‘dianak emaskan’ oleh manajemen. Beberapa kali meraih karyawan teladan di UBI.

UBI digambarkan sebagai bank yang tumbuh berkembang. Pencapaian yang tiap tahun bank ini peroleh selalu positif. Namun ternyata jauh di dalamnya pekerja didayagunakan bagai sapi perah. Singkat kata UBI bagai mercusuar bagi karyawannya. Jauh berbeda dengan top managementnya yang gemar menghamburkan uang perusahaan.

Menurut Agung, masing-masing dari mereka memiliki motif dan akses untuk melakukan penggelapan. Rifad, katakanlah seorang aktivis kantoran, sangat aktif di serikat pekerja, dan terkenal vokal. Amanda, perempuan ambisius yang cerdas dan pandai memikat hati lawan bicaranya. Dan Reza, pegawai cerdas yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja tanpa alasan yang jelas.

Dari data-data yang diperoleh dari Agung, Makarim mulai menyelidiki satu persatu nama-nama itu. Ketika menyelidiki Rifad, Makarim tidak menyamar, dia hanya berlaku sebagai konsultan SDM yang sedang mengevaluasi pengelolaan SDM dan implementasi business process yang dia rekomendasikan ke Manajemen UBI. Dari alasan itu, Makarim ingin mengetahui apa sebenarnya aktivitas Rifad, bagaimana dia bisa begitu aktif di serikat pekerja dan menentang kesewenang-wenangan top manajemen UBI. Dari Rifad, Makarim juga ingin mengetahui bagaimana serikat pekerja UBI bisa demikian masif di bawah Rifad. Dari mana dana kegiatan serikat pekerja diperoleh. Hal ini untuk menegaskan hipotesis Makarim, bahwa jika memang benar Rifad adalah pelakunya, maka ada kemungkinan uang tersebut digunakan untuk mendanai kegiatan serikat pekerja.

Lain hal ketika menyelidiki Amanda dan Reza. Untuk menyelidikinya keduanya, Makarim menyamar. Kepada Amanda, Makarim mengaku sebagai pengusaha yang akan membuka cabang bisnisnya di Surabaya, dan akan memerlukan pendanaan (atau bahkan mungkin berinvestasi, saya sendiri lupa) dalam pembukaan cabang baru tersebut. Makarim mendapatkan kesan Amanda adalah seorang yang ambisius, terkenal dapat meyakinkan lawan bicara, dan sarat prestasi. Hipotesis yang mencuat dalam benak Makarim apabila pelakunya Amanda adalah karena Amanda adalah seorang yang ambisius. Ya, hanya itu. Kepada Reza yang tiba-tiba mengalami demotivasi kerja, Makarim berpura-pura sebagai calon nasabah yang ingin mengajukan deposito. Dari penelusuran Makarim, Reza memang sudah tidak peduli dengan performanya akhir-akhir ini yang bisa dibilang biasa-biasa saja. Hal ini mungkin saja karena Reza sudah mendapatkan 17 M, begitu pemikiran Makarim jika memang benar Reza adalah pelakunya. Tidak lama menyelidiki ketiga orang itu, Makarim akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan siapa pelakunya. Dia pulang ke Jakarta menemui Agung. Namun, ternyata misteri tak berhenti sampai di situ. Saat laporannya siap, dia justru menemukan fakta lain yang membuat misteri ini semakin besar. Sebuah misteri yang membuat Makarim harus membongkar lagi laporannya, dan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Makarim kebingungan. Pasalnya, dunia perbankan bukan wilayah yang dia kenal betul. Ceritapun berlanjut pada mantan istrinya. Makarim meminta bantuan mantan istrinya untuk menjelaskan informasi terkait dengan fraud di dunia perbankan (istrinya seorang bankir, seingat saya). Misteri yang sebenarnya ternyata baru terkuak saat Susi, mantan istri Makarim, melaporkan kasus tahun 2006. Makarim ternyata belum bisa lepas dari kasus ini. Misteri besar ternyata masih ada di depan mata, dan Makarim harus menghadapinya.

Informasi ini menyadarkan Makarim akan hal-hal yang sebelumnya tidak dia pikirkan. Informasi ini mengubah cara pandangnya, membuatnya marah kepada Agung karena tidak sepenuhnya jujur, dan frustasi karena ada nama baru, Ayumi Pratiwi, yang datanya tak bisa dia temukan dimanapun. Ayumi adalah mentor ketiga karyawan itu selama menjalani training di UBI. Akan tetapi orang ini telah meninggal. Sebabnyapun misterius. Tanpa mengulur waktu, dia menemui Reza di taman. Saat sedang berbincang dengannya, Reza ditembak, di depan mata Makarim. Makarim dalam bahaya. Tidak ada satu orang pun yang bisa menyelamatkannya. Dia tidak bisa mempercayai siapapun. Yang harus dia lakukan adalah menyelamatkan Amanda. Tapi hal itu sangat berbahaya. Seorang pria bermasker hitam terus menerus menembakkan peluru ke arahnya. Akankah Makarim selamat? Siapa yang mencoba membunuhnya? Apakah Rifad ada kaitannya dengan semua ini?

Akhirnya kisah berlanjut pada demo buruh di tanggal 01 Mei. Inilah rencana besar itu. Rencana Rifad dan Amanda untuk menggulingkan kesewenang-wenangan top management UBI. Bersama serikat pekerja lain Rifad dan Amanda mencoba mengungkap sebab dan rahasia mengapa UBI bisa menjadi demikian tidak beres.

Di akhir cerita terdapat twist. Siapa tak sangka otak dibalik semua permasalahan yang timbul di UBI disebabkan oleh Agung sendiri. Dan dia sendiri yang juga ingin membunuh Amanda yang sebelumnya telah sukses membunuh Reza. Agung sendiri meninggal di tangan Amanda ketika kantor pusat UBI ricuh didemo pekerjanya.

Tidak menyangka alur kisah ini akan dipelintir ke arah yang sama sekali lain, tidak menyangka juga kalau karakter-karakter tokohnya akan bertindak melakukan hal yang luar biasa (terutama Amanda dan pistolnya), dan yang pasti endingnya juga cukup mengejutkan.

Sebagai novel pertama, Rencana Besar telah cukup sukses dengan cerita yang menarik, baru dan beda. Meski di awal novel terasa sangat membosankan. Tapi saya paham bahwa itu adaah upaya penulis untuk menjelaskan bagaimana nantinya cerita akan berjalan. Sempat berpikir bahwa kejar-kejaran mobil dan tertembaknya reza adalah mimpi dalam tidur Makarim. Namun ternyata cerita itu memang benar adanya. Ketegangannya memang disusun demikian apik. Sehingga novel ini memang harus benar-benar diselesaikan dalam sekali duduk. Sayang sekali penceritaan Makarim sebagai tokoh utama di novel ini kurang mendapat porsi banyak. Selain itu tokoh utama yang dihadirkan juga tidak nampak demikian menarik perhatian pembaca. Harusnya ada kemampuan analitis dan deskriptif yang lain dari yang lain. Hal ini penting untuk memberikan kesan meyakinkan bahwa Makarim adalah tokoh utama di novel ini. Score dari saya untuk novel ini 7,5/10.

Judul         : Rencana Besar
Jenis bacaan : Novel
Penulis         : Tsugaeda
Tebal         : 373 halaman
Waktu terbit : Agustus 2013
Penerbit         : Bentang Pustaka

- Deri IM -

Kisah Para Preanger Planters


Pengantar

Awalnya pada abad ke-19, Tanah Priangan menjadi tempat primadona perkebunan kopi. Namun seiring dengan diberlakukannya Undang Undang Agraria pada saat berakhirnya Sistem Tanam Paksa (akhir abad ke-19), tanaman teh mulai muncul menjadi komiditas penting selain kina dan karet. Para pengusaha (yang berasal dari bangsa kolonial) perkebunan Teh telah berhasil meraih kesuksesan dalam mengembangkan lahan yang awalnya ladang menjadi perkebunan.

Namun kesuksesan tersebut tidak diraih dengan mudah. Setidaknya mereka harus menghadapi beberapa “pemberontakan” dari pribumi dan buruh perkebunan teh yang didatangkan langsung dari Makau dan Tiongkok. Sehingga dengan lebih jelas, para pengusaha tersebut telah mengubah tradisi masyarakat Priangan yang pada saat pemberlakuan sistem tanam paksa, aktivitas penopang perekonomian adalah dengan berladang. Masyarakat Priangan yang awalnya dikenal sebagai peladang, dengan pembukaan lahan perkebunan, mereka beralih jadi buruh perkebunan. Sejak saat itu, ekonomi masyarakat Priangan mengalami kemandegan.

“Emas Hijau” yang memicu Pemberontakan.

Tanaman teh masuk ke Pulau Jawa dibawa oleh Andrea Cleyer, seseorang yang berkebangsaan Jerman pada pertengahan abad ke-17. Pada mulanya tanaman ini bukan sebagai campuran minuman. Sebagaimana tanaman yang berasal dari luar, tanaman teh dijadikan tanaman hias di Batavia kala itu.

Tanaman teh mulai menjadi campuran minuman di tanah Priangan pada awal abad ke-19. Hal ini didasari atas banyaknya kematian yang terjadi pada penduduk bangsa kolonial yang tinggal di Hindia Belanda. Dari pengusutan yang dilakukan diketahui bahwa bangsa pribumi memiliki perut yang telah cukup kebal terhadap penyakit yang masuk bersama air minum dari sungai yang kotor, sementara orang-orang Tionghoa bisa bertahan karena minum air teh. Sejak saat itu mulai dikenal minuman teh sebagai obat.

Setelah cukup lama, pemerintah kolonial Belanda melalui perwakilannya yang ada di Asia Timur membawa beberapa jenis tanaman teh. Inilah cikal bakal Belanda menguasai perdagangan teh di Hindia Belanda. Tanpa mau bergantung dari produksi teh Asia Timur, termasuk Tiongkok, Belanda berusaha merintis penelitian tanaman tersebut. Proyek penelitian ini membuat teh ditanam di berbagai tempat di kawasan Priangan. Semula ditanam di Kebun Raya Bogor, teh kemudian banyak ditanam di daerah Garut dan Purwakarta.

Merasa tertarik dengan keberhasilan perdagangan teh dari Tiongkok, Jepang dan Taiwan di Eropa, maka Belanda mulai memberikan perhatian lebih serius terhadap tanaman ini. Mulailah para pakar penguji teh dari Belanda dikirim ke pabrik-pabrik teh di Tiongkok. Sepulangnya dari Tiongkok, mereka kemudian membawa 7 juta bibit dan belasan buruh perkebunan Tiongkok. Pada saat itu pengembangan tanaman teh tidak hanya di Priangan, namun juga sampai ke Batavia, Karawang, Banten, Cirebon, dan beberapa daerah lainnya baik di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Akan tetapi keberhasilan awal ini ternyata tidak berjalan mulus. Pemerintah kolonial Belanda mendapat perlawanan dari buruh-buruh Tionghoa. Merasa diperlakukan tidak adil, buruh-buruh Tionghoa tersebut melakukan pemberontakan di Wilayah Priangan Timur hingga ke Karawang dan Batavia. Tidak kurang Pengawas perkebunan teh Wanayasa (tempat project pertama penanaman teh di kawasan Priangan) dan Komandan artileri ikut terbunuh. Pemberontakan itu telah memakan banyak korban baik dari pihak kolonial maupun dari buruh tionghoa.

Akibat dari pemberontakan ini, kegagalan mulai menghinggapi pemerintah Belanda, komoditi teh Hindia Belanda yang diekspor ke Eropa kualitasnya jelek, hingga harganya pun menjadi lebih murah. Mutu teh Hindia Belanda kalah dari India. Untuk menghindarkan kerugian yang lebih besar lagi, pemerintah Belanda kemudian menyewakan lahan perkebunan kepada pihak swasta dengan sistem kontrak. Pada saat itu di Priangan sudah terdapat delapan perkebunan di antaranya Cikajang (Garut), Jatinangor (Sumedang), Ciumbuleuit, Rajamandala (Bandung), Sinagar, Cisangkan, dan Cicurug (Sukabumi). Banyak pengusaha Belanda yang kemudian menyewa lahan-lahan itu. Salah satunya adalah Guillaume Louis Jacques (Willem) van der Huncht yang menyewa perkebunan di kaki Gunung Gede.

Di tangan van der Huncht dan keponakannya, komoditas teh dibudidayakan besar-besaran. Dari pembudidayaan ini lahirlah dinasti pengusaha keluarga Huncht, Kerkhoven, Bosscha, Holle, Denminghoff Stelling, Motman, dan lainnya. Mereka inilah yang mendominasi peran sosial dan ekonomi pengusaha perkebunan di Priangan yang dijuluki Preanger Planters. Di tangan pengusaha inilah teh menjadi “Emas Hijau”

Kehadiran pengusaha perkebunan teh di sekitar masyarakat Priangan sedikit banyak telah menjadikan interaksi antara kaum pendatang kulit putih dengan masyarakat pribumi menjadi lebih cair, walaupun sisa-sisa dari sistem tanam paksa masih terasa hingga 30 tahun lamanya setelah Undang Undang Agraria diberlakukan. Akan tetapi interaksi tersebut hanya menjadi dalih agar usaha perkebunan mereka tetap bertahan. Bahkan dari interaksi ini muncul istilah “per-nyai-an” antara laki-laki kulit putih dengan perempuan pribumi. Persoalan rumit timbul ketika hasil hubungan ini lahir anak “indo” berhidung mancung, kulit putih dan bermata biru, namun tetap bernasib sama dengan pribumi. Tak memiliki masa depan yang jelas.

Segi sosial kala itu mendeskripsikan interaksi yang tak seimbang antara buruh perkebunan dengan pengusaha. Banyaknya perubahan fungsi lahan yang awalnya ladang menjadi perkebunan telah melahirkan kerumitan dalam budaya kehidupan masyarakat Priangan. Kesuksesan pengusaha dan pesatnya perkembangan Bandung kala itu dengan perkebunan teh-nya justru tidak diimbangi dengan perputaran ekonomi masyarakat Priangan. Perubahan fungsi lahan telah berdampak buruk pada mereka.

Judul Buku : Kisah Para Preanger Planters
Pengarang : Her Suganda
Penerbit         : Kompas Gramedia
Tahun terbit : 2014
Jumlah halaman : 180 halaman.

- Deri IM -

Selasa, 04 September 2018

Resign


Semua orang yang sudah bekerja tidak asing lagi dengan kata RESIGN. Mungkin sebagian dari kita sering medengar kalimat ini dari kolega di kantor, misalnya: “gue capek kerja, mau resign aja!”, “Bos nyebelin, pengen resign aja rasanya!” atau “Gue rasanya nggak berkembang di kantor ini, mungkin sebaiknya gue resign aja kali ya?”. Banyak sekali masalah karyawan di kantor yang menjadi pencetus keinginan untuk resign. Dan novel ini, sesuai judulnya, memberikan cerita yang menarik dari resignation.

“No one naturally loves work, except my boss”
The Cungpret

Adalah Karin, Rara, Carlo dan Andre menamai seluruh karyawan sebagai cungpret alias kacung kampret yang apabila ditambah dengan awalan ‘The’ terdengar lebih terhormat. Mereka bekerja di perusahaan konsultan bisnis multinasional yang berkantor di Jakarta, bekerja dalam tim yang di kepalai oleh Tigran. Tigran dianggap memiliki banyak kelainan, dia selalu ikhlas bekerja hingga larut malam, mengambil program Master 3 kali di negara berbeda, mau belajar terus dan umurnya masih 34 tahun dengan pencapaian luar biasa. Dengan semua ‘kelainan’ yang dimilikinya, tentu menjadikan Tigran bukan orang yang ‘normal’. Inilah alasan keempat cungpret ingin segera resign.

Cerita di novel ini menjadi menarik ketika salah satu cungpret menawarkan taruhan, siapa yang lebih dulu berhasil resign adalah pemenangnya, dan yang kalah harus meneraktir ‘senior resign’. Berlomba-lombalah para Cungpret menyebar lamaran ditengah kesibukan kerja yang sudah terasa mencekik. Hampir setiap hari The Cungpret pulang lewat tengah malam demi menyelesaikan proposal, analisis data klien, membuat laporan, dll. Dan Tigran adalah orang yang selalu terakhir pulang.

“Mungkin si Bos punya indera keenam, masa feelingnya bisa jitu terus?
-Cungpret yang selalu mati langkah

Entah bagaimana, usaha para cungpret resign selalu gagal karena the leader always have one step ahead alias selalu bisa mengedus ada indikasi resign dari para karyawannya. Rara yang punya panggilan untuk interview minggu depan, malah di tugaskan Tigran pergi ke Singapura untuk melakukan training. GAGAL. Berbagai cara dilakukan untuk dapat memenuhi undangan interview dari perusahaan lain, seperti pura-pura sakit, ada urusan keluarga mendadak, jalan macet dll. Pernah suatu hari Rara makan siang di luar untuk interview dengan calon Bos baru di sebuah restoran, dan bagaimana bisa Tigran mendapati Rara di restoran itu juga? apa yang dilakukan Rara saat kepergok bos saat interview?

Cerita dalam novel ini membuat pembaca penasaran, geregetan, dan berpikir ‘ada benarnya juga’ . banyak pelajaran dalam dunia kantor yang saya dapat dari buku ini. misalnya, meski ingin sekali keluar dari kemelut kerja yang seperti tidak ada habisnya, tidak perlu melakukan cara-cara tidak terhormat seperti mencari – cari SP untuk dapat dikeluarkan dai perusahaan, tetap kerjakan kewajiban dengan penuh tanggung jawab, karena resign belum tentu jadi jalan keluar setiap masalah pekerjaan, berganti bos atau berpindah perusahaan belum tentu akan memberikan nasib yang lebih baik dari sebelumnya. Selain tentang resign, novel ini juga dibumbui dengan kisah cinta yang unik dan seru untuk diikuti, selamat membaca!

Judul                : Resign
Pengarang        : Almira Bastari
Tahun              : 2018
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Jmlh Hal          : 286 halaman

Khairisa -