Kamis, 22 September 2016

Bersiap Menjadi Pemimpin Serba Tidak Menentu Change Leadhership Non-Finito






Masa depan ada pada pemimpin yang mampu mengubah tantangan menjadi kesempatan. Dinamika kepemimpinan selalu ada. Berubah dan berkembang. Modal kepemimpinan tidak bisa tetap. Banyak seorang pemimpin yang hebat melakukan perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Namun tidak selalu selesai hingga akhir. Sebab kehidupan terus berjalan. Pemimpin yang baik pun tidak selalu selesai mengakhiri kepemimpinannya.
Inilah yang dimaksud oleh Rhenald Kasali, melaluibukunya “Change Leadhership Non-Finito”. Secara ringkas artinya kepemimpinan yang tidak selesai. Yah. Karya-karya atau mimpi-mimpi pemimpin yang tak selesai (non-finitp) karena beragam alasan diantaranya kekurangan biaya, kurangnya dukungan pemerintah pusat, hambatan dari parlemen ketidakpastian perekonomian dunia, atau habis waktu.
Di buku ini Rhenald Kasali memaparkan contoh beberapa pemimpin yang hebat namun pekerjaannya belum selesai.
Pertama, Tri Rismaharini. Pernah mengungkapkan mimpinya yang belum selesai. “Saya masih ingin semua warga Surabaya dapat mandiri secara ekonomi. Di hari tua seharusnya warga tidak bergantung pada orang lain karena sudah mempunya uang pensiun. Apapun usaha warga, saya ingin mereka dapat uang pensiun. Ini sedang saya kerjakan, tetapi butuh proses. Salah satunya dengan membangun sentra PKL”. (halaman 25)
Kedua, Sutiyoso pernah berangan-angan Jakarta bebas macet. Jakarta mempunyai sistem transportasi massal terintegrasi untuk mengatasi kemacetan. Ada empat moda transportasi massal: busway, monorel, mass rapid transit (MRT), dan water way. Tetapi sejak jabatannya berakhir hingga hari ini, hanya bus way yang beroperasi. Sementara yang ditunggu warga, monorel, malah mangkrak.
Sudah habis biaya banyak. Pekerjaan tidak rampung. Jerih pembangunan tiang-tiang monorel masih mangkrak. Benar. Kalau kita berjalan-jalan ke Jakarta bisa kita saksikan tiang-tiang jalan layang dan tiang-tiang beton yang menjulang kesepian.
“Perubahan” adalah kata yang sering diucapkan oleh hampir setiap calon pemimpin baik itu pemimpin partai, pemimpin daerah, pemimpin institusi dan pemimpin organisasi. Menggeluti sebagai change leader sudah pasti ada risiko yang harus dihadapi. Celakanya kita hidup di era serba instan dimana semua orang ingin pemimpin bisa memberi hasil yang instan. Ingin segera mendapatkan hasil berupa rupiah menguat, ekonomi membaik, kemiskinan pupus, dan prestasi-prestasi meningkat.
Perubahan orientasi change leader perlu dilakukan untuk kepemimpinan yang berhasil. Beralih dari program-program yang membuahkan hasil dengan cepat dan terlihat publik kepada orientasi jauh ke depan. Beralih dari kebijakan populis kepada proses dan perjuangan. Beralih dari mengharapkan pujian dan kekaguman kepada menghadapi tekanan dan cemoohan.
Beralih dari kepemimpinan yang tidak banyak tantangan kepada kepemimpinan yang berliku dan penuh hambatan. Dari kepemimpinan yang penuh kepastian kepada kepemimpinan yang menghadapi persoalan ketidakpastian.
Buku ini juga menjelaskan bahwa kepemimpinan jangka panjang belum tentu memberikan hasil yang menyenangkan dalam jangka pendek. Terutama Indonesia yang sedang berada dalam kondisi krisis, tidak bisa mengandalkan perubahan dengan lompatan-lompatan jangka pendek.
Sepulun Tahun, Dua Perubahan
Dalam buku ini Rhenald Kasali membandingkan antara dua presiden Indonesia, yakni Gus Dur dan SBY. Dimana keduanya terdapat 2 perbedaan besar.
Gus Dur memerintah hanya 2 tahun. Tapi menghasilkan 10 perubahan (membubarkan departemen Penerangan dan Departemen Sosial, membangun kementerian HAM, mereformasi TNI, menggilir jabatan panglima TNI, mengganti nama Irian menjadi Papua, menghapus larangan tradisi budaya Tiongkok, dan menjadikan imlek sebagai hari libur Resmi). (Dua lainnya tidak saya tulis, karena memang saya tidak sepakat dengan itu).
SBY memerintah 10 tahun, tapi hanya menghasilkan 2 perubahan (perdamaian di Aceh dan konversi minyak tanah ke LPG). Sebenarnya SBY banyak program yang bisa digulirkan, tetapi banyak yang mendapat tantangan dan reaksi dari publik seperti pengurangan subsidi BBM.
SBY lebih memilih mengalah dan kompromi. “Saya tidak ingin konflik semakin menjadi-jadi. Benturan politik dapat membawa kita persis 10, 11, 12, 13 tahun yang lalu...”.
Ancaman Bagi Pemimpin Perubahan
Seperti Gus Dur, pemimpin perubahan selalu mendapat ancaman baik dari kalangan internal maupun kalangan eskternal. Umumnya mereka terdiri dari 2 kelompok. Pertama, yang sejak awal menjadi lawan politiknya. Kedua, kelompok yang merasa posisi atau kenyamanannya bakal terganggu akibat adanya perubaan yang dilakukan oleh sang pemenang.
Awang Faroek pernah mendapat cibiran, “Pikirannya ada di awang-awang. Programnya tidak bisa dieksekusi. Hanya mimpi”. Kebanyakan orang yang tidak sepaham dan sepakat dengan pemimpin biasanya malah berbicara ke media. Bukan mengkritisi langsung ke sang pemimpin. Akibatnya isu semakin meluas. Fitnah semakin menyebar.
Dekat Dengan Rakyat
Modal sosial yang sangat penting bagi seorang pemimpin adalah kedekatan dengan rakyat. Jokowi terpilih sebagai presiden ke-7 berkat kedekatannya dengan rakyat. Melalui blusukan, Jokowi menyapa rakyat. Tidak segan, Jokowi melayani rakyat yang selfie dengannya. Sebuah fenomena yang jarang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Jokowi hadir sebagai antitesa pemimpin yang eksklusif.
Saat pemimpin menjauh dari rakyat, saat itulah dia menjadi penguasa. Bukan lagi pemimpin. Penguasa itu berjarak dengan rakyat. Bahkan menjauh. Padahal seorang pemimpin itu  harus dekat dengan rakyat. Merasa bagian dari rakyat.
Dengan kesiapan sikap dan perilaku, pemimpin akan mampu mengubah ketidakpastian menjadi peluang. Faktor SDM, manajerial, dan leadership merupakan faktor krusial dalam pengembangan organisasi. Pemimpin dan SDM adalah ‘bahan bakar’ penggerak organisasi. Menempatkan orang yang tepat akan menjadi kunci keberhasilan eksekusi.
Pemimpin perubahan juga tidak serta merta menerapkan atau menggunakan format baru. Ini seperti yang dicontohkan oleh Awak Faroek dengan mempertahankan pejabat-pejabat karier yang memang kompeten untuk menduduki jabatan tersebut demi mewujudkan visi besarnya. Begitu juga bila ada lawan politiknya yang dianggap kompeten, Awang akan merangkul dan memberinya posisi yang pas. Bukan sekedar asal taruh sebagai ungkapan terima kasih.
                Ada beberapa nama yang sering dibicarakan di dalam buku ini diantaranya Awang Faroek, Tri Rismaharini, Joko Widodo, Gandjar Pranoto, Basuki Tjahaja Purnama, dan SBY. Dan banyak teori leadership yang disematkan atau dicontohkan kepada nama-nama tersebut. Nama Awang Faroek sering disebut sebab ternyata beliau adalah teman Rhenald Kasali.
“Teman saya memang ada di semua lapisan. Saya berteman ke atas OK. Ke tengah OK. Bahkan ke bawah OK. Sebab saya tidak pernah membeda-bedakan orang. Dari latar belakang keluarga mana, suku apa dan apa agamanya. Termasuk apakah dia kaya atau miskin. Semua teman saya. Alhamdulillah dari dulu sampai sekarang saya tidak membuat semacam jurang pembatas dengan mereka. Itulah mengapa saya sering menyebut saya ini pandai bergaul dan mudah akrab dengan siapa saja” urai Awang Faroek.
Dibagian akhir buku, Epilog Change Leadership Never Stop, Never Quit, beberapa nama inspirator perubahan dikatakan oleh Rhenald Kasali, diantaranya Galileo Galilei, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan Albert Einstein.
Rhenald Kasali memberikan catatan diakhir bukunya. Pertama, kalau Anda berpikir dengan matinya tokoh-tokoh tadi berarti mati pula gerakan perubahan yang mereka tawarkan, salah besar. Sebaliknya, gerakan perjuangan mereka malah menyebar menjadi virus yang menyebar kemana-mana. Gagasan, pemikiran, dan semangat mereka masih hidup, bertahan, dan relevan hingga saat ini dan masa akan datang.
Kedua, kalau Anda berpikir bahwa tokoh perubahan akhirnya harus mati, Anda salah. Kesannya, perubahan itu berbahaya sekali. Iya perubahan itu tidakmudah. Tetapi juga tidak benar kalau biaya untuk perubahan harus sebesar itu.
Membaca buku ini sangat bermanfaat bagi kita yang menekuni dunia kepemimpinan. Sebetulnya kita semua adalah pemimpin. Rhenald Kasali sangat menguasai tentang ini. Beliau adalah guru besar Universitas Indonesia yang sudah berpengalaman dalam merekrut atau melakukan test and proper tes sejumlah petinggi lembaga di Indonesia. Tapi dengan isi buku yang tebal ini menuntut ketelatenan dan kesabaran untuk membacanya.
Kisah-kisah para pejabat di Indonesia pada akhir-akhir ini membuat kita tidak bosan membacanya. Ada pengalaman dan kasus nyata. Menjadikan kita berkaca pada fenomena kepemimpinan yang terjadi.
Judul Buku                          : Change Leadership Non-Finito
Penulis                                 : Rhenald Kasali
Penerbit                              : Mizan, Bandung
Jumlah hal                           : 376 halaman
Tahun Terbit                      : 2016
Peresume                           : Supadilah



ME BEFORE YOU – SEBELUM MENGENALMU






Banyaknya review positif, pro-kontra film serta hashtag #liveboldly di twitter yang bertebaran membuat saya memutuskan untuk mencari tahu apa itu Me Before You dan siapa itu Jojo Moyes. Ternyata, ini adalah film yang diadaptasi dari novel best seller dan filmnya diperankan oleh Sam Claflin dan Emilia Clarke, 2 pemain fav saya hehe.

Buku ini cukup tebal karena terdiri dari 656 halaman dan tulisannya yang kecil-kecil makin membuat buku ini jadi lama untuk dibaca, tapi ternyata karena cerita yang seru dan perasaan saya yang udah baper duluan waktu baca buku ini, buku ini hanya selesai dalam 1 hari dan berakhir dengan saya nangis tersedu-sedu.
Cerita dari buku ini cukup sederhana, tentang seorang gadis berumur 26 tahun bernama Louisa Clark yang kerap disapa Lou. Lou selalu tahu berapa langkah dari rumah ke tempat kerjanya, bekerja di tempat yang paling dia sukai karena dapat bertemu orang-orang baru yaitu The Buttered Bun Tea Shop sebagai pelayan. Kehidupannya biasa-biasa saja, punya pacar seorang atlit, pulang ke rumah untuk berbincang-bincang dengan keluarganya, dan itu dilakukan setiap hari sampai akhirnya Lou dipecat karena Café tempatnya bekerja tutup.

Frustasi dalam mencari pekerjaan membuat Lou mau untuk bekerja sebagai asisten pribadi orang lumpuh, siapa disangka bahwa pria lumpuh itu masih muda dan tampan bernama Will Trainor, yang keluarganya tinggal di kastil tak jauh dari rumah Lou. Will adalah pria sukses dalam karirnya dan selalu berambisius, menyukai segala aktifitas di luar ruangan dan berbahaya, sampai akhirnya Will mengalami kecelakaan fatal yang membuatnya lumpuh dari leher hingga kaki dan disebut Quadriplegia. 

Keadaan ekonomi keluarga Lou memaksa Lou untuk selalu bekerja banting tulang dan membuatnya harus bertahan bersama Will, dimana Will selalu bersikap menjengkelkan setiap saat dan terang-terangan tidak menyukai kehadiran Lou. Will tidak boleh ditinggal sendiri lebih dari 15 menit, setiap beberapa jam Will harus diberi obat, tidak boleh terlalu kedinginan atau kepanasan, harus diberi makan dan minum sesuai waktu. Keadaan menjadi baik karena kehadiran Lou yang ceria mampu mencairkan sikap Will yang keras. Sayangnya, Lou hanya dipekerjakan selama 6 bulan, lalu kenapa hanya 6 bulan? Kemunculan adik Will, Georgiana mengungkapkan kenyataan pahit untuk kehidupan Will selanjutnya.

Berbicara tentang karakter, pembaca pasti setuju bahwa kita akan iba pada Will juga Lou, Lou sebagai wanita yang masih muda dan bersemangat, harus stuck di kota-nya, tidak dapat melanjutkan sekolah karena harus membanting tulang bekerja, mempunyai pacar selama 7 tahun yang sepertinya tidak ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang serius cukup membuat Lou tahu bahwa selamanya Ia dan Patrick hanya berjalan di tempat. Sedangkan Will, pria muda yang berambisius namun akhirnya harus selalu duduk di kursi roda karena penyakit yang dideritanya. Ini semua membuat Will menjadi tidak bersemangat dalam hidup, Will selalu merindukan kehidupan lamanya dan berujung seringnya melakukan percobaan bunuh diri.

Perjalanan kisah mereka semakin kompleks saat mereka akhirnya merasakan jatuh cinta, namun kisah mereka tidak berakhir sesuai dengan apa yang pembaca mau dan semua sepaham untuk menyalahkan Will dengan tindakan egoisnya yang tidak memikirkan Lou, namun disinilah Jojo Moyes berharap bahwa pembaca juga harus mengerti penderitaan yang dialami Will, perlahan-lahan pengarang menjelaskan proses penderitaan Will dan mengapa Will mengambil keputusan yang menyakitkan untuk orang tuanya serta Lou sendiri. Walau, saya berharap ada satu-dua bab yang dijelaskan dari sudut pandang Will, agar saya ga begitu menyalahkan Will.

Sudah banyak spoiler dan cerita mengenai film serta buku ini, tetapi menurut saya buku ini harus dibaca dan akhirnya bisa menyimpulkan sendiri apakah setuju dengan endingnya atau tetap tak percaya seperti yang saya lakukan :D

Judul Buku              : Me Before You (Sebelum Mengenalmu)
Pengarang               : Jojo Moyes
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman      : 656 Halaman
Penerjemah             : Tanti Lesmana
Segmen                   : Dewasa
Genre                     : Drama, Realistic Fiction, Romance
Harga                     : Rp 98.000 (diskon 20%) sekarang Rp. 128.000 L
Peresume                : Vanda Deosar

Sabtu, 23 Juli 2016

Breaking Night: Homeless to Harvard








Tuhan, berikanlah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.

Doa itulah yang sering diulang-ulang tokoh utama bernama Elizabeth Murray yang lebih suka dipanggil Liz. Novel ini menceritakan kisah hidup penulis sebelum akhirnya menginspirasi banyak orang di berbagai negara dan mendirikan sekolah khusus tunawisma pertama di Amerika. Liz kecil dikenalkan kepada ayahnya saat berusia 3 tahun, saat itu ayahnya baru saja keluar dari penjara karena profesinya sebagai pengedar narkoba, Ma (ibunya) yang juga membantu ayahnya dalam memproduksi narkoba dibebaskan karena saat itu sedang mengandung Liz sekaligus mengasuh Lisa-kakaknya Liz-dan memiliki sedikit gangguan mental karena kehidupannya di masa kecil yang keras. Keluarga Liz memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan mengandalkan cek dinas sosial yang dibagikan kepada keluarga miskin di Amerika.

Orang tua Liz adalah pecandu narkoba yang rela membiarkan anak-anaknya kurang makan bahkan tidak makan berhari-hari untuk kokain. Ayah Liz sebenarnya seorang yang cerdas dan sangat mencintai buku-buku, Seringkali ayahnya meminjam buku di berbagai perpustakaan dan tidak pernah mengembalikannya sehingga anak-anaknya terbiasa untuk membaca buku-buku bagus di rumahnya. Sejak kecil, Liz dan kakaknya sudah terbiasa menyaksikan kedua orang tuanya sakau dan menggunakan narkoba di rumahnya, dan meskipun Liz membenci perbuatan orang tuanya yang tidak bertanggung jawab, ia selalu bersikap baik pada keduanya bahkan menemaninya ditengah malam untuk membeli narkoba.

Liz sebenarnya bukan orang yang bodoh, namun kehidupannya di sekolah yang sering menjadi bahan ejekan teman-temannya serta direndahkan guru-gurunya menjadikan Liz seorang yang sangat membenci sekolah dan selalu membolos. Kehidupan Liz semakin kacau semenjak Ma keluar masuk rumah sakit jiwa dan didiagnosis terkena AIDS, ayahnya yang seakan tak memperdulikannya, ia yang meninggalkan sekolah dan lebih memilih untuk bekerja apa saja untuk sekedar memenuhi kebutuhan perutnya. Meskipun begitu, buku-buku ayahnya dirumah membantunya untuk lulus SD dan SMP dengan nilai pas-pasan setelah sebelumnya ia sempat dibawa dinas sosial ke penampungan karena seringnya membolos sekolah. Setelah menjalani hari-hari di penampungan akhirnya Liz tinggal ditempat baru yang merupakan apartemen pacar baru Ma, Brick. Sementara Liz tinggal dirumah Brick, ayahnya dibawa ke penampungan karena dinas sosial tak lagi mau membiayai hidupnya. Ma meninggalkan suaminya dan memulai hidup baru tanpa narkoba. Liz sejak awal sudah membenci Brick meskipun ia yang membiayai kebutuhan mereka semua. Terlebih Brick sangat kasar pada Ma meskipun ia tahu bahwa Ma semakin lemah karena penyakit yang menggerogotinya.

Di sekolah barunya, Liz tetap saja membolos dan membenci guru-gurunya meskipun saat itu Liz sudah memiliki banyak teman yang sangat menyayanginya. Liz akhirnya benar-benar meninggalkan sekolah dan kabur dari rumah. Liz menggantungkan masa depannya pada Carlos, anak jalanan yang sedang menunggu warisan dari ayahnya dicairkan. Tanpa tempat tinggal yang jelas, mereka berpindah dari satu rumah teman ke rumah temannya yang lain, mengutil makanan di swalayan, meminta-minta, dan mengandalkan teman-temannya. Liz masih menyayangi kedua orangtuanya namun ia sudah benar-benar membenci sekolah dan tak mau berurusan lagi dengan dinas sosial serta tempat penampungan. Beberapa tahun Liz menjadi tunawisma berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga pada suatu hari ia mendapat kabar bahwa Ma meninggal, perasaannya hancur karena ia sadar dirinya justru tidak berada disamping Ma di saat-saat dibutuhkan, betapa dulu Ma sangat berharap Liz bisa bersekolah tinggi dan memiliki pilhan untuk bisa hidup dengan layak.

Liz dilema berat sebelum menjadi benar-benar sadar bahwa ia harus mengubah hidupnya sendiri ketika mengetahui Carlos yang dicintainya juga menjadi pecandu narkoba, uang warisannya dihambur-hamburkan untuk membeli narkoba dan mungkin juga mengedarkannya. Liz hilang arah, ia berbicara pada dirinya sendiri tentang berbagai kemungkinan untuk mengubah keadaannya. Kali ini ia bertekad untuk benar-benar menentukan masa depannya, ia tidak bisa mengubah masa lalunya namun masa depannya masih bisa diciptakan pikirnya. Pasti ada hal yang bisa dilakukan.

Bagaimana perjuangan Liz supaya bisa bertahan untuk sekolah tanpa membolos lagi?Bagaimana Liz membiayai hidup dan sekolahnya kali ini? Apakah keluarganya bisa bersatu lagi?Apa yang membuatnya percaya diri dan bisa kuliah di universitas top dunia, Harvard University?


Buku ini cukup melelahkan untuk dibaca, karena lebih dari 450 halaman bercerita tentang kondisinya yang memprihatinkan, kesulitannya dalam menjalani hidup, orang tua yang sangat tidak bertanggung jawab dan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya, dan keterbatasan-keterbatasan lainnya. Keadaan inilah yang membentuk karakter Liz untuk memiliki pemikiran yang dewasa dibandingkan usia sebenarnya, mengajarkannya untuk bijak dan memahami setiap keadaannya. Doa yang sering diucapkannya menjadikan ia kuat. Buku ini menyadarkan saya bahwa impian yang besar harus dibarengi dengan usaha dan keyakinan yang jauh lebih besar, tidak bisa setengah setengah. Akan Ada hal-hal yang tidak bisa diubah dalam hidup, tapi kita selalu punya hal yang bisa dilakukan yang akan mengantarkan pada pilihan-pilihan lainnya. Tidak mencoba akan berakhir pada kata ‘tidak’ namun ketika kita mencoba akan memberikan lebih dari satu pilihan. Doa yang Liz tulis mengingatkan saya dengan beberapa ayat ini “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… “ (QS. Al Baqarah: 286) dan “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka “ (QS. Ar Ra'd: 11). Tetap semangat, kesempatan masih terbuka lebar.

Judul buku           : Breaking Night
Nama Penulis      : Liz Murray
Penerbit              : Mizan (terjemahan Indonesia)
Tahun Terbit        : 2013
Jumlah Halaman  : 510 halaman
Nama Peresume  : Mustika Rizky Amalia

To Live (Hidup)





Pada awalnya, Fugui adalah seorang anak saudagar kaya yang hobi berjudi dan bermain wanita. Sejak kecil dia telah membuat banyak orang kewalahan dengan sikapnya. Namun, sebagai seorang anak tuan tanah yang terhormat, tidak ada yang berani menghentikannya. Hingga suatu hari, sebuah kecerobohan di meja judi menghancurkan kehidupannya. Seluruh harta keluarganya habis untuk melunasi hutang-hutangnya. Dia dan seluruh keluarganya terpaksa angkat kaki dari rumah besar yang telah menjadi warisan turun-temurun keluarga Xu.
Tidak lama berselang setelah kepindahan mereka dari rumah besar ke sebuah gubuk beratap jerami, ayah Fugui meninggal. Kemudian, istrinya, Jiazhen, yang sedang hamil anak keduanya, dipaksa pulang oleh orangtuanya. Ketika anak kedua itu telah berumur setengah tahun, Jiazhen kembali ke gubuk itu untuk membantu pekerjaan di sawah. Kehidupan memang tidak menyenangkan, tetapi keutuhan keluarga jelas mendamaikan.
Situasi politik di Cina saat itu sedang bergejolak, membuat masa depan rakyat semakin tidak jelas. Fugui mungkin jatuh miskin dan tinggal di gubuk, tetapi bukan dia yang kemudian menghadapi hukuman mati yang dijatuhkan kepada tuan-tuan tanah. Ada pula saatnya dia ditarik untuk menjadi seorang tentara, tetapi bahkan ketika jatah pangan semakin menipis, dia tidak menjadi satu di antara yang mati karena sakit maupun kelaparan.
Sayangnya, ujian kehidupan Fugui tidak berhenti sampai di situ. Takdir seolah-olah tidak membiarkannya mati walau telah ada banyak hal yang dia alami, tetapi orang-orang terdekatnya justru meninggalkannya lebih dulu. Setelah ayahnya, ibunya meninggal karena penyakit tua. Anak pertamanya, Fengxia, meninggal karena kehabisan darah setelah melahirkan. Anak keduanya, Youqing, meninggal karena kehabisan darah juga, walau dengan penyebab yang berbeda. Setelah itu, istrinya, menantunya, cucunya, hingga teman seperjuangannya selama menjadi tentara, menyusul satu per satu.
Hingga hari tuanya, Fugui hidup sendirian ditemani oleh seekor sapi yang dia beri nama seperti namanya. Sapi inilah yang menjadi simbol dirinya—sebatang kara, tanpa keluarga, tetapi tidak kunjung juga dipanggil untuk meninggalkan dunia. Ketika seorang pengelana muda mendekatinya, saat itulah Fugui menceritakan kisah hidupnya.

Judul buku                       : To Live (Hidup)
Nama penulis                   : Yu Hua
Penerbit                           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit                      : 2015
Jumlah halaman                : 221 halaman

Resume oleh: Nabila