Sabtu, 09 Mei 2015

Segenggam Iman Anak Kita


Judul                     : Segenggam Iman Anak Kita
Penulis                  : Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit                : Pro-U Media
Jml. Halaman       : 287



Penulis membagi buku ini menjadi 5 bagian, yaitu menjadi orang tua untuk anak kita; membekali jiwa anak; menghidupkan Al Qur’an pada diri anak; sekadar cerdas belum mencukupi; dan menempa jiwa anak, menyempurnakan bekal masa depan. Di setiap bagiannya akan diberikan kiat, inspirasi dan renungan karena salah satu amal kita yang tidak akan terputus setelah kita meninggal adalah doa anak sholeh/sholehah. Oleh karena itu, yang pertama kali perlu kita risaukan adalah iman mereka, keshalihan mereka. Namun, seringkali orang tua sibuk mencari tahu bakat, lupa melapangkan hati untuk mencintai tanpa syarat, meluangkan waktu untuk mereka, dan menempanya agar memiliki kesungguhan serta tujuan hidup yang jelas.

Untuk menjadi orang tua bagi anak kita, maka kita harus menentukan pola asuh terbaik karena mereka yang dibesarkan dengan keluh kesah cenderung tidak memiliki daya juang tinggi. Sebaliknya, mereka yang dibesarkan dengan penuh penerimaan dan kasih sayang, akan memiliki penerimaan diri yang baik sehingga tumbuh menjadi manusia yang penuh percaya diri. Jika anak-anak dibesarkan dengan penuh kesyukuran serta kehangatan, mereka akan lebih mudah untuk belajar menebar kebaikan dan kesantunan. Inilah pilar awal pembelajaran. Agar anak-anak memiliki orientasi hidup yang baik, yang perlu diberikan oleh orang tua adalah kasih sayang agar menghidupkan perasaan dengan memberikan waktu untuk bercanda bersama mereka. Yang kedua adalah anak diberikan rangsangan untuk berpikir. Orang tua harus membangun cita-cita yang visioner, bukan cita-cita pasif. Dan yang ketiga adalah orang tua perlu mendorong anak untuk menjadi manusia-manusia idealis agar mereka memiliki cita-cita yang visioner tersebut.  Untuk orang tua sendiri, ada tiga bekal dalam mengasuh anak, yaitu rasa takut terhadap masa depan mereka, takwa kepada Allah SWT, dan selalu berbicara dengan perkataan yang benar.

Untuk membekali jiwa anak, orang tua perlu membangun motivasi anak, meletakkan visi pada anak, membangun jiwa yang bercahaya, melatih kepasrahan yang menggerakkan, mencintai mereka untuk selamanya, membekali keimanan dengan keteladanan, dan memahamkan bahwa hanya Islam yang diridhai Allah sehingga anak dapat berIslam dengan bangga dan berIslam dengan ihsan. Setelah itu, orang tua juga harus menghidupkan Al Qur’an pada diri anak. Anak harus ditumbuhkan kecintaan dan keyakinannya pada Al Qur’an. Jika mereka yakin pada Al Qur’an, maka mereka anak menerima sepenuhnya apa yang difirmankan Allah SWT. Mereka menyambutnya tanpa keraguan dan membacanya dengan penuh kecintaan. Untuk menghidupkan Al Qur’an dalam jiwa anak, orang tua harus memperhatikan beberapa hal, yaitu berusaha untuk menghidupkan jiwa anak untuk melihat dan merasakan “ada ayat Al Qur’an” dalam setiap kejadian yang mereka jumpai; membangun tradisi berpikir yang berpijak pada Al Qur’an; dan mengajarkan pada anak untuk memegangi Al Qur’an dengan kuat.

Untuk anak, sekedar cerdas saja belum mencukupi. Orang tua harus menumbuhkan aspek-aspek lainnya. Kecerdasan hanya mempengaruhi kemampuan mengingat, mencerna, dan memahami sesuatu. Sedangkan keyakinan mendorong untuk menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa melakukan apa yang telah menjadi keyakinannya. Ada tiga potensi manusia yang berbeda tingkat kemudahan membentuknya. Yang paling sulit adalah karakter, kemudian motivasi, dan yang paling mudah adalah kemampuan kognitif serta keterampilan. Tak ada artinya kecerdasan yang tinggi tanpa integritas. Begitu juga dengan kreativitas. Kreativitas itu penting. Tetapi, kreativitas harus berdiri di atas akhlak yang mulia. Kreativitas harus berdiri sejajar dengan akhlaqul karimah. Kreativitas harus lahir sebagai konsekuensi dari pendidikan tauhid dan akhlak.

Jiwa anak harus benar-benar ditempa untuk menyiapkan masa depannya. Betapapun lingkungan sangat berpengaruh dalam menempa jiwa anak, tetapi yang paling berperan adalah bagaimana orang tua membekalkan nilai-nilai hidup kepada anak. Bukan lingkungan. Bukan zaman saat ia dibesarkan. Orang tua harus membangun sikap positif terhadap belajar kepada anak dengan memberi pengalaman belajar yang menyenangkan, membangun kedekatan emosi dengan anak, menciptakan kondisi belajar yang positif sebelum dan selama anak belajar, menunjukkan manfaat belajar, menularkan antusiasme terhadap ilmu, memberikan apresiasi terhadap belajarnya, serta menjadikan orang tua sendiri sebagai contoh. Jika ingin menjadikan belajar sebagai kebutuhan anak, maka orang tua harus membangun sikap positif terhadap belajar dan keyakinan bahwa mereka memiliki kompetensi. Orang tua juga perlu berhati-hati dalam mendampingi tahap perkembangan anak, terutama saat anak memasuki usia remaja. Orang tua harus bisa memilah keterlibatannya dalam hidup anak. Anak harus diberikan kepercayaan untuk menjalani kehidupannya, tentunya dengan batas dan kontrol yang jelas. Cukuplah orang tua dikatakan menyengsarakan hidup anak-anak apabila membiasakan mereka hidup mudah. Semoga bermanfaat.

Nasional.Is.Me



Judul Buku                  : Nasional.Is.Me
Penerbit                      : Bentang Pustaka
Penulis                        : Pandji Pragiwaksono
Jumlah halaman           : 233 Halaman
Tahun terbit                : 2011




“Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia
Mereka yang menuntut perubahan
Mereka yang menciptakan perubahan
Silakan pilih perjuanganmu.”
                           
Kutipan dari buku ini lumayan menyengat. Nasional.is.me adalah buku yang kental dengan candu-candu nasionalisme. Persis dengan judul bukunya. Buku ini menawarkan cara pandang baru tentang nasionalisme. Cara pandang yang mendebat segala jenis keputusasaan dan sikap skeptis dari sebagian besar masyarakatnya. Sebagian besar masyarakat Indonesia yang memandang pesimis atas masa depan dan realita Indonesia. Saya pribadi memandang buku ini cukup berhasil menekankan nasionalisme dari sisi yang berbeda.

Buku ini dikarang oleh seorang komika, penyiar juga, MC juga. Dia adalah Pandji Pragiwaksono. Bisa dibilang Pandji adalah public figure kreatif masa kini yang mewakili kalangan muda. Kalangan yang sebenarnya sering dipertanyakan wujud real dari nasionalisme mereka. Tapi seperti yang disinggung di buku ini, Kenali Indonesiamu, Temukan passionmu, Berkaryalah untuk masa depan bangsamu. Ya, memang benar, kita bisa mendisplay wujud nasionalisme kita sesuai dengan jalan yang kita ingini. Sesuai dengan hasrat yang menjadi bahan bakar kita menjalani kehidupan.

Buku ini dibuka dengan sebuah fragmen aktivitas wawancara Pandji dengan seorang wartawan. Topik yang menjadi wawancara adalah topik yang sempat menjadi trend di tahun 2009. Topik dari kejadian yang banyak menarik perhatian orang. Kejadian ini pulalah yang membuat Manchester United batal datang ke Indonesia. Kejadian yang seolah-oleh akan membuat mimpi buruk bangsa ini menjadi nyata. Tapi dengan adanya spirit campaign yang digelorakan olehnya dan beberapa kawannya, kita sebagai bangsa ternyata sudah terlatih menghadapi situasi buruk di negeri ini. Daya juang rakyat Indonesia dalam menghadapi beberapa momen yang tidak mengenakan telah mendapat apresiasi positif dari negara lain. Sebut saja bencana alam, terorisme, krisis ekonomi. Sejarah membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang mampu mengelola hal-hal tersebut dengan baik. Hal inilah kemudian yang melatarbelakangi spirit campaign saat itu. Spirit yang benar-benar menjadi trend kala itu. Spirit itu adalah #KAMITIDAKTAKUT yang kemudian berkembang menjadi viral di social media twitter. Tagar ini kemudian berevolusi menjadi #IndonesiaUnite (jadi tahu kan sejarahnya?). Awalnya trend spirit ini muncul atas reaksi Bom Marriot jilid 2. Disadari atau tidak, ternyata viral ini cukup berkembang dan menyebar menjadi sebuah gerakan. Banyak orang memakai hashtag dan profile picture dengan berbagai kreasi menvisualkan trend ini.

Si wartawan tersebut mengawali wawancara dengan sebuah pertanyaan yang membuat Pandji bingung. Ketika banyak wartawan bertanya mengenai Indonesia Unite, si wartawan ini malah memulai dengan pertanyaan yang tidak bisaa. ‘Kok masih bisa optimis dengan Indonesia di saat kebanyakan pesimis?’ Itulah yang ditanyakan. Pandji bingung karena pertanyaan itu mengesankan yang aneh itu adalah dirinya. Bukan justru mereka yang pesimis terhadap Indonesia. Dia seperti jadi minoritas yang menurutnya merupakan sebuah anomali. Maka yang keluar dari mulutnya sambil menatap wartawan itu kebingungan adalah, “Kalau orang-orang tahu apa yang saya tahu tentang Indonesia, mereka juga akan optimis..”            Di bagian kedua ini buku ini Pandji memang secara jelas apa yang membuatnya optimis tentang Indonesia. Di bagian ini ia banyak menceritakan tentang Indah-indahnya kota-kota yang ada di Indonesia. Paparannya seakan menampar kita yang sering mengeluh dan pesimis terhadap Indonesia karena apa yang kita lihat, padahal banyak tempat yang belum kita datangi. Kita sudah demikian pesimis, padahal kita cuma diam di satu tempat saja.

Buku ini sebenarnya di awali dengan sebuah perjalanan hidup penulisnya. Perjalanan hidup yang membentuk dia untuk konsekuen terhadap sebuah pilihan dan bersikap dewasa. Dari masa SD yang membuat dia merasa hadir sebagai seorang manusia. Dari masa SMP yang mulai mencecap hidup bersosial. SMA yang mulai bertanggung jawab dan mendewasakannya. Dan masa kuliah membangun diri dengan kemandirian. Secara gamblang Pandji menjelaskan milestone hidupnya dan secara terang menunjukkan apa alasannya mengapa dia bisa menjadi orang sekarang ini.

Ada satu bagian yang sangat menyentak di buku ini. Dan ini adalah favorit saya:

Hari ini, pemuda dan pemudi Indonesia nampak bengong setiap kali saya ajak mereka untuk menciptakan perubahan.
Wajah mereka sinis dan berkata “mana mungkin...”
“Saya ‘kan hanya mahasiswa.”
“Saya ‘kan hanya orang kantoran.”
“Saya ‘kan hanya orang bisaa, ga punya uang banyak, menciptakan perubahan nampak tinggi biayanya.” “Saya ‘kan hanya rakyat, bukan decision makers.”
....
Memalukan.
“Saya ‘kan HANYA...”
Pemuda dan pemudi Indonesia merendahkan diri mereka dengan menggunakan kata “hanya”.
Di saat pemuda dan pemudi masa lalu mempertaruhkan NYAWA mereka untuk meninggikan derajatnya di hadapan dunia asing. Di hadapan Jepang, Portugis, Inggris, dan Belanda yang berpikir mereka bisa menindas kita.
Pemuda pemudi yang bilang, “Saya ‘kan hanya rakyat,” harusnya pergi ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dan melihat betapa banyaknya makam yang hanya bertulisakan “Pemuda”
karena sang pejuang itu tidak dikenal identitasnya. Ia hanya rakyat yang ikut angkat senjata melawan penjajahan, mempertahankan kemerdekaan.
Malu.
Harusnya mereka malu kepada semua yang sudah gugur di Surabaya karena mereka tetap berusaha walaupun di hadapan 30.000 tentara lawan, menang nampak tidak mungkin.

Ya memang begitulah. Kalau dirasa terlambat memang, karena kebanyakan kita mungkin sudah meninggalkan masa middle class society. Tapi yang nanya membuat perubahan itu tidak tergantung pada usia. Perubahan ada pada orang-orang yang dengan jiwa dan raganya ia mampu membius orang lain untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita mulia manusia. Menjaga keseimbangan interaksi antarsesama.

Lalu apa yang bisa kita lakukan. Di buku ini Pandji banyak mencotohkan hal-hal sebenarnya simple namun di luar dugaan kita. Mungkin kebanyakan kita menampilkan wujud nasionalisme hanya pada suatu moment, atau pada sebuah retorika. Tapi ternyata sejatinya nasionalisme itu adalah sesuatu yang real. Maka Pandji mencontohkan dengan menjadi pendonor darah tetap untuk seorang bocah yang membutuhkan padahal sebelumnya dia belum pernah donor darah. Nasionalisme yang disadari juga bahwa dia perlu menjaga kondisi tubuhnya, karena sehatnya ia adalah juga untuk orang lain. Pandji juga menunjukkan pada kita betapa sederhananya kita bisa berkarya untuk negeri ini. Kepedulian yang bisa kita wujudkan bagi kaum tidak mampu, memberdayakan komunitas, memupuk rasa kepedulian social yang tentu di antara kita sendiri tahu apa saja contoh dari semua konsepsi nasionalisme tersebut.

The Server Leadership

Judul buku   : The Server Leadership
30 Kepemimpinan dan Kemampuan Pemimpin Sejati yang Wajib dimiliki Setiap Orang Sukses.
Penulis          : Urgyen Rinchen Sim
Pendamping  : Dodi Mawardi
Penerbit         : RAS – Raih Asa Sukses (Penebar Swadaya Group)
Tebal Hal       : 202 halaman



Saat ini di kantor saya sedang dilakukan restruktrurisasi manajemen dan untuk menambah ketrampilan karyawan maka diadakanlah beberapa kursus dan inhouse training yang berkaitan dengan komunikasi, pengembangan diri dan kepemimpinan. Sambil menyelam minum air, saya cari tambahan refensi untuk pembelajaran yang berkaitan dengan training dan saya jadikan resume, buku yang saya pilih adalah The Server Leadership persembahan dari pak Simon (Urgyen Rinchen Sim).
Buku ini berisi 30 kebiasan dan kemampuan pemimpin sejati, berdasarkan apa yang diajarkan oleh John C. Maxwell. Ditulis dengan semangat dan bertujuan menyebarkan nilai-nilai sederhana yang kadang sering kita lupakan, padahal ilmu kepemimpinan itu sendiri berisi sangat banyak nilai yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. 
The Server Leadersfhip, judul buku ini mengandung 3 filosofi, yaitu pelayan, inisiator dan pusat dari segala kegiatan. Sebagai seorang pemimpin memiliki tugas utama sebagai orang yang melayani orang-orang yang dipimpinnya dan menjadi yang pertama sebagai penolong, pemecah masalah, pembangkit motivasi orang-orang yang dipimpinya dan menjadi wadah utama yang menjadikan semuanya berjalan dengan lancar.
Berhasil atau tidak seorang pemimpin tergantung pada kemampuan, integritas dan pemahaman nilai-nilai kepemimpinan yang kita yakini dan jalankan. 
Mari kita simak tentang 5 level kepemimpinan yang antara lain;
1. Positional Leader, Kepemimpinan adalah wewenang (Right)
2. Permission Leader, Pemimpin melakukan tugasnya berdasarkan hubungan baik (Relationship)
3. Production Leader, Pemimpin level ini membuktikan dirinya sebagai pemimpian karena kualitas/kuantitas hasil kerjanya (Result)
4.People Development Leader, Pemimpin yang mampu menularkan kehebatannya kepada anak buah (Reproduction)
5. Personhood Leader, Dialah pemimpin sejati yang punya kemampuan komplit dan para pengikutnya sangat hormat kepadanya (Respect)
Selain itu ada beberapa mitos kepemimpinan yang mungkin berguna untuk menambah pemahaman tentang kepemimpinan.
1. Mitos manajemen. Anggapan bahwa pemimpin sama dengan pengelola adalah salah.
Management is about doing the thing right. Leadership is about doing the right thing.
Seperti contohnya kerjasama antara Bill Gates sebagai pendiri Microsoft dan co foundernya Pau Allen, sahabat Bill Gates. Bill Gates adalah pengelola dan pemimpin yang hebat namun ada pemimpin yang sesungguhnya yaitu Paul Allen, dia memiliki filisophi yang jelas, tegas dan professional yang terus membimbing pasukannya di Microsoft menjadi yang terbaik. 
2. Mitos wirausaha. Seorang usahawan sukses adalah seorang pemimpin tertinggi. Tidak selalu demikian, kadang seorang pengusaha perlu mencari partner yang memiliki kemampuan memimpin perusahaan untuk menjalankan usahanya. Contohnya ; Dick & Maurice Mc. Donald mereka wirausahana yang sukses dan kemudian menggandeng Ray Kroc, seorang professional yang piawai dalam penjualan dan kepemimpinan. Hingga akhirnya usaha Mc. Donald berkembang pesat hinggal memiliki 31.000 outlet tersebar di 119 negara.
3. Mitos pengetahuan. Knowledge is power. Tidak afdol seorang pemimpin jika tidak memiliki pengetahuan dan kecerdasan. Namun, ternyata semua itu tidak selalu benar.
Terkait dengan hal ini, kisah The Red Devil – MU yang menjadi klub sepakbola yang disegani kawan maupun lawan, berkembang setelah di tangani oleh seorang pelatih bernama Alex Ferguson. Dia hanya seorang mantan pemain sepak bola yang biasa-biasa saja, kemampuannya sangat jauh dibawah anak-anak asuhannya di club tersebut. Namun, visi dan ketajamannya membaca situasi dilapangan membawa dirinya dan timnya meraih kemenangan demi kemenangan.
4. Mitos pelopor. Siapapun yang berada di depan dialah pemimpin. Faktanya tidak demikian, untuk menjadi pemimpin tidak cukup menjadi pelopor. Kita mungkin menyadari bahwa Sir Edmun Hillary adalah orang pertama yang mencapi puncak Gunung Everest tahun 1953. Namun, ia bukanlah pemimpin ekspedisi tersebut melainkan John Hunt. 
5. Mitos posisi. Pemimpin ditentukan oleh posisi dan kedudukannya. Ini merupakan kesalahpahaman terbesar. Dalailama adalah salah satu contoh, dia bukanlah pemimpin pemerintahan Tibet akan tetapi Dalai Lama tetap pemimpin di hati para pengikutnya. 
Buku ini menarik karena 30 kebiasan dan kemampuan pemimpin sejati dirangkum dalam 5 server yang dituangkan satu persatu disertai contoh sehari hari dan kita diajak untuk memahami kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang pemimpin, mempelajari prinsip sederhana pemimpin hebat, belajar tentang hukum pemimpin modern, kualitas pemimpin sejati apa saja yang pantas kita tiru, memahami pelajaran emas pemimpin sesungguhnya. 
Cikarang, 2 Mei 2015 
Neny - IM3

Wonderful Husband, Menjadi Suami disayang Istri (Seri Wonderful Family)



Judul                : Wonderful Husband, Menjadi Suami disayang Istri (Seri Wonderful Family)
Penulis             : Cahyadi Takariawan
Penerbit           : Era Adicitra Intermedia
Cetakan           : 2, Januari 2014
Jum halaman   : 314 halaman



Motivasi menikah adalah ibadah, bagian dari pelaksanaan aturan Allah yang kemudian secara administrasi diatur oleh negara. Motivasi ini harus selalu dikuatkan agar tidak melemah, sehingga pernikahan dapat bertahan lama. Namun seiring waktu, janji yang telah diikrarkan saat akad mengalami pemudaran, ikatan yang dahulu kuat, perlahan melemah, mengendur dan tidak jarang yang akhirnya terlepas. Suami dan istri mencederai ikrar suci yang telah dikumandangkan. Maka, suami  yang ideal harus mampu memperbaharui makna janji, makna ikrar, makna ikatan dan makna akad yang dahulu dilakukan saat prosesi pernikahan agar selalu segar dan kokoh.
Setiap istri pasti mendambakan suami yang ideal. Ideal bukan berarti sempurna, namun ideal merupakan proses dan usaha menjadi, bukan hasil jadi. Menjadi suami sayang istri, menjadi suami disayang istri, bukan menjadi suami takut istri, bukan pula suami yang dibenci istri. Buku ini menceritakan sembilan karakter Wonderful Husband atau suami yang disayang istri.
Karakter pertama adalah memimpin keluarga dengan cinta. Bagaimana pun istri keadaanya, ingatlah bahwa Allah mengutus kita untuk melengkapi kelemahan dan kekurangannya, bukan memarahi, bahkan sampai mencaci maki. Memimpin dengan cinta adalah bagaimana cara kita menasehati dan mengingatkan dengan kasih sayang serta kelembutan. Karakter kedua adalah menundukkan ego. Suami ideal, adalah suami yang mampu mengucapkan kata maaf lebih dahulu (mengalah dalam pertengkaran), bukan yang mengawali pertengkaran. Seperti sederhana, namun disemudah yang terlihat karena kebanyakan para suami sulit mengucapkan kata maaf.
Karakter ketiga adalah selalu berusaha membahagiakan istri, menundukkan istri dengan kebahagian, bukan dengan kemarahan, bukan semata memenuhi kebutuhan materi, bukan perihal bagaimana memenuhi semua yang diinginkan istri, namun bagaimana menyentuh perasaan dan hatinya. Karakter keempat, selalu mengingat kebaikan istri dan mudah melupakan keburukan istri. Saat ini banyaknya diantara suami lebih sering mengungkit keburukannnya dari pada kebaikannya. Sesungguhnya manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang sempurna.
Karakter kelima, memahami kondisi istri. Ingatlah, bahwa setiap hari selalu ada yang berubah, istri kita saat ini tidak sama dengan kondisi saat akad, ada perubahan secara fisik. Selain itu, ada juga perubahan-perubahan lain yang harus disadari, inilah yang wajib diketahui para suami agar selalu bisa memahami kondisi istri. Karakter keenam adalah memberi teladan dalam kebaikan. Perlu diingat dan wajib tersemat dalam pikiran, bahwa suam adala teladan untuk seluruh anggota keluarga, jika suami memberikan contoh buruk, maka hal itu pula yang akan dicontoh dan sebaliknya. Jadilah teladan yang dalam kebaikan.
Karakter ketujuh, memelihara kesetiaan. Sebagai wonderful husband, maka kita harus menjaga kesetiaan, jangan pernah selingkuh, jangan sampai menyakiti hati dan perasaan. Perselingkuhan yang saat ini marak terjadi dimana-mana merupakan salah satu contoh ketidaksetiaan terhadap pasangan. Karakter kedelapan adalah tampil “Young and Fresh”, suami selalu menuntut istri untuk tampil secantik mungkin, wangi dan sebaginya, namun kita lupa untuk menata diri kita sendiri, jika ingin istri memberikan yang terbaik, maka tampilkanlah yang terbaik.
Karakter kesembilan, memberikan yang terbaik. Suami yang disayang istri selalu berusaha memberikan segala hal yang terbaik, selalu berusaha memenuhi kewajibannya dan tidak mendahulukan haknya. Saat ini banyak suami yang kasar terhadap istrinya, menuntut segala hal dari istinya, namun lupa akan kewajibannya.
Semoga kita mampu menjadi suami yang ideal bagi istri kita. Mari kembali belajar dan belajar, agar mampu terus menerus memperbaiki diri dan siap menghadapi segala permasalahan yang datang silih berganti.

Shirah Nabawiyah (Perang Uhud)







Judul                     : Shirah Nabawiyah (Perang Uhud)
Penulis                  : Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri
Penerbit                 : PUSTAKA AL KAUTSAR
Tebal Buku            : 584 hlm 




Perang Uhud merupakan perang yang muncul atas dasar dendam para kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin atas kekalahan mereka dalam Perang Badr sebelumnya, atas banyaknya pemimpin dan pemuka-pemuka Quraisy yang terbunuh, dan atas banyaknya tawanan perang oleh kaum Muslimin. Hampir semua kaum Quraisy sangat bersemangat dalam melakukan persiapan untuk melancarkan perang terhadap Kaum Muslimin. Tak ayal, pemimpin-pemimpin Quraisy, yakni Ikrimah bin Abu Jahl, Shafwan bin Umayyah, Abu Sufyan bin Harb dan Abdullah bin Abu Rabi’ah, tidak tanggung-tanggung berhasil mengumpulkan seribu onta dan seribu lima ratus dinar dalam waktu singkat. Mereka juga menghimpun pasukan perang sebanyak-banyaknya dari berbagai macam kabilah. Dalam kurun waktu satu tahun, pemimpin-pemimpin Quraisy merasa telah siap untuk segera melancarkan perang terhadap kaum Muslimin di Madinah.
Dalam strategi perang Rasulullah, Beliau memiliki mata-mata yakni Al Abbas bin Abdul Muthalib yang masih menetap di Makkah dan siap melaporkan pergerakan sekecil apapun yag dilakukan oleh kaum Quraisy. Sampai akhirnya berita kaum Quraisy yang telah siap dengan pasukannya sampai ke Rasulullah segera ditanggapi dengan melakukan perembugan dengan para pemuka Muhajirin dan Anshar. Berdasarkan Majelis Permusyawaratan antara Rasulullah, para pemuka Muhajirin dan Anshar, serta para sahabat, diputuskanlah lokasi perang akan berlangsung di luar kota Madinah, walaupun sebelumnya sempat ada perselisihan antara para sahabat dan Rasulullah yang ingin melancarkan perang di dalam kota Madinah. Tapi atas dasar permusyawaratan, Rasulullah mengikuti mufakat forum Majelis.
Selanjutnya adalah strategi perang diatur, penjagaan dalam setiap titik di Madinah dilakukan, semua kaum Muslimin sadar akan kondisi Madinah yang sudah dalam siaga satu, tidak seorang pun lepas dari senjatanya untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, pembagian pasukan dalam kelompok-kelompok telah dibagi sedemikian rupa, bahkan inspeksi pasukan pun dilakukan oleh Rasulullah. Seperti pasukan atau prajurut yang terlalu muda dan dinilai belum mampu turun untuk ikut berperang, dan beberapa pasukan atau prajurit yang turun ikut berperang bukan atas dasar Lillah, seperti kaum-kaum Munafik, yakni Abdullah bin Ubay yang ikut masuk menjadi Pasukan dengan tujuan untuk menurunkan mental para pasukan yang berangkat atas iman kepada Allah.
Salah satu strategi defensif yang Rasulullah rancang adalah formasi pasukan dalam Perang Uhud ini. Salah satunya yang khas dan menjadi identik dari Shirah bagian Perang Uhud ini adalah pembagian tugas yang membariskan satu detasemen yang terdiri dari pemanah ulung di atas bukit, sebelah selatan Wadi Qanat, yang kemudian hari dikenal dengan nama jabal Rumat. Satu detasemen ini ditempatkan dengan perintah militer yang cukup tegas, yakni adanya sabda Rasulullah kepada para pemanah tersebut bahwa, “ Lindungilah punggung kami. Jika kalian melihat kami sedang bertempur, maka kalian tak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabung bersama kami.” Bahkan, dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, Beliau bersabda, “Jika kalian melihat kami disambar burung sekalipun, maka janglah kalian meninggalkan tempat itu, kecuali ada utusan yang datang kepada kalian. Jika kalian melihat kami dapat mengalahkan mereka, makan janganlah kalian meninggalkan tempat, hingga ada utusan yang datang kepada kalian.” Sabda Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa posisi para pemanah adalah sangatlah penting dalam salah satu strategi defensif perang yang telah disiapkan oleh Rasulullah.
Akan tetapi, Allah berkehendak lain, ketika pasukan kaum Muslimin telah hampir menang dan mampu memukul muundur para kaum Quraisy. Para pemanah melanggar perintah militer Rasulullah untuk tidak pernah turun dari bukit sampai ada utusan yang menyampaikan izin. Para pemanah telah tergabur dalam kenikmatan dunia, turun untuk memungut harta rampasan perang yang berserakan dimana-mana. Hal ini membuka peluang bagi kaum Quraisy untuk memukul balik kaum Muslimin. Peluang emas ini dipergunakan oleh Khalid bin Al Walid, dan dengan cepat dia mengambil jalan memutar hingga tiba di belakang pasukan Muslimin. Khalin bin Al Walid menyerang pasukan Muslimin dari arah belakang dan anggotanya berteriak nyaring agar kaum Quraisy kembali mengepung pasukan Muslimin dan mengepung mereka dari arah depan dan belakang hingga terjepit. Keadaan Perang Uhud berubah total. Pasukan Muslimin dalam keadaan kritis termasuk Rasulullah dalam melawan serangan pasukan Quraisy. Tapi, disinilah Allah menguji hamba-hamba-Nya yang mana turun berjihad, perang melawan kaum Quraisy atas dasar iman dan hamba-hamba-Nya yang turun berjihad karena gengsi terhadap kaumnya, atau atas dasar pertimbangan kaumnya.
Kurang lebih 75 pasukan Muslimin syahid di jalanNya, termasuk paman Rasulullah, Singa Allah, Singa Rasulullah, yakni Hamzah bin Abdul Muththalib. Terbunuhnya Hamzah menjadi kesedihan yang sangat mendalam di dalam diri Rasulullah. Begitu juga atas para sahabat yang meluap akan keimanan didalam diri.
Ternyata pembacaan strategi perang Rasulullah yang luar biasa menjadikan Beliau berpikir untuk menjadikan Madinah benar-benar telah aman akan serangan yang mungkin datang dari Pasukan Quraisy. Akhirnya Rasulullah memutuskan untuk mengusir Pasukan Quraisy. Bersama para sahabat, Rasulullah manuju ke posisipasukan Quraisy dalam melakukan pertempuran kembli, yang dikenal dengan Perang Hamra ‘ul Asad. Perang ini bukan perang yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari Perang Uhud dan kelanjutannya.
Keinginan Abu Sufyan untuk menjarah habis kaum Muslimin di Madinah sebelumnya tidak berani ia lakukan dan memutuskan untuk tidak melanjutkan pertempuran. Ini menunjukkan bahwa pasukan Quraisy belum berhasil menimpakan bencana dan kerugian yang besar kepada pasukan Muslimin, bahkan bisa dikatakan mereka gagal mewujudkan cita-cita untuk memusnahkan pasukan Muslimin.
Secara singkat, bisa dikatakan antara pasukan Quraisy dan pasukan Muslimin berada dalam posisi yang seimbang dalam Perang Uhud ini. Pastinya, dalam putaran kedua pasukan Quraisy memang telah lebih unggul dan lebih bisa menguasai keadaan daripada pasukan Muslimin, sementara jumlah korban pasukan Muslimin juga lebih banyak dan lebih parah, yakni terbunuh dalam syahidnya dengan jumlah sekitar 75 orang, sedangkan pasukan Quraisy hanya 20-37 orang. Tetapi semua ini belum cukup bagi kita untuk beranggapan bahwa ini sudan mencerminkan kemenangan bagi pasukan Quraisy. Karena, pada dasarnya pasukan Muslimin telah menang dalam keimanan mereka kepada Dzat Yang Maha Ahad, Allah.

Pasukan Panji Hitam

Judul Buku             : Pasukan Panji Hitam
Penulis                   : Abdullah bin Abdul Aziz
Penerbit                  : Jazera
Cetakan                  : II
Tahun                     : 2014
Tebal                      : 280 hal



Resume saya kali ini masih membahas buku yang sama dengan resume sebelumnya yaitu buku yang berjudul Pasukan Panji Hitam. Dalam buku ini, selain dibahas sejarah terciptanya ISIS, juga terdapat bagian yang membahas tentang master plan dari kelompok ini. Dari rentetan sejarah Al qaeda yang sudah terjadi, mereka terkenal dengan cara beperangnya yang sangat kejam. Mereka beranggapan cara seperti ini perlu dilakukan supaya seluruh dunia memperhatikan apa yang mereka lakukan. Menciptakan suatu huru hara di sebuah negeri bagi mereka adalah kondisi yang sangat baik karena dengan kondisi seperti ini pasti akan membuat negara tetangga (AS dan Sekutunya) akan ikut terlibat di dalamnya. Negara yang tidak stabil, akan mengakibatkan situasi ekonomi dan politik tidak stabil dan tentunya akan memaksa negara tetangga untuk ikut campur. Tujuan sebebarnya dari kelompok ini untuk membuat kegaduhan dan huru hara adalah untuk memancing supaya AS dan sekutu untuk ikut serta dalam memerangi mereka dan akan menguras sumber daya yang dimiliki oleh AS. Kelompok ini juga memanfaatkan situasi politik yang ada disuatu negara seperti di suriah yang mengalami penindasan oleh pemerintah Bashar Assad untuk ikut membantu menjadi pemberontak pemerintah yang akan membuat masyarakat bersimpati kepada mereka.
Sebenarnya dalam memahami Master plan dari kelompok Al Qaeda ini kita bisa memprediksikannya dengan melihat hadits Nabi tentang akhir zaman. Yang pertama hadits yang mengatakan bahwa pasukan Imam Mahdi adalah berasal dari daerah timur. Ada yang mengatakan daerah timur ini adalah negara Afganistan. Hal ini bisa kita perhatikan bahwa asal mula Al Qaeda adalah dari Afganistan. Kelompok ISIS saat ini merupakan anak cucu dari kelompok al Qaeda yang berasal dari Afganistan. Selanjutnya hadits yang mangatakan bahwa pada akhir zaman nanti umat Islam akan berperang di negara Syam dan negera ini akan menjadi pusat negara islam ketika imam Mahdi muncul. Kini bisa dilihat kelompok ini memusatkan perhatiannya di Syam (Suriah). Kondisi di Irak yang carut marut sebelum terjadi di Suriah merupakan batu loncatan bagi kelompok ini untuk menuju Suriah. Kondisi di Irak sebenarnya pancingan untuk AS untuk menyerang Irak. Dan akhirnya terbukti bahwa AS menyerang Irak dan masuk ke dalam jebakan Al Qaeda dan pada akhirnya merugikan AS sendiri.
Kita sebenarnya bisa menebak apa rencana yang mereka lakukan dengan mempelajari hadits-hadits tentang akhir zaman. Tujuan akhir dari kelompok ini adalah untuk menciptakan daulah Islamiyah di Makkah dan Madinah. Tujuan ini juga hampir sama dilakukan oleh kelompok Syi’ah. Jika disimpulkan, awal mula mereka membentuk ideology yang kokoh dan memperkuat prajurit di Afganistan. Setelah itu mereka akan masuk ke Syam untuk memancing kaum kafir untuk ikut berperang. Dari syam, kemudian huru hara berikutnya akan menuju Yaman seperti yang sedang terjadi saat ini di Yaman. Yaman akan menjadi kunci dari perjalanan panjang Al Qaeda karena dengan menguasai Yaman, maka akan memudahkan kelompok ini untuk masuk ek Makkah dan Madinah. Dua kota ini bisa dikatakan berada di tengah-tengah antar Syam dan Yaman. Ketika Syam dan Yaman sudah bisa dimasuki, maka Makkah dan Madinah akan mudah untuk dimasuki.
Buku yang sangat menarik untuk dibaca. Bukan untuk mendoktrin agar masuk kepada kelompok ini, melainkan menjadi wawasan ilmu bagi kita terutama untuk bagaimana kita membuat siasat rencana yang baik untuk menjatuhkan lawan. Kita saat ini tidak bisa mengatakan bahwa kelompok Al Qaeda dan sejenisnya salah/benar. Kita hanya bisa berharap kepada Allah supaya diberi pengetahuan tentang ini. Allah yang akan membuka semuanya sampai hari kiamat benar-benar terjadi. Dan Allah jugalah yang akan memberi tahu apakah kelompok ini merupakan kelompok sesat atau kelompok yang dijanjikan oleh Allah di Akhir Zaman.