Selasa, 28 Juni 2016

Rindu





Jika boleh saya defenisikan maka buku ini adalah sebuah novel berlatar tahun 1939 Masehi tentang sebuah perjalanan kerinduan ke Baitullah. Sebuah perjalanan tak mudah, memakan waktu, menguras hati, energi, juga menjemput mati. Perjalanan menyusuri laut, mengarungi samudera, menggunakan kapal uap yang hebat di zamannya.. yang diberi nama Blitar Holland. Bercerita tentang keseharian jama'ah haji diatas kapal, dg rutinitas yg sengaja dibuat Guruta agar perjalanan mereka lebih bermakna di kapal tsb,

Terdapat lima kisah di dalamnya. Tentang Daeng Andipati pengusaha sukses dengan dua putri menggemaskan Anna dan Elsa. Tentang Ambo Uleng, kelasi pendiam tapi ksatria, Guruta Ahmad Kareang; seorang ulama besar yang bijaksana dan Bonda ope- perempuan china muslim yang cantik.
Lima tokoh dengan jalan hidup berbeda namun di pertemukan disana- di kapal haji Blitar Holland. Berangkat dengan membawa pertanyaan mereka masing-masing, yang kemudian semua dapat terjawab tuntas sebelum mereka betul-betul sampai ke Makkah.

Diantara novel _Tere Liye_ yang saya baca- (belum seberapa, red). Novel Rindu menyisakan kesan mendalam, banyak hikmah dimana-mana, sarat ibrah. Diceritakan tetap dengan ciri khasnya tere liye. Sederhana namun seru,. menyisakan tanya disetiap bab-nya. Saya bahkan bisa membayangkan bagaimana ramainya kantin kapal, lorong-loronf kabin-kabin, dsb.
Kisah komplit, ada unsur tegang, lucu juga haru.

Bagian menegangkan diantaranya adalah ketika Bonde Ope mendadak bertemu teman masa lalu (hal yang selama ini ia takutkan, red) - teman yang tentu akan mengungkit masa kelamnya dulu saat menjadk seorang  Cabo(pelacur), Ketika Daeng Andipati nyaris terbunuh namun secarik kertas "takdir" menyelamatkannya, Saat Ambo uleng kehilangan keluarganya, terkatung2 di lautan, juga saat ia nyaris menjemput ajal di kapal, ketika Guruta diringkus karena kedapatan menulis tentang buku mengenai “Kemerdekaan” oleh Belanda lalu dipenjarakan di sel-terancam dibuang ke Afrika, ketika kapal terkatung-katung di laut karena kerusakan lalu serbuan segerombolan perompak laut berkedok nelayan minta tolong yang membuat situasi makin mencemaskan.

Bagian lucunya tentu terdapat pada dua putri Daeng Andipati yg suka beradu mulut tentang hal remeh temeh, Anna yang sok akrab, tentang tas biru Anna, tentang sepasang sejoli tua romantis-Mbah Kakung dan Mbah Putri-dengan pendengaran kurang awas mereka (acap kali jadi lawan debatnya Anna)- sehingga berkali kali pula sukses mengocok perut banyak orang karena berkali-kali terjadi salah sambung.

Sedangkan bagian harunya ada di ending tentang Mbah Kakung yang brlinang air mata di depan Kakbah, tentang akhir kisah cinta sejatinya, juga mengenai nasihat Guruta tentang "hadiah paling indah bagi orang yang bersabar" dan terus terang bagian ini adalah yang paling bikin excited gak bakal lupa. menurut saya.

Novel dengan 544 halaman ini merefleksikan bagaimana hakikat hidup sejatinya, menunjukkan bagaimana kita harus terus bijak dalam memaknai, memandang dan menyikapinya dengan yang namanya kehidupan. Mengupas tentang masa lalu yang pilu, kebencian, kehilangan, cinta sejati, serta pengingkaran. Apik, penuh dan detail, tak menyisakan tanya, samasekali.

Novel ini berakhir dengan bahagia (salah satu nilai plus menurut saya) Karena bagi saya pribadi, sebuah novel itu harus happy ending. kenapa? Iyalah. _wong_ kita udah capek-capek baca sampe juling.  masa ujung-ujung nya berakhir dengan sesak di dada, sakit di hati, dan dendam kesumat pada penulis, hehe
Intinya, novel ini recomended banget, buat tua muda segala usia. Sekian. Moga gak terlalu spoiler.

Judul Buku                   : Rindu
Penulis                         : TereLiye
Jumlah Halaman           : 544hal
Penerbit                       : Republika
Tahun terbit                  : 2014
Diresume oleh              : Suhailah Amatullah

TARIKH KHULAFA





Sejarah adalah tak lebih merupakan kumpulan biografi orang-orang besar (Thomas Carlyle). Kalimat tersebut adaah ungkapan yang paling tepat untuk melukiskan makna sejarah sebab hanya mereka yang pernah melakukan pekerjaan yang agung dan besarlah yang berhak untuk dicantumkan dalam sejarah. Buku yang di tulis oleh Imam As Suyuthi ini berisikan rekam jejak sejarah penguasa Islam tanpa ada bias sedikitpun. Membaca buku ini benar-benar membuka cakrawala kesejarahan saya yang selama ini begitu menyedihkan.😆 Sebab buku ini memaparkan fakta yang selama ini belum saya temui. Ini salah satu buku favorit saya karena perkenalan dengannya pun istimewa.

Kali ini saya akan meresume tentang khalifah Ustman bin Affan. Jika sebelumnya Umar diangkat langsung menjadi khalifah oleh Abu Bakar, beda halnya dengan Ustman. Beliau diangkat menjadi khalifah setelah hasil musyawarah atas titah Umar saat masa-masa kritisnya.
Ustman adalah sosok yang sangat pemalu, bahkan dalam sebuah riwayat dikatakan saking pemalunya Ustman, malaikat pun malu padanya. Ustman dikenal sosok yang dermawan. Dalam beberapa peperangan bersama Rasulullah beliau selalu tampil menjadi penyumbang dana terbesar, hingga Rasulullah berkata "tidak ada pekerjaan Ustman yang membahayakan dirinya setelah ini". Dzun-Nurain, begitu beliau digelari yang berarti pemilik dua cahaya, karena keistimewaannya menikahi dua putri Rasulullah yaitu Ruqayyah dan Ummu Kaltsum.

Dimasa pemerintahannya banyak wilayah yg dengan sukarela masuk Islam, wilayah-wilayah besar seperti Afrika, Andalusia dan cyprus takhluk di tangannya. Termasuk peperangan melalui laut yang pertama di lakukan oleh sang khalifah. Diantara gebrakan baru yang dilakukan yang tetap dikenal hingga hari ini adalah pengumpulan Alquran dalam satu mushaf yang dikenal dengan mushaf ustmani.

Ustman memangku jabatan selama 12 tahun. Enam tahun pertama pemerintahan tidak ada seorang pun yang menyatakan kebencian padanya. Sebab sikapnya yang lunak cenderung disukai masyarakat kala itu selepas kekhalifan di masa Umar yang tegas. Namun enam tahun kedua mulai terjadi pergolakan demi pergolakan. Beberapa sahabat mulai tidak setuju dengan keputusannya mengangkat pejabat pemerintahan dari kerabat dekatnya. Hingga akhirnya fitnah itu pun muncul, yang jauh-jauh hari telah dikabarkan oleh Rasulullah "fitnah yang pertama kali terjadi adalah terbunuhnya Utsman sedangkan fitnah yang terakhir adalah turunnya dajjal". Fitnah yang mengatasnamakan utsman sebagai khalifah kala itu, rumah beliau dikepung termasuk di dalamnya Muhammad bin Abu Bakar. Para sahabat mencoba meredam suasana namun mereka enggan mendengarkan. Hingga akhirnya Ali, Talhah, Zubair dan sahabat lainnya mengutus anak-anaknya untuk berjaga di depan pintu rumah Ustman. Mereka terluka dan berdarah terkena lemparan batu. Sebelumnya ada sahabat yg mengusulkan agar Ustman keluar dari rumah dan memerangi mereka karena masih banyak kaumnya yang berpihak padanya namun Ustman tidak ingin pertumpahan darah antara sesama kaum muslimin.

Pada akhirnya pemberontak berhasil masuk dengan memanjat pagar melewati rumah sebelah yang dikomandoi Muhammad bin Abu Bakar. Saat berhasil masuk dia memegang jenggot Ustman, lalu Ustman berkata "andai ayahmu melihat apa yang kamu lakukan padaku, niscaya dia tidak akan senang dengan sikapmu ini". Muhammad bin Abu Bakar langsung menarik tangannya. Sesaat setelahnya orang yang ikut bersama Muhammad bin Abu Bakar langsung memukul Ustman hingga meninggal. Kemelut ini makin memuncak karena tidak ada yang tau siapa yang ikut masuk bersama Muhammad bin Abu Bakar kedalam rumah Ustman.

Dua sifat Ustman yang tidak dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar adalah, kesabarannya saat dikepung hingga terbunuh dan penghimpunan Alqur'an ke dalam bentuknya yang sekarang. Rahimahullah Ustman bin Affan.

Padang, 14 Mei 2016

Judul Buku           : Tarikh Khulafa
Penulis                  : Imam As Suyuthi
Penerbit                : Pustaka Al Kautsar
Peresume              : Paramudika H

Being Logical






Being logical. A guide to Good Thinking. Itu lah yang tertulis pada cover buku keci bersampul biru ini. Being Logical sebenarnya adalah salah satu buku panduan dalam salah satu mata kuliah saya, Scientific Discussion. Secara garis besar, di Being Logical, D. Q. McInerny mengajak para pembaca untuk berpikir logic yang kalau kata Pak dosen “think critically”.

Meskipun bukunya relative tipis , tapi jujur saja, saya kesulitan mencernanya saat awal membaca kalau saja tidak di-ulik di kelas. Mungkin karena cara berpikir saya selama ini lebih banyak abstraknya daripada logic-nya #grin. Selain itu banyak konten filosofis di dalamnya. Tidak serumit ilmu filsafat memang, belajar logic setingkat lebih mudah meskipun rujukannya masih Plato, Socrates, dan kawan-kawan. Selain itu ada istilah-istilah latin yang masih digunakan untuk memberi nama “fallacies” atau kekeliruan logika berpikir. Saya baru tahu bahwa kekeliruan logika (selanjutnya kita sebut “fallacies”) itu ada nama-namanya.  Dan berbagai fallacies tersebut memang banyak banyak kita temukan di kehidupan sehari-hari, bisa jadi fallacies itu disengaja dengan maksud tertentu atau memang karena ketidaktahuan. Dengan memahami cara berpikir logis ini, harapannya kita dapat berpikir kritis terhadap argumen-argumen yang kita temui, bisa membedakan apakah ini argument yang sound (masuk akal) atau hanya sekedar asumsi atau sekedar emotional engagement, sehingga (kasarnya) agar kita tidak mudah ‘termakan’ omongan orang terutama dari media-media informasi atau pidato para politikus (begitu kata Pak Dosen #grin). Kalau di lingkungan akademik, ilmu ini jelas penting untuk membuat publikasi yang reliable (terpercaya).

Pada bagian pertama dan kedua buku, penulis mengajak pembaca untuk mempersiapkan pikiran atau mindset tentang apa itu logic contohnya be attentive (penuh perhatian), komunikasi efektif, match ideas to facts, words to fact, menganalisa kebenaran, dan seterusnya dan seterusnya. 

Argumen sebagai bahasa logic mulai dipaparkan pada bagian ketiga. Pada bagian ini kita akan dikenalkan dengan berbagai jenis argument seperti syllogistic argument, deductive, inductive, dll. Karakteristik argument adalah adanya premis, reasoning, dan kesimpulan. Saya bingung menerjemahkan kata reasoning. Reasoning adalah proses dimana otak kita mengolah premis-premis yang ada untuk kemudian ditarik kesimpulan. Reasoning itu lah yang menentukan apakah argument itu truth/not, valid/invalid, sound/unsound (masuk akal/tdk masuk akal). Ada beberapa contoh kalimat untuk memudahkan kita mengidentifikasi jenis-jenis argument. Kalau dalam perkuliahan, kita diberi tugas nonton TED Talk dan “think critically”, menganalisis presentasi tersebut sehingga kita tahu selogis apa konten yang disampaikan presenter dan yang paling penting masuk akal atau tidak.

Pada bagian keempat disebutkan beberapa hal yang menjadi sumber ketidak-logis-an berpikir (illogical thinking) seperti sikap skeptic, sinisme dan naif, pemikiran sempit, emotion and argument, pemikiran wajar (common sense), dll. Kemudian pada bagian akhir disebutkan 28 jenis fallacies (yang harus kita hafal/pahami untuk ujian #cry). Awalnya saya kesulitan untuk mengidentifikasi argument dalam suatu percakapan, presentasi, berita atau tulisan lainnya. Tapi dengan memahami jenis-jenis fallacies ini, lebih mudah bagi saya untuk menganalisanya. Contoh, salah satu fallacies itu adalah Post Hoc Ergo Propter Hoc yang dalam Bahasa Inggris fallacies itu disebut sebagai False Cause, yaitu menghubungkan salah satu kejadian yang terjadi pada rentang waktu sebelumnya sebagai akibat dari kejadian yang sedang atau akan terjadi, padahal secara logika kejadian tersebut tidak berhubungan sama sekali.

Contoh lainnya adalah The Red Herring, kalau Bahasa kekiniannya “ngeles” atau pengalihan isu. Ada juga slippery slope (tanjakan tajam), yaitu menganggap satu sebab akan menjadi sebab dari runtutan kejadian-kejadian berikutnya, misalnya, seorang ibu marah kepada anaknya karena membolos, si ibu berkata kalau dia (anaknya) membolos nanti tidak bisa mengerjakan ujian, kemudian menyebabkan ketidak lulusan atau bahkan dikeluarkan dari sekolah, kalau dikeluarkan nanti jadi pengangguran, gagal, stress, dan mati mengenaskan. Kalau komentar kita sih “ya ga gitu juga kali….” Tapi argument-argumen serupa banyak banyak kita temui di lingkungan sekitar, teruma pelakunya para kaum wanita (kalau ini opini saya saja sih #grin).

Satu lagi fallacies yang sering ditemukan di share-share di facebook, Ad Hominem, yaitu menyerang argument dengan menyinggung sisi emosional, fisik, atau kejadian buruk lawan di masa lalu. Contoh, “Bagaimana mungkin omongan wanita yang tidak menikah, pernah dipenjara, dan bau badannya menyengat bisa dipercaya”. Atau kebalikan dari Ad Hominem yaitu Appeal to Authority, memanfaatkan opini dari seseorang yang mempunyai posisi atau institusi tertentu, “Ini buku terbitan Cambridge University, jadi pasti benar”. Padahal belum tentu semua buku terbitan Cambridge reliable. Tapi Cambridge dapat banyak uang karena fallacies ini #grin.

Itu tadi sedikit dari beberapa contoh fallacies yang memicu illogical thinking. Saya mendapat banyak pencerahan dengan mempelajari logika berpikir ini, terutama di saat yang bersamaan saya juga mengikuti mata kuliah Logika matematika (yang banyak symbol aneh-anehnya). Yang dipelajari di kedua matakuliah tersebut ternyata pada dasarnya sama hanya saja, hanya saja yang satu dengan bahasa yang humanis (manusiawi) dan satunya bahasa matematis. Sebenarnya keduanya bisa diterjemahkan satu sama lain dan sangat bermanfaat dalam praktik kehidupan nyata kita tapi ilmu saya jauuuuuh untuk bisa menerjemahkannya, masih harus banyak belajar >_<. Tapi hati-hati juga kita kalau belajar logika, yang harus kita ingat sebagai orang beragama, tidak semua hal bisa dilogika-kan karena logika manusia terbatas sedangkan ilmu Alloh tanpa batas.

Kesimpulannya, buku ini sangat direkomendasikan terutama bagi debater, orator, atau jurnalis karena selain dapat memahami konsep berpikir logis bisa juga kita memanfaatkan “ilmu illogical thinking” dan berbagai fallacies untuk tujuan tertentu #grin.

Semoga bermanfaat.

Judul buku         : Being Logical
Penulis               : DQ. McInerny
Penerbit             : Random House Trade Paperbacks, 2004
Jumlah halaman  : 131 halaman
SNK_Asahidai, Nomi, Ishikawa 13052016

Sabtu, 07 Mei 2016

THE OLD MAN AND THE SEA




Intinya, hidup adalah perjuangan. Maaf sudah saya simpulkan secara sepihak mengenai keseluruhan makna dalam The Old Man and The Sea. Sebagian besar orang, boleh jadi telah membaca karya fenomenal Ernest Hemingway ini. Mari mengulik sejenak isi karyanya yang berhasil meraih Pulitzer Prize di tahun 1952 serta Nobel Prize di bidang sastra di tahun 1954.

Terkisahlah seorang nelayan tua bernama Santiago yang menjadi tokoh utama cerita. Tidak seberapa persis berapa usianya. Hanya saja fisiknya digambarkan memiliki ekspresi wajah yang suram dan dipenuhi bintik-bintik kecokelatan yang berarti juga kanker kulit jinak. Ia kurus dan apapun yang berkaitan dengannya terkesan tua, kecuali matanya. Mata seorang nelayan yang jernih dan siaga selayaknya seekor elang. Ia hidup seorang diri di gubuk tuanya setelah istrinya meninggal tetapi seorang bocah lelaki sering datang untuk mengurusnya maupun menemaninya berlayar.

Kiprahnya sebagai nelayan kawakan tengah diuji karena selama delapan puluh empat hari berturut-turut mencari ikan, ia pulang dengan tangan kosong. Sampai-sampai Santiago dijuluki sebagai salao, yaitu bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Walaupun diam-diam banyak orang membicarakannya dan mengasihaninya, Ia mengetahuinya dan tahu apa yang harusnya dilakukan. Baginya, eksistensi sebagai nelayan tidak melulu pada keberuntungan nasib. Benaknya menguat, “memang lebih baik kalau beruntung. Tapi aku lebih suka menjadi tepat. Sehingga saat keberuntungan datang, kau sudah siap” (h…). Matanya adalah satu-satunya bukti bahwa ia bergairah dalam menjalani hidup.

Ia yakin di hari ke-85 akan ada perubahan. Keyakianan serupa mungkin selalu muncul di hari-hari sebelumnya hingga ia terus bertahan. Jangan bayangkan nelayan-nelayan saat itu menggunakan teknik menangkap ikan yang praktis. Mereka menggunakan jala, pancing, dan alat tradisional yang ramah pada biota laut. Kesabaran dan ketekunan seperti telah menyatu dalam diri mereka. Ditambah lagi kehidupan lelaki tua yang pas-pasan. Sekadar kopi hangat di pagi hari adalah asupannya hingga siang dan sebotol air untuk makan siangnya. “Sudah sekian lama makan ia merasa bosan karena itulah ia tak pernah membawa bekal makan siang. Ia punya sebotol air di haluan sampannya, itu sudah cukup untuknya seharian” (h.34).

Di hari ke delapan puluh lima, Santiago berlayar sendiri dan menolak tawaran bocah lelaki untuk ikut bersamanya. Semalam sebelumnya, sepotong percakapan dengan bocah menggambarkan karakter lelaki tua. “Aku mungkin tak sekuat dugaanku,” ucap si lelaki tua. “Tapi aku tahu banyak trik dan aku juga punya tekad yang besar” (h.28). Pagi harinya, dengan berbekal perlengkapan memancing yang cukup, Santiago menuju laut. Mulai dari sini, episode-episode yang paling memberikan makna tentang kehidupan seorang nelayan dituliskan penulis hingga lembaran akhir buku. Tentang bagaimana lelaki tua memancing, bagaimana ia bertahan hidup berhari-hari di laut tanpa bekal, bagaimana ia berdialog batin dengan konfliknya di tengah laut. Bagian ini menjadi penguat mengapa karya ini layak mendapat apresiasi positif oleh banyak orang.

Singkat cerita, di siang harinya, umpannya dimakan oleh ikan berukuran besar. Seekor ikan marlin yang ukurannya hampir-hampir sepanjang perahunya. Namun karena ikan itu teramat besar, ia tak mampu menarik tali kailnya, bahkan ia dan perahu kecilnya yang tertarik oleh gerakan ikan tersebut. Perahu Santiago dinahkodai oleh ikan itu dan bersama-sama mengarungi lautan yang semakin jauh dari jangkauan nelayan pada umumnya. Selama tiga hari, ia harus menahan kail yang tersangkut di mulut marlin dan menunggu saat yang tepat. Hingga akhirnya, marlin berulang kali melompat ke udara, semakin mendekati perahu sehingga lelaki tua siap menombak sisi sampingnya. Sulitnya bukan main! Lelaki tua bertaruh nyawa bersama angin laut yang tak henti menghembuskan keputus-asaan. Namun demikian, ia memilih untuk menang. Saat-saat seperti inilah, penulis menggambarkan kodrat manusia yang sangat pasrah memohon bantuan Tuhan agar ia diselamatkan.

Setelah pertarungannya dengan marlin selesai, ada begitu banyak pekerjaan berat yang harus dilakukan. Ia bahagia dan kembali berpikiran jernih karena ia mendapatkan ikan yang beratnya sekitar lebih dari seribu lima ratus pound. Hampir-hampir ia tak bisa menghitung berapa banyak uang yang akan ia dapatkan setelah menjual tangkapannya. Marlin kemudian diikatkan di samping luar perahu dari haluan hingga buritan. Saat itu tengah hari dan diperkirakan akan sampai daratan pada larut malam.

Bau anyir dan tumpahan darah marlin di sepanjang laut adalah aroma terlezat yang dapat memancing para hiu untuk mendekat. Pertarungan kembali dimulai. Dua ekor hiu di periode pertama berhasil lelaki tua tewaskan dengan tombaknya tetapi ia harus rela marlin kehilangan ekornya. Di periode kedua, jumlah hiu yang mendekat lebih banyak dan lebih bengis. Tanpa malu, mereka menggigiti sisi marlin hingga tulang tengahnya terlihat. Bukan lelaki tua jika ia harus menyerah. Para hiu akhirnya tewas di tangan keberanian pak tua. Periode ketiga dan keempat, hiu yang lain mendekatinya. Pertarungan terjadi kembali hingga akhirnya tak tersisa sedikit pun daging marlin yang teramat besar itu.

“Seharusnya aku tak pergi terlalu jauh, wahai ikan,” ia berkata. “Maafkan aku, oh ikan.” (h.141).
“Aku benar-benar ingin membelinya jika ada tempat yang menjual keberuntungan,” ia berkata (h.150).
Lelaki tua sampai daratan tepat tengah malam dan ia bersusah payah menuju gubuknya untuk tidur. Keesokan paginya, semua orang berbincang tentang betapa besarnya kerangka ikan yang terikat pada perahunya. Mereka juga menjadi prihatin karena lelaki tua tak mampu mempertahankan tangkapannya. Mereka menganggap betapa tidak beruntungnya hidup si lelaki tua. Di sisi lain, lelaki tua yang mengalami kepahitan itu, kembali menjalani hidup seperti biasanya. Meperbincangkan klub bisbol kesukaannya, makan bersama bocah lelaki, maupun kembali tidur dengan mimpi-mimpinya. Tidurnya nyenyak seolah menyimpan energy untuk berlayar kembali esok hari.

Kehidupan dan karakter lelaki tua penyuka bisbol ini cukup memberikan pelajaran untuk kita. Keberuntungan dan ketidakberuntungan adalah suatu label yang bebas kita pikirkan dan dapatkan dari orang lain. Namun demikian, kita tak tahu persis apakah label yang sebenarnya kita dapatkan. Sebab hidup adalah ketidakpastian. Keberuntungan yang pasti dalam Al-Qur’an adalah saat kita meraih kemenangan yang besar berupa surga di akhirat.

Judul Buku      : The Old Man and The Sea
Penulis             : Ernest Hemingway
Penerbit           : NARASI, Yogyakarta
Jumlah Hal.     : 163
Tahun Terbit    : 2015
Peresume         : Novi Trilisiana


35 Kisah Shahabiyah





Islam hadir mengangkat kedudukan wanita menjadi sangat terhormat. Adanya bahasan khusus tentang wanita dalam Al-Qur’an surat An-Nisa menjadi bukti bahwa wanita memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Islam memandang wanita sebagai belahan jiwa laki-laki, berbakti kepada ibu lebih utama daripada kepada ayah, dimulaikan baik sebagai istri maupun sebagai anak. Jika di resume beberapa hari lalu ada yang menampilkan sosok wanita yang karena karirnya sampai lupa akan kodratnya, maka dalam resume kali ini saya mengajak muslimah sekalian untuk belajar dari sejarah bahwa muslimah layak berkiprah dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan lainnya dengan tidak menyesampingkan peran utamanya sebagai ibu ataupun istri. Semoga mampu menumbuhkan kerinduan kita terhadap sosok-sosok wanita teladan, ideal, dan taat kepada Allah dan Rasulnya. Selanjutnya menjadikan mereka sebagai suri tauladan.

Ada banyak kisah shabiyah teladan di dalam buku ini. Membuat saya merasa begitu kecil, jauuuh sekali dari teladan apalagi ideal. Bahkan di beberapa kisah mampu membuat saya nangis bombay. Sedih membayangkan perjuangan mereka dan sedih karena saya masih jauh dari sosok mereka. Zaman telah berubah dan setiap zaman pasti punya tantangan masing-masing.

Adalah Asma binti Abu Bakar, dengan latar belakang keluarga yang penuh berkah wajar jika ia tumbuh mewarisi keistimewaan ayahnya, Abu Bakar. Asma masuk dalam golongan orang yang pertama masuk Islam sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Taubah: 100. Ayah dan suami Asma (Zubair bin Awwam) termasuk 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Beberapa keistimewaan Asma antara lain adalah istri yang sholihah. Zubair adalah lelaki miskin, saat menikah dengan Asma harta yang dimilikinya hanyalah seekor kuda. Karena tidak mampu membayar budak, Asma melakukan pekerjaan rumah sendiri. Asma terbiasa membawa kurma sendiri di atas kepalanya dari kebun Zubair hasil pemberian Rasulullah yang berjarak 3,4 km dengan berjalan kaki. Padahal sebelum menikah Asma tidak pernah melakukan pekerjaan2 itu.

Asma dikenal sebagi wanita pemilik dua selendang (dzaatun nithaaqain) atas keberaniannya mengantarkan makanan kepada Rasulullah yang sedang bersembunyi di gua Tsur. Yang menjadi istimewa adalah karena kondisi Asma saat itu sedang hamil, medan yang harus ditempuh sangat terjal dan jauh, seorang diri, dan orang-orang kafir mengintai di mana-mana. Taruhan Asma adalah nyawa. Asma memakai ikat pinggangnya yang dibelah menjadi dua untuk menutup wadah makanan tersebut, sehingga Rasulullah berkata kepada Asma “Semoga Allah mengganti selendangmu dengan dua selendang di surga”. Asma juga dikenal sangat dermawan, seperti ayahnya. Kemiskinan tak menghalangi Asma untuk bersedekah. Jika memiliki sesuatu, Asma tidak menyimpannya sampai besok, namun langsung membagikan semuanya. Bahkan Asma pernah jatuh sakit, lalu ia memerdekakan seluruh budak yang diberikan oleh ayahnya. Asma dikenal sebagai wanita yang cerdas, bijak, dan ahli ibadah. Saat Abdullah bin Zubair (anak Asma) menjabat sebagai khalifah, Asma tampil sebagai penasehat. Kala itu Abdullah menghadapi Al Hajjaj yang meminta Abdullah menyerahkan wilayah kekuasaannya dengan imbalan harta. Asma menguatkan Abdullah bahwa pilihan terbaik adalah melawan meski pasukan Abdullah sangat sedikit. Demi Allah kata Asma, aku tidak ingin mati kecuali setelah melihat kepastian nasibmu (Abdullah) antara dua hal, engkau dibunuh sehingga aku bersabar dan menyerahkan kesedihanku kepada Allah atau engkau menang sehingga hatiku menjadi tenag. Dan Abdullah-pun syahid disalib oleh Al-Hajjaj.

Kisah kedua, adalah Ummu Sulaim, ibu dari Anas bin Malik yang menjadi pelayan Rasulullah dan meriwayatkan banyak hadits. Saat Islam pertama kali hadir, Ummu Sulaim langsung menerima dengan sepenuh hati meskipun tidak direstui suaminya yang masih kafir.  Saat suaminya terbunuh, Ummu Sulaim bertekad untuk membesarkan anaknya dan tidak menikah lagi sampai Anas mengijinkan. Beberapa keteladan dari Ummu Sulaim adalah ketika menikah dengan Abu Thalhah dengan mas kawinnya adalah keislaman Abu Thalhah. Mas kawin yang lebih mulai dari apapun. Abu Thalhahpun mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh, kelak ia menjadi salah satu pejuang Islam. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah dikelan sebagai orang yang lebih suka mengutamakan orang lain meski mereka juga membutuhkan. Sebagaimana kisah saat ada seorang lelaki bertamu, Rasulullah menawarkan kepada para sahabat siapa yang bersedia menjamu tamu tersebut. Saat itu sedang musim paceklik. Seorang laki-laki Anshar berdiri bersedia menjamu tamu tersebut. Saat tamu datang, si istri berkata “demi Allah kita hanya punya makanan untuk si kecil”. Suaminya berkata kalau begitu jika si kecil lapar, tidurkanlah ia dan matikan lampu ruang tamu” maksudnya mereka berpura-pura ikut makan padahal hanya tamu yang makan. Dan suami istri itu adalah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah.

Ummu Sulaim adalah istri yang sangat sabar, saat suaminya pergi untuk suatu urusan dan anaknya sakit hingga meninggal, ia bersabar melayani terlebih dahulu suaminya yang baru pulang dan baru mengabarkan bahwa anaknya meninggal. Abu Thalhal pun marah dan melaporkan kepada Rasulullah, namun Rasulullah justeru memuji perbuatan Ummu Sulaim. Ummu Sulaim dikenal dalam sejarah sebagai wanita mulia dan turut dalam berbagai peperangan seperti perang Uhud dan perang Hunain. Ia bertugas menyiapkan makanan, mengobati yang terluka, bahkan tak segan untuk mengangkat senjata. Ummu Sulaim, sebagaimana sabda Rasulullah, merupakan salah satu shahabiyah yang dijamin masuk surga.

Sungguh Allah yang maha membolak-balikan hati. Hidayah bukan berasal dari orang tua atau keluarga, sebagaimana iman tak dapat dibeli. Shahabiyah ini pernah melewati separoh hidupnya dengan memendam benci terhadap Rasulullah. Ia rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk menghalangi dakwah Islam. Bahkan dalam perang Uhud, ia dengan keji merusak tubuh prajurit muslim yang syahid, salah satunya adalah Hamzah (yang konon katanya sampai dimakan jantungnya) sebagai bentuk balas dendam atas kematian ayah, paman, dan saudaranya dalam perang Badar. Dialah Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan. Orang terbaik masa Jahiliyah yang juga menjadi orang terbaik setelah masuk Islam. Saat penaklukan kota Makkah oleh kaum muslimin, Hindun dan suaminya masuk Islam. Salah satu jasa besar setelah masuk Islam adalah dalam perang Yarmuk. Hindun bersama kaum wanita lain menjadi pembakar semangat pasukan muslim, termasuk suaminya, yang hampir mundur untuk kembali ke medan perang. Hindun-pun tak ragu untuk turut mengangkat senjata dan membunuh tentara kafir.

Dan masih banyak shahabiyah lain yang patut menjadi tauladan kita. Seperti Ummu Aiman, sang pengasuh Rasulullah. Ummu Umarah, mujahidah yang melindungi Rasulullah di perang Uhud. Ketika pasukan muslim tercerai berai meninggalkan Rasulullah, Ummu Umarah dan anaknya justru mendekat melindungi Rasulullah. Ia tak mundur meski 13 luka sabetan pedang memenuhi tubuhnya. Selain perang Uhud, Ummu Umarah juga dikenal dalam perang Khaibar, Hunain, Baiat Aqabah, perjanjian Hudaibiyah, dan penaklukan kota Mekkah. Ummu Kabsyah Binti Rafi’ dengan kematin putra-putranya di medan perang yang mengguncang Arsy di langit. Al-Khansa yang merelakan kematian empat putranya dalam perang Qadisiyah, dan masih banyak lagi.

Semoga Allah memberikan pahala terbaik atas jasa besar mereka. Inilah bukti peran wanita dalam membangun peradaban Islam. Mereka adalah anak, istri, dan ibu yang mampu memaikan setiap perannya dengan sangat baik. Jika dahulu umat Islam dihadapkan pada perang qital (perang senjata), maka kini umat Islam dihadapkan para perang fiqr, yang mungkin lebih berat karena kasat mata. Kiprah muslimah pun menyesuaikan tantangan zaman masa kini. Namun tetap perlu ada kesamaan, yakni semangat, nilai-nilai yang diperjuangkan, dan iman. Wallau’alam bishawab.

Judul Buku         : 35 Siroh Shahabiyah
Penulis                 : Mahmud Al Mishri
Penerbit              : Al-I’tishom
Page                      : 352 halaman

Yogyakarta, Mei 2016
-THW-