Minggu, 24 Agustus 2014

Peranan Umat Islam dalam Ilmu Sains



Penulis             : Prof. Dr. Raghib As-Sirjani
Penerbit           : Pustaka Al Kautsar
Peresume         : Ikhsanudin
Halaman          : 269-287


Peranan Umat Islam dalam Ilmu Sains
Ilmu ini dikenal dengan ilmu kauniyah (alam), ilmu taqniyah (teknik), tathbiqiyah (praktik), maupun dengan nama ilmu eksperiment. Ilmu ini adalah ilmu hayat yang berhubungan dengan kemaslahatan dunia. Dengan menggunakan akal, eksperimen, dan penemuan, manusia bisa memakmusrkan bumi, membuat kemaslahatan, membuka peluang, dan menyingkap rahasia alam.
Kedudukan ilmu sains di bawah naungan Islam telah mencapai posisi yang sangat hebat. Kaum Muslimin menjadi pelopor di dunia, menguasai puncak-puncak ilmu sebagaimana mereka menguasai ubun-ubun dunia. Universitas mereka penuh dan terbuka lebar bagi para penuntut ilmu dari kalangan orang-orang Eropa. Mereka datang berbondong-bondong dari negaranya untuk menimba ilmu. Para raja Eropa mengutus mereka untuk belajar ke negara kaum Muslimin. Bahkan Gustave Le Bon berangan-angan, seandainya kaum Muslimin menjadi penguasa di Perancis, niscaya negara itu akan seperti Cordova di Spanyol yang Muslim.
Perkembangan Ilmu Yang Saling Bergantian
Terdapat banyak ilmu yang sering digunakan kaum Muslimin atas sumbangsih peradaban terdahulu. Kaum Muslimin berhasil menguasainya, bahkan meluaskan dan meninggikannya. Diantara ilmu-ilmu tersebut adalah:
a.       Kedokteran
Ilmu kedokteran adalah ilmu yang telah melesat perkembangannya. Kaum Muslimin memberikan sumbangsih yang luar biasa pada masa peradaban mereka yang cemerlang. Sumbangan yang menyeluruh, unggul, dan terbukti dalam sejarah. Sampai tak mungkin terbayangkan untuk menyingkap sumbangan-sumbangan abadi tersebut, sebab dunia kedokteran tidak ada sebelum kaum Muslimin.
Kedokteran Islam bukan sekedar mendiagnosa mengobati penyakit lalu selesai, tetapi meliputi dasar-dasar metode eksperimen yang membalikkan pengaruhnya sedemikian tinggi dan menakjubkan pada seluruh sisi-sisi praktik kedokteran sebagai pemeliharaan dan pengobatan, atau meringankan dan meberikan obat-obatan, atau menjauhkan manusia dari pola hidup buruk dengan anjuran kedokteran.
Kaum Muslimin tidak hanya berhenti pada pengobatan Nabawi, tetapi mencari hikmah lain dimanapun berada atas dasar anjuran dan semangat Islam. Mengambil ilmu dari Yunani, Romawi, dan India. Ilmuwan kedokteran Muslim telah membuat spesialisasi kedokteran. Diantaranya adalah Ar-Razi, spesialis bedah. Selainnya ada Ali bin Isa Al Kabir, dokter spesialis mata terbesar dalam abad pertengahan, pengarang At-Tadzkiroh, yang semua tulisan tentang mata merujuk pada beliau. Az Zahrowi, penemu pertama alat bedah, pisau bedah, alat suntik, maupun alat-alat bedah lainnya, termasuk benang untuk menjahit bekas pembedahan. Beliau juga penemu cermin muka dan disebutkan dalam kitabnya At-Tashrif, seperti yang diterjemahkan Gerardo ke bahasa Latin.
Ibnu Sina menemukan dan mengkodifikasi berbagai macam penyakit, termasuk penyakit menular seperti cacar dan campak, dan menjelaskan bahwa ada bakteri yang menjadi medium penularannya. Ibnu Sina juga seorang ahli bedah yang mampu mengentaskan kangker, membedah kelenjar tenggorokan, maupun membuang pengkristalan di paru-paru, dan juga ahli gigi. Thufail menemukan Ancylostoma 900 tahun sebelum Dubaini, menjelaskan penyakit radang otak, termasuk membedakan penyakit karena unsure luar atau karena sebab dari otak.
Itu adalah contoh bentuk kejeniusan Islam yang telah melimpah ruah di berbagai bidang perdaban islam.

b.      Fisika
Ilmu pengetahuan alam dibangun oleh kaum Muslimin pada permulaaannya dari karya Yunani. Filsuf Yunani merumuskan ilmu fisika untuk memahami alam semesta tanpa disertai peringkat eksperimen. Kaum Muslim datang dan membicarakan ilmu ini dengan keunggulan dan kecerdasan logika, sehingga bisa mengembangkan ilmu baru. Kaum Muslimin mengubah sandaran ilmu fisika dari filsafat, perenungan, atau pemikiran semata kepada eksperimen dan penetapan.
Kaum Muslimin mula-mulanya berpegang pada buku sebelumnya, seperti ilmu gerakan dari Aristoteles, tentang bumi yang dikelilingi air dari Archimedes, pompa tinggi dan jam air dari Oktavius, atau Harun As-Sakandari tentang kerekan, roda, dan manual operasinya. Lalu kaum Muslim mengeluarkannya dari teori ke eksperimen.
Kaum Muslimin membahas ilmu tarik suara, perkembangan, dan tata cara perpindahannya. Mereka merumuskan ilmu gelombang suara, membagi suara-suara, dan memberikan ulasan perbedaan suara, dan menguraikan suara gema.
Abu Raihan Al Biruni menetapkan berbagai macam berat dalam delapan belas bentuk macam batu mulia, membuat rumus dan kaidah yang menetapkan bahwa berat bentuk tubuh sesuai dengan berat magnitude air yang hilang. Beliau juga menguraikan teori tempat genangan air dengan sangat gambling.
Al Khazani menciptakan ilmu hidrostatik, termasuk teori kecondongan dan teori penolakan, materi persamaan diam, dan menciptakan timbangan.  Dari kitab fisika beliau bisa dilihat gambar timbangan modern. Beliau mendahului Torricelli  dan Pascal dalam hal materi udara dan beratnya. Barometer dibuat berdasar petunjuk beliau.

Hukum-hukum Gerakan
Teori tentang gerakan, gerakan planet, suara, listrik dan segala macamnya sering dianggap berasal dari penemuan Newton dalam Principia. Padahal pada masa pertengahan sudah dirumuskan hukum gerak berikut:
1.       Hukum Pertama tentang Gerak Benda
Ibnu Sina telah menulis dalam Isyarat wa Tambihat bahwa: “Sesungguhnya Anda akan mengetahui bahwa materi saat kosong secara alami, dan tidak ditemukan pengaruh luar, tidak akan keluar dari tempat tertentu dengan bentuk tertentu. Sebab, secara alami merupakan dasar untuk menjawab itu. Materi tetaplah materi selagi tidak ada tuntutan luar yang menggerakkannya maka keadaannya tetap seperti semula.”.  Materi akan tetap diam atau berada dalam gerakan teratur sejajar lurus selagi tidak dipaksa dengan kekuatan lain. Begitulah kata ibnu Sina.
2.       Hukum Kedua tentang Gerak Benda
Habbatulloh Ibnu Malak dalam Al Muktabar fil Hikmah menuliskan: “Pada setiap gerakan, untuk memendekkan waktu perjalanan yang ditempuh bukanlah sesuatu yang mustahil. Jika kekuatan (gaya) tidak terbatas maka kecepatan juga tidak terbatas. Demikian itu menjadikan gerakan tanpa ruang waktu menjadi semakin kuat, karena penafian waktu dalam kecepatan berakhir sesuai denga gaya kekuatan”. Dalam bab 17 disebutkan: Kecepatam akan semakin bertambah jika gaya semakin kuat. Jika bertambah gaya dorong, bertambah pula kecepatan materi yang bergerak, sehingga bisa memendekkan waktu dalam menempuh jarak tertentu”.
3.       Hukum Ketiga tentang Gerak Benda
Habbatulloh Ibnu Malak dalam Al Muktabar fil Hikmah menjelaskan: “Komponen saling melakukan aksi-reaksi antara dua pergerakan pada tiap-tiap satu dari benda yang saling melakukan aksi-reaksi dalam gaya aksi, menimbukan gaya perlawanan terhadap gaya lainnya.”.
Ar Razi dalam Kitab Al Mabahis mengatakan bahwa “partikel memiliki daya tarik menarik sejajar sampai berhenti di tengah-tengah, tidak diragukan lagi bahwa salah satu dari keduanya berbuat dalam suatu gaya yang saling menghalangi gaya lain”.
Begitu banyak contoh lainnya termasuk tentang gaya gravitasi. Akan tetapi terlalu panjang jika harus diuraikan dalam buku ini.

(Bersambung)

Minggu, 17 Agustus 2014



Wanita Teladan
Buku (Yessy_BUKU_IM7)
Penulis :Mahmud Mahdi Al-Istanbuli
        Musthafa Abu Nashr Asy Silbi
Penerbit : Irsyad Baitus Salam


Hafshah binti Umar
( Pemelihara Al- Qur'an )

Putri dari Umar bin Khaththab (Sahabat Rasulullah SAW) Hafshah menjadi janda pada usia yang sangat muda,  yaitu umur 18 tahun. Sang ayah sedih karena anaknya menjanda di usia yang sangat belia dan tertekan karena setiap melihat anaknya terlarut dalam kesedihan, Sang ayah mencarikan suami untuk putrinya dengan harapan putrinya bisa meraih ketentraman dan kebahagian. Umar menemui sahabatnya untuk membicarakan soal cobaan hidup mejanda yang dialami hafsah namun para sahabatnya tidak memberikan jawaban yang menyenangkan hati umar,  Umar menemui Nabi SAW untuk mengeluhkan sikap kedua sahabatnya itu.

Rasulullah SAW tersenyum seraya bersabda " Hafshah akan dinikahi oleh seseorang yang lebih baik daripada Utsman dan Ustman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafshah" seketika itu Umar bersinar wajahnya karena mendapat kehormatan yang besar dan belum pernah terbayangkan sebelumnya dan hilang lah kesedihannya . Pada bulan Sya'ban tahun ketiga Hijriyah berlangsunglah pernikahan Rasulullah SAW dengan Hafshah binti Umar sedangkan Utsman dengan Ummu Kultsum berlangsung pada bulan Jumadil Akhir pada tahun ketiga Hijriyah juga.

Hafshah bergabung dengan istri-istri nabi dan kamar nya dekat dengan Aisyah, karena dia tahu bahwa Aisyahlah diantara istri Nabi yang lebih berhak untuk di dekati.
Hafshah dan Aisyahlah yang pernah saling membantu untk.menyakiti hati Rasulullah SAW ( membocorkan rahasia beliau), sehingga Allah SWT menurunkan ayat:
"Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, berarti hati kamu berdua sungguh telah condong (kepada kebenaran). Akan tetapi jika kamu berdua bantu membantu dalam menyusahkan Nabi, sesungguhnya Allah yang akan menjadi pelindungnya dan (begitu juga)Jibril" (QS.At Tahrim (66):4)
Setelah kejadian itu,  Rasulullah SAW menceraikan Hafshah dengan talaq satu namu beberpa saat kemudian beliau merujuknya kembali atas perintah Jibril as yang mengatakan kepada beliau: 
" Hafshah adalah wanita yanh berpendirian teguh dan ia termasuk istri engkau disurga "
Hafshahlah diantara para istri Rasul yang dipercaya untuk memelihara dan menyimpan mushaf Al Qur'an.  Dia lah satu-satunya wanita yang diberi kehormatan untuk menyimpan Al-Qur'an , kitab yang berisi undang- undang bagi umat manusia, mukjizat yang kekal dan satu-satunya sumber syari'at dan aqidah yang benar.

Hafshah wafat pada masa Khalifah Mu'awiyah bin Abu Sufyan.  Ia berwasiat kepada saudaranya,  Abdullah bin Umar untuk mengurus harta peninggalan Ayahnya. 
Semoga Allah SWT meridhoi pemelihara Al-Qur'an,  wanita yang disebut Jibril sebagai wanita yang berpendirian teguh dan istri Nabi SAW di Surga. (Yessy_IM7)

Kumpulan Hikmah dari Bumi Gaza

Judul               : Hikmah Berserak di Bumi Gaza
Penulis            : Nurjanah Hulwani
Penerbit         : GIP
Peresume       : Wawan IM1


Kumpulan Hikmah dari Bumi Gaza

Nurjanah Hulwani berhasil menembus blockade Gaza melalui pintu Rafah (Mesir) bersama rombongan (Almarhumah) Ustzh. Yoyoh Yusroh. Kurang lebih seminggu disana, banyak kisah menarik yang ia dapatkan. Mulai dari bertemu istri Syaikh Ahmad Yasin hingga bertemu anak-anak penghafal Qur’an yang selalu mendampingi beliau di akhir-akhir kepulangan ke Tanah Air. Buku ini adalah kumpulan kisah karamah penduduk Gaza, Wathanul ‘Anbiya.

Gaza, Bumi alQur’an
            Barangkali sudah jamak kita dengar bahwa penghafal Qur’an di Gaza adalah sangat banyak. Hidup dibawah tekanan sama sekali tidak menggetarkan keyakinan mereka untuk selalu berinteraksi dengan Kalamullah. Menurut data statistic Asia Pacific Community for Palestine, dari 1,8 juta penduduk Gaza, sekitar 20 ribu orang diantaranya adalah Hafizh/ah Qur’an. Data ini didapat Nurjanah ketika ia akan berkunjung kesana. Selama disana, ia menyaksikan sendiri peserta-peserta wisuda alQur’an yang dilakukan setiap dua bulan sekali sedang bersiap dengan muroja’ahnya. Ketika ia kembali ke Tanah Air, Nurjanah menceritakan data ini sudah berubah, 50 ribu orang di Gaza telah diwisuda Qur’an.
            Adalah Ibu Fathiyah Gathos, 57 tahun. Seorang ibu rumah tangga yang buta huruf. Ketidakbisaan membaca dan telah rentanya usia tidak menyurutkan niatnya untuk menjadi penghafal Qur’an. Nurjanah menceritakan, Sang Ibu mulai menghafal Qur’an sejsak usia 50 tahun, 6 tahun kemudian ia telah hafal seluruh Juz, pada usia 57 (tahun 2014) ia telah diwisuda.
            Lain Ibu Fathiyah lain pula Ibu Ummu Ibtisam. Ummu Ibtisam berusia 50 tahun, pada tahun 2014. Seorang kepala sekolah TKdan coordinator dari 16 TK di Gaza. Ia bercerita pada Nurjanah, “Alhamdulillah saya telah menghafal 25 Juz, insyaa Allah pekan depan saya akan menghafal 5 Juz lagi dan pekan berikutnya saya akan diwisuda bersama teman-teman”.
            Apa rahasia penduduk Gaza untuk rajin dan tak kenal lelah dalam menghafal Qur’an? Tak lain adalah keteladanan dari para pemimpin. Ismail Haniyyah, Perdana Menteri Palestina adalah hafizh dan mendapat sanad, para menteri pun demikian. Masyarakat terbiasa dengan pemimpin yang hafal Qur’an sehingga mereka tidak asing dengan Qur’an. Yang kedua, Negara Palestina memiliki lembaga resmi yang mengurusi Hafalan Qur’an warganya. Bahkan strukturnya hingga ke setiap provinsi di Palestina. Lembaga ini selalu ramai karena antusias warganya. Palestina juga mempunyai lembaga tahfizh khusus wanita, sehingga tak perlu lagi mencari laki-laki untuk setor hafalan.

Teladan dari Pemimpin-Pemimpin yang telah Syahid
            Para pemimpin negara yang syahid di Palestina jumlahnya tidak terhitung, akan tetapi mereka selalu mempunyai stok yang memadai untuk melakukan regenerasi kepemimpinan dalam waktu yang sangat cepat. Orang-orang yang diminta menjadi pemimpin setelah orang sebelumnya menjadi syahid pun memiliki kualitas serupa, minimal hafizh dan bergelar sarjana, master ataupun doctor. Gaza sangat siap, mereka mengetahui tak sekedar fisik perlu disiapkan dalam menghadapi Zionis, namun juga mental dan kecerdasan. Pendidikan minimal penduduk Gaza adalah sarjana.
            Tiga orang pemimpin syahid yang diceritakan oleh Nurjanah adalah Syaikh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Ar Rantisi dan Said Shiyam. Kepribadian ketiganya takkan jauh dari alQur’an. Syaik Ahmad Yasin adalah seorang yang cacat tubuhnya, hanya bagian kepala dari seluruh tubuhnya yang bekerja. Ia mengalami kelumpuhan ketika rihlah bersama teman-temannya di suatu pantai Gaza. Kondisi ini tidak menghalangi beliau mendidik masyarakat Gaza. Dikisahkan, Gaza waktu itu diterpa badai ghazwul fikr wa tsaqafi yang luar biasa. Bioskop berdiri dimana-mana dan anak muda tidak ada yang dekat dengan agama sementara masjid hanya diisi orang tua renta. Syaik Yasin memulai dakwahnya dari orang terdekat. Keluarganya ia didik dan lingkungan sekitar sekaligus ia mampu menjadi tauladan bagi mereka. Ia adalah orang yang selalu menegakkan sholat malam dan walaupun telah hafizh, di setiap sholat malamnya ia selalu sholat dengan membuka mushaf. Nurjanah masuk ke kamar beliau kala itu dan ia melihat kayu penyangga Qur’an besar yang menemani beliau sholat malam. Hasil dakwah beliau adalah Gaza yang kita lihat saat ini bersama Hamas dan Kataaib (Brigade) al Qossam yang kekuatannya mendunia. Syaikh Yasin menemui syahidnya ketika ia pulang dari sholat subuh dan rudal zionis menghantam kursi rodanya.
            Abdul Aziz Ar Rantisi adalah Doktor bidang ilmu fisika. Ucapannya yang termasyhur adalah “Apakah kalian takut dengan kematian? Kita semua sedang menanti akhir kehidupan. Kematian adalah sesuatu yang pasti, baik dengan Apache, kanker ataupun yang lainnya. Aku lebih memilih mati dengan Apache”. Ini adalah sebuah perencanaan dan doa untuk syahid. Istri Said Shiyam (tokoh ketiga yang akan diceritakan), Ummu Mus’ab mengatakan pada Nurjanah, “jika engkau ingin syahid maka engkau harus buat perencanannya”. Allah mengijabah doa Ar Rantisi, tepat 17 April 2004, Apache zionis merudal tubuhnya dan syahidlah beliau.
            Said Shiyam menjabat Menteri Dalam Negeri Palestina saat itu. 17 Januari 2009 ia menjemput syahid bersama anak, sepupu dan sembilan orang lainnya melalui roket F-16. Sebelum kejadian, Ummu Mus’ab telah mendapat tanda-tanda dari anaknya. Ketika ia sedang mengajari anaknya pelajaran sekolah, anaknya tidak menginginkan ijazah sekolah, ia hanya mau ijazah syahid. Hari-hari berikutnya anak Ummu Mus’ab sering bercerita tentang keinginannya menikah dengan bidadari. Tepat pada hari ia syahid, ia bercerita kepada ibunya bahwa ia bersama ayah akan menikah. Ummu Mus’ab belum mengerti ucapan anaknya ini dan menganggapnya hanya bercanda. Ternyata pada hari itu mereka benar-benarmenjadi syahid.

Ketangguhan psikis masyarakat Gaza
            Tidak ada sama sekali ketakutan dalam raut masyarakat Gaza. Nurjanah menceritakan pengalamannya di kamp pengungsian warga Gaza pada keluarga Ahmad Jabari. Keluarga tersebut memiliki anak 2,5 tahun yang telah fasih Ar Rohman. Anak-anak di kamp pengungsian rata-rata memiliki cita-cita hafizh/ah dan syahid. Tertulis surat anak Gaza untuk anak Indonesia, “Wahai anak Indonesia, hafalkanlah Qur’an, pelajarilah manhajnya maka kelak engkau akan datang ke Palestina dan bersama-sama kita bebaskan Al Aqsha”. Sungguh! Sebuah pemikiran yang sangat dewasa bagi anak-anak seusia mereka.

Organisasi Ilmuan dalam Peradaban Islam



Penulis             : Prof. Dr. Raghib As-Sirjani
Penerbit           : Pustaka Al Kautsar
Peresume         : Ikhsanudin
Halaman          : 250-268

Organisasi Ilmuan
Peradaban Islam telah mengeluarkan beribu-ribu ilmuwan besar yang berperan dalam memajukan peradaban dan lembaran sejarahnya. Mereka berhasil mengangkat kekuatan dan kejayaan diantara umat-umat lainnya. Perdaban Islam telah memposisikan dirinya sebagai aturan yang menakjubkan dalam metodenya, yang bisa berjalan dalam kurun waktu yang panjang dalam perjalanan bangunannya. Para ilmuwan tidak terlena bahkan menyeberangi perjalanan dengan pahit dan getir kesusahan dan kesabaran meski mereka pada kedudukan keilmuwan yang tinggi pada kurun waktu yang panjang.
a.       Menuntut Ilmu dan Penyebaran Ilmuan
Para penuntut ilmu meletakkan perhatian terhadap keilmuan untuk tujuan yang besar. Tujuan ini bukanlah tujuan puncak secara esensinya, karena yang dijadikan ukuran adalah menuntut ilmu adalah jalan untuk mendapat keridhoan Alloh. Jika ilmuwan Yunani malah dijadikan bahan olok-olokan bagi orang-orang awam, maka ilmuwan islam menyebut bahwa orang yang paling banyak takut kepada Alloh adalah Ilmuwan (Q.S Fathir: 28). Nilai-nilai Robbaniyah terpatri dalam perdaban ini.
Para pemuda berlomba-lomba dalam menuntut ilmu. Hampir kita tidak membaca dari waktu ke waktu kecuali didapati bahwa selalu ada perlombaan dua orang dalam menuntut ilmu. Contohnya adalah Shalih bin Kaisan dan Az-Zuhri.
Para khalifah dari sejak kecil sudah menuntut ilmu. Orang-orang tua juga sangat memperhatikan putra-putri mereka dalam hal pendidikan, mengarahkan mereka untuk menunutut ilmu sejak kecil. Bahkan ayah maupun ibu mereka turut serta keluar bersama anak-anak untuk menuntut ilmu. Hal ini tidak pernah didapati pada masa-masa lain dalam sejarah peradaban manusia. Sulaiman bin Abdul Malik, bahkan harin Ar Rasyid melakukan hal itu.
Meski pemuda-pemuda itu fakir, miskin, dan papa, tetap mereka bercita-cita setinggi-tingginya dan menuntut ilmu dengan motovasi yang kuat. Dan akhirnya mereka menjadi berhasil dalam bidang yang ditekuninya.
Banyak juga kisah perjuangan Ibu yang mendukung anaknya untuk menuntut Ilmu dalam sejarah Islam. Salah satunya adalah imam Syafii dan Imam Bukhori.
Para ulama juga sangat mencintai perjalanan menuntut ilmu. Mereka sangat antusias meski mereka sudah mendapat banyak ilmu.
Begitulah tatanan masyarakat Islam. Masyarakat yang teratur dan tertata, termotivasi kuat dalam menuntut ilmu.
b.      Kedudukan Ilmuan dalam Pemerintahan Islam
Sejarah menyebutkan betapa besar dan hebatnya peran khalifah-khalifah kaum Muslimin dan para penguasa dalam memelihara para ilmuwan dan penuntut ilmu. Khalifah Harun Ar-Rasyid memberikan perhatian yang luar biasa kepada guru, ilmuwan, dan penuntut ilmu. Sehingga pada masa itu banyak sekali anak-anak usia belasan tahun yang sudah mengajar atau penasihat. Shalahudin Al Ayyubi memberi gaji yang sangat besar kepada Syeikh Najamudin Al Habusyani yang mengajar di sekolah Sholahiyah. Khalifah Al Manshur mendirikan Baitut Tholabah untuk orang-orang jenius dan memuliakan mereka. Al Maiz, penguasa Daulah Shanhajiyin, jika mendengar ada alim yang besar maka akan dihadirkan kehadapannya, memenuhi segala kemuliananya, merujuk pada pendapatnya, dan memberinya gaji yang besar. Sultan Al Fatih, jika mendengar alim yang terkena suatu kebutuhan maka beliau akan memenuhi urusan kebutuhan dunianya. Dan banyak lagi contoh lainnya.
Kepedulian pemerintah tidak terbatas pada memperhatikan kehidupan para ilmuwan dan ruang lingkupnya, tetapi juga menyeru para ulama dari seluruh negeri untuk memanfaatkan ilmu-ilmu mereka, membantu memelihara dan menjaga kemaslahatan mereka. Para penguasa Islam memberikan pertolongan kepada ulama dan ilmuwan, meringankan segala keperihan, dan memfokuskan kekuatan mereka untuk menyebarkan ilmu.
Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada sejarah Eropa. Mereka justru membunuh para ilmuwan, membakar karya mereka, memenjarakan bahkan menghukum mereka dengan berbagai macam cara karena yang diajarkan dianggap bertolak belakang dengan gereja.
c.       Ijazah (Pengakuan/Akreditasi)
Ijazah adalah izin untuk memberikan fatwa dan mengajar. Ijazah adalah ketetapan pusat untuk para pengajar bahwa muridnya mempunyai kapasitas untuk mengajar di halaqoh sendiri, pada bagian ilmu tertentu dari aneka macam ilmu. Ijazah adalah sebuah persaksian kuat yang dihasilkan oleh penuntut ilmu sekarang. Imam Hambali memberi ijazah pada anaknya Abdullah untuk meriwayatkan Al Musnad, pun Sinan bin Tsabit memberikan ijazah dalam ilmu kedokteran kepada murid-muridnya. Ijazah dipakai untuk semua bidang ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu sains. Imam Ar-Razai mengatakan dalam Al Hawi, “ Seorang dokter harus lebih dahulu memberikan ijazah kedokteran dalam penjelasan awal. Jika tidak diketahui, maka kami tidak butuh kepada Anda untuk memberikan wewenangnya mengobati rasa sakit”.
Ijazah merupakan kebiasaan terdahulu peradaban Islam yang tiada duanya dalam lintas perjalanan kemanusiaan. Hal ini baru ditemukan pada kuliah dan universitas Eropa lebih dari sepuluh abad kemudian. Ini menunjukkan kebesaran perdaban Islam dan pengaruhnya terhadap aturan modern. Dan sekarang ijazah diberlakukan di seluruh dunia.