Minggu, 02 Agustus 2015

Sebelas Patriot



Resume 7: Indonesia Membaca
Oleh: Try Antika

Judul                     : Sebelas Patriot
Penulis                  : Andrea Hirata
Penerbit                : Bentang
Tebal Buku           : 112 hlm 




Sebelas Patriot. Adalah novel ketujuh dari Penulis Best Seller Andrea Hirata. Menceritakan sebuah kisah cinta seorang anak dengan ayahnya, dan juga tentang sepak bola dan Indonesia.
Andera Hirata yang dalam novel ini menjadi peran sebagai Ikal, adalah seorang pecinta PSSI, semakin jatuh cinta ketika mengetahui bahwa ayahnya adalah pemain sayap kiri yang pernah membela bangsanya dari koloni Belanda di lapangan hijau di kampungnya, Belitong. Semua tahu, bahwa Bangka Belitung adalah pulau terpencil di selatan Sumatra yang kaya akan pasir hitam, timah, dari dulu hingga saat ini. Masih kaya dan masih terjajah, dulu oleh VOC-Belanda, sekarang oleh negeri sendiri. VOC-Belanda, dibawah pimpinan Distric beheerder Van Holden menguasai wilayah ekonomi pulau Bangka dan Belitong. Selain ingin menjarah timah, Van Holden seakan-akan juga ingin “mengibarkan” bendera Belanda di tanah Belitong, ironinya lagi adalah Van Holden memerintahkan agar hari lahir Ratu Belanda diperingati di tanah jajahannya, Belitong. Sungguh, apa urusannya bangsa ini terhadap hari lahir Emak negara mereka. Orang-orang Melayu saat itu bisanya apa? Tak banyak bisa berbuat. Saya ingat guru sejarah di sekolah yang menghujat bangsanya sendiri tentang maunya dijajah ratusan tahun, dalam hati membentak, wahai guru terhormat, bisa duduk menceritakan sejarah bangsa dengan sangat tenang dan baik disana adalah berkat bangsa terdahulu ini yang guru hujat, mereka Pejuang, setidaknya dalam diam dan keluh kesahnya. -_-
Kembali. Perayaan hari lahir Ratu Belanda ditandai dengan pertandingan olahraga dalam kompetisi piala Distric beheerder. Orang jajahan bertanding sesama orang jajahan, atau Belanda melawan orang jajahan, tapi tentu saja orang jajahan tidak boleh menang, kecuali ingin berakhir babak belur bahkan nyawa di dalam tangsi, Belanda dahulu terlalu bengis, entah sekarang.
Pertandingan sepak bola menjadi salah satu pertandingan olahraga yang mendunia di Belitong, semacam olahraga elit. Adalah tiga bersaudara yang sangat mahir di lapangan hijau maju hingga final melawan tim sepak bola Belanda. Si sulung bertindak selaku gelandang, adik tengahnya selalu melesat hebat di posisi kanan luar, dan si bocah bungsu amat gemilang sebagai pemain sayap kiri. Kemahiran mereka sampai ke telinga Van Holden, tanpa alasan yang jelas mereka dilarang turun ke lapangan hijau, dibangkucadangkan. Akan tetapi, dalam sebuah pertandingan, mereka nekat tampil. Tiga bersaudara itu lahir dalam patriotisme terlalu dini, yang mereka tahu, lapangan hijau adalah medan pertempuran mereka untuk melawan bengisnya penjajah. Mereka berakhir sesuai dengan tebakan, dimasukkan ke dalam tangsi, lalu keluar dalam keadaan babak belur. Tambahan kisah untuk si bungsu, pemain sayap kiri, terdengar kabar bahwa ia dipanggil oleh Van Holden untuk memperkuat tim Belanda melawan sesama orang Belanda. Si bungsu menjawab bengis dan tidak hadir memenuhi panggilan. Ia kembali dimasukkan ke dalam tangsi dan keluar dengan tempurung kaki kiri yang hancur. Saat itu usinya baru tujuh belas tahun, tidak bisa bermain sepak bola lagi, dan si bungsu itu adalah menjadi ayah Ikal di kemudian hari.
Mengetahui kisah lama ayahnya itu, menjadi bulatlah cita-citanya, yakni Pemain Junior PSSI. Selain merasa mampu dengan tendangan pisang kaki kirinya, Ikal hendak mengikuti peran ayahnya di lapangan hijau dulu, ia memilih menjadi pemain sayap kiri. Untuk sampai menjadi Pemain Junior PSSI ia harus melewati berbagai latihan oleh pelatih kebanggaannya, pelatih Toharun, anak dari Pelatih Amin, Pelatih ayahnya dulu, mengikuti berbagai jenis seleksi, mulai dari kecamatan hingga provinsi.
“Untuk menghidupkan kaki kirimu, maka seluruh isi otak kanannmu, kalau memang ada isinya di situ pindahkan semuanya ke otak kirimu, dan lakukan apa-apa dengan tangan kiri,” begitu wejangan Pelatih Toharun. (hal. 43)
Maka menjadilah Ikal dengan menggunakan tangan kiri untuk semua aktivitasnya, memukul beduk, memberi makan ayam, bahkan urusan mengaji pun Ikal memegang lidi untuk menunjuk huruf Arab. Sisir rambut yang biasanya dibelah samping kanan, ia geser menjadi belah samping kiri. Habis-habisanlah Ikal agar memiliki tendangan kiri halilintar seperti ayahnya dulu.
Ikal sukses dari seleksi kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, mewakili Sumatra Selatan. Namun harus berhenti sampai di titik seleksi provinsi. Ia gagal menjadi pemain junior PSSI. Bukan main sedihnya Ikal, karena gagal mempersembahkan hadiah yang telah ia perjuangkan untuk ayahnya.
Ada dua klub favorit Ikal, pertama PSSI, lalu yang kedua adalah Real Madrid. Ia jatuh cinta dengan Real Madrid setelah tahu ayahnya mengidolakan Real Madrid. Sepertinya Ikal selalu menjadikan ayahnya sebagai kiblat dalam urusan sepak bola. Terlalu cinta saja Ikal pada ayahnya.
Suatu ketika Ikal bertemu dengan Adriana, perempuan Spanyol yang juga gila bola. Kepada Adriana Ikal menceritakan banyak hal tentang klub favorit pertamanya, PSSI. Ikal berpendapat, menggemari tim sepak bola negeri sendiri adalah 10% mencintai speak bola dan 90% mencintai tanah air, Adriana sependapat. Sampai kapanpun, dan dalam kondisi apapun, Ikal akan tetap mencintai sepak bola, mencintai PSSI, tidak ada urusan menang atau kalah, PSSI yang selalu mencetak gol atau tidak di lapangan hijau bukanlah menjadi urusan penting. Karena dari kisah ayahnya, Ikal telah mengetahui bahwa sepak bola pernah menjadi lambang pemberontakan demi kemerdekaan. Seandainya sepak bola memang memiliki jiwa, maka jiwa sepak bola adalah patriotisme. :’)
Dari zaman jajahan sampai zaman yang katanya bangsa ini telah merdeka, urusan sepak bola telah masuk dalam urusan politik, bahkan urusan bisnis. Karenanya  untuk PSSI, mari mengheningkan cipta, lalu berdo’a. :’)
Seperti itu dan sekian, terima kasih. :)
Oleh: T2. IM3

Catatan Dodol Ukhti Ngocol



Resume 6: Indonesia Membaca
Oleh: Try Antika

Judul                     : Catatan Dodol Ukhti Ngocol
Penulis                  : Arkandini Leo
Penerbit                 : ProYou
Tebal Buku            : 132 hlm




Bismillah
Kali ini saya mau resume buku yang agak santai aja ya, judulnya “Catatan Dodol Ukhti Ngocol”, karyanya Senior Kece saya di Fakultas, J Mb Arkandini Leo namanya. Jadi ceritanya buku ini bertuliskan kisah-kisah kocak sarat hikmah yang sebagian besar adalah pengalaman pribadi  langsung dari Mb Dini ini. Oleh karena itu, karena berdasarkan pengalaman pribadi dan kebetulan Mb Dini sedang berguru di Negeri Pelajar juga, maka akan banyak cerita yang berlatarkan Yogyakarta.
“Catatan Dodol Ukhti Ngocol” ini isinya memang cerita-cerita kocak, tapi kerennya adalah ada banyak hikmah yang berhasil Mb Dini sampaikan dalam sesederhananya cerita-cerita kocak yang Beliau tulis. Misalnya bagian cerita yang berjudul “Tas Gledheg”, tau tas gledheg gak? Itu loh tas yang bisa ditarik kayak koper. Jika Anda pernah merasakan memimpikan memiliki tas gledheg tersebut dikala masa kecil, maka bersyukurlah, masa kecil Anda bahagia. :D Nah, di cerita tersebut, Mb Dini menceritakan pengalaman adik dan sepupunya yang menginginkan tas gledheg tersebut mati-matian, bahkan ketika Mb Dini bertanya apa mimpi dan cita-cita mereka? maka mereka akan menjawab, “Tas Gledheg.” Mb Dini sok kehabisan pikir dan mengganggap lucu saja permintaan dan cita-cita mereka. Tapi, begitulah anak kecil, bisa bermimpi apa saja tanpa pernah peduli dan memikirkan banyaknya kemungkinan kegagalan. Menginginkan apa saja yang diinginkan dan harus dipenuhi dengan segera tanpa memedulikan banyak pertimbangan. Sekadar euforia ingin memiliki saja. Setelah memiliki, bosan itu mudah saja menyusul. Ini menjadi cerminan diri bagi kita ketika meminta sesuatu, berdo’a kepada Allah berharap dikabulkan banyak keinginan, yang padahal jelas keinginan tersebut adalah sesuatu yang jauh dari manfaat, minimal untuk diri-sendiri. Mungkin Allah di ArsyNya sana, ketika mendengar permintaan konyol hamba-hambaNya akan tertawa. “Duhai hambaKu, akan kukabulkan do’amu yang satu ini, dan mari kita lihat saja nanti setelah Aku mengabulkan doamu ini, Kamu akan menyesal penuh kelucuan pernah memohon permintaan ini dikabulkan, sungguh, Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. J” Jika benar seperti itu adanya, ya Allah, ajari kami untuk bisa menertawai diri kami sendiri. Dan jagalah hati kami selalu. Begitu pinta Mb Dini dibalik kisah “Tas Gledheg”nya.
Satu lagi kisah yang paling saya suka di buku ini, judulnnya “Ridiculuous Tapi Genius”, “Edan Tapi Genius”. Jadi ceritanya itu Mb Dini ini punya teman kos yang melankolis, rajin menabung, hafal Pancasila, suka memasak dan bersih-bersih, pokoknya istriable bangetlah. :’) Eh, enggak. Eh, jayus. Okeh abaikan. -_- Nah, jadi ceritanya teman kos Mb Dini ini orangnya takut dengerin suara-suara film horor, tapi suka nonton film horor. Nah, piye jal? :D Apa coba yang dilakukan oleh teman kos Mb Dini ini? Demi menyalurkan hobinya nonton film horor tapi takut denger suara-suara di film horor, jaditemen kos Mb Dini ini kalau nonton film horor, volumenya dibikin mute sama dia, terus muterin muratal. Jadilah yang ditonton film horor tapi suaranya muratal. Sumpah ini kece genius banget. :D Kemudian satu lagi, teman kos Mb Dini yang lainnya lagi ini orangnya sangat jijikan. Sedangkan dalam kehidupan kos, berbagi itu adalah sebuah seni yang tidak bisa ditolak. Jadi, suatu hari teman kos Mb Dini ini pulang ke kos dengan menenteng satu plastik es teh. Walhasil es teh tersebut diburu oleh empat orang teman kos lainnya termasuk Mb Dini ini. Teman kos Mb Dini ini pastilah mengizinkan, secara ia adalah orang yang baik dan taat rambu lalu-lintas, *njuk ngopo?* jadilah mereka minum es teh berlima dalam satu sedotan yang sama. Siasatnya oleh teman kos Mb Dini yang jijikan ini adalah setelah teman-temannya sudah meminum es teh tersebut dengan sedotan yang sama, tanpa sungkan dia langsung ngegunting pucuk sedotannya. Hahahaha, ini mah kelewatan genius. :D Tapi satu yang bikin geniusnya kembali normal, ia belajar banyak hal dalam proses kehidupannya, kemarin ia adalah dengan sikap cuek-masa bodohnya, ia berkembang menjadi orang dengan menjaga banyak perasaan orang sekitarnya. Jadi, walaupun masih dengan karakternya yang gampang jijikan tersebut, untuk masalah teman-teman yang sering meminta minum kepadanya, ia siasati dengan cara mulai menggunakan wadah air mineral seperti termos panas yang punya tutup seperti cangkir, kebayang kan termos panasnya. Nah, jadi ketika ada temannya yang meminta air minumnya, ia akan dengan senang hati dan tidak perlu was-was lagi, karena ia akan menyajikan permintaan teman-temannya tersebut dengan menuangkan air ke gelas dari termos panas yang telah ia siapkan, jadi air mineral didalamnya akan tetap steril. Ini Genius. J Kebaikan masih dapat ia tunaikan, bahkan dapat dinilai dengan kebaikan yang penuh, lalu ia juga dapat menjaga hati banyak perasaan teman-temannya untuk tidak tersinggung dengan karakternya tersebut. Luar biasa kan? Mulia mulia mulia. :’)
Begitu sedikit gambaran kisah-kisah kocak yang Mb Dini tulis di “Catatan Dodol Ukhti Ngocol”nya ini. Luar biasanya adalah atas banyak kejadian kocak yang ada, Mb Dini mampu menghantarkan kita pada sebuah refleksi diri tentang jernih dan beningnya Islam. Hiburan dapat, nasihat pun dapat.
Begitu saja, terimakasih, mohon maaf lahir dan bathin, khususan ila Mas Deri, Sang Admin paling sabar di IM3. :p
Oleh: T2. IM3

Anak Anak Angin



Resume 5: Indonesia Membaca
Oleh: Try Antika

Judul                      : Anak Anak Angin
Penulis                   : Bayu Adi Persada
Penerbit                 : PlotPoint Publishing
Tebal Buku            : 271 hlm 




Pernah mendengar gerakan Indonesia Mengajar? Tentu pernahlah ya, sebuah gerakan yang digagas dengan sangat luar biasa oleh seorang Anies Baswedan yang fokus dalam pengembangan kemajuan dunia pendidikan. Anies Baswedan, Pendiri Yayasan Gerakan Indonesia Mangajar ini memiliki misi untuk membantu tumbuhnya kemajuan pendidikan di suatu wilayah melalui penempatan guru berkualitas, serta menjadikan gerakan ini sebagai wahana pengembangan diri dan penggemblengan bagi anak-anak muda Indonesia, agar tidak hanya kuat secara kepemimpinan, tetapi juga punya ikatan kuat pada dunia pendidikan, pada masyarakat daerah serta rakyat kebanyakan. Dua misi diatas, Anies Baswedan telah menyentuh 2 lapisan masyarakat yang berbeda sekaligus, yang pertama adalah anak-anak yang masih jauh dari yang namanya pendidikan yang layak, dan kedua, mengembalikan peran pemuda sebagai solusi permasalahan bangsa. Melalui gerakan ini, Anies Baswedan berhasil mengajak pemuda-pemudi Indonesia untuk lepas dari keegoan dirinya. Selain itu, banyak sekali pelajaran yang hadir dari gerakan ini, adalah melalui cerita-cerita pengalaman seorang Pengajar Muda, mampu membuka mata, mengetuk hati banyak orang, bahwa beginilah Indonesia, yang tidak bisa disimpulkan situasi dan kondisinya hanya sekadar melihat kota-kota besar saja, Jakarta misalnya, Indonesia memiliki anak-anak negeri di berbagai pelosok yang sangat jauh dari yang namanya pemerhatian pemerintah, gerakan ini juga mampu menyadarkan para pendidik bahwa bagaimana pendidik seharusnya berperan, mendidik tidak sekadar asal selesai mendidik saja, seperti menggugurkan kewajiban, jauh dari yang namanya kesabaran, objektivitas dalam menilai potensial anak didik, dan tidak dengan sense untuk menjadikan didikannnya menjadi anak-anak yang benar-benar terdidik. Beberapa guru dengan karakter seperti ini saya sering mentitelnya dengan sebutan “Guru Gagal Gaul”.
Dalam buku Anak-Anak Angin ini, Bayu Adi Persada, salah satu Pengajar Muda Angkatan Pertama asal Jakarta lulusan ITB ini berangkat menuju pelosok kecil bernama Bibinoi, Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Keputusannya untuk terjun bergerak, mendidik dengan menginspirasi dari Jakarta ke Halmahera Selatan tidaklah demi prestise, Bayu berangkat atas dasar keinginannya untuk menjadi pendamping mereka yang belum banyak tersentuh kemajuan, Bayu berangkat demi kehormatan bangsanya, negerinya, Indonesia. Walaupun “keputusan gila”nya ini belum sepenuhnya mendapat restu dari kedua orang tuanya, yakni tentang bagaimana izin Bayu kepada kedua Orang Tuanya ditanggapi sebagai sebuah keputusan bodoh yang hanya membuang-buang waktu saja, akan tetapi Bayu masih memiliki keyakinan bahwa diterimanya ia menjadi salah satu Pengajar Muda diantara 51 Pengajar Muda lainnya dari 1383 pelamar adalah sebuah jalan yang Allah siapkan untuknya.
Melalui perjalanan yang cukup panjang, berganti dari pesawat mewah selama 4jam dari Jakarta menuju Ternate, ke kapal motor selama kurang lebih 9jam dari Ternate menuju Babang, dan perjalanan kaki selama 30menit dari Babang  ke Labuha untuk menghadiri penyambutan residi kantor bupati dan bertemu dengan para pejabat Dinas Pendidikan. Setelah selesai, Bayu bersama partnernya Ardhi dan Ayu menuju desa Bibinoi, desa penempatannya untuk mengabdi selama satu tahun kedepan. Bibinoi bukanlah desa dengan fasilitas yang layak, listrik masih menjadi sesuatu yang langka bagi desa ini, apalagi fasilitas umum seperti telepon, dll. Warga desa Bibinoi telah akrab dengan penerangan lampu minyak yang rentan pula tertiup oleh angin pesisir pantai, ya, Bibinoi merupakan sebuah desa yang letaknya di pesisir pantai.
Perjalanan Bayu sebagai Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar memberikan banyak pelajaran berharga yang belum tentu bisa ia dapatkan di bangku sekolah, di bangku kuliah sekeren apapun kampus perkuliahannya. Ia belajar bahwa niat baik dan kekerasan hati saja tak cukup untuk mengubah keadaan. Belajar bahwa solusi hidup bukanlah kata-kata motivasi, tapi adalah tindakan nyata. Teringat tentang perkataan Pandji Pragiwaksono, bahwa atas banyak ide-ide atau gagasan-gagasan perbaikan yang lahir dari banyak pikiran dan hati anak manusia, akan sia-sia saja bak semilir angin laut jika tidak diteruskan dengan sebuah pergerakan. Pemuda itu percuma saja jika ia hanya diam dengan ide dan gagasannya yang luar biasa, negeri ini membutuhkan Pemuda yang tanggap bagaimana seharusnya bersikap dan bergerak, ketika ide dan gagasan hadir, maka itu artinya adalah bergerak.
Melalui karakter anak-anak didiknya yang tidak semuanya memiliki antusias dalam belajar, kenakalan wajar dari mereka seringkali mengganggu rencana kelas yang kondusif yang telah disiapkan oleh Bayu sebelumnya sering membuat Bayu kewalahan. Tapi ia kembali menurunkan egonya, meninggikan sabarnya, mengambil pelajaran bahwa beginilah sosok guru seharusnya, bahwa guru sebagai penghubung pembelajaran, haruslah memiliki seni tentang bagaimana menjelaskan sesuatu kepada anak didiknya agar tercapainya pemahaman, tidak sekadar anggukan asal. Belajar dengan bermain misalnya, materi tentang energi gerak pernah Bayu sampaikan melalui permainan origami kicir angin, menjelaskan sesuatu dengan gambar-gambar berwarna yang menarik, tidak dengan deskripsi dalam paragraf panjang yang jauh dari angan-angan bayangan.
Ya, begitulah bagaimana seharusnya seorang guru, bagaimana seharusnya seorang pendidik, mendidik dengan penuh ketulusan hati. Dan begitulah bagaimana seharusnya seorang pemuda, telah selesai dengan urusannya, selesai dengan egonya, tentang hidupnya tidak hanya untuk dirinya, tapi untuk sekitarnya. Dan begitulah bagaimana kita seharusnya, bagaimana seharusnya seorang umat manusia, bahwa hidup ini adalah tentang kesabaran, bahwa kesabaran tidak hanya tentang permasalahan yang hadir, tapi kesabaran juga tentang segala kabahagiaan, kesenangan, dan kemudahan yang hadir.
Begitu, selamat bergerak dengan menginspirasi sekitar. J
Oleh: T2. IM3

Konsistensi Menyongsong Kematian Husnul Khatimah



Judul                : Konsistensi Menyongsong Kematian Husnul Khatimah
Penulis             : M. Anis Matta, Lc
Penerbit           : Fitrah Rabbani, 2006
Tebal Buku      : 101 Halaman




Assalamu’alaikum wr.wb. Mhon maaf kepada semua, terutara mas Deri.. hhee.. jadwal resume bulan ini ngaret hampir 2 kali lipat waktunya, insya allah bulan depan tepat waktu. Buku ini sudah lama ada di deretan buku, dan salah satu alasan meresume ini, karena bukunya tipis,,, hehe... ditambah lagi moment abis puasa, biar tetap konsisten ibadahnya,, J

Awal buku ini menjelaskan tentang hakikat kematian, bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti akan menjemput manusia, namun secara umum pembicaraan tentang kematian bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Bahkan naluri manusia cenderung ingin hidup seribu yahun lagi. Sebagaimana dilukiskan Al-Quran: “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka seloba-loba manusia kepada kehdupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang- orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkan dari siksa. Dan Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah:96).

Banyak faktor yang menyebabkan orang takut akan kematian. Ada orang yang takut mati karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian, mungkin juga karena merasa bahwa yang dimilikinya sekarang lebih baik dari apa yang akan dimilikinya nanti. Ada juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati, mungkin karena khawatir memikirkan atau prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan atau karana tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya sehingga mereka merasa cemas dan taku menghadapi kematian. Dari sini lahir pandangan-pandangan optimis dan pesimistis terhadap kematian dan kehidupan.

Islam sebagai tuntutan hidup manusia mengajarkan bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Kematian adalah awal dari suatu perjalanan panjang dalam evolusi kehidupan manusia, dimana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kesenangan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.

Dalam mengingat kematian ini, Imam Al-Ghazali membagi manusia kepada tiga tingkatan. Pertama : Al-Munhamik, yaitu orang yang tenggelam dalam tipu daya dan hawa nafsu dunia. Ia tidak mengingat kematian dan enggan untuk diingatkan orang tentang kematian. Dan manakalah diingatkan justru akan menjauhkannya dari Tuhannya. Orang seperti ini kurang mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian bahkan justru bergelimang dosa dan maksiat.

Kedua: At-Taib, yaitu orang yang selalu bertaubat memohon ampunan dari Allah. Iapun banyak mengingat kematian yang mendorongnya beramal dan mempersiapkan bekal. Kalaulah ia tidak menyukai kematian, tidak lain karena khawatir bekal yang dipersiapkannya belum cukup sehingga dala kondisi demikian ia takut menghadap Allah.

Ketiga: Al-Arif, yaitu orang yang mengetahui posisi dirinya di hadapan Allah. Ia senantiasa mengingat kematian, bahkan ia selalu menanti saat kematian itu. Karena baginya kematian adalah momentum perjumpaan dengan Allah, Dzat yang selama ini dicintainya dan dirindukannya dan ia memiliki bekal dan persiapan penuh untuk menghadapi kematian.

Ada beberapa tanda-tanda Husnul Khatimah : 1). Ketika wafat mengucapkan kalimat syahadat, 2). Saat wafat dahinya berkeringat, 3). Wafatnya terjadi pada malam jum’at atau siangnya, 4). Mati syahid, 5). Meninggal di medan tempur dalam memperjuangkan agama Allah, 6). Meninggal disebabkan wabah kolera, 7). Wanita meninggal saat melahirkan, dan 8). Orang yang meninggal saat melakukan amalan shalih.

Yang menjadi catatan penting adalah, jangan sampai kita terobsesi dengan amalan-amalan yang kita lakukan, sehingga terkadang akan mendegradasi nilai-nilai yang harusnya kita dapatkan, dan hendaklah senantiasa kita bermunajat kepada Allah swt, agar senantiasa memberikan keistiqomahan kepada kita, senantiasa konsisten menyongsong Husnul Khatimah, karena waktu penentuan kategorinya adalah di akhir hidup kita, kita masih ingat kisah seorang pembunuh yang telah membunuh 100 orang lebih, namun hanya karena 1 langkah kakinya lebih banyak menuju niat tobat, maka dia masuk surga, jangan sampai 1 hari terakhir kita merusak 50 tahun kita. Wallahua’alam. (Medan, ILT, 2015)