Kamis, 22 September 2016

ME BEFORE YOU – SEBELUM MENGENALMU






Banyaknya review positif, pro-kontra film serta hashtag #liveboldly di twitter yang bertebaran membuat saya memutuskan untuk mencari tahu apa itu Me Before You dan siapa itu Jojo Moyes. Ternyata, ini adalah film yang diadaptasi dari novel best seller dan filmnya diperankan oleh Sam Claflin dan Emilia Clarke, 2 pemain fav saya hehe.

Buku ini cukup tebal karena terdiri dari 656 halaman dan tulisannya yang kecil-kecil makin membuat buku ini jadi lama untuk dibaca, tapi ternyata karena cerita yang seru dan perasaan saya yang udah baper duluan waktu baca buku ini, buku ini hanya selesai dalam 1 hari dan berakhir dengan saya nangis tersedu-sedu.
Cerita dari buku ini cukup sederhana, tentang seorang gadis berumur 26 tahun bernama Louisa Clark yang kerap disapa Lou. Lou selalu tahu berapa langkah dari rumah ke tempat kerjanya, bekerja di tempat yang paling dia sukai karena dapat bertemu orang-orang baru yaitu The Buttered Bun Tea Shop sebagai pelayan. Kehidupannya biasa-biasa saja, punya pacar seorang atlit, pulang ke rumah untuk berbincang-bincang dengan keluarganya, dan itu dilakukan setiap hari sampai akhirnya Lou dipecat karena Café tempatnya bekerja tutup.

Frustasi dalam mencari pekerjaan membuat Lou mau untuk bekerja sebagai asisten pribadi orang lumpuh, siapa disangka bahwa pria lumpuh itu masih muda dan tampan bernama Will Trainor, yang keluarganya tinggal di kastil tak jauh dari rumah Lou. Will adalah pria sukses dalam karirnya dan selalu berambisius, menyukai segala aktifitas di luar ruangan dan berbahaya, sampai akhirnya Will mengalami kecelakaan fatal yang membuatnya lumpuh dari leher hingga kaki dan disebut Quadriplegia. 

Keadaan ekonomi keluarga Lou memaksa Lou untuk selalu bekerja banting tulang dan membuatnya harus bertahan bersama Will, dimana Will selalu bersikap menjengkelkan setiap saat dan terang-terangan tidak menyukai kehadiran Lou. Will tidak boleh ditinggal sendiri lebih dari 15 menit, setiap beberapa jam Will harus diberi obat, tidak boleh terlalu kedinginan atau kepanasan, harus diberi makan dan minum sesuai waktu. Keadaan menjadi baik karena kehadiran Lou yang ceria mampu mencairkan sikap Will yang keras. Sayangnya, Lou hanya dipekerjakan selama 6 bulan, lalu kenapa hanya 6 bulan? Kemunculan adik Will, Georgiana mengungkapkan kenyataan pahit untuk kehidupan Will selanjutnya.

Berbicara tentang karakter, pembaca pasti setuju bahwa kita akan iba pada Will juga Lou, Lou sebagai wanita yang masih muda dan bersemangat, harus stuck di kota-nya, tidak dapat melanjutkan sekolah karena harus membanting tulang bekerja, mempunyai pacar selama 7 tahun yang sepertinya tidak ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang serius cukup membuat Lou tahu bahwa selamanya Ia dan Patrick hanya berjalan di tempat. Sedangkan Will, pria muda yang berambisius namun akhirnya harus selalu duduk di kursi roda karena penyakit yang dideritanya. Ini semua membuat Will menjadi tidak bersemangat dalam hidup, Will selalu merindukan kehidupan lamanya dan berujung seringnya melakukan percobaan bunuh diri.

Perjalanan kisah mereka semakin kompleks saat mereka akhirnya merasakan jatuh cinta, namun kisah mereka tidak berakhir sesuai dengan apa yang pembaca mau dan semua sepaham untuk menyalahkan Will dengan tindakan egoisnya yang tidak memikirkan Lou, namun disinilah Jojo Moyes berharap bahwa pembaca juga harus mengerti penderitaan yang dialami Will, perlahan-lahan pengarang menjelaskan proses penderitaan Will dan mengapa Will mengambil keputusan yang menyakitkan untuk orang tuanya serta Lou sendiri. Walau, saya berharap ada satu-dua bab yang dijelaskan dari sudut pandang Will, agar saya ga begitu menyalahkan Will.

Sudah banyak spoiler dan cerita mengenai film serta buku ini, tetapi menurut saya buku ini harus dibaca dan akhirnya bisa menyimpulkan sendiri apakah setuju dengan endingnya atau tetap tak percaya seperti yang saya lakukan :D

Judul Buku              : Me Before You (Sebelum Mengenalmu)
Pengarang               : Jojo Moyes
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman      : 656 Halaman
Penerjemah             : Tanti Lesmana
Segmen                   : Dewasa
Genre                     : Drama, Realistic Fiction, Romance
Harga                     : Rp 98.000 (diskon 20%) sekarang Rp. 128.000 L
Peresume                : Vanda Deosar

Sabtu, 23 Juli 2016

Breaking Night: Homeless to Harvard








Tuhan, berikanlah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.

Doa itulah yang sering diulang-ulang tokoh utama bernama Elizabeth Murray yang lebih suka dipanggil Liz. Novel ini menceritakan kisah hidup penulis sebelum akhirnya menginspirasi banyak orang di berbagai negara dan mendirikan sekolah khusus tunawisma pertama di Amerika. Liz kecil dikenalkan kepada ayahnya saat berusia 3 tahun, saat itu ayahnya baru saja keluar dari penjara karena profesinya sebagai pengedar narkoba, Ma (ibunya) yang juga membantu ayahnya dalam memproduksi narkoba dibebaskan karena saat itu sedang mengandung Liz sekaligus mengasuh Lisa-kakaknya Liz-dan memiliki sedikit gangguan mental karena kehidupannya di masa kecil yang keras. Keluarga Liz memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan mengandalkan cek dinas sosial yang dibagikan kepada keluarga miskin di Amerika.

Orang tua Liz adalah pecandu narkoba yang rela membiarkan anak-anaknya kurang makan bahkan tidak makan berhari-hari untuk kokain. Ayah Liz sebenarnya seorang yang cerdas dan sangat mencintai buku-buku, Seringkali ayahnya meminjam buku di berbagai perpustakaan dan tidak pernah mengembalikannya sehingga anak-anaknya terbiasa untuk membaca buku-buku bagus di rumahnya. Sejak kecil, Liz dan kakaknya sudah terbiasa menyaksikan kedua orang tuanya sakau dan menggunakan narkoba di rumahnya, dan meskipun Liz membenci perbuatan orang tuanya yang tidak bertanggung jawab, ia selalu bersikap baik pada keduanya bahkan menemaninya ditengah malam untuk membeli narkoba.

Liz sebenarnya bukan orang yang bodoh, namun kehidupannya di sekolah yang sering menjadi bahan ejekan teman-temannya serta direndahkan guru-gurunya menjadikan Liz seorang yang sangat membenci sekolah dan selalu membolos. Kehidupan Liz semakin kacau semenjak Ma keluar masuk rumah sakit jiwa dan didiagnosis terkena AIDS, ayahnya yang seakan tak memperdulikannya, ia yang meninggalkan sekolah dan lebih memilih untuk bekerja apa saja untuk sekedar memenuhi kebutuhan perutnya. Meskipun begitu, buku-buku ayahnya dirumah membantunya untuk lulus SD dan SMP dengan nilai pas-pasan setelah sebelumnya ia sempat dibawa dinas sosial ke penampungan karena seringnya membolos sekolah. Setelah menjalani hari-hari di penampungan akhirnya Liz tinggal ditempat baru yang merupakan apartemen pacar baru Ma, Brick. Sementara Liz tinggal dirumah Brick, ayahnya dibawa ke penampungan karena dinas sosial tak lagi mau membiayai hidupnya. Ma meninggalkan suaminya dan memulai hidup baru tanpa narkoba. Liz sejak awal sudah membenci Brick meskipun ia yang membiayai kebutuhan mereka semua. Terlebih Brick sangat kasar pada Ma meskipun ia tahu bahwa Ma semakin lemah karena penyakit yang menggerogotinya.

Di sekolah barunya, Liz tetap saja membolos dan membenci guru-gurunya meskipun saat itu Liz sudah memiliki banyak teman yang sangat menyayanginya. Liz akhirnya benar-benar meninggalkan sekolah dan kabur dari rumah. Liz menggantungkan masa depannya pada Carlos, anak jalanan yang sedang menunggu warisan dari ayahnya dicairkan. Tanpa tempat tinggal yang jelas, mereka berpindah dari satu rumah teman ke rumah temannya yang lain, mengutil makanan di swalayan, meminta-minta, dan mengandalkan teman-temannya. Liz masih menyayangi kedua orangtuanya namun ia sudah benar-benar membenci sekolah dan tak mau berurusan lagi dengan dinas sosial serta tempat penampungan. Beberapa tahun Liz menjadi tunawisma berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga pada suatu hari ia mendapat kabar bahwa Ma meninggal, perasaannya hancur karena ia sadar dirinya justru tidak berada disamping Ma di saat-saat dibutuhkan, betapa dulu Ma sangat berharap Liz bisa bersekolah tinggi dan memiliki pilhan untuk bisa hidup dengan layak.

Liz dilema berat sebelum menjadi benar-benar sadar bahwa ia harus mengubah hidupnya sendiri ketika mengetahui Carlos yang dicintainya juga menjadi pecandu narkoba, uang warisannya dihambur-hamburkan untuk membeli narkoba dan mungkin juga mengedarkannya. Liz hilang arah, ia berbicara pada dirinya sendiri tentang berbagai kemungkinan untuk mengubah keadaannya. Kali ini ia bertekad untuk benar-benar menentukan masa depannya, ia tidak bisa mengubah masa lalunya namun masa depannya masih bisa diciptakan pikirnya. Pasti ada hal yang bisa dilakukan.

Bagaimana perjuangan Liz supaya bisa bertahan untuk sekolah tanpa membolos lagi?Bagaimana Liz membiayai hidup dan sekolahnya kali ini? Apakah keluarganya bisa bersatu lagi?Apa yang membuatnya percaya diri dan bisa kuliah di universitas top dunia, Harvard University?


Buku ini cukup melelahkan untuk dibaca, karena lebih dari 450 halaman bercerita tentang kondisinya yang memprihatinkan, kesulitannya dalam menjalani hidup, orang tua yang sangat tidak bertanggung jawab dan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya, dan keterbatasan-keterbatasan lainnya. Keadaan inilah yang membentuk karakter Liz untuk memiliki pemikiran yang dewasa dibandingkan usia sebenarnya, mengajarkannya untuk bijak dan memahami setiap keadaannya. Doa yang sering diucapkannya menjadikan ia kuat. Buku ini menyadarkan saya bahwa impian yang besar harus dibarengi dengan usaha dan keyakinan yang jauh lebih besar, tidak bisa setengah setengah. Akan Ada hal-hal yang tidak bisa diubah dalam hidup, tapi kita selalu punya hal yang bisa dilakukan yang akan mengantarkan pada pilihan-pilihan lainnya. Tidak mencoba akan berakhir pada kata ‘tidak’ namun ketika kita mencoba akan memberikan lebih dari satu pilihan. Doa yang Liz tulis mengingatkan saya dengan beberapa ayat ini “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… “ (QS. Al Baqarah: 286) dan “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka “ (QS. Ar Ra'd: 11). Tetap semangat, kesempatan masih terbuka lebar.

Judul buku           : Breaking Night
Nama Penulis      : Liz Murray
Penerbit              : Mizan (terjemahan Indonesia)
Tahun Terbit        : 2013
Jumlah Halaman  : 510 halaman
Nama Peresume  : Mustika Rizky Amalia

To Live (Hidup)





Pada awalnya, Fugui adalah seorang anak saudagar kaya yang hobi berjudi dan bermain wanita. Sejak kecil dia telah membuat banyak orang kewalahan dengan sikapnya. Namun, sebagai seorang anak tuan tanah yang terhormat, tidak ada yang berani menghentikannya. Hingga suatu hari, sebuah kecerobohan di meja judi menghancurkan kehidupannya. Seluruh harta keluarganya habis untuk melunasi hutang-hutangnya. Dia dan seluruh keluarganya terpaksa angkat kaki dari rumah besar yang telah menjadi warisan turun-temurun keluarga Xu.
Tidak lama berselang setelah kepindahan mereka dari rumah besar ke sebuah gubuk beratap jerami, ayah Fugui meninggal. Kemudian, istrinya, Jiazhen, yang sedang hamil anak keduanya, dipaksa pulang oleh orangtuanya. Ketika anak kedua itu telah berumur setengah tahun, Jiazhen kembali ke gubuk itu untuk membantu pekerjaan di sawah. Kehidupan memang tidak menyenangkan, tetapi keutuhan keluarga jelas mendamaikan.
Situasi politik di Cina saat itu sedang bergejolak, membuat masa depan rakyat semakin tidak jelas. Fugui mungkin jatuh miskin dan tinggal di gubuk, tetapi bukan dia yang kemudian menghadapi hukuman mati yang dijatuhkan kepada tuan-tuan tanah. Ada pula saatnya dia ditarik untuk menjadi seorang tentara, tetapi bahkan ketika jatah pangan semakin menipis, dia tidak menjadi satu di antara yang mati karena sakit maupun kelaparan.
Sayangnya, ujian kehidupan Fugui tidak berhenti sampai di situ. Takdir seolah-olah tidak membiarkannya mati walau telah ada banyak hal yang dia alami, tetapi orang-orang terdekatnya justru meninggalkannya lebih dulu. Setelah ayahnya, ibunya meninggal karena penyakit tua. Anak pertamanya, Fengxia, meninggal karena kehabisan darah setelah melahirkan. Anak keduanya, Youqing, meninggal karena kehabisan darah juga, walau dengan penyebab yang berbeda. Setelah itu, istrinya, menantunya, cucunya, hingga teman seperjuangannya selama menjadi tentara, menyusul satu per satu.
Hingga hari tuanya, Fugui hidup sendirian ditemani oleh seekor sapi yang dia beri nama seperti namanya. Sapi inilah yang menjadi simbol dirinya—sebatang kara, tanpa keluarga, tetapi tidak kunjung juga dipanggil untuk meninggalkan dunia. Ketika seorang pengelana muda mendekatinya, saat itulah Fugui menceritakan kisah hidupnya.

Judul buku                       : To Live (Hidup)
Nama penulis                   : Yu Hua
Penerbit                           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit                      : 2015
Jumlah halaman                : 221 halaman

Resume oleh: Nabila

Selasa, 28 Juni 2016

PARENT’S STORIES: MEMBESARKAN ANAK YANG BERDAYA






Banyak dari kita pernah mendapatkan informasi seputar parenting yang berseliweran di media sosial. Kita dengan mudah membacanya bahkan tidak sedikit di antara kita yang menyimpan informasi itu sebagai arsip di smartphone. Dengan harapan suatu saat kelak bisa membaca kembali untuk diamalkan. Apalagi kalau kita adalah orang yang masuk ke dalam grup yang sama-sama tertarik seputar parenting. Bisa dipastikan arsipnya akan semakin banyak.

Ada satu buku seputar parenting yang dapat menjadi rujukan untuk para orangtua muda. Ditulis oleh seorang ayah beranak dua, yang memiliki kegelisahan tentang nilai-nilai hidup yang kita tanamkan kepada generasi berikutnya. Ia, Adhitya Mulya, yang juga merupakan penulis novel Sabtu Bersama Bapak, mengulas hal yang sangat mendasar tentang pengajaran nilai hidup kepada anak. Ia mengharapkan agar terdidik generasi berikutnya yang berdaya dalam menghadapi tantangan hidup mereka. Hal tentang pengasuhan anak inilah yang terkadang luput oleh kebanyakan orang tua.

Pemikirannya ditulis ke dalam empat belas bagian seperti, Values, Harga Diri, Dari Mana Anak Berasal, Kekuatan dan Bahaya dari Pujian, Syarat Hidup, Perangkap Sulung, Imbalan untuk Anak, Cinta Tanpa Syarat, Life skill, Parents Know Best?, Menurut Kamu Bagaimana?, Tidur Terpisah, Mentor not Monster, dan Helicopter Parenting. Kesemuanya dibahas dengan struktur yang dimulai dari definisi konseptual yang sederhana, logical fallacy (kekeliruan logika) yang terjadi pada masyarakat, menawarkan alternatif solusi yang lebih baik melalui contoh, melogikakan mengapa hal demikian penting dilakukan, dan menuliskan kesimpulannya. Tenang, buku ini tidak serumit yang dibayangkan. Ia cukup menjadi manual yang membantu kita menerapkannya dengan percaya diri. Bukan berarti mudah juga karena menjadi orangtua berarti siap menghadapi risiko dan tantangan.

Awal buku ini adalah tentang definisi kesuksesan lintas zaman. Setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda-beda tetapi terkadang kita mengasosiasikan kata ‘sukses’-nya seseorang, kepada prestasi (baik materil atau nonmaterial) yang orang tersebut berhasil kumpulkan. Padahal, materi bukanlah parameter kesuksesan. Menurut penulis, definisi sukses adalah mampu menjawab tantangan di zaman masing-masing. Mereka yang kita anggap sukses adalah mereka yang mampu memberdayakan keimanan, kecerdasan, akses, dan kesempatan yang mereka miliki untuk dapat berguna bagi diri sendiri kemudian orang lain. (h. xv)

Senada dengan sub judul buku ini (Membesarkan Anak yang Berdaya) maka, penulis berbagi pengalaman tentang bagaimana sebaiknya kita melakukannya. Kita ingin anak berdaya dalam menghadapi dan mengatasi sendiri rintangan di zamannya. Mereka akan mampu melakukan itu,
ü  jika memiliki values_sebuah jangkar yang menjadi rujukan mereka membedakan mana yang benar dan mana yang salah. (h. 13)
ü  jika dia memiliki harga diri, dan paham akan dari mana datangnya harga diri itu. (h. 22)
ü  jika mereka paham bahwa dari mana mereka berasal adalah hal yang tidak penting. Yang penting adalah ingin menjadi seperti apa mereka, saat mereka dewasa nanti. Yaitu adalah orang yang berguna bagi diri sendiri_dan menjawab tantangannya sendiri_dan berguna bagi orang lain. (h. 31)
ü  jika dia memiliki definisi yang benar akan harga dirinya. Definisi yang benar akan kompetensinya. Definisi yang benar akan di mana kelebihannya, di mana kelemahannya dan bagaimana dia dapat mengembangkan dirinya lebih jauh. Semua itu datang dari bagaimana kita, sebagai orangtua, mendidik, memuji, dan mengkritisi mereka. (h. 42)
ü  kita ingin mereka mampu dan tangguh bersaing dengan sembilan miliar orang. Memiliki syarat hidup yang banyak, tidak akan membantu anak-anak kita bersaing dengan orang sebanyak itu. (h. 55)
ü  mereka mampu melakukannya tanpa ada yang memberi mereka imbalan. Karena untuk berdaya menghadapi tantangan, adalah kewajiban semua orang. Bukan sesuatu yang diimbalkan. (h. 82)
ü  jika sewaktu kecil, kita memberi mereka, cinta tanpa syarat. (h. 97)
ü  jika kita sebagai orangtua, memberikan ruang dan waktu bagi mereka untuk menguasai semua life skill yang mereka perlukan. (h. 110)
ü  dan masa lalu kita, bisa jadi tidak selalu sama dengan masa depan mereka. (h. 121)
ü  jika mereka memiliki kekuatan dan kemauan untuk menantang diri mereka sendiri untuk menemukan solusinya. (h. 133)
ü  jika mereka mandiri. Dan mereka akan mandiri, setelah mereka cukup merasakan rasa aman, nyaman dan perlindungan dari kita, di usia dini. (h.142)
ü  jika mereka memiliki kita sebagai mentor, bukan sebagai monster. (h. 153)

Poin-poin tersebut tidak perlu menjadikan kita memandang hanya sebatas kewajiban maupun hak  orangtua maupun anak. Namun demikian, kita sebagai orangtua perlu memberikan yang terbaik sesuai porsi yang proporsional kepada anak. Jangan lupa pula menyingkirkan gengsi untuk tetap terus belajar meskipun sudah berumur dan bergelar professor. Menurut saya, sepandai-pandai maupun sehati-hatinya kita mendidik anak, kita tidak boleh lupa bahwa semua itu berkat pertolongan Allah sehingga kita bisa melakukan yang terbaik yang kita bisa. Kita juga tak lantas lupa untuk mendoakan anak-anak kita kepada pemilik jiwa-jiwa mereka. Allah.

Secara keseluruhan buku ini sangat bermanfaat dan berharga. Hanya saja masih ada kesalahan ketikan huruf. Tidak terlalu menjadi masalah sih karena terdapat ilustrasi gambar  yang menjadi kunci pengingat di dalam tiap babnya. Ada baiknya kita memiliki buku ini untuk mengetahui teknik spesifik yang tidak saya sampaikan dalam resume.

Judul Buku        : Parent’s Stories: Membesarkan Anak yang Berdaya
Penulis              : Adhitya Mulya
Penerbit            : PandaMedia, Jakarta Selatan
Jumlah Hal.       : 164
Tahun Terbit     : 2016
Peresume         : Novi Trilisiana