Senin, 03 Juli 2017

Trilogi Soekram

Hasil gambar untuk Trilogi Soekram

Saudara, saya Soekram, tokoh sebuah cerita yang ditulis oleh pengarang. Ia seenaknya saja memberi saya nama Soekram, yang konon artinya berasal dari bahasa asing yang artinya – ah, saya lupa. Tapi sudahlah. Apapun nama saya, saya harus menerimanya, bukan? Pengarang itu sudah payah sekali kesehatannya, kalau tiba-tiba ia mati, dan cerita tentang saya belum selesai, bagaimana nasib saya – yang menjadi tokoh utama ceritanya? Saya tidak bisa ditinggalkannya begitu saja, bukan? Saya mohon Saudara berbuat sesuatu.

Begitulah sinopsis yang terpampang di bagian belakang sampul buku, menarik bukan? Jujur selain karena suka dengan pengarangnya, buku ini menarik dari segi ceritanya. Awalnya saya pikir ini hanya menceritakan konflik antara pengarang dan tokoh yang dikarangnya. Ternyata, bukan! Ditulis dalam 3 cerita, pengarang telah mati, pengarang belum mati dan pengarang tak pernah mati, Sapardi Djoko Damono mengemas kisah Soekram dalam alur yang semau-mau pengarang, semau-mau tokohnya namun bermakna.

Mengapa ia tak selesai ditulis? Mengapa ia tak bisa menentukan jalan ceritanya sendiri? Mengapa ia tak bisa menjadi pengarang? Mengapa kisah cintanya disusun rumit? Antara Soekram dan Ida, Soekram dan Rosa, Soekram dan istrinya (tentu saja) serta Soekram dan Siti Nurbaya. Inilah alasan mengapa tokoh itu loncat keluar dari kisahnya dan menuntut untuk menulis jalan ceritanya sendiri.

Bagian cerita pertama menceritakan Soekram yang pulang dari masa mengajarnya di daerah dan kembali ke tanah Jawa bersama isterinya, semenjak di daerah, Soekram berselingkuh dengan Ida, perasaan Soekram sangat kompleks antara lari ke Ida atau isterinya di rumah. Semasa di Tanah Jawa, Soekram mengajar di universitas (menurut saya ini kampus Trisakti) dan bertemu dengan mahasiswanya yang mengagumi Soekram karena juangnya untuk Indonesia, Rosa, yang entah kenapa dari sekedar makan siang bareng di kampus menjadi bobo bareng di hotel. Berlatar kejadian tragedi 98, Soekram dihadapkan untuk memilih antara mahasiswanya atau para dosen, cerita di akhiri dengan bentrok mahasiswa dan aparat.

Bagian kedua, jujur saya bingung, tiba-tiba cerita lompat begitu saja ke masa kecil Soekram dan keluarganya. Kenapa Soekram menjadi ikut-ikutan politik juga dijelaskan dan lebih banyak membahas agama serta politik. Dibanding keluarganya yang lain, nenek Soekramlah yang paling sering dan selalu menasehati Soekram untuk sholat.

“Kau sudah sholat, Soekram? – hal. 113

Lalu dibayangkannya sosok Maria yang dia taksir dan menurut dia, Maria juga naksir, secara tidak langsung merayunya ke gereja.

“O ya, ayahku bilang ia pernah melihatmu ikut misa di Gereja Kota Baru. Mungkin ia salah lihat” – Hal. 117

Soekram yang tidak pernah sholat dan berharap menjadi pacar Maria pun bingung, mana agamanya. Ketika bingung dengan agamanya, ayahnya yang fanatik partai banteng pun menyuruh-nyuruh Soekram untuk menjadi kader partai. Sedangkan adiknya, berandalan pemberontak yang berjuang untuk mengusir para “londoh” dari tanah Jawa akhirnya harus mendekam di penjara.

Petani itu tersungkur, darah di dadanya
Matanya masih menyala juga
Tidak akan kumaafkan setan-setan ini
Tak boleh berkeliaran setan-setan ini

Soekram yang menjadi kader partai agar terlihat berguna dan tidak mau kalah dengan adiknya, selalu diingatkan sesuatu oleh teman-temannya :

“Kau boleh makan pasir, Soekram. Ini bukan padang pasir” – hal. 113

Dan sampailah pada cerita akhir yang menurutku sangat mengada-ada, Soekram pergi ke Sumatera untuk membantu perjuangan Datuk Meringgih dan jadilah cinta segitiga antara Datuk – Soekram – Siti Nurbaya. Karena bagian ini adalah kemauan Soekram dan dia yang menulis kisah ceritanya, Soekramlah pemenang dari segala-galanya.

Ujung-ujungnya penulis datang dan marah-marah, lama kelamaan pengarang kesal dengan tokoh ciptaannya, namun tak berani juga mematikan tokoh tersebut karena bagaimanapun pengarang bisa mati namun tokoh ciptaan akan terus abadi.

Overall, saya terhibur sekali dengan kisah Soekram, bahasa yang digunakan sangat menyentuh karena memang yang menulis penyair hehe. Saya juga agak sedikit takjub dengan tokohnya yang muslim walau bukan muslim yang baik, diselipkan beberapa doa dan bacaan shalawat nabi SAW. Walau sinopsisnya begitu, nyatanya kisah Soekram dikemas dengan tema yang sangat kompleks. Sukses banget buku ini bikin kesal sama tokoh dan pengarangnya. Pikiran saya pun setiap baca kisah beliau adalah : ini serius nih? Sambil ketawa-tawa. Novel karya penyair besar Indonesia ini sangat menunjukan hubungan yang rumit sekaligus paling sejati antara pengarang dan tokoh utama tulisannya. Menurut saya, teman-teman yang sangat menyukai kisah sedikit rumit dan bikin kesal namun dikemas dalam bahasa sastra yang kental, buku ini wajib sekali dibaca!

JUDUL                        : TRILOGI SOEKRAM
PENGARANG            : SAPARDI DJOKO DAMONO
PENERBIT                  : GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
JML HALAMAN        : 270 HAL



Kangen

Hasil gambar untuk Kangen Asma Nadia
Baru kali ini saya membaca cerpen itu seperti apa, pertama kali saya membaca cerpen karya Asma Nadia dan Birulaut tentang pernikahan. Membayangkan pernikahan rasarasanya indah, romantic, ingin selalu lengket dan situasi-situasi yang membuat hati ‘terutama’ seorang isteri berbunga-bunga. Itulah imagine saya tentang pernikahan sebelum mengalami pernikahan itu sendiri. Dan setelah saya terjun dalam the real my wedding saya tahu bahwa apa yang sebelumnya pernah saya bayangkan tidak melulu manis. Tidak dipungkiri memang bahwa dalam sebuah pernikahan banyak hal-hal baru. Perkara manis itu menurut saya ya seperti romantisme pacaran begitu.

Ada pepatah mengatakan bahwa pernikahan adalah jalan pembuka rejeki. Dan lagi-lagi menurut pandangan saya pribadi pepatah itu ada benarnya. Karena yang saya rasa selalu saja ada rejeki disaat saya dan pasangan sedang membutuhkannya. Terutama berupa materi. Padahal dari segi agama bahwa yang dimaksud dengan rejeki itu luas maksdunya. Ya salahsatunya materi.

Asma Nadia dan Birulaut mengungkap banyak hal dalam buku tersebut. Istilah kata untuk mengetahui keindahan laut maka kau harus menyelaminya. Pun jua dengan pernikahan, jika ingin mengetahui seberapa besar hubungan dari sebuah pernikahan maka kau harus menyelaminya. Semakin dalam maka kau akan mengetahui panorama keindahan dari sebuah pernikahan. Memang dalam proses menyelam tersebut kau harus sudah siap basah, namun yang kau dapat akan jauh lebih nikmat. Kata orang beda pendapat, berselisih paham merupakan bumbu-bumbu pernikahan. Hanya saja hal itu tidak akan jadi boomerang kalau keduanya dapat berdamai kembali. Bahkan bumbu tersebut kan jadi lem perekat dari pernikahan. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Seperti halnya kapal, seberapa besar dan seberapa kuat serta canggihnya sebuah kapal laut kalau tidak stabil dalam menyetirnya maka akan karam jua.

Begitu pula dengan pernikahan, jika kedua sejoli bersikukuh dengan ego masing-masing yang berarti mengesampingkan kelangsungan hidup bersama maka akan tenggelam dalam sebuah perpisahan. Bagaimana Asma dan Birulaut memaparkan sebuah perjalanan dari belum menikah, mau menikah dan sudah menikah itu begitu mengharu biru. Karena melalui perjalanan itu manusia akan belajar sabar, tabah, mengalah, menyadari, menyayangi, komit, trust, komunikasi, legowo dan tentunya pasrah kepada Sang Pemilik hati.

Pernikahan bukan akhir, pernikahan adalah awal yang menuntun manusia ke arah pendewasaan. Yang dari bumbu-bumbu itu akan menghasilkan cita rasa yang nikmat yakni kangen.

Judul                             : Kangen
Penulis                          : Asma Nadia dan Birulaut
Penerbit, th. Terbit         : Lingkar Pena Publishing House, cet-1 2007
Hal                               : 185 hal.
ISBN                            : 979-1367-04-3
Resume                        : Isaimamiqi


Cinta di dalam Gelas

Hasil gambar untuk Cinta di dalam Gelas Andrea Hirata

Sacrifice, honestly, freedom. Tiga kata ini bagaikan peluru yang langsung membidik jiwa karena amunisinya berisi keyakinan, kejujuran dan kebebasan hingga membuat ia kuat, percaya diri dan teguh. Dialah Maryamah, di usia 14 tahun ia memutuskan menjadi tulang punggung keluarga. Keputusan tersebut ia ambil semenjak ayahnya Zamzami meninggal. Baginya sekolah adik-adiknya lebih penting untuk diperjuangkan, jangan sampai berhenti sekolah seperti dia. Biarlah ia yang putus sekolah. Namun citacitanya tetap lestari bak pohon yang berbunga, kemudian berbuah. Citacita membahagiakan keluarga, dan citacitanya untuk pintar berbahasa asing.

Kantor pos awal mula pertemuan mereka. Maryamah dan Ikal. Pertemuan yang membuat mereka tahu satu sama lain. Tentang sacrifice, honestly, dan freedom. Perjumpaan yang menuai citra, citra akan harga diri, citra akan kemenangan, dan citra akan persaudaraan. Tak heran hal-hal itulah yang menjembatani Maryamah menjadi Maryamah Karvop. Menjadi perempuan pertama yang mengilhami perempuan-perempuan lainnya untuk berdiri di depan bersama kawan lainnya yang disebut laki-laki.

Kalo menurut Ikal Maryamah itu semacam bakat yang terlambat diketahui. Jadi turnamen itu semacam late debut bagi Maryamah. (h. 179). Memang turnamen apa? Jawabannya ada di Cinta di dlm Gelas, Andrea Hirata.

Mateng, mateng banget Andrea mengilhami pembaca. Itu menurut saya sebagai perempuan hehe yang merasa bahwa Maryamah telah mewakili inspirasi itu bagi saya. Di saat awal terjun ke dunia mendulang timah kepercayaan dirinya terkuak dari tiga kata ajaib itu. Sekaligus sebagai kunci keyakinannya. Hutan ia jamahi demi mendapatkan timah. Rasa takut ia kantongi dulu demi keluarga. Bak mengundi nasib ia mencangkulcangkul tanah berlumpur, entah berapa dalam telah ia korek itu tanah lumpur namun si timah rupanya masih mengintipngintip, rupanya mau main kucingkucingan tu timah. Akhirnya dapat nggak yah tu timah sama Maryamah?

Come on, mengalah, putus asa, menyerah bukan tipe Maryamah sekali itu (pake logat Belitong). Hidup telah memuntahkan berjutajuta perih pada dirinya. Mulai dari kematian ayahnya, disusul sekolahnya yang out, belum lagi menjadi tulang punggung keluarga dengan berbagai resiko yang memedihkan sekaligus membuat ia menjadi kian tak gentar. Bahkan pernikahannya pun berujung tragis. Dan pada akhirnya, atau puncaknya ibunya meninggal dunia. Jika memang ia menyerah mungkin nama Karvop belum tentu ia akan sandang. Ikal, Giok Nio, Detektif M. Nur, Selamot, si preman cebol dan Ninocka Stronovsky, tak ketinggal paman Ikal adalah orangorang yang telah dibuatnya bangga. Yang membawa mereka pada tingkat angkasa yang paling tinggi. Itulah sang maestro baru Maryamah Karvop.

Judul                            : Cinta di dalam Gelas
Penulis                         : Andrea Hirata
Penerbit, th. Terbit       : Bentang, Juni 2010
Hal                               : 270 hal.
Resume                        : Isaimamiqi
ISBN                            : 978-602-8811-09-5



Padang Bulan

Hasil gambar untuk Padang Bulan Andrea Hirata

Cinta, kata yang membuat manusia jadi mabuk kepayang, bahkan sampai tak mengenali sosok diri. Ikal adalah contoh pujangga yang dimabuk kepayang oleh cinta. Lain hal dengan detektif M. Nur, dan Enong. Mereka pun sama mengenal dan mengetahui cinta, tapi sepertinya tak sampai mabuk kepayang seperti Ikal atau mungkin mereka mengenal dan mengetahui cinta dalam bentuk lain? Entahlah, hanya padang bulan yang bias menjabarkannya.

Demi cinta. Ketika mengenal dua kata tersebut seolah itu menjadi suatu hal yang urgent bak ombak yang menggulung pasir pantai sehingga manusia yang berada di sekitarnya harus lari ketar ketir tuk menghindari ombak yang terlihat ingin menerkam yang ada di pandangannya. Urgent, itulah dia. Mereka tidak memikirkan apapun kecuali menyelamatkan dirinya sendiri. Begitupun Ikal, demi cinta ia rela terasing dari rumahnya, demi cinta ia rela. Sebenarnya sih bukan rela tapi terpaksa untuk memilih salah satu diantara dua pilihan. Dan ia memilih cintanya kepada A Ling. Sillaturahmi sempat terputus dengan sang ayah oleh karena demi cinta. Ibu Ikal dibuat kesal teramat pedas oleh karena sikap Ikal yang mengabaikan masa depan yakni bekerja hanya karena demi cinta. Dan banyak kali yang dikorbankan Ikal teruntuk demi cinta.

Cinta yang telah terpupuk sedari tunas kepada A Ling membuat ia merasa cinta itu semakin kuat. Bahkan bisa dibilang menggila karenanya. Cinta cinta kau itu sejenis apa sih? Hingga membuat Ikal begitu jor joran untuk memerjuangkanmu?. Bila gunung-gunung adalah kesatria bumi, betapa indah sang ala mini yang terlukis sebab adanya dia, gunung. Dan bila gunung-gunung di bumi disatukan maka dapatkah mengurai tentang arti cinta? Ternyata …… tidak jika tanpa mu, ya tanpamu A Ling. Itu ungkapan Ikal pada halaman berapa ya? Lupa.

Salah kaprah. Gegara cinta semua jadi salah kaprah. Teman Ikal M. Nur dan apalagi Enong berpikir bahwa Ikal sudah melakukan hal di luar nalar. Ya di luar nalar. Waduh, jadi salah kaprah dong? Ikal benar benar bingung mau mengungkapkan hal sebenarnya malu tapi jika tidak diungkapkan tentang yang sebenarnya terjadi jadinya ya salah kaprah. Ikal tujuannya ke sana. Temannya mengira tujuannya ke sono. Kan berbanting arah jadinya. Ah, biar semua terbongkar aku pasti jadi bahan olokolokan semua, teman warga dan mungkin juga A Ling. Dan semua itu gegara mimpi empat sentimeter.

Judul                            : Padang Bulan
Penulis                         : Andrea Hirata
Penerbit, th. Terbit       : Bentang, cetam, 2010
Hal                               : 254 hal.
ISBN                            : 978-602-8811-09-5
Resume                        : Isaimamiqi



The life-changing magic of tidying up

Hasil gambar untuk The life-changing magic of tidying up

Marie kondo dalam buku ini menerangkan bahwa perubahan dalam kehidupan bisa terjadi dan bermula dari hal kecil seperti merapihkan rumah umumnya dan kamar khususnya.

Masalah yang kadang terjadi seperti kenapa kita tidak bisa menjaga kerapihan rumah? Mengapa susah mencari barang yang kita butuhkan sedangkan gampang ditemukan ketika tidak dibutuhkan? Mengapa lemari baju ku selalu berantakan ketika mengambil pakaian secara vertikal. (Khususnya laki-laki seperti saya.. Hehe)? Dan masalah lainnya.

Dalam buku ini akan kita temukan Seni beres-beres dan merapikan ala jepang.

Antara lain adalah :

Pertama, menentukan barang-barang mana saja di rumah yang membangkitkan kegembiraan dan membuang barang-barang yang tidak kita perlukan. Tetapi sebelum melakukan hal itu, dalam buku ini memberi kita sugesti bahwa kita harus memeluk barang tersebut dan mengucapkan terima kasih lalu kita buang atau bisa kita berikan ke orang lain yang lebih membutuhkan.

Kedua, memulai kebiasaan berbenah yang efektif dan efisien. Contohnya menyimpan barang berdasarkan kategori bukan lokasi, menyusun baju atau pakaian secara horizontal bukan vertikal. Secara vertikal ditambah dengan mengurutkannya dengan dari warna yang cerah ke warna yang gelap.

Ketiga, buku ini menjelaskan bahwa dari rumah atau kamar yang rapi dapat memberikan efek bagi manusia di dalam nya seperti berfikir secara damai,membuat orang lebih percaya diri, dapat meningkatkan kualitas kerja dan keharmonisan dalam keluarga. Mungkin bagi sebagian orang ini hal sepele tetapi sudah banyak orang yang menjadi klien Marie telah membuktikannya.

Marie "KonMari" mengelola bisnis terkemuka di Tokyo dengan membantu para klien dalam menyulap rumah mereka yang berantakan menjadi tempat tinggal yang damai dan menginspirasi. Karena banyak diminatinya sampai calon klien harus masuk daftar tunggu selama tiga bulan dan Marie kerap di undang ke luar negeri baik ketemu klien atau di undang di acara live di TV untuk menjelaskan bagaimana perubahan hidup kita karena melakukan beres-beres dan merapikan ala jepang.

Keunikan buku ini dibandingkan buku sejenisnya ialah buku ini banyak menuntun kita dengan memberikan contoh praktik secara langsung, tahapan-tahapan yang diberikan pun lebih sistematis bagaimana beres-beres atau merapikan dengan hasil yang bertahan cukup lama bahkan bisa dikatakan selamat tinggal untuk kata berantakan.

Judul : The life-changing magic of tidying up
Hal : 206 halaman
Pengarang : Marie Kondo
Penerbit : Bentang
By @mezankesuma


Senin, 12 Juni 2017

Overwhelmed: Work, Love, and Play When No One Has The Time


Image result for overwhelmed brigid schulte




Dengan semakin banyaknya working mother yang saya temui baik di kantor maupun dalam lingkungan pertemanan, saya merasa buku ini menarik untuk dibaca. Brigid yang merupakan seorang ibu dari 2 anak dan berprofesi sebagai jurnalis The Washington Post, surat kabar tertua dan terbesar di United States, menggambarkan bagaimana budaya kerja di Amerika (sangat berbeda dengan Eropa yang mengutamakan performance based) dimana sebagian besar perusahaan masih mementingkan pertemuan muka.

Bahwa bekerja sampai larut malam adalah ideal dan mengambil cuti membuat orang mendelikkan mata. Sempat disebutkan bahwa terdapat perusahaan yang hanya memberi cuti setelah melahirkan selama satu minggu. (what?) Dalam kasus lainnya terdapat perusahaan yang memberi kesempatan bagi sang suami untuk ikut mengambil cuti dalam waktu cukup lama, namun saat kesempatan itu diambil, hal tersebut kemudian dapat menghambat karirnya. (Ngasih kelonggaran tapi nggak ikhlas?)

Bahkan saat menelusuri Sillicon Valley (tempat berkembangnya perusahaan start up seperti Google yang banyak dipenuhi anak muda dan punya jam dan cara kerja luar biasa fleksibel), ia menemukan bahwa, “The young, testosterone-fueled geek culture has revved up the ideal worker standard to a superhuman level”. Budaya para pemuda antusias-teknologi di sana telah meningkatkan standar bekerja ideal mencapai tingkat superhuman. Pada kenyataannya jam kerja fleksibel ditambah tuntutan yang tinggi membuat mereka cenderung bekerja sepanjang waktu. Budaya itulah yang menciptakan riuh tepuk tangan saat Marisa Meyyer dilatik menjadi CEO dan presiden Yahoo menyatakan ia tidak akan mengambil cuti paska melahirkan.

Seperti halnya working mother lainnya, Brigid berusaha yang terbaik untuk memenuhi tuntutan pekerjaan tanpa mengesampingkan perannya sebagai seorang ibu. Ia memanggang kue untuk acara anaknya sampai dengan jam 2 dini hari, menyelesaikan tulisan untuk surat kabar jam 4 pagi, ataupun melakukan wawancara dengan narasumber di dokter gigi anak, di kamar mandi saat ada acara sekolah, maupun di rumput, dengan segera menekan tombol ‘mute’ supaya keriuhan di lapangan bola tempat anaknya berlatih tidak terdengar oleh narasumber yang diwawancara. (padahal kebayang kan kalo Washington Post narasumbernya sekelas apa haha).

Alih-alih berisi cara-cara menyeimbangkan waktu antara keluarga, bekerja, dan menyisakan waktu untuk diri sendiri, buku ini terasa seperti karya ilmiah hasil penelitian Brigid terhadap ketiga hal tersebut dan tentang manajemen waktu. Untuk orang yang memiliki permasalahan dengan life-balance dan membeli buku ini dengan harapan menemukan jawaban atas permasalahan tersebut mungkin akan kecewa saat mendapati sebagian besar buku ini membahas hal-hal seperti jebakan ideal worker dan kenapa ia dapat terbentuk, mengapa pemerintah Amerika tidak membuat kebijakan untuk fasilitas daycare bagi para ibu yang bekerja, bagaimana pengaruh overwhelmed terhadap otak kita, ataupun banyaknya penelitian yang diangkat dalam buku terkait hal-hal tersebut. Berhubung saya memilih buku ini karena ingin memahami lebih dalam permasalahan hal tersebut, rasanya saya mendapatkan lebih dari yang saya harapkan. Apalagi penelitian yang dilakukan Brigid untuk menghasilkan buku ini sangat luas, bisa dilihat dari deretan nama narasumber di bagian acknowledgement atau deretan sumber data sepanjang 46 halaman di bagian belakang buku. Ia juga sempat mengikuti konferensi IATUR (International Association for Time Use Research) di Paris. (ternyata ada)

Terakhir, salah satu hal yang menarik adalah saat Robert M. Gates mewawancarai Michele Flournoy untuk menduduki posisi nomor tiga di Pentagon (dan menjadi wanita pertama di posisi itu). Flournoy adalah lulusan Harvard dan Oxford, seorang workaholic saat ia belum memiliki anak, dan sangat mengenal iklim kerja di Pentagon dimana dedikasi terhadap pekerjaan dijunjung begitu tinggi. Tidak bisa bertemu dengan keluarga? Memang sulit, namun semua orang mengalami hal yang sama. Merasa mati-matian? Rasa sakit, menurut para marinir, adalah kelemahan yang meninggalkan badan. Telan saja. Tapi dalam wawancaranya Flournoy menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia mengatakan, “Saya adalah ibu dari 3 orang anak usia sekolah. Saya akan bekerja keras dan memberikan yang terbaik. Tapi saya butuh fleksibilitas. Dan pada kebanyakan hari, saya harus berada di rumah sebelum anak-anak saya tidur.” Posisi yang ditawarkan kepada Flournoy dianggap “otak” dari Pentagon, ia bertanggung jawab terhadap kebijakan strategis Pentagon, dan sebagai gantinya Flournoy menuntut untuk berada di rumah tepat waktu sehingga bisa membacakan dongeng sebelum tidur untuk anak-anaknya. Dan Gates memenuhinya.



Overwhelmed: Work, Love, and Play When No One Has The Time
Penulis: Brigid Schulte
Penerbit: Sarsh Crichton Books
Jumlah Halaman: 286
Peresume: Fira