Senin, 31 Oktober 2016

Negeri di Ujung Tanduk

Ini hebat! terlalu hebat malah. Apakah tidak ada produser yang mau memfilmkan buku ini? Buku ini terlalu keren. Bahkan saya sendiri sangat membayangkan bagaimana situasi tegang dalam buku ini.

Buku dengan tebal 359 halaman ini begitu ringan untuk dibaca, setiap babnya selalu menarik untuk disimak, bahasa yang dipakai cukup bisa dimengerti dan dipahami. Sekuel kedua sekaligus terakhir dari buku negeri para bedebah ini masih bercerita tentang Thomas, seorang konsultan politik yang dalam kerjanya selalu ditembaki, disandera, bertinju hingga perang dan sebagainya.

Di sekuel ini Thomas mendapat klien politik kandidat calon presiden paling kuat dan diperhitungkan. Karena kliennya begitu jujur, memiliki integritas teruji, dan sudah menguasai dua pertiga peserta konvensi.

Dimulai dari Thomas berlibur ke Hongkong dan memenagkan perlombaan tinju di Makau. Opahnya datang untuk memberikan hadiah kapal pesiar kepadanya. Saat sedang asyik berlayar tiba-tiba kliennya menelpon agar dirinya kembali ke Jakarta. Karena ada pihak yang menyusun serangan balik mematikan. Dan Thomas menjadi sasaran tembak nomor 1. Konspirasi besar telah dimulai.

Baru saja Thomas mematikan  handphone. Tiba-tiba kapalnya diperiksa oleh pasukan dari satuan khusus  anti terror ototritas Hongkong SAR. Dan di kapal baru itu ditemukan bubuk heroin, senjata laras panjang, granat dll. Mereka terkejut, Thomas dan opah tidak bisa berbuat apa-apa mereka ditangkap. Konspirasi ini bermain kotor. Akan tetapi Thomas mendapat bantuan dari lawan tinjunya Lee. Lee membantu Thomas dan opah kabur dari tempat SAR tersebut. Anehnya, Lee dan opah seperti pernah bertemu. Lee membantu mereka kembali ke Jakarta.

Selama perjalanan Thomas mencari strategi atas permasalahannya, karena bagaimana pun juga, mulai saat ini klien, keluarga, serta dirinya dalam bahaya besar. Yang entah pihak mana dan konspirasi apa sampai melibatkan anggota SAR Hongkong untuk menjebaknya.

Tidak ada demokrasi untuk orang bodoh. Itu adalah jawaban Thomas saat diwawancarai. Mungkin maksudnya adalah demokrasi bukan untuk anak awam. Orang awam tidak tahu dan idak mengerti pimpinan yang mereka pilih seperti apa dalamnya. Mereka hanya melihat dari luar dan sampai mana tingkat pendidikan pemimpin tersebut. Karena pada buktinya kita masih mempunyai pemimpin yang diam-diam korupsi, bermain perempuan dll. Di sini moralitas demokrasi dipertaruhkan.

Dari Makau Thimas kembali ke Jakarta. Di Jakarta rintangan baru dimulai. Dari kliennya yang tiba-tiba dituduh dan ditangkap, sampai Thomas sendiri diculik dan dipenjara. Tetapi Thomas selalu mendapat bantuan. Dan ia menemukan mafia hokum yang melakukan ini semua, mafia yang dimasa lalu telah membunuh kedua orangtuanya. Dan merenggut kehidupan omnya. Akhirnya Tjomas kembali ke Hongkong menyerahkan diri, karena omnya disandera. Apakah selanjutnya Thomas akan mendapat bantuan lagi? Jawabannya adalah ia.

Bukan bang Tere jika tidak memberikan pesan moral  di semua novelnya yang seru. Yah, ciri khas bang Tere selalu menyelipkan pesan moral mendalam di setiap novelnya.
Di negeri ujung tanduk ini, kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak. Tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi, jika kita memilih untuk tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing.nasib negeri ini persis seperti keranjang telur di ujung tanduk. Hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk (116)

Penulis mengajak kita untuk peduli terhadap negeri kita, manusia, bahkan sekecil apapun masalahnya kita harus peduli. Bukan kebetulan Thomas selalu mendapat bantuan di saat-saat gentingnya. Seperti di makau. Di anataranya karena opahnya dulu pernah menyelamatkan nyawa teman di atas kapal yang terapung dengan membagi sebagian jatah makanannya. Temannya sangat berterima kasih dan selalu menceritakannya kepada cucu-cucunya, yang mana cucunya adalah Lee orang yang tidak akan membiarkan Thomasdan keluarganya celaka dari mulai daratan laut cina sampai Makau. Hidupnya tertolong karena kepedulian kakaeknya dahulu.

So, jadilah anak muda yang peduli, memilih jalan suci, karena kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan  berarti pada masa depan. Meski kecil tapi besar dampaknya  pada masa mendatang , buku ini recommended banget.

Judul                : negeri di ujung tanduk
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia
Tebal               : 359 halaman
Cetakan           : kelima
Peresume         : Nur Arfah

The alchemist (sang al kemis)

Awalnya buku ini menarik perhatian saya karena cover-nya yaitu domba-domba serta gurun pasir. Setelah saya baca isinya, buku ini membuat saya terpukau. Novel terjemah dengan tebal 213 halaman ini digarap dengan apik oleh penerbit. Bahasnya mudah dicerna, alur ceritanya begitu sederhana namun dikemas dengan bahasa yang indah serta inspiratif.
                                                   
Yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan

Anak laki-laki itu bernama Santiago, seorang anak gembala. Yang mengikuti suara hatinya dan berkelana. Bermula dari ia terus -menerus mendapati mimpi yang sama, mimpi di mana ia bertemu dengan seorang anak kecil yang menunjukkan sebuah bangunan batu bertumpuk (Piramida). Karena mimpi inilah Santiago sampai rela mencari seorang peramal mimpidan berakhir menjual semua dombanya  kepada orang tua yang mengaku sebagai raja Salem.

Anak gembala itu tidak menyesal mejual semua dombanya kepada orang tua itu, orang tua itu menunjukkannya jalan ke Mesir. Tempat di mana Piramida-Piramida itu berada serta harta karunnya. Bisa dikatakan orang tua itu adalah perwujudan Tuhan untuk memotivasi anak gembala itu mengejar mimpinya. Maka perjalanan mengejar mimpi di mulai.

Berkelana dari tanah Andalusia, melewati Tarifa, Tangier, hingga Afrika. Dan Afrika inilah Santiago mendapat ujian. Bayangkan seorang diri di tempat yang asing, tanpa teman atau kerabat yang dikenal. Beruntung anak gembala itu sifatnya sangat terbuka dan baik. Tapi saking baiknya sampai ia ditipu orang jahat yang mengiginkan uangnya. Uangnya habis dicuri. Tinggal tersisa buku dan jaket di dalam kantong yang ia bawa. Ia kesal, sekaligus marah. Kenapa orang tua itu tidak memberitahukannya perihal pencuri? Santiago berakhir di toko penjual Kristal yang mau menampungnya untuk bekerja. Ia terdiam ketika tau bahwa Mesir masih begitu jauh dengan bentangan pasir yang luasnya ribuan kilometer. Tak ada harapan. Seketika dunia ikut terdiam, putus asa di tengah perjalanan membuatnya berharap mati saat itu juga.

Terkadang, manusia dibiarkan mencicipi kegagalan untuk menambah kesabaran, kegigihan, dan pembelajaran. Dan terkadang, manusia dibiarkan mencicipi kesuksesan untuk menambah semangat.

Sudah hampir sebulan anak gembala itu bekerja di toko kristal. Hidupnya kembali mapan bekerja pada pedagang tersebut. Uangnya kini kembali banyak bahkan dua kali lipat, karena kedatangan Santiago membawa suasana baru bagi toko Kristal itu, yang dahulu sepi kini ramai dikunjungi. Santiago mendapat komisi yang banyak. Tapi tiba-tiba anak gembala itu menemukan benda pemberian  orang tua itu dan teringat perkataannya.
“ Jangan pernah berhenti bermimpi, ikutilah pertanda-pertanda Tuhan.” Dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali mengejar harta karun dengan menumpang pada caravan yang menuju Mesir.
Sebelumnya, saya mencari-cari dan menerka-nerka bahwa Sang Al-Kemis itu adalah Santiago ternyata bukan. Di bagian ke dua baru dijelaskan siapa itu al-kemis. Mungkin di kehidupan nyata Al-Kemis itu bisa dikatakan orang yang sukses mengejar mimpinya hingga berhasil atau orang pilihan.

Kisah petualangan di novel ini membuat saya penasaran untuk membacanya hingga akhir. Perjalanannya ke mesir juga begitu seru, dimulai dari peperangan, dan bertemu dengan Al-kemis yang menkjubkan juga sangat membuat saya sangat terpukau. Sang Al-kemis itu mengajarkannya tentang jiwa, dunia, cinta, kesabaran dan kegigihan. Di perjalanannya melewati mesir ini pun anak gembala itu menemukan cinta sejatinya, Fatima gadis gurun yang setia menunggunya.

Perkataan sang al-kemis pada anak itu yang begitu bagus menurutku adalah :
“Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?” Tanya si anak gembala ketika mereka mendirikan tenda di tengah gurun.
“Sebab di mana hatimu berada, disitulah hartamu berada.”
“Kalau kamu mengiginkan sesuatu, seisi jagat raya akan bekerja sama membantumu memperolehnya.”

Inti dari novel ini begitu sederhana yaitu “Jangan pernah menyerah untuk mengejar mimpimu.” Cerita petualangan ini begitu hebat.

Terkadang, kita juga dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup untuk mengejar mimpi kita, tapi jangan pernah lupa pada pertanda atau petunjuk yang diberikan Allah kepada kita. Seperti pada cerita ini, ketika ia ingin mencari mimpinya ia dihadapkan pada peramal, pencuri, sampai di toko Kristal. Tapi mungkin itu adalah petunjuk dari Allah untuk terus mengejar mimpinya. Contohnya seperti saya. Ketika SMP dan SMA dahulu saya sering menulis. Tapi selalu ditolak oleh penerbit. Ketika kuliah saya dipertemukan oleh Allah dengan FLP di sini saya belajar banyak kesalahan pada tulisan saya. Dan ketika saya mulai bosan untuk menulis mungkin karena saya jarang membaca. Saya dipertemukan dengan group IM ini yang membuat saya merasa harus dan wajib untuk membaca buku.

So, jika kita mempunyai mimpi dan tak tahu bagaimana mewujudkannya. Jangan dibuang dan jangan menyerah. Cukup kamu taruh mimpi itu di laci hati dan pikiranmu. Ketika ada kesempatan muncul bukalah mimpi itu untuk menghirup nya sebagai penyemangat.


Judul                : The Alchemist (Sang Alkemis)
Penulis             : Paulo Coelho
Penerbit           : Gramedia
Tebal               : 213 halaman
Tahun terbit     : Cetakan keenam April,2008.

Sang Pengacara

Mengambil setting di Inggris pada awal abad kesembilan belas, novel yang pada awalnya saya kira sejenis novel detektif ini ternyata adalah novel roman alias percintaan haha tapi berhubung udah baca yowislah dilanjutin karena lama-lama seru juga. Adalah Jack Harding, pengacara yang sedang populer di Inggris Raya karena kemampuannya dalam berargumen dan memenangkan sebagian besar kasus yang ditanganinya, parasnya yang tampan menambah panjang daftar alasan wanita baik dari kalangan biasa sampai dengan wanita kaya raya dari kalangan bangsawan. Bagi Jack, karir adalah segalanya dan pernikahan tidak pernah ada dalam kamus hidupnya, ia juga mempunyai prinsip untuk tidak menerima klien wanita untuk memisahkan urusan perempuan dan karirnya, bahasa kerennya “jaga hati”.

 Lebih lanjut, selain Jack Harding, tokoh utama dalam buku ini adalah Evelyn Darlington, anak dari seorang Earl Lord Lyndale Darlington yang merupakan dosen hukum di Oxford University. Earl merupakan salah satu gelar kebangsawanan di Inggris, dan dibuku ini dimunculkan gelar-gelar lain untuk tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Buku ini mengisahkan Evelyn yang sedari kecil mengagumi Jack sejak ia masih menjadi mahasiswa ayahnya. Hingga suatu saat Evelyn meminta Jack untuk menjadi pengacara pacarnya yang menjadi buronan karena pernah terlihat sedang berada dalam apartemen seorang artis yang juga merupakan sepupunya, Bess, yang dibunuh secara tragis dikamarnya. Evelyn yakin bahwa pacarnya bukanlah seorang pembunuh. Jack jelas menolak permintaan Evelyn karena ini bertentangan dengan prinsip hidupnya (Red. Klien wanita) namun karena hutang budinya pada Lyndale Darlington, dosen terbaik yang sangat berperan dalam karirnya yang sukses sebagai pengacara, terpaksa ia menyanggupi untuk menjadi pengacaranya.

Belakangan Jack tahu bahwa Lyndale sebenarnya tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Randolph, yang juga mahasiswa risetnya saat ini. Karena tidak ingin diketahui ayahnya, Evelyn sering menemui Jack dengan sembunyi-sembunyi untuk membahas perkembangan kasus pacarnya. Padahal dalam pergaulan kebangsawanan, seorang wanita harus selalu ditemani pendamping alias mahrom kemanapun ia pergi, apalagi jika perginya bertemu dengan lawan jenis. Mahrom disini maksudnya pendamping wanita atau keluarga aja seh hehe.

Semakin bertambahnya intensitas pertemuan Jack dan Evelyn dalam mempelajari kasus Randolph, semakin timbul benih-benih cinta keduanya, dan setiap kali Evelyn mengingat Randolph, ia jadi merasa bersalah.

Dalam perkembangan penyelidikannya, terungkap bahwa Bess mempunyai banyak pacar yang dari kalangan bangsawan yang bisa jadi salah seorang diantaranya adalah pembunuhnya. Dalam buku harian Bess, sedikitnya terungkap 3 nama bangsawan yang berhubungan dengannya ditambah seorang lagi yang merupakan salah satu mahasiswa Oxford. Namun apa sebenarnya yang menjadi motif pembunuhan Bess? apakah berkaitan dengan harta atau justru cinta segibanyak (karena pacar ada 4)? Siapa pula mahasiswa Oxford yang jadi pacar rahasia Bess? Apakah ini semua ada hubungannya dengan Randolph dan dosennya, yang merupakan ayah Evelyn? Trus gimana juga kelanjutan hubungan Evelyn, pilih Jack apa Randolph? Apakah akhirnya Jack goyah dengan prinsip hidupnya tentang karir dan pernikahan? Terlalu panjang buat dijawab semua dan diceritain hehe, mending beli bukunya deh biar gak penasaran. Kalo kemaren sih saya beli 5 ribuan aja di gudang Gramedia Jogja xixi.

Oiya, kisah yang paling menarik bagi saya di buku ini adalah saat Evelyn ketahuan sama bapaknya pulang diantar Jack hampir tengah malam. Saat itu mereka baru pulang dari menemui Randolph di tempat persembunyiannya. Lyndale marah besar dan mengajak Jack untuk bicara berdua, eh ternyata bukannya mau ngamukin Jack, sebaliknya Lyndale malah meminta Jack untuk menikahi anaknya, karena bagi kehidupan bangsawan, seorang wanita yang keluar dengan laki2 tanpa didampingi mahromnya sama saja dengan menjatuhkan harga dirinya dan membuat malu gelar bangsawannya.– Ini sesuai ajaran Islam ajarkan tentang melarang berkhalwat atau berdua duaan ya?

Selain membahas kisah cinta segitiga Evelyn, penulis yang juga seorang pengacara sungguhan banyak menceritakan kehidupan seorang pengacara dan istilah-istilah hukum yang banyak muncul di abad kesembilan belas. Selain itu, ia juga menceritakan tentang kehidupan dan pergaulan bangsawan Inggris yang menarik dan sering masuk dalam kisah-kisah princess dan barbie yang sering muncul di TV haha. Sekian resume dari saya, maaf utangnya kelamaan daaaan Happy Friday, jangan lupa Al-Kahfi nyaa.


Judul buku           : SANG PENGACARA
Nama Penulis       : Tina Gabrielle
Penerbit                : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit        : 2012
Jenis buku            : Novel Terjemahan
Jumlah Halaman   : 464 halaman

- Mustika Rizky Amalia -

Menjadi Guru Untuk Siapa?








Buku yang ditulis oleh ST Kartono, guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta ini mengingatkan bahwa menjadi guru pertama-tama adalah untuk murid, melayani keingintahuan siswa, dan membangun antusiasme belajar. buku ini merupakan kumpulan tulisan opini antara Juni 2008 hinga Maret 2011.
Buku ini terdiri dari 3 Bab. Bab 1 tentang Membangun Impian sebagai Guru. Bab 2 Menghidupi nilai, mengasah Keterampilan mendidik. Bab 3 tentang Perjumpaan dengan Murid.
Pada setiap bab terdapat opini tentang bagaimana profesi guru seharusnya dijalankan dan pengalaman pribadi penulis ketika menjalankan profesinya sebagai guru.
Kebanggaan Menjadi Guru
Kebanggaan menjadi guru hendaknya ditanamkan betul dalam diri pendidik. Sekarang ini profesi guru banyak diminati oleh orang-orang muda. Para calon mahasiswa memilih jurusan keguruan dengan semangat berdasarkan pilihan mereka sendiri. Kebaikan demi kebaikan sekolah pasti akan muncul dari para guru yang optimistik.
Tugas guru semakin komplesks dan berkembang. Banyak pekerjaan administrasi yang cukup menyita perhatian guru. Tanpa disadari guru sering menjadi guru untuk aparat pemerintah, menjadi guru untuk dinas pendidikan, menjadi guru untuk aturan-aturan, menjadi guru untuk kepentingan dagang di sekolah, atau menjadi guru untuk berjualan paham.
Itulah yang terjadi pada kondisi guru sekarang ini. Banyak melupakan tugas pokoknya mendidik siswa. Guru lebih disibukkan dengan urusan administrasi. Guru lebih tergopoh-gopoh menemui panggilan kepala sekolah atau dinas pendidikan ketimbang menemui siswa. Guru lebih takut dipecat atau dimutasi oleh pejabat pemerintah tapi tidak takut mempersiapkan tampilan keteladanan kepada siswa. Guru cenderung lebih tergopoh-gopoh mengerjakan tugas dari dinas ketimbang tugas pokoknya sebagai pengajar. Saat dipanggil pejabat atau pemerintah maka dia akan bersegera. Ketimbang memenuhi panggilan jam mengajar.
Menjalani Profesi Guru dengan Optimis
Tidak sedikit guru yang menjalankan profesinya tanpa kegembiraan. Keluhan tentang ketersediaan waktu yang minim. Sementara itu dia harus mengajarkan materi ini itu, tidak boleh ada materi yang terlewat. Materi pelajaran yang sangat banyak, tetapi waktu tidak mencukupi.
Guru hendaknya jangan hanya mengeluh saja, tetapi harus  menemukan cara penyelesaiannya. Guru bukan seorang penonton, tetapi menjadi pemain. Menjadi sutradara yang mencipta cerita. Menjadi pemain yang menentukan baik-buruknya permainan. Gonta ganti kurikulum tidak perlu direpotkan. Pahami semangat dasar pergantian kurikulum itu, singkirkan materi aksesoris. Rujukkan materi pada buku-buku utama. ST Kartono telah membuktikannya dengan menjadi guru selama 17 tahun tidak sekalipun memakai buku pelajaran atau paket dari siapa pun dan dari penerbit manapun.
Cara berpikir yang optimistik akan menempatkan kesulitan sebagai sebuah tantangan. Jam pelajaran yang terbatas, kurikulum dan buku yang selalu berganti, serta cekaknya finansial justru menjadi tantangan untuk disiasati, diatasi, dan dihadapi serta diselesaikan. Jika guru masih mengeluh tentang siswanya, mempersoalkan berbagai faktor persekolahan sebagai kendala untuk menunaikan tugas keguruannya, maka perlu dipikirkan ulang cara berpikir guru itu sendiri.
Guru harus optimis dengan pekerjaannya. Hanya guru yang mempunyai semangat sajalah yang dapat menularkan semangatnya, hanya guru yang mempunyai gambaran positif sajalah yang mampu memberikan apresiasi positif kepada siswanya.
Tantangan paling besar para guru bukanlah memahamkan pelajaran kepada siswa. Tetapi siswa yang tidak bergairah atau ogah-ogahan di kelas. Irama persekolahan yang banyak libur atau libur-masuk-libur-masuk, terasa efeknya di kelas. Disinilah pentingnya seorang guru membuat suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa.

Dimulai dari Kepala Sekolah
Mendidik, menyampaikan nilai-nilai (value) atau mengajarkan keutamaan hidup adalah tugas utama seorang guru. Ada pemandangan unik di sebuah sekolah dimana kepala sekolahnya menyambut siswa yang datang. Dengan senyuman, menyalami siswa yang melintas menuju kelas. Agar dapat menyalami para siswanya, kepala sekolah harus hadir lebih awal. Berlawanan dengan kebiasaan atasan yang selalu hadir belakangan. Dia tidak mungkin dalam waktu singkat menghafal satu per satu nama siswa, sekurang-kurangnya memberikan keyakinan kepada para siswa bahwa sekolah adalah rumah kedua yang nyaman untuk setiap orang muda belajar, tumbuh, dan berkembang. Kepala sekolah dan semua guru di sekolah menjadi orang tua yang menyejukkan setiap hati.

Pemisahan Kelas
Penelitian Carl Glickman (1991) menyimpulkan hasil bahwa tidak ada keuntungan yang diperoleh dengan menempatkan siswa ke dalam kelas berdasarkan kemampuan akademisna. Siswa yang berprestasi lebih tinggi cenderung tidak menunjukkan adanya peningkatan yang lebih baik ketika ia bersama dengan siswa-siswa yang berprestasi sama tingginya. Di sisi lain, siswa yang prestasi belajarnya kurang justru semakin menurun prestasi belajarnya ketika ia dikelompokkan dengan siswa lain yang memiliki prestasi yang setara. Ada kebosanan yang dirasakan di dalam kelas yang kurang pintar. para siswa di kelas demikian mempunyai gambaran diri buruk, tidak sehebat kelas pintar.
Mengenal Murid
Satu perangkat penting bagi sebagian guru di sekolah adalah album foto siswa tiap kelas. Ini membantu dalam mengisi raport. Tidak sedikit guru yang menempuh cara-cara kebatinan, setengah menerawang ketika menuliskan angka-angka dalam raport. Jangan-jangan, penilaian menyangkut perilaku dan afeksi siswa ditentukan berdasarkan buram-terangnya foto.
Disayangkan jika relasi guru dan siswa dikelas hanya sekedarnya tanpa saling mengenal. Murid harus mengenal gurunya, sementara guru tidak perlu mengenal muridnya.
Padahal kondisi ini bisa disiasati. Misalnya dengan seorang guru yang meminta siswanya memasang papan nama di dadanya pada bulan-bulan pertama memulai pelajaran demi memudahkan menghafal nama siswa. Menghafal nama siswa menjadi awal mengenal lebih lanjut seluruh konteks kehidupan siswa, latar belakang keluarganya, atau penunjukan akan terasa lebih menyentuh siswa dengan menyebut namanya. Bandingkan dengan cara guru menunjuk siswa dengan kata ganti ‘kamu’, ‘kau’, ‘lu’, atau ‘itu yang berbaju merah’, ‘itu yang duduk di belakang sendiri’.
Buku ini sangat aplikatif. Sering terjadi dalam keseharian seorang guru. Mungkin saja banyak guru yang mengalami kejadian seperti yang diceritakan oleh Kartono. Namun kepiawaian Kartono dalam mendokumentasikan kejadian itu yang membuatnya menjadi berarti.

Judul buku : Menjadi guru untuk Muridku
Penulis             : ST Kartono
Cetakan ke      : 5
Tahun terbit    : 2015
Tebal halaman            : 271 halaman
Peresensi         : Supadilah

The Geography of Genius

Genius pada jaman romawi diartikan sebagai dewa penguasa yang mengikuti kita kemana dengan kekuatan supranatural. Berdasarkan pengertian tersebut makan setiap orang memiliki genius, bahkan semua tempat memiliki penguasa, lokusgenius. Seiring dengan perkembangan jaman maka ukuran kejeniusan seseorang semakin beragam, IQ diatas 200 misalnya. Genius yang dibicarakan dalam buku ini adala genius kreatif, bentuk kreativitas yang tinggi, tempat lahirnya ide yang baru, mengejutkan dan bernilai.

Lalu, Geografi dan jenius, apa hubungannya?

Pepatah Afrika menyebutkan bahwa “jika perlu seluruh desa untuk membesarkan seorang anak, perlu seluruh penduduk kota untuk melahirkan jenius”. Hampir semua jenius ‘dibentuk’ di sebuah kota dan tidak semua kota menghasilkan orang jenius, selain itu sebuah kejeniusan tidak bertahan lama disuatu tempat, dia memiliki jamannya sendiri. oleh sebab itu penulis buku ini melakukan perjalanan panjang untuk memperlajari sesuatu yang bernama jenius menggunakan dimensi spasial-temporal (jarak dan waktu). Sang penulis yang merupakan pelancong filosofis mendatangi tempat-tempat bersejarah para jenius, yang semuanya adalah kota pada jamannya.
            Pencarian jenius pertama merupakan pengalaman penulis sendiri ketika kuliah di London dan berpetualang dengan kotak Galton. Sir Francis Galton merupakan sepupu Charles Darwin yang jenius dan merupakan orang pertama yang mengukur hal kita pikir tidak dapat diukur. Dia menyebutkan bahwa orang jenius itu dilahirkan, bukan dibentuk. Kenyataannya tidak ada gen jenius. Berdasarkan perhitungan psikolog, kejeniusan orang tua hanya menurun kepada anaknya hanya 10-20%. Hal ini mendukung pepatah lama Thomas Alfa Edson “kesuksesan dibentuk dari 99 keringat dan 1% otak”.

ATHENA
Yunani kuno merupakan tempat lahirnya berbagai ilmu pengetahuan, pemikiran-pemikiran luar biasa, dan penciptaan kebiasaan manusia. Secara tidak kita sadari bahwa kita adalah sebagian dari yunani kuno. Menonton film, menjadi juri, memberikan suara pada sistem demokrasi, berbicara tentang permanian sepak bola, berpidato, pajak, perjanjian tertulis, kapal layar besar bahkan menatap langit malam tanpa bersuara adalah sebagian dari budaya yunani. Hampir semua aspek dalam kehidupan kita terinspirasi dari bangsa yunani. Meminum kopi tidak termasuk, karena bagi mereka kopi adalah minuman para dewa.
            Berjalan kemanapun adalah salah satu budaya yunani kuno. Mereka adalah pejalan hebat, melakukan aktivitas berfikir dan berfilsat saat sedang melakukan perjalanan. Ini dibuktikan pada penelitian di Stanford bahwa tingkat kreatifitas secara konsisten dan signifikan lebih tinggi oleh para pejalan dibandingkan dengan orang yang sering duduk. Namun sebenarnya kota Athena kuno bukanlah kota yang nyaman, kumuh, kotor, memiliki jalan yang sempit dan tidak memiliki keteraturan. Diduga para memimpin Athena sengaja melakukannya agar membingungkan para penyerbu dan merangsang pemikiran kreatif.
            Hasrat berkomeptisi adalah faktor lain pada majunya peradaban Athena. “selalu unggul dan lebih baik dari yang lain” adalah prinsip hidup. Hal ini didukung dengan loyalitas warga Athena terhadap pemerintah negara. Mereka menganggap kewajiban warga negara sebagai kesenangan warga negara. Idiotes merupakan istilah untuk warga negara yang tidak berpartisipasi dalam masalah publik. “orang yang tidak berminat pada masalah negara bukanlah orang yang memikirkan urusannya sendiri, melainkan orang yang tidak punya kepentingan menjadi warga Athena”.
            Athena adalah kota global pertama di dunia, sehingga ahli dalam dunia pelayaran. Gagasan adalah barang yang terangkut dari hampir setiap perjalanan pulang para pedagang. Dan rahasia besar dibalik itu adalah bangsa yunani kuno sebenarnya mereka tidak menciptakan semuanya tetapi ‘meng Athena-kan” hasil budaya bangsa lain.  Alphabet dari funisia, obat-obatan dan seni pahat dari Mesir, Matematika dari Babilonia, literatur dari Sumeria, dll. Mereka sangat terbuka terhadap gagasan asing bahkan Plato pernah berkata “Bangsa Yunani menyempurnakan apa yang dipinjam dari bangsa asing”.
            Kini wajah Athena telah berubah drastis, yang tersisa hanya gaung kemashyuran masalalu. Banyak orang tua dengan senang hati menamai anak mereka Aristoteles, Plato dll. Tapi kota Athena bukan lagi negeri para pejalan kaki dan pemikir, melainkan kota tukang duduk dan pencemas, seperti ungkapan Herodotus “ kebahagiaan manusia tidak pernah bertahan lama di tempat yang sama”.

Judul                 : The Geography of Genius
Pengarang         : Eric Winer
Tahun terbit       : 2016
Penerbit             : Qanita
Part 1                :  Jenius dan Athena

Khairisa_IM 1
3 Oktober 2016

Alive (16 orang-72 hari di Neraka Salju)

Pertama kali dikenalkan buku ini oleh Mas Wahyu di Taman Bacaan Pagilang yang berada di Kayumanis (dekat rumah), dengan menggebu-gebu dia bercerita sebuah buku tentang kehidupan yang sebelumnya pernah di film-kan oleh Hollywood dan diperankan oleh karakter kawakan, Ethan Hawkey. Buku ini berjudul Alive, berkisah tentang perjuangan segelintir orang yang selamat dari insiden jatuhnya pesawat Uruguayan Air Force Flight 571. Buku ini berdasarkan kisah nyata dari sekelompok pemain rugby yang berjuang melawan dinginnya salju dan sedikitnya makanan ketika pesawat yang mereka tumpangi jatuh di Pegunungan Andes pada tanggal 12 Oktober 1972.

Kisah bermula dari sekelompok pemain rugby yang bertubuh besar-besar dan berumur 20 tahun-an ingin mengadakan kembali pertandingan di Peru. Mereka menyewa pesawat Fairchild dan berangkat dengan 45 orang. Keberangkatan mereka terpaksa berhenti di Argentina karena cuaca buruk dan berangkat kembali esok harinya, melaju ke Pegunungan Andes namun naas, pesawat tersebut hancur dan terpisah menjadi 2 bagian. 16 orang langsung meninggal, 1 kemudian menghilang karena mencoba menyelamatkan diri dan tersisa 28 orang yang selamat namun diantaranya mendapati luka yang cukup parah.

Makanan yang tersisa hanya berupa cemilan dan coklat-coklat, anggur dan beberapa bungkus rokok. Pakaian pun hanya yang mereka kenakan, karena koper-koper mereka berada di ekor pesawat dan jatuh jauh dari tempat mereka berada. Mereka yang selamat cukup optimis kalau mereka akan tertolong karena mereka melihat dan mendengar pesawat di atas mereka, namun pesawat-pesawat tersebut hanya melintas dan tak melihat mereka.

Perjuangan dimulai, dengan salju yang terus turun dan menghujani mereka, luka yang tak sembuh-sembuh, persediaan makanan habis, mereka harus berjuang bertahan sampai tim penyelamat datang. Lalu, seseorang diantara mereka, Roberto Canessa, seorang mahasiswa kedokteran tingkat 2, mengambil inisiatif untuk mencari makanan lain agar mereka bertahan dan gagasan tersebut adalah memakan daging teman mereka sendiri. Dengan bongkahan pesawat untuk dijadikan pisau, mereka memotong sedikit demi sedikit daging yang ada dan membekukan di tumpukan salju, jika matahari terlihat, mereka mengeringkan daging tersebut di atas pesawat. Awalnya, mereka pun tidak mau dan akhirnya mengalah oleh rasa lapar.

Tak mau menyerah oleh keadaan, mereka membentuk tim ekspedisi untuk mencari bantuan, tim pertama gagal, barulah tim kedua berhasil mencapai bangkai ekor pesawat dan mereka menemukan koper-koper, makanan, serta radio. Bagai menemukan harta karun, begitu pikir mereka saat itu. Namun, sayangnya bencana tak henti-hentinya datang dan longsor salju menewaskan 8 orang dari mereka yang selamat. Satu persatu dari mereka pun meninggal sampai tersisa 16 orang. Ekspedisi ketiga, mereka mengirim 3 orang untuk berjalan lebih jauh lagi, namun yang satu dikirim kembali karena bekal daging manusia yang dibawa ternyata tak cukup untuk 3 orang. Nanda dan Roberto akhirnya berhasil menemukan sapi di pinggir sungai dan ditolong oleh pengembala. Akhirnya, selama 72 hari bertahan mereka dapat makanan yang layak. Dipandu oleh Nando, kepolisian Peru berhasil menyelamatkan 14 orang lainnya. Dengan kondisi mengerikan dan kritis, mereka langsung dilarikan ke Rumah Sakit, sebagian dari mereka bercerita bahwa mereka memakan daging temannya sendiri untuk bertahan hidup. Keluarga dari para korban tentu saja ada yang menerima namun ada juga yang tetap tidak ikhlas mendengar berita tersebut.

Buku ini menurut saya banyak mengajarkan pelajaran hidup, ketika mereka berada dalam titik lemah dan berjuang untuk tidak mati, mereka tetap berdoa kepada Tuhannya dan menyebut doa tersebut sebagai doa Rosario. Tidak menyerah pada keadaan, justru mereka tetap merasa beruntung karena banyak lainnya yang lebih menderita dibanding mereka. Piers Paul Read menggambarkan kisah ini begitu baik sehingga pembaca pun ikut merasa kengerian dan kesedihan yang mereka alami. Emosi akan pro dan kontra ketika mereka memakan daging temannya sendiri pun ikut saya rasakan, sekaligus penggambarannya membuat saya ingin muntah. So, this Is a good books, pokoknya baca sendiri biar kerasa mencekamnya perjuangan mereka.

Tanggal Terbit
 :
 April 2007
Bahasa
 :
 Indonesia
Penerbit
 :
Halaman
 :
 390
Penulis
 :
 Piers Paul Read