Sabtu, 13 Desember 2014

Rindu


Judul Buku      : Rindu
Penulis             : Tere Liye
Tebal               : 544 halaman
Penerbit           : Republika

Novel yang sudah masuk cetakan ke 4 setelah 2 bulan terbit ini menceritakan tentang perjalanan rakyat pribumi dalam menjalankan haji. Tahun 1938 pada saat itu, dan perjalanan haji tersebut berlangsung selama 9 bulan dengan menggunakan kapal “Blitar Holland”.  Adalah Ahmad karaeng, yang sering dipanggil dengan Gurutta (guru kami) seorang ulama dari Makasar yang namanya terkenal hingga penjuru nusantara. Lewatnyalah keempat persoalan bisa terselesaikan.
Kisah pertama datang dari seorang guru ngaji di kapal tersebut yaitu Bonde upe. Seorang wanita keturunan china yang berusia sekitar 40 tahun. Dia seorang yg pendiam dan jarang bergaul dengan yang lain karena masa lalunya yang silam. Dalam perjalanan itu dia membawa pertanyaan yang besar “ Apakah allah akan menerimanya?”
Kisah kedua dari daeng Andipati, seorang pedagang kaya yang berpendidikan. Ia telah mengenyam pendidikan hingga belanda. Ia mempunyai keluarga yang harmonis, istri yang baik dan anak-anak yang lucu, riang, pintar. Namun dalam kesempurnaan itu ternyata ia tidaklah mendapatkan kebahagiaan yang sejati karena dendam yang mendalam kepada ayahnya.
Kisah ketiga datang dari seorang Mbah Kakung yang ditinggal mati istrinya dalam perjalanan menuju Mekkah. Haji merupakan cita – cita mereka, wujud cinta kasih mereka. Pasangan yang selalu mesra walau sudah berumur 80-an. Mereka adalah pasangan paling harmonis di kapal tersebut. Namun kematian tidak dapat ditangguhkan. Di atas samudra hindia Mbah Putri meninggal dan jasadnya ditenggelamkan disana.
Kisah keempat dari seorang pemuda pendiam, Ambo Uleng . Pemuda yang sedang patah hati, ia ingin pergi sejauh – jauhnya dari pare –pare hingga ia melamar sebagai kelasi di kapal Blitar Holland.
Kisah kelima yaitu dari seorang ulama termahsyur yang setiap perkataannya didengar oleh banyak orang. Ulama yang telah menulis 100 buku. Ulama yang memberikan nasehat dan jawaban dari keempat kisah diatas, namun dia tidak bisa menjawab pertanyaan yg ada pada dirinya. Ya, dialah gurutta Ahmad Karaeng. Karena kisahnya dulu ketika sedang menuntut ilmu di salah satu pesantren  di Aceh. Ia menyukai salah satu anak dari pemilik pesantren tersebut. Karena pemilik pesantren seorang yg melawan pemerintahan belanda pada saat itu, hingga akhirnya belanda menyerang pesantren tersebut yang menyebabkan keluarga pemilik pesantren meninggal. itu menjadi penyebab gurutta tidak pernah berani untuk memimpin perlawanan pada kolonial belanda, ia berjuang melawan belanda dengan menulis dan ceramah. Ia tidak ingin kehilangan orang –orang yang ia kasihi. 

Di atas kapal Blitar Holland semuanya mendapatkan jawabannya. Perjalanan panjang yang berarti bagi setiap penumpangnya. Perjalanan yang berharga dalam melepaskan kerinduan yang sangat kepada sang khaliq.

Peresume: Aji Mindarsih IM 1

sumber gambar: http://auliayusizulva.blogspot.com/2014/10/resensi-novel-rindu.html

0 komentar: