Rabu, 15 Februari 2017

Ayat Ayat Cinta 2

Tidak lagi di Mesir akan tetapi di Inggris, lanjutan kisah hidup Fahri berlanjut dalam Ayat-Ayat Cinta (AAC) 2. Kehidupan Fahri disajikan untuk menggambarkan perspektif internasional terhadap Islam yang ditulis dengan gaya khas Kang Abik. Luasnya wawasan Fahri terhadap perbandingan agama menjadi modal dalam membangun hubungan dengan beragam komunitas di Inggris. Fahri digambarkan sebagai sosok yang mudah bergaul, penuh kebaikan, cerdas, dan mandiri. Novel ini setidaknya mengusung semangat seorang Indonesia yang sukses di Mancanegara. Isi novel ini layak dibaca semua kalangan meskipun antusiasme saya membaca AAC 2 menjadi menurun jika dibandingkan membaca AAC 1 pada sekira tahun 2007.

Namanya juga Ayat-Ayat Cinta, tentu tidak terlepas dari kisah cinta pria dan wanita. Fahri adalah sosok idola kaum hawa dari berbagai etnis global. Istrinya yang bernama Aisha adalah keturunan Jerman dan Turki sedangkan almarhumma istrinya yang kedua, Maria, berdarah Mesir. Pada kenyataannya, jarang loh seorang pemuda Indonesia bisa mempersunting wanita Eropa dan Mesir. Kang Abik memilih menceritakan yang jarang itu. Saat Aisha menghilang di Palestina, Fahri mendapatkan perhatian dari wanita-wanita seperti Heba yang keturunan Arab, Hulya sepupu Aisha, dan Keira, remaja Skotlandia. Bukan karena kekayaan yang dimiliki Fahri tetapi ketulusan dari setiap perilaku Fahri yang membuat para wanita menaruh hati padanya. Hingga kemudian Fahri menikah untuk yang ketiga kalinya. Meskipun demikian, Fahri yang penuh kasih juga memperlakukan baik para tetangga yang berlainan agama dengannya, seperti Nenek Catarina seorang Yahudi dan keluarga Keira yang Kristiani. Cinta yang ditawarkan dalam novel ini adalah cinta yang selayaknya dipancarkan dari diri setiap muslim.

Semula saya duga, AAC 2 akan berisi kisah romantis Fahri dan Aisha. Ternyata malah sebaliknya, Aisha menjadi tokoh paling terzhalimi. Aisha hilang saat mengunjungi Palestina sementara teman wartawan yang bersamanya ditemukan tewas mengenaskan. Aisha harus rela kehilangan muka cantiknya karena suatu alasan yang membuat dirinya harus menggesek-gesekan muka di tembok. Ia kemudian lebih memilih terlunta-lunta di Inggris dengan menyamar sebagai Sabina. Suaranya juga berubah menjadi serak. Aisha tidak ingin suaminya mengetahui penderitaannya. Baginya, kesedihan cukup diadukan langsung pada Allah dan tidak ingin membuat Fahri sedih atas kondisi dirinya. Bahkan saat Aisha ditolong untuk tinggal di rumah Fahri, suaminya tidak mengenalinya sama sekali. Tak ada hati seorang istri yang tetap sabar menerima kenyataan ini selain Aisha.

Sesungguhnya, Fahri teramat tersiksa atas kepergian Aisha. Semua orang menganggap istrinya telah tewas tetapi Fahri tetap yakin bahwa Aisha masih hidup. Hari-hari Fahri bagai pohon yang disiram minyak tanah tetapi tetap berupaya menumbuhkan tunas. Beruntungnya, Fahri memiliki keimanan yang kuat sehingga ia tetap menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Ia tetap menjaga dan mengembangkan kekayaan istrinya dengan membuka cabang minimarket dan butik di seantero Inggris Raya. Semata dijadikan untuk amal jariyah kepada istrinya.

Kenyataan bahwa Sabina adalah Aisha baru dibuka di akhir novel. Akan tetapi pembaca sudah bisa menebak siapa sebenarnya Sabina. Kang Abik seperti menghendaki pembaca merasakan kepedihan Sabina. Bagi saya, penggambaran seperti ini membuat saya gemas dan ingin segera menamatkan isi buku dengan membaca sekilas demi sekilas. Syukurnya, ada potongan-potongan paragraf sarat hikmah yang sering muncul sehingga sayang untuk melompat-lompat dalam membacanya. Misalnya,

“Tiba-tiba Fahri ingat perkataan Imam Abu Hanifah. Imam besar salah satu imam empat mazhab fiqih itu pernah menjelaskan bahwa membaca sejarah hidup orang-orang saleh, lebih ia sukai daripada belajar ilmu fiqih. Sebab membaca sejarah hidup orang-orang saleh –selain mendapatkan hikmah-hikmah kehidupan yang berserakan– seringkali juga akan mendapatkan ilmu yang berlimpah, termasuk ilmu fiqih. Bahkan fiqih dalam makna seluas-luasnya.” (h. 362-363)

“Dengan menahan isak, Syaikh Muhammad Abduh mengucapkan kalimat yang kemudian sangat terkenal di seantaro dunia Islam, Al Islamu mahjuubun bil muslimin. Islam tertutup oleh umat Islam. Cahaya keindahan Islam tertutupi oleh perilaku buruk umat Islam. Dan perilaku-perilaku itu sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam…” (h. 388)

“Di dalam masjid, ratusan orang menyimak dengan khusyuk kalimat-kalimat hikmah Al Haris Al Muhasibi yang diurai dengan fasih oleh Fahri, Wa’lam annahu laa thariqa aqrabu minash shidqi, wa laa daliila anjahu minal ‘ilmi, wa laa zaada ablaghu minat taqwa. Dan ketahuilah, tidak ada jalan yang lebih dekat dengan kejujuran, tidak ada dalil yang lebih berhasil dari ilmu, dan tidak ada bekal yang lebih sampai dari takwa.” (h. 651)

Menurut saya, kelemahan dalam dalam novel ini terletak pada penggambaran karakter yang menjadi sangat khas Indonesia. Cenderung penurut dan masih memperhatikan adat ketimuran yang agak kurang logis jika dilakukan oleh tokoh-tokoh etnis Skotlandia dan Turki. Selebihnya, AAC 2 adalah novel santun yang menyentil realita kehidupan manusia saat ini untuk menuju tatanan kehidupan yang jujur, berilmu, dan bertakwa. [NT]

Judul Buku      : Ayat-Ayat Cinta 2 Sebuah Novel Pembangun Jiwa
Penulis            : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit           : Republika Penerbit
Jumlah Halaman : vi + 697
Tahun Terbit    : Desember 2015
Peresume       : Novi Trilisiana



0 komentar: