Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2018

Belajar pada Pengusaha Muda, Kaya dan Berjaya


“Pelajari siapa pun yang hebat, dan kau akan menemukan bahwa dulu mereka magang pada seorang guru besar, atau beberapa guru besar. Karena itu, jika kau ingin mencapai tingkat hebat, terkenal, dan kesuksesan luar biasa, kau harus magang pada seorang guru besar.” Robbert Allen

Tersebut adalah kata motivasi untuk kita semua yang meniti jalan kesuksesan sesuai dengan persepsi masing-masing. Buku setebal 136 halaman ini berkisah tentang sosok yang sedang naik daun beberapa tahun ini yaitu Sandiaga Salahudin Uno. Jika kini kita melihat beliau sebagai pejabat, maka buku ini ditulis jauh sebelum beliau terjun kedunia politik tepatnya pada Mei 2013, saat beliau masih aktif menjadi Pebisnis dan ketua UMKM Indonesia.

Tahun 2007 majalah Asia Globe menobatkan Sandiaga sebagai orang terkaya no 122 di Indonesia dengan aset kekayaan US$ 80 juta. Sedangkan tahun 2009 versi majalah Forbes pak Sandi menduduki peringkat ke 29 dengan total asset perusahaan US$ 400 juta setara dengan 3.7 Triliun Rupiah dengan nilai tukar rupiah Rp. 9300 / USD. Kemudian di tahun ini kita mendengar kekayaan beliau sudah mencapai 5.5 Triliun rupiah. Melalui usaha beliau dengan mendirikan perusahaan PT. Recapital Advisor pada tahun 1997 bersama Rosan Perkasa  Roeslani yang merupakan teman SMA. kemudian di tahun 1998 mendirikan perusahaan Saratoga Investama Sedaya bersama Edwin Soeryadjaja. Pak Sandi dulu juga melirik dunia penerbangan, melalui PT. Saratoga Investama beliau membeli saham perusahaan transportasi udara Mandala Airlines, untuk pesawat ini apa masih ya ? kemarin saya searching enggak nemu.

Terlihat istimewa memang harta kekayaan pak Sandi, kita tentu ingin menjadi seperti beliau, dengan hasil usahanya saat ini, Takkan ada yang bisa didapat tanpa usaha, memtik buah di pohon rindang sekali pun kita butuh usaha dengan berjalan, memetik dengan tangan, baru bisa kita makan. Dalam buku ini dikisahkan  awal mula pak Sandi meniti karir untuk menjadi seperti sekarang. Hasil takkan menghianati Usaha, bisa diterapkan untuk pak Sandi dalam meniti karir nya, ternyata dalam berwirausaha tak ada yang mudah untuk menggawali, ada jerih payah yang harus dilewati, harus kuat diawal membentuk pondasi dan kemudian menjalankan roda bisnis perusahaan sampai mencapai kesuksesan.

Pak Sandi memiliki dasar pendidikan yang prestisius lulus Bachelor of Business Administration dari Wichita State University dan Master of Business ditamatkan di The George Washington University. Pada tahun 1995 Beliau pernah menjadi karyawan sebagai Executive Vice President NTI Resources Ltd. Perusahaan migas yang ada di Kanada dengan gaji USD8000 per bulan (kalo sekarang berati sekitar 116 M). Tapi Allah Maha membolak balikkan manusia, kedudukan, jabatan, harta, tahta dan lain sebagainya. Dengan gaji sebesar itu Nampak cukup untuk segalanya, namun di tahun 1997 perekonomian dunia mengalami krisis moneter. Gaji yang saat itu diinvestasikan akhirnya ikut raib karena krisis moneter dunia. pak Sandi pulang ke Indonesia tanpa membawa apa-apa. Inilah awal mula pak Sandi memulai usaha, sebuah jalan yang sebelumnya tidak terpikirkan, langkah yang bukan pilihannya .

Pak Sandiaga Uno memiliki rumus untuk mencapai kesuksesannya dalam usaha yang ditekuni selama ini, rumus pertama (1) adalah Kerja Keras “Setiap Entrepreneur sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Tapi jangan menyerah, Rayakan kegagalan itu.” Rumus kedua (2) yaitu Saat Menemui Kegagalan, Pantang Menyerah. “It’s Ok When sometime you were failed. Tapi jangan menyerah.” Rumus ketiga (3) adalah Bekerja dengan Cerdas. “Bekerja cerdas adalah bekerja yang dilakukan dengan usaha dan pertimbangan matang-matang.” Rumus keEmpat (4) Bekerja secara Tuntas. “Banyak para wirausahawan yang bersemangat hanya diawal saja, perlu sebuah komitmen kuat dalam berwirausaha. Komitmennya selalu setia serta bersedia dan siap dengan segala kemungkinan yang akan dihadapi.” Sedangkan rumus terakhir keLima (5) Bekerja dengan Ikhlas. “Ikhlas berbeda dengan pasrah dan menyerah. Bekerja dengan ikhlas yaitu diawali dengan niat yang baik, dilakukan dengan ikhtiar yang maksimal kemudian menyerahkan hasil usaha kita kepada Allah.”

Pak Sandi sangat mendukung terbentuknya dan berkembangnya UMKM menjadi langkah perekonomian masyarakat untukmembentuk para wirausahawan,  kemudian pak Sandi juga membangun Inotek (inovasi dan teknologi Indonesia) merupakan yayasan yang bergerak dibidang teknologi yang aplikatif dan tepat guna. Pak Sandi mengutarakan Waktunya Indonesia Setara. Setara untuk membangun Indonesia, melalui sumber daya alam dikelola sendiri, dimanfaatkan sendiri dan menjadi mandiri tanpa tergantung dengan tetangga (Negara). Rekomendasi untuk dibaca di sela waktu luang.

Judul Buku          : Belajar pada Pengusaha Muda, Kaya dan Berjaya
Penerbit                : Kamea Pustaka
Jml Hal                : 136
Tahun terbit         : Mei 2013

Probolinggo, Agustus 2018
-          Eko Yasin -

Rabu, 15 Februari 2017

Anak-Anak Angin

Buku ini saya pinjam dari teman, tertarik dengan covernya dan ringkasan yang ada di sampul bagian belakang. Terdapat peta indonesia diantara kedua sampul yang bertuliskan "Dari Jakarta ke Halmahera Selatan". Buku ini karya kak Bayu yang merupakan cerita perjalanan beliau selama mengabdi mengikuti kegiatan Indonesia Mengajar yang didirikan oleh Bp Anies Baswedan. Dari awal untuk mengikuti kegiatan IM selain modal tekat yang kuat serta seleksi yang ketat pun dengan keluarga juga harus rela melepas anaknya untuk pergi mengabdi di pelosok negeri. Hal ini menjadi salah satu tantangan kak Bayu, pertama kali Ayah beliau tidak setuju/keberatan kak Bayu mengabdi mengikuti kegiatan IM, dengan modal nekat beliau pun berangkat ke Halmahera Selatan. 

Jangan di bayangkan pendidikan disana sebaik di pulau jawa, tp jangan pula di kira gedung" sekolah disana seburuk yang ada di berita-berita. Bahkan gedung sekolah pun memadai, dan layak lebih baik dari pada sekolahan yang ad di pedalaman pulau jawa (pedalaman banten). Tetapi benar saja sekolah disana tidak sama dengan di Jawa yang terlihat nyata perbedaanya adalah kualitas pendidikan, baik dari murid-muridnya maupun pengajarnya (guru). 

Di kisahkan mas Bayu di tempatkan menjadi wali murid kelas 3, disana dia mendapati kondisi yang sulit, bagaimana tidak anak-anak kelas 3 belum bisa apa-apa, berhitung ataupun membaca. Ini adalah salah satu tantangan yang dihadapi mas Bayu, lalu tantangan yang lainnya adalah sikap dan perilaku anak-anak disana, jangankan bertingkah baik, sopan santun pun sepertinya tidak di ajarkan oleh orang tuanya. Meludah di kelas, tak memperhatikan guru, kaki di atas meja itu yang sering anak-anak lakukan saat guru sedang menerangkan pelajaran di depan. Dari tantangan tersebut mas Bayu kemudian memulai dengan aturan-aturan yang diterapkan untuk menjadikan baik kelas tersebut. Bagaimana pelajaran bisa di lakukan, bagaimana ilmu bisa didapatkan jika anak-anak sendiri pun tak bersemangat dalam sekolah, dan sekolah hanya menjadi rutinitas biasa saja tanpa ada semangat dalam menjalankannya. Oh ya.. Tidak hanya anak-anak saja yang berfikir seperti itu bahkan orang tua mereka pun juga memiliki pikiran yang sama, tak jarang murid-murid mas Bayu banyak absen karena mereka di minta membantu orang tua untuk bekerja di ladang, di pantai membantu mencari rezeki. Sering anak-anak selepas istirahat tidak kembali lagi ke sekolahan melainkan pulang ke rumah atau bermain. Begitulah kondisi masyarakat di Bibinoi, maka tak heran jika anak kelas 3, 4 bahkan 6 pun ada yang belum bisa membaca dengan lancar. 

Pendidikan di Halmahera bukan seperti di pulau jawa, bukan dengan menggunakan kelembutan melainkan dengan kekerasan pun tak apa. Untuk pertama kalinya kak Bayu mengajar dengan tangan berbicara,, yupss.. Maksudnya karena tak bisa lagi menahan emosi dengan kebandelan anak kelas 4, akhirnya pipi anak laki-laki kelas 4 tersebut panas oleh tamparan tangan kak Bayu. 

Bukan orang jawa namanya jika melakukan hal itu tak menyesal, begitulah yang dialami kak Bayu, ia merasa bersalah karena tak sanggup menahan emosinya. Tapi beda halnya denga guru yang lain, bukan tangan lagi senjata mereka tetapi rotan. Guru-guru yang lain biasa menghukum anak-anak dengan melakukan tindak kekerasan, dengan memecutkan rotan pada bagian bawah kaki anak-anak. Tapi jangan pula berfikir orang tua mereka akan mengadukan masalah itu ke komnas perlindungan anak, atau guru-guru akan di penjara, atau anak-anak akan berhenti pergi ke sekolah. Tidak semuanya, anak-anak akan tetap dengan biasanya, mereka sudah dididik dengan cara yang keras, baik dari keluarga dan di sekolah, hingga kak Bayu menyadari hukuman fisik tak mampu membuat mereka berubah, yang perlu di rubah adalah kesadaran hati, dan menghukum dengan melalui hati. Untuk tamparan ke 2 kak bayu gunakan pada anak kelas 4 juga dengan beda guru, hal ini dilakukan atas permintaan ibu Guru untuk membantu merubah si anak. Kak Bayu sebelumnya meminta maaf pada sang anak lalu Tamparan pun mendarat di pipi sang anak, air mata pun menetes di pipi sang anak, kemudian dengan lembut kak Bayu memohon maaf dan menasehati dari hati ke hati, dengan dekapan sang guru muda itu akhirnya keesokan hari anak tersebut berubah 180°. Yeh... Sukses bukan dengan cara yang lembut. 

Dalam bukunya kak Bayu menyampaikan "Berdedikasi selalu memberikan kepuasan yang tak pernah bisa dibayar dengan uang. Tak bisa ditakar dengan apa pun. Dedikasi datang dari dalam diri dan hanya kita sendiri yang mampu menimbangnya. Sejauh mana kita memberikan hati sepenuhnya pada apa yang kita pilih dan jalani." Guru di Bibinoi belum semua PNS, ada beberapa guru yang hanya mendapatkan bayaran 150rb, jauh dari kata layak apalagi tak rutin setiap bulan datang, bisa jadi selama 3bln sekali baru dibayarkan, tapi bagaimana lagi begitu kondisinya. Dengan jumlah hanya beberapa orang, 7 orang ditambah kak Bayu itu masih sangat kurang terlebih jika ada guru yang harus rapat di kecamatan, yang harus ditempuh dengan perahu dan di sesuaikan kondisi laut, bisa-bisa 2-3 hr kelas tanpa guru karena sang guru sendang pergi tak jua segera kembali. Untuk anak kelas 4, 5, dan 6 yang belum bisa membaca, kak Bayu berkata 

"Tidak ada murid yang bodoh di dunia ini, yang ada hanya guru yang buruk, yang tak mampu menaikkan dan mengembangkan potensi anak didiknya. Setiap murid pasti punya kelebihan masing-masing. Tinggal pintar-pintarnya guru mencari celah bagaimana mengasah kemampuan mereka. Bagaimana membuat mereka menganggap belajar adalah hal yang membawa keceriaan."

 "Belajar adalah kebutuhan. Ketika murid sudah merasa ingin pintar, maka guru berhasil dalam satu poin. Merealisasikan mereka menjadi pintar tentu poin yang berbeda." ~Menjadi pintar bukanlah pilihan satu-satunya, tetapi menjadi baik dan berguna adalah kewajiban kita

sekian... Terimakasih

Judul : Anak Anak Angin 
penulis : Bayu Adi Persada 
hlm : 266 
peresume: Eko Yasin 


Dunia Forensik Itu Lucu

Berawal dari mencari buku Biografi di tokonya mas Ridho akhirnya di sodorkan kan lah buku ini, jika di lihat dari cover nya maka bayangan pertama adalah tentang Mayat manusia, lumayan serem, tapi ada kata "Lucu" berati ada hal lain yabg lucu di balik ke nggerian jenazah alias mayat.

Siapa yang tak takut dengan Jenazah, apalagi dengan kondisi yang tida utuh misalnya, atau sudah berbau karena sudah d kubur beberapa lama kemudian di gali lagi, dan jenazah diperiksa bagian luar dan dalamnya (bedah perut nya, lihat hati, jantung, paru-paru, saluran pencernaan, belah kepala nya) heemm... sepertinya hanya orang dengan label dr. (dokter) spesialis lagi bagian Forensik. Kalo di bayangin pekerjaanya aja bikin enggak enak makan atau takut tidur.

Buku Biografi ini tentang kehidupan dr. Abdul Mun'im Idries, Sp. F saya tidak menggenal beliau sebelumnya, baru tahu dari buku ini juga. Di dalam buku ini lebih membahas beberapa perkara atau penggalaman hidup dr. Mun'im begitu beliau di panggil, penggalaman saat bertugas sebagai dokter Ahli Forensik, beliau lulusan dari Fakultas Kedokteran UI. Pola fikir beliau sedikit berbeda dari dokter muda lain, setelah lulus ada tawaran untuk menjadi dokter spesialis penyakit dalam, karena pada masa itu pilihan yang paling banyak diminati adalah bagian itu. Pola fikir dr. Mun'im berbeda beliau ingin jadi dr. tetapi tidak hanya berinteraksi antara dr. dan pasien saja, melainkan dr. yang bisa berinteraksi dengan semua pihak maka tekatnya bulat untuk menekuni menjadi Spesialis Forensik yang tidak banyak di gemari oleh dr. lain.

Beliau menjelaskan bedanya pasien dr. biasa dengan dr. forensik adalah, jika pasien dr. biasa maka yang datang ke dr. adalah pasiennya, sedangkan dr. forensik maka bisa dokter yang mendatangi pasien atau pasien yang di bawakan ke dokter haha.. kan enggak ada jenazah berjalan, tapi ada beberapa pasien beliau yang juga masih hidup, ini keperluan Visum (melihat luka memar atau akibat dari suatu hal yang membuat anggota tubuh terluka).

Dalam buku ini banyak pelajaran atau hal lain yang saya dapatkan salah beberapa nya tentang Etika, ya penjelasan tentang Etika. beberapa kasus membuat dr. Mun'in di sebut Tidak BerEtika dikarenakan menuntut hak nya sebagai saksi ahli forensik di pengadilan, yang ia tuntut adalah bayaran (dia sebagai saksi ahli harus di bayar saat memberi kesaksian di penggadilan). dia disebut tidak ber Etika karena menuntut haknya ini, dan penjelasan beliau, saat ini pengertian Etika = Tidak enak Hati
tetapi penjelasan beliau yang beliau dapat dari gurunya Prof. Slamet Imam Santoso "Etika itu tindakan nyata intinya Jujur, salah bilang salah, benar bilang benar dan jika membenarkan kesalahan karena sungkan itu berati bukan Etika." Maka suatu yang benar meskipun di anggap tidak berEtika ya harus di benarkan seperti menuntut hak, hak gaji bisa jadi.

Tujuan dr. Mun'in menggeluti dunia Forensik karena ingin menjadi dr. lain dari yang lain, dr. yang berhubungan dengan banyak masyarakat ternyata benar adanya, hal ini terbukti beliau sebagai Ahli Forensik mempunyai teman dari segala lapis dan macam dari Jenderal Polri, TNI, Pengusaha, organisasi masa John Kei, Hercules, Artis, Pejabat tinggi semua menjadi teman beliau.

Dunia forensik adalah pemeriksaan sesuatu hal kematian misalnya, kematian tersebut disebabkan oleh apa, jika ada peluru di dalam tubuh maka yang diperiksa adalah peluru seperti apa ukuran berapa kena bagian mana, dan tidak menjelaskan peluru dari siap. Apakah peluru tersebut menyebabkan kematian maka itu adalah tugas dr. Forensik untuk memeriksa. Jika ada kematian karena di pukul maka penjelasan dr. Forensik adalah bagian tubuh mana luka seperti apa dan benda seperti apa (keras lancip) tetapi tidak menjelaskan benda apa yang digunakan untuk memukul, karena pas kejadian dr. tidak di sana dan dr. hanya melihat luka atau bekasnya saja.

Banyak masalah besar yang beliau tangani, beliau lulus dari kedokteran UI tahun 1971, sejak itu beliau bergelut di dunia Forensik. Dari buku ini tampak dan terlihat sepintas apa yang terjadi di era dahulu dan saat ini terkait Kehakiman, terkait Pengadilan, terkait Kejahatan dan Kematian nampaknya semua ada yang atur hehe... jadi apa yang terlihat di publik terkadang dan sering juga sudah sesuai atau ada yang mensheting alias produsernya, dan alurnya pun harus di ikuti, hihi banyak perkara yang beliau tangani, mulai dari korban Petrus (penembak misterius) era pak Harto, yang banyak di temukan orang meninggal atau hilang karena upaya bersih bersih sampah masyarakat (saat ini terjadi di Filipina, targetnya para pengedar sabu). Kasus Marsinah seorang buruh yang menjadi penggerak menuntut hak Gaji pada tahun 1990 an tewas di bunuh. Kasus menyembunyikan mayat penjudi, lalu kasus Antasari, korban Tri Sakti, dan kasus kasus lain, yang sedikit bikin saya nyengirr karena oh karena apa yang terjadi dan terbuka di publik kadang berbeda dengan temuannya. semua itu tergantung situasi dan kondisi yang harus sesuai dengan kepentingan masyarakat, dan di kisah kisah inilah lucunya menjadi dr. ahli Forensik,

Tetapi disini dr. Mun'in selalu menjalankan semua sesuai prosedur karena beliau adalah saksi ahli bukan pemberi keputusan, dan pekerjaan beliau menurut saya sesuai dengan SOP yang ada sebagai ahli Forensik dan menjalankan tugas lain yang berkaitan dengan Masyarakat lengkapnya baca bukunya.

Ada hal lain yang saya dapatkan terkait "Sederhana menyampaikan Ilmu", hal ini adalah amat dari Profesor beliau saat kuliah dahulu. yaitu menjadi dokter harus bisa menjelaskan secara sederhana ilmu atau kondisi kepada pasien tidak boleh diperumit, banyak dokter saat ini menyuruh pasien untuk cek ini cek itu yang banyak menelan biasa dan biasanya orang orang ini adalahnpara Profesor atau pakar (apa apa di bikin sukar), maka pesan beliau jangan lakukan itu pada orang awam, tetapi permudahlah banyak hal, sederhanakanlah dan jangan dibpersulit.

dr. Mun'in menjelaskan terkait ajaran Islam adalah ajaran yang benar dimana Jenazah dikuburkan tidak di bakar, pun penguburan dengan cara ditidurkan menyamping ke kanan, hal ini dilakukan jika terjadi sesuatu masalah dapat dilakukan dengan autopsi, maka jenazah dapat di periksa (jika dibakar apa yang bisa dinl periksa ?), miring ke kanan maka aliran darah akan turun ke sebalah kanan/bawah dan bagian ini akan busuk duluan dan menyisakan bagian kiri yang dapt diperiksa penyebab kematian jenazah, sehingga dengan penguburan maka jenazah masih mendapat keadilan jika diperlukan.

Untuk lebih jelasnya silahkan baca bukunya, tetapi mungkin langka ditemui bukunya karena cetakan tahun 2013 lalu,

Judul : Dunia Forensik Itu Lucu (sebuah rekam jejak dr. Abdul Mun'im Idries, Sp. F)
Penulis : Tofik Pram
Jml hlm : 195
Penerbit : Mizan Publika

Peresume : Eko Yasin


Muhammad -Para Pengeja Hujan- Part 2

Sebuah novel biografi dari penulis Tasaro GK, novel apik yang di kemas dengan luar biasa dengan cara yang berbeda dari buku-buku Biografi Nabi Muhammad SAW sebelum-sebelumnya. membaca buku ini menurut saya lebih nyaman dan menikmati, karena di sampaikan dengan cara berbeda hingga kita pembaca sendiri bisa ikut merasakan bagaimana berada di posisi dan keadaan tersebut.

Dalam buku ke ini terdapat 2 kisah dari negeri Arab dan negeri Persia, yah penulis menggunakan alur mengalir maju di ambil dari dua kisah utama, kisah perjalanan Islam dan perjalanan sang pencari Hidayah islam.

Di dalam buku ini akan kita awali dari kisah Tentara Abrahah  yang akan menghancurkan Ka'bah, Rumah Allah. Sebelum pasukan Abrahah bersama gajah-gajah nya untuk menghancurkan Ka'bah disana ada Abdul Muththalib yang menyarankan penduduk untuk mengosongkan kota menbawa semua harta bendanya dan pergi ke bukit, biarkan Abrahah meaksanakan apa yang menjadi keinginanya. sebelum meninggalkan kota Abdul Muththalib memandang Ka'bah dengan khusuk berasa Allah ada di hadapanya,  sembari berkata "Ya Allah. Hamba Mu ini sudah melindungi apa yang menjadi milinya, dan sekarang Kau lah yang akan melindungi apa yang menjadi milik Mu."

Rumah Tuhan maka Tuhan lah yang akan menjaganya, hingga pasukan Abrahah akan menghancurkan dan meraratakan ka'bah datanglah pasukan Allah, jutaan burung hitam datang dari arah barat membawa kerikil menyala yang menembus baju besi dan membunuh pasukan Abrahah. begitulah kekuasaan Allah.

Akan kita dapati bagaimana Nabi Muhammad SAW lahir, kemudian dibawa pulang oleh suku Hawaz untuk di rawat dan di susui oleh Halimah, kemudian akan kita dapati bagaimana Nabi dan ibunda Aminah berziarah ke makan almarhum sang Ayah, Abdullah. dan disana lah Nabi Muhammad kecil menjadi anak Yatim Piatu, anak kecil yang sudah tertanam akhlak mulia dari awal ia hadir di Bumi sebagai pembawa ajaran Rahmatan Lil Alamin.

Dilanjutkan kisah bagaimana Abu Bakar dan para sahabat melanjutkan perjuangan Islam, menjadi penerus Nabi untuk menyebarkan ajaran Tauhid, ajaran yang hingga kini kita jaga dan menjaga kita. akan kita dapati kisah sahabat lain dan beberapa perang yang membawa kejayaan Islam terkait penaklukan beberapa kota lain di sekitar Arab dan menjadikan Islam lebih memiliki pengaruh.

dilain sisi kita akan membaca perseteruan antara khalifah Abu Bakar dan Fatimah putri Nabi Muahmmad, serta masalah masalah lain sepeninggal Nabi,

Dilain sisi penulis menuliskan dua kisah perjalanan berbeda lainnya, dari seorang wanita cerdik, memiki banyak gagasan dan penemuan serta  pandai berperang ia bernama Astu atau Atusa, komandan pasukan Athanatoi, pasukan yang tak akan pernah mati, pasukan perang milik kerajaan Persia. Astu adalah saksi bagaimana runtuhnya kerajaan persia. akan kita dapati kisah yang luar biasa bagaimana orang dari dahulu ternyata juga rakus akan tahta dan harta.

kisah lainya adalah dari seorang yang haus akan ilmu dan haus akan hidayah mencari agama dan jati dirinya dialah Kashva yang menyusuri Pegunungan Tibet untuk mencari seorang anak bernama Xerxes, siapakah Xerxes anak kecil yang pintar dan cerdas, siapakah dia ? akan ada jawabanya nanti, perjalanan Kashva juga  mencari Agama yang akan memberikan ketenangan dalam dirinya.

Banyak yang akan kita pelajari dan menjadi penggingat kembali akan Teladan kita sebagai umat muslim.


Judul Buku : Muhammad "para pengeja hujan"
Penulis : Tasaro GK
Jmlh Halaman : 752
Peresume : Eko Yasin 



Muhammad -Para Pengeja Hujan-

Sebuah novel biografi dari penulis Tasaro GK, novel apik yang di kemas dengan luar biasa dengan cara yang berbeda dari buku-buku Biografi Nabi Muhammad SAW sebelum-sebelumnya. membaca buku ini menurut saya lebih nyaman dan menikmati, karena di sampaikan dengan cara berbeda hingga kita pembaca sendiri bisa ikut merasakan bagaimana berada di posisi dan keadaan tersebut.

Dalam buku ke ini terdapat 2 kisah dari negeri Arab dan negeri Persia, yah penulis menggunakan alur mengalir maju di ambil dari dua kisah utama, kisah perjalanan Islam dan perjalanan sang pencari Hidayah islam.

Di dalam buku ini akan kita awali dari kisah Tentara Abrahah  yang akan menghancurkan Ka'bah, Rumah Allah. Sebelum pasukan Abrahah bersama gajah-gajah nya untuk menghancurkan Ka'bah disana ada Abdul Muththalib yang menyarankan penduduk untuk mengosongkan kota menbawa semua harta bendanya dan pergi ke bukit, biarkan Abrahah meaksanakan apa yang menjadi keinginanya. sebelum meninggalkan kota Abdul Muththalib memandang Ka'bah dengan khusuk berasa Allah ada di hadapanya,  sembari berkata "Ya Allah. Hamba Mu ini sudah melindungi apa yang menjadi milinya, dan sekarang Kau lah yang akan melindungi apa yang menjadi milik Mu."

Rumah Tuhan maka Tuhan lah yang akan menjaganya, hingga pasukan Abrahah akan menghancurkan dan meraratakan ka'bah datanglah pasukan Allah, jutaan burung hitam datang dari arah barat membawa kerikil menyala yang menembus baju besi dan membunuh pasukan Abrahah. begitulah kekuasaan Allah.

Akan kita dapati bagaimana Nabi Muhammad SAW lahir, kemudian dibawa pulang oleh suku Hawaz untuk di rawat dan di susui oleh Halimah, kemudian akan kita dapati bagaimana Nabi dan ibunda Aminah berziarah ke makan almarhum sang Ayah, Abdullah. dan disana lah Nabi Muhammad kecil menjadi anak Yatim Piatu, anak kecil yang sudah tertanam akhlak mulia dari awal ia hadir di Bumi sebagai pembawa ajaran Rahmatan Lil Alamin.

Dilanjutkan kisah bagaimana Abu Bakar dan para sahabat melanjutkan perjuangan Islam, menjadi penerus Nabi untuk menyebarkan ajaran Tauhid, ajaran yang hingga kini kita jaga dan menjaga kita. akan kita dapati kisah sahabat lain dan beberapa perang yang membawa kejayaan Islam terkait penaklukan beberapa kota lain di sekitar Arab dan menjadikan Islam lebih memiliki pengaruh.

dilain sisi kita akan membaca perseteruan antara khalifah Abu Bakar dan Fatimah putri Nabi Muahmmad, serta masalah masalah lain sepeninggal Nabi,

Dilain sisi penulis menuliskan dua kisah perjalanan berbeda lainnya, dari seorang wanita cerdik, memiki banyak gagasan dan penemuan serta  pandai berperang ia bernama Astu atau Atusa, komandan pasukan Athanatoi, pasukan yang tak akan pernah mati, pasukan perang milik kerajaan Persia. Astu adalah saksi bagaimana runtuhnya kerajaan persia. akan kita dapati kisah yang luar biasa bagaimana orang dari dahulu ternyata juga rakus akan tahta dan harta.

kisah lainya adalah dari seorang yang haus akan ilmu dan haus akan hidayah mencari agama dan jati dirinya dialah Kashva yang menyusuri Pegunungan Tibet untuk mencari seorang anak bernama Xerxes, siapakah Xerxes anak kecil yang pintar dan cerdas, siapakah dia ? akan ada jawabanya nanti, perjalanan Kashva juga  mencari Agama yang akan memberikan ketenangan dalam dirinya.

Banyak yang akan kita pelajari dan menjadi penggingat kembali akan Teladan kita sebagai umat muslim.


Judul Buku : Muhammad "para pengeja hujan"
Penulis : Tasaro GK
Jmlh Halaman : 752
Peresume : Eko Yasin 



Seni Kepemimpinan Para Nabi

Deskripsi

Kuliatas kepemimpinan menjadi salah satu indikator penting maju tidaknya suatu bangsa. Membahas tentang kepemimpinan berarti kita harus menguraikannya dalam konteks kekinian, tentang idealisme kepemimpinan menurut islam.
Buku ini disusun dengan semangat belajar dan meneladani best practises dari para nabi terdahulu dalam memimpin dan membawa umatnya menuju jalan cahayapada masa mereka. Mencontoh kepemimpinan para nabi terdahulu untuk memajukan bangsa dan negara.

Resume

Semua insan adalah pemimpin, minimal meimmpin dirinya sendiri. Dalam hidupnya setiap insan saling terhubung dan saling mencontoh. Contoh terbaik tentunya insan yang merupakan pilihan Allah swt. yaitu Para Nabi dan Rasulullah.
Kepemimpinan para nabi (profetik) memiliki tujuan yang sama yaitu mendapatkan kemerdekaan yang hakiki, yaitu membebaskan penghambaan kepada manusia atau mahluk Allah swt lainnya dan hanya menghamba kepada Allah swt semata.
Kepempinan profetik dapat dipelajari dari kisah-kisah para Nabi dalam Al Quran.

“Allah telah mengirim kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendakidari penghambaan kepada hamba menjadi penghambaan kepada Allah, dan dari sempitnya dunia menuju keluasan dunia akhirat, dari penyimpangan agama-agama yang ada menuju keadilan Islam”
-Rubai bin Amir kepada Panglima Persia, Rustum-

Tahapan kepemimpinan profetik menurut Kunto dalam Seni Kepempinan Para Nabi adalah :
1.      Misi humanisasi (ta’muruna bil ma’ruf). Memanusiakan manusia. Meningkatkan harkat dan martabat manusia dan menjadikan manusia bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya.
2.      Misi liberasi (tanhauna ‘anil munkar). Misi membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan ketertindasan.
3.      Misi transendensi (tuminuna billah). Manifestasi dari misi humnisasi dan liberasi yaitu berupa kesadaranIlahiah yang mampu menggerakan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan.

Pemimpin petama yang diciptakan oleh Allah adalah Nabi Adam as. Merupakan manusia pertama yang Allah ciptakan dan sekaligus merupakan pemimpin profetik manusia. Kisahnya termaktub dalam QS Al Baqarah ayat 30 :

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat :’Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata :’pakah engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di dunia, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman :”Sungguh aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Kriteria utama kesuksesan  seorang pemimpin adalah keasadaran akan peran dan fungsinya sebagaui khalifah atau wakil Allah di muka bumi.pemimpin harus memiliki visi dan misiilahiyah yang kuat sehingga membantu mewujudkan “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.”

Dalam yat-ayat lain di dalam Al Quran dituliskan bahwa seorang pemimpin profetik itu harus berilmu, kuat dan amanh. Misalnya tersurat dalam :

QS Al Baqarah: 247
“...Allah telah memilihnya (Thalut) menjadi raja kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik. Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa saja yang ia kehendaki, dan Allah maha Luas Maha mengetahui.”

QS Yusuf :22
“Dan ketika dia (Yusuf) telah cukup dewasa, kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu...”

Qs Al Anbiya : 79
“Maka kami telah memberikan pengertian kepad Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) kami berikan hikmah dan ilmu...”

QS Al qashash :26
“Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata : wahai ayahku (Syuaib), jadikanlah ia sebagai pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.”

Ilmu adalah pengetahuan dan hikmah adalah yang menjadikan sesorang bijaksana dalam mengambil keputusan. Sejalan dengan sunatullah dan akal sehat.
Seorang pemimpin jika lemah ilmunya, cenderung mudah mengeluh, emosional, gegabah dalam bertindak.
Pemimpin profetik juga adalah seorang yang amanah. Memiliki kredibilitas dan integritas tinggi.

Lebih terperinci  syarat kepempinan dalam Qs Al Maidah 55-56:
“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.”

Resume by Erna Maryati on Janury 20th 2017
Identitas buku
Judul                : Seni Kepemimpinan Para Nabi
Penulis             : Bachtiar Firdaus
Penerbit           : Quanta
Tahun terbit     : 2016

Jumlah halaman : 291+xxxii


Anies, Tentang Anak Muda, Impian dan Indonesia

Berbicara tentang Anies Baswedan, memang tidak akan jauh-jauh dari bidang pendidikan. Di usia muda, Anies menjadi rektor Universitas Paramadina (halaman 113). Ini menjadi rekor, karena ini membuktikan Anies sebagai rektor termuda. Meski dianggap orang baru dan baru selesai kuliah, ternyata Anies mampu dan malah membuat keputusan dan kebijakan positif yang bisa disebut sebagai prestasi selama menjadi sebagai rektor. Salah duanya Anies membuat mata pelajaran anti korupsi dan membuat beasiswa Paramadina Fellowship.
            Anies juga terkenal sebagai penggagas Gerakan Indonesia Mengajar dan Gerakan Turun Tangan.  Gerakan Indonesia Mengajar adalah gerakan yang bertujuan mengisi kekurangan guru berkualitas di daerah terkecil, menarik minat lulusan terbaik perguruan tinggi untuk mengajar, membangun jaringan peningkatan  pendidikan di daerah, dan meningkatkan kualitas pengajaran di Sekolah Dasar. Gerakan ini sangat diapresiasi dan diminati oleh banyak anak muda Indonesia, buktinya pada 10 November 2010, diberangkatkan angkatan pertama Pengajar Muda yang terseleksi dengan total 51 sarjana muda yang disebar ke lima propinsi di Indonesia (halaman 61).
            Anies mengakui bahwa gerakan ini bukan murni gagasannya, karena dia pun terinspirasi dari pendahulunya di UGM yaitu Prof. Dr. Koesnadi Harjasoemantri yang membuat Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) di tahun 1950. Karena menganggap gagasan PTM ini sangatlah bermanfaat, karenanya Anies meneruskan dengan membuat GIM dan angkatannya terus berlanjut hingga sekarang dan semakin luas jangkuan daerah terpencil yang didatangi.
               Di bawah naungan GIM ada gerakan lain yaitu gerakan Indonesia Menyala dan Kelas Inspirasi. Gerakan Indonesia Menyala adalah gerakan yang menyalurkan buku-buku untuk daerah terpencil. Sedangkan Kelas Inspirasi adalah gerakan yang mengajak para profesional untuk menginspirasi anak-anak sekolah dasar selama sehari. Tujuannya adalah agar anak-anak SD mengetahui ada banyak jenis pekerjaan di dunia ini, dan membiarkan mereka bermimpi akan menjadi apa nanti.
            Anies berharap Gerakan Indonesia Mengajar ini menjadi salah satu jalan untuk lahirnya anak-anak atau generasi Bangsa yang lebih cerdas dan bermanfaat bagi negara nantinya, layaknya Adrianus Mooy yang dulu menjadi murid-murid pengajar Pengerahan Tenaga Mengajar-nya Prof. Koesnadi. Selain itu juga menjadi sarana bagi generasi muda para sarjana tidak sekadar urun angan namun juga turun tangan. Karena menurut Anies, “Tak ada gunanya mengutuk kegelapan, karena kita bisa menyalakan cahaya kecil, meski itu hanya satu lilin (halaman 192).”
            Beberapa hal yang berkaitan dengan pendidikan di atas membuktikan bahwa Anies sangat mencintai dunia pendidikan. Karenanya, memang tidak salah jika Anies menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Meski, hanya menjabat selama 20 bulan. Namun, Anies melakukan banyak hal yang membuat orangtua, guru bahkan para murid mengakui kemampuan Anies menjadi mendikbud. Di antaranya, dihapusnya MOS perploncoan dan kekerasan di sekolah, dihapusnya nilai UAN sebagai tanda kelulusan, dan juga gerakan mengantar anak ke sekolah yang mengingatkan para orangtua untuk tidak lupa bahwa anaknya sedang masa sekolah dan juga membuat orangtua lebih mengenal sekolah dan guru-guru anaknya.
            Begitulah Anies, ingin agar guru di VIP-kan. Karena, siapalah kita tanpa seorang guru? Tidak ada Direktur, CEO, bahkan Presiden  hari ini, jika dulu tidak pernah ada seorang guru yang mengajarnya. Karena jasa-jasanyalah, guru harus diistimewakan. Seperti pertanyaan Kaisar Jepang pasca Jepang dikoyak bom atom (halaman 170), “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” Hal ini menunjukkan bahwa Kaisar Jepang sangat menghormati dan membutuhkan seorang guru untuk kebangkitan negaranya. Karenanya, Anies pun pernah mengatakan, “Kalau kita mau memajukan bangsa ini. Majukan kualitas manusianya.”
            Anies terlahir dari keluarga pendidik, bahkan ibunya seorang guru besar di UNY. Ayahnya, pernah mendapat kesulitan dalam mengurus penuntasan kepegawainnya yang telah mengajar selama 25 tahun (halaman 140), bahkan sampai pensiun tidak jelas urusannya. Ini membuat Anies mengupayakan ketika menjadi Mendikbud, membuat peraturan agar administrasi guru tidak perlu ribet, karena guru harus harus sejahtera dan diistimewakan (halaman 172).

            Buku yang terdiri dari dua bab, yang dirangkai dari kisah dan surat pendek nan inspiratif tentang dan dari Anies ini sangatlah wajib dibaca oleh anak muda Indonesia. Karena, sosok Anies layak diteladani oleh generasi muda. Selamat membaca! 

Judul                            : Anies; Tentang Anak Muda, Impian dan Indonesia
Penulis                          : Syafiq Basri
Editor                           : Teguh Afandi
Penerbit                       : Noura Books
Tahun Terbit                : Pertama, Desember 2016
Jumlah Halaman          : 200 halaman
ISBN                           :  978-602-385-032-7
Peresensi           : Muhammad Rasyid Ridho, Pengajar Kelas Menulis SD Plus Al-Ishlah Bondowoso 



Jumat, 01 April 2016

Ayahku. Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama Sumatra

Judul Buku : Ayahku. Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama Sumatra
Penulis : H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
Penerbit : Umminda, Jakarta 1982.
Jumlah Hal : 361 halaman
Peresume : Shofiyati Nur Karimah



Buku yang diberi judul “Ayahku” oleh seorang ulama, sastrawan, sekaligus politikus Indonesia H. Abdul Malik Amrullah atau akrab kita sebut HAMKA, adalah sebuah catatan dari seorang anak sekaligus murid tentang sosok Dr. H. Abdul Karim Amrullah atau Dr.HAKA. “Ayahku” ini tidak hanya semata-mata berisi riwayat hidup seorang ulama besar Sumatra Barat atau catatan kasih seorang anak tentang ayahnya saja, namun di dalamnya juga berisi riwayat perjuangan ulama dan perkembangan Islam di Sumatra Barat khususnya dan seluruh Sumatra pada umumnya.
Berisi 19 Bab, Bab terakhir merupakan Salinan buku “Hanya Allah” yang ditulis Dr. HAKA tahun 1943 sebagai jawaban atas permintaan pemerintahan Jepang kala itu yang meminta komentar beliau tentang konsepsi ketuhanan versi Jepang yang dirangkum dalam sebuah buku berjudul “Wajah Semangat”.  Sedangkan Bab pertama menceritakan sejarah masuknya Islam di Bumi Minangkabau.

HAMKA menuliskan sejarah tersebut dengan sangat rinci bahkan sejak  Zaman Hindu Budha, periode ketika Majapahit sedang berjaya dengan maha patihnya Gajah Mada hingga pengaruh agama itu masuk ke Minangkabau. Ringkas tapi padat HAMKA menceritakan sejarah tersebut hingga akhirnya seperti yang kita tahu abad ke-18 sudah mulai berdiri kerajaan Islam pertama di Sumatra, Kerajaan Samudra Pasai. Namun, menurut HAMKA, pastilah jauh sebelum kerajaan Islam berdiri, sudah ada masyarakat Islam di Indonesia. Terbukti dalam almanac Tiongkok menyebutkan bahwa pada tahun 674 Masehi (itu artinya 42 tahun setelah Nabi Muhammad wafat) sudah didapati kelompok masyarakat Arab di Sumatra Barat. HAMKA menduga kata “Pariaman” berasal dari Bahasa Arab “Barri Aman” (tanah daratan yang aman sentosa). Masih di Bab pertama, diceritakan juga tokoh-tokoh ulama dan perjuangan mereka mempertahankan negeri pada masa awal penjajahan Belanda, salah satu perjuangan yang mungkin paling kita kenal di sekolah-sekolah adalah Perang Paderi dan perjuangan Tuanku Imam Bonjol.

Selanjutnya pada Bab kedua mulailah diceritakan nenek moyang Dr. HAKA sejak dari Tuanku Pariaman (Tuanku Nan Tuo, di Koto Tuo, IV Koto), salah satu pejuang Paderi juga (kalau saya tidak salah ingat), hingga sampai pada ayahnya, Syekh Muhammad Amrullah dengan gelarnya Tuanku Kisai yang merupakan Syekh besar Tarikah Naqsabandiyah yang disebut-sebut termasuk “Kaum Tua”, sedangkan Tuanku Rasul (nama Dr. HAKA sebelum keberangkatan ke Mekkah yang kedua dan sebelum mendapat gelar Dr Causal dari Al-Azhar) merupakan salah satu pelopor “Kaum Muda” yang disebut-sebut pembawa aliran wahabi. Pada masa itu pertentangan “Kaum Tua” dan “Kaum Muda” sangatlah panas. Namun, pertentangan itu tidak mengganggu hubungan mesra ayah dan anak yaitu antara Tuanku Kisai dan Tuanku Rasul.

Saya takjub dengan cara perdebat Ulama-ulama pada zaman itu terutama Dr.HAKA sendiri. Nampak sekali keluasan ilmu mereka. Pendapat-pendapat mereka, mereka tuliskan menjadi sebuah kitab. Kitab A dibantah dengan kitab B, kemudian dibalas dengan Kitab C, kemudian muncul aliran pemikiran baru di majalah A di Negara Z, tapi majalah A tersebut diboikot akhirnya lahirlah majalah B di negara Y yang meneruskan ideologi yang dipelopori di majalah A. Kemudian saya membandingkan dengan keadaan sekarang, kalau ulama-ulama itu benar-benar menyelidiki dari kitab ke kitab, kajian ke kajian, diskusi dengan guru ini dan guru itu kemudian baru lah dituangkan semua pemikiran dalam sebuah buku sebagai jawaban, sekarang kalau lihat di media social banyak orang berdebat dengan klik share klik share tulisan-tulisan ‘yang disukai’ padahal entah itu benar atau tidak. Asal suka dan ‘sepertinya valid’, share aja #NgacaSambilNangisMiris.

Kembali ke Dr.HAKA, beliau mendapatkan gelar kehormatan itu pada tahun 1926 saat sedang konferensi perwakilan kaum agama di Mesir bersama Dr. H Abdullah Ahmad yang juga mendapat gelar yang sama. Diceritakan juga kisah persahabatan beliau berdua yang sempat renggang karena selisih pendapat. Dr. HAKA dengan karakternya yang keras dan pemarah tidak pernah mengenal kompromi dengan Belanda dalam berdakwah, sedangkan Dr. H. Abdullah Ahmad bersikap lebih taktis dan lumayan dekat dengan Belanda untuk akhirnya melancarkan rencana-rencana dakwahnya seperti mendirikan sekolah resmi berbasis agama. Meskipun berbeda strategi, beliau berdua saling menghormati dan mengakui kelebihan satu sama lain.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan Dr.HAKA yang digambarkan jelas di buku ini, ada banyak sikap beliau yang membuat saya kagum, diantaranya ketika hendak memotong ceramah yang membosankan yang tidak ada isinya di konferensi di Mesir,  beliau nekat berdiri di atas kursi karena di konferensi itu kursinya besar-besar, ulama yang hadir pun besar-besar, sedangkan beliau kecil. Kemudian saat pendudukan Jepang yang terkenal bengis, beliau diundang dalam suatu acara yang juga dihadiri ulama-ulama dari berbagai daerah di Indonesia. Sesuai adat Jepang, setiap memulai acara ada ritual “Keirei”, yaitu membungkuk hampir rukuk ke arah timur laut, letak Kerajaan Sang Tenno di Jepang. Tak ada seorangpun bahkan ulama-ulama pun yang berani menolak ritual itu, hanya Dr.HAKA seorang yang saat itu tetap duduk dengan tenang di kursinya saat ritual itu berlangsung, padahal kanan kirinya ada prajurit Jepang dengan pedang-pedang samurai yang panjang hampir menyentuh tanah menggantung di pinggang. Dan banyak hal lain yang membuka pengetahuna baru bagi saya tentang perjuangan seorang ulama besar yang melahirkan murid-murid yang kalau kita belajar sejarah nasional Indonesia kita akan mengenali beberapa diantaranya adalah murid Dr.HAKA. Selain itu banyak juga pelajaran sejarah yang banyak luput dari pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah. Sebagai catatan tambahan, HAMKA menceritakan bahwa buku ini mulai disusunnya pada tahun 1944 beberapa waktu sebelum Dr. HAKA meninggal di tahun itu juga dan baru selesai 4 tahun kemudian. Dalam proses penyusunannya, beliau simpan naskah “Ayahku” ini rapat-rapat dan rahasia karena meskipun pada tahun 1945 Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya, ancaman Belanda masih mengintai dengan adanya beberapa agresi militer.
Sebagai penutup resume, selain banyak gelar seperti Tuanku Nan Tuo, Tuanku Nan Mudo, Engku, Ninik-Mamak, dll. dan nama-nama yang susah diingat, pengaruh bahasa yang semi melayu yang digunakan dalam buku ini kadang membuat saya bingung. Jadi beberapa bagian ada yang ‘missed’. Tapi sejauh ini “Ayahku” sangat asyik dibaca. Bahkan beberapa bagian tak tahan juga ikutan nangis, terutama saat bagian, persatuan para Ulama yang selama ini bertentangan dan tak jarang beradu sengit, ketika Dr. HAKA dibuang dan Belanda katakan alasan penangkapan Dr. HAKA adalah permintaan dari kalangan ulama sendiri, semua ulama baik dari “Kaum Muda” maupun “Kaum Tua” membantah dan malah bersatu untuk membebaskan Dr.HAKA. “Hanya dalam urusan khilafiat kami berselisih pendapat, tapi dalam urusan Tauhid, kami tak ada bedanya”, begitu kira-kira yang disuarakan para Ulama tersebut.
Sekian. Mohon maaf kalau kurang terstruktur dalam meresume. Semoga mudah dipahami dan tertarik untuk membacanya lansung.

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

Selasa, 03 November 2015

Uno, Demi Generasi Yang Lebih Baik

Penerbit : Gramedia
Penulis : Renville Almatsier
Jumlah halaman : 377 
Genre : Biografi

Haji Razif Halik Uno atau Henk Uno adalah laki laki yang merasa memiliki kekurangan: gampang depresi dan bertubuh pendek/kecil. Kedua kekurangan ini membuatnya menjadi seseorang yang merasa ‘sudah kalah dulu’. Sejak kecil dia sadar bahwa persaingan bukanlah jalur yang dapat dijalaninya dengan baik. Karena itu untuk mencapai keberhasilan dalam hidupnya ia mengatur siasat dan menempuh jalur lain, yaitu mati matian berupaya untuk ‘menciptakan’ edisi baru dirinya yang lebih baik. Mulai dari mencari pasangan yang mampu melahirkan keturunan yang lebih baik (mencari istri dengan tinggi badan yang lebih dari dirinya), diharapkan akan mencapai keunggulan yang kelak mampu mengibarkan pataka keluarga. 

Kalau hidup adalah pilihan dan bukan sekedar hanyut mengalir, maka semua kendala hidup yang ia jalani memberi sebuah kesadaran bahwa ia tidak ditakdirkan untuk berhasil, melainkan anak dan cucunya yang akan mencapainya. Untuk itu laki laki ini memilih untuk ‘mengalahkan’ segala ambisi pribadinya untuk kepentingan keluarga. 

Kini di usia 79 tahun, Henk Uno bukan saja mendapatkan teman hidup yang setia, gigih dan ulet yang telah mampu menyiapkan, meletakkan pondasi, menjaga dan mengawasi perjalanan panjang putra putranya sehingga mampu lepas landas untuk mengarungi kehidupan mereka sendiri. Namun Henk juga telah dapat menyaksikan bahwa pilihan hidupnya itu telah mengantarkannya mendapatkan ‘edisi baru dirinya yang lebih baik’ seperti yang dicitacitakannya dulu. Beliau adalah suami dari wanita yang populer dengan nama Mien R. Uno dan ayah dari Indra dan Sandiaga Uno.

Buku ini ditulis oleh Renville Almatsier atas permintaan pak Henk. Ia ingin apa yang telah ia jalani dalam mengatasi kelemahan dirinya dapat juga menjadi pelajaran bagi keluarga Indonesia lainnya. Karena biografi, buku ini menceritakan secara detil hari demi hari kehidupan yang Henk jalani sejak kecil sampai buku itu selesai ditulis.. Sejujurnya, menghabiskan baris demi baris buku ini membuat saya merasa bosan. Banyak pengungkapan perasaan yang diulang ulang. Tapi mengetahui begitu banyak dan detilnya cerita yang dapat diungkapkan oleh pak Henk, menggambarkan betapa beliau menikmati tiap perjalanan kehidupan yang dilaluinya. Dan ternyata semua menjadi pelajaran yang berharga baginya. 

‘Pengalaman masa kecil menjadi landasan penting dalam kehidupan saya. Semuanya membekas hingga kini. Kata ‘pengalaman’ menyiratkan peran ‘alam’ yang bersentuhan dengan pancaindera manusia. Pengalaman memungkinkan seseorang untuk memiliki pemahaman dan pengetahuan..’ 

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Lahir dari keluarga pejabat dan menjadi besar dilingkungan teman teman yang mayoritas menjadi orang penting di Indonesia, tidak membuat Henk ambisi pada jabatan. Pekerjaan beliau di PT Caltex yang dijalaninya hanya sekedar untuk mencukupi makan keluarganya dan numpang hidup bagi dirinya. Dan ternyata hal yang sama juga berlaku pada istri beliau, ibu Mien. Walau bergaul dengan banyak keluarga pejabat, terkenal dan kaya raya, namun beliau melakukannya bukan untuk memanfaatkan pertemanan itu. Semata karena senang bergaul dengan siapa saja. 

Prinsip suami harus punya penghasilan yang lebih besar dari istri tidak dipakai oleh Henk. Tidak perlu bersikukuh mempertahankan harga diri. Tapi sebaliknya istri juga wajib menjaga perasaan suami. Keberhasilan bisa datang dari suami atau istri, siapapun yang lebih berhasil tidak boleh meremehkan pasangannya. Dan siapapun yang sedang berusaha, seluruh keluarga harus mendukung.

Hal lain yang juga berkali kali diceritakan Henk di buku ini adalah beliau tidak dibesarkan dalam suasana keagamaan yang kuat. Namun beliau merasa sangat bersyukur karena menikah dengan wanita yang memiliki dasar agama yang kuat. Anak dan cucu mereka bukan saja rajin sholat lima waktu tapi bahkan solat berjamaah ke masjid.

Kini, setelah melewati perjalanan panjang proses keimanan yang sesuai dengan jiwanya. Henk merasa lebih matang dan tidak lagi sering merasa depresi. Beliau tetap bahagia mendampingi ibu Mien yang harus hadir sebagai pembicara di suatu acara yang diadakan BUMN tertentu, dan berperan hanya sebagai ‘supir’, duduk bersama para supir lainnya di luar gedung. 

Nama Uno, mungkin lebih mengingatkan orang pada ibu Mien R Uno ataupun Sandiaga Uno, namun Henk tidak mempermasalahkannya.. karena beliau merasa bersyukur dan berterima kasih pada Sang Pengatur dan Pemilik Alam Semesta ini.. bahwa ia telah diberikan apa yang diinginkannya.. generasi yang lebih baik.

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca.