Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Agustus 2018

Ubur - Ubur Lembur

Buku ini sudah diresume oleh salah satu member IM, lupa siapa but dari sana saya semakin ingin membaca buku ini lengkap. Ini adalah buku Raditya Dika pertama yang saya baca hingga habis, sebelumnya Babi Ngesot cuma sebagian. Nggak tau kenapa, penasaran aja dengan isi bukunya saat pertama kali rilis tapi tidak kunjung sempat ke toko buku. 2 minggu lalu saat ada kesempatan ke toko buku, tanpa pikir panjang langsung beli.

Desain cover semua buku Raditya Dika di buat ulang menjadi lebih menggemaskan dan menarik. Dan memiliki buku Ubur-Ubur Lembur ini menjadi pengalaman yang menyenangkan, saya suka membawa buku ini kemana saja, ke kantor, saat jalan, dan saat makan. 

Membaca buku ini rasanya sama ketika menonton stand up-nya Radit, saya bisa membayangkan bagaimana dia membawakan materi di buku ini ke atas panggung, bagaimana ekspresinya pun intonasinya. Sebagian isi buku ini juga sudah dibawakan pada materi stand up-nya yang saya tonton lebih dulu dibanding membacanya dengan versi lebih detail. 

Ubur-Ubur Lembur adalah judul bab terakhir buku ini. Menceritakan tentang perjuangan Radit menjadi Radit yang kita kenal saat ini. dia seorang penulis buku, penulis sekenario, sutradara film dan serial, actor, bintang iklan juga komika. Apa yang dia jalani sekarang tidak terlepas dari keputusan nya yang berani, keluar dari kantor dan memilih hal yang dia cintai. Sebelum jadi penulis seperti sekarang, dulu Radit juga pernah menjadi pegawai suatu perusahaan yang kerja sift, dari siang hingga dini hari, mengerjakan hal yang sama setiap hari. Bahkan sering merasakan waktu bersama keluarga dan teman sudah berkurang drastis, malam tahun baru pun, saat semua orang berpesta menyambutnya, Radit terjebak dalam kantor mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. 

‘Gue melihat orang bekerja kantoran tapi enggak sesuai dengan minat mereka itu seperti ubur-ubur lembur. Lemah, lunglai, hanya hidup mengikuti arus. Lembur sampai malam tapi enggak bahagia. Nggak menemukan sesuatu yang membuat hidup mereka punya arti’. (Hal 226)

Hal itu membuat saya bertanya dengan diri saya sendiri, apakah saya bahagia dengan pekerjaan saya? Apakah itu cukup berarti? Apakah saya seperti ubur-ubur lembur?

Kegelisahan yang saya alami mungkin juga orang lain alami, lalu setelah membaca buku ini memiliki gambaran baru tentang pekerjaan, bahwa sangat penting memiliki pekerjaan yang sesuai minat kita, agar hidup menjadi lebih hidup. Radit memilih keluar dari kantornya dan berputar arah menjadi penulis yang masih dianggap sebagian besar orang sebagai pekerjaan yang tidak akan membuat kaya. Ya, memang tidak ada sesuatu yang instan, tapi keberhasilan selalu berdampingan dengan usaha keras. Karena apa-apa yang diseriusi pasti membuahkan hasil. 

Selain Ubur-Ubur Lembur, ada 13 bab lainnya yang seru untuk dibaca seperti pada bab Penyesalan Itu Nikmat yang menceritakan bahagimana Radit menikmati hidup, atau bab Raja Sekola yang menceritakan betapa cemennya Radit waktu sekolah tapi berhasil berteman dengan siswa jagoan, dan bab Pada Sebuah Kebun Binatang tentang melepaskan orang yang dicintai. Senang sekali ketika membaca habis buku ini, belajar banyak tentang kehidupan yang ditulis ringan dan kocak oleh Radit berdasarkan pengalamannya sendiri.

Judul : Ubur-ubur Lembur
Pengarang : Raditya Dika
Tahun : 2018
Penerbit         : Gagas Media
Jml Halaman : 231

- Khairisa -

Madre Kumpulan Cerita


Dewi Lestari atau yang biasa disebut sebagai Dee, menulis sebuah buku yang berjudul “Madre Kumpulan Cerita” . Dalam buku ini terdapat beberapa kisah yang terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek, yang merupakan karyanya selama lima tahun. Cuma saya lebih tertarik untuk meresume sebagian dari buku Madre ini. Kenapa Cuma sebagian? Karena menurut saya yang menarik perhatian Cuma madre. Hehe.

Oke, saya bakalan meresume cerita yang menurut saya bagian paling menarik dari buku Madre ini. Apakah itu? Cerita tentang Madre sendiri lah yang menurut saya menarik.

Cerita pertama yang disajikan oleh buku Madre adalah cerita mengenai Madre itu sendiri. Pasti kalian bertanya-tanya kan apasih Madre itu? Madre adalah sebutan untuk adonan biang roti yang sudah berumur puluhan tahun, yang terbuat dari tepung, air, fungi bernama Saccharomyses exiguus dan bakteri.

Cerita berawal dari laki-laki bernama Tansen Roy Wuisan seorang pemuda berambut gimbal dan berkulit gelap memiliki sedikit darah tionghoa dan india yang merupakan seorang surfing mengetahui asal-usul keluarganya yang ternyata mewarisi sebuah adonan biang roti yang bernama Madre yang sudah saya jelaskan di atas kepadanya. Kakek dan Nenek Tansen yang bernama Tan Sin Gie dan Laksmhie adalah pembuat roti terkenal pada masanya. Kakek Nenek Tansen membuka usaha toko Roti dengan nama “Tan de Bakker” yang berdiri tahun 1943 di Jakarta Kota. Seiring bermunculan bakery modern, toko roti Tan tenggelam pelan-pelan yang disebabkan tak ada untung.

Mendengar ia mendapat warisan “Madre” Tansen yang pada awalnya tinggal di Bali pergi ke Jakarta untuk menengok seperti apa warisan yang diberikan sang kakek padanya. Ketika mengetahui yang ia dapatkan hanya setoples adonan biang roti Tansen enggan untuk mengurus warsan tersebut, namun atas penjelasan Pak Hadi seorang mantan pembuat roti di toko roti Tan yang mengatakan kalo jika Madre hanya bisa diturunkan pada seseorang yang punya “hubungan langsung” yang ternyata adalah Tansen sendiri.

Selama tinggl di Tan de Bakker Pak Hadi mengajarkan bagaimana membuat roti dengan biang Madre. Semua pengalamannya selama tinggal di Jakarta atau lebih tepatnya tinggal di Toko Tan de Bakker  ia tulis di blog pribadinya. Cerita mengenai pengalaman membuat roti dengan Madre yang ia tulis di blognya membuat ia berkenalan dengan seorang perempuan bernama Mei Tanuwidjaja yang ternyata penikmat blog Tansen selama ini yang juga pengusaha roti  yang bernama Fairy Bread dan sudah tiga generasi diurus oleh keluarga Mei.

Mei si pembaca setia blog Tansen tertarik untuk memcicipi roti yang terbuat dari Madre dan berniat membeli resep Madre. Maka Mei mengunjungi Tan de Bakker dan menceritakan niatnya untuk membeli resep Madre. Namun Tansen menolak untuk menjual Madre. Walaupun Tansen menolak untuk menjual Madre, Mei tak pantang menyerah. Mei menawarkan 100 juta kepada Tansen untuk menjual Madre.

Tansen merasa tergiur dengan tawaran Mei, karena ia berpikir kalo dirinya tidak pandai mengolah roti jadi lebih baik Madre dijual kepada orang yang tepat seperti Mei. Pak Hadi yang sudah puluhan tahun bekerja di Tan de Bakker tidak rela menjual Madre. Namun apa daya Madre sekarang sudah dimiliki Tansen, jadi Pak Hadi tidak punya hak untuk melarang Tansen menjual Madre.

Di tengah cerita Tansen mengetahui betapa berharganya Madre tidak hanya untuk Pak Hadi saja tapi juga untuk keempat orang keluarga Tan de Bakker yakni Bu Sum, Bu Cory, Bu Dedeh dan Pak Joko yang sudah bekerja bertahun-tahun di Tan de Bakker. Melihat itu Tansen merasa tidak enak hati. Akhirnya Tansen menghubungi Mei dan merubah kesepakatan mereka. Tansen membuat kesepakatan jika semua roti yang diperlukan Mei akan dibuat di Toko Roti Tan, jadi Tansen dan seluruh keluarga besar Tan de Bakker yang menerima order dari Mei. Keputusan Tansen itupun membuat Pak Hadi dan keempat orang lainnya ikut senang.

Kerja sama itu berjalan baik. Mei mengajak Tansen untuk makan malam bersama. Mei banyak bercerita tentang usaha rotinya dan kesukaanya melihat tulisan Tansen di blog pribadinya yang membuat ia iri dengan Tansen kan kebebasan yang ia miliki waktu di Bali. Dari obrolan itu Tansen jadi tertarik pada Mei.

Walaupun kerjasama antara Tan de Bakker berjalan lancar ada hal yang mengganjal hati Tansen, yakni kondisi Bu sum, Pak Hadi, Bu Cory, Bu Dedeh dan Pak Joko yang sudah menua dan tidak lagi memiliki fisik sekuat Tansen. Tansen menceritakan kegelisahannnya itu pada Mei dan Mei memberikan solusi. Solusi yang diberikan Mei adalah bergabungnya Fairy Bread dan Tan de Bakker jadi jam kerja Pak Hadi dan kawan-kawan jomponya. dengan pegawai Fairy Bakker bergantian sehingga tidak memporsir kerja Pak Hadi dan kawan-kawan jomponya.

Dengan menggabungkan Tan de Bakker dengan Fairy Bread membuat nama toko roti Tan de Bakker berubah menjadi Tansen de Bakker yang berarti Tansen si pembuat roti. Media publikasi pun juga bertambah sehingga Tansen Bakker mempunyai website, twitter, facebook dan lainnya. Tidak hanya itu sekarang Tansen de Bakker tidak hanya menjual roti tapi sudah punya menu all day dining, yang meski daftarnya. tak banyak semua adalah menu terbaik.

Judul buku       : Madre Kumpulan Cerita
Pengarang        : Dewi Lestari “Dee”
Penerbit           : Bentang Pustaka
Tahun Terbit    : Februari 2013
Kota Terbit      : Yogyakarta
Jml Halaman    : 160 Halaman

Adam


Kamis, 23 Februari 2017

Cerpen Pilihan Kompas 2013: Klub Solidaritas Suami Hilang

Walaupun sudah mulai menerbitkan kumpulan cerpen pilihannya dari tahun 1992, akan tetapi secara runtut, saya baru menyimak Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas dari mulai tahun 2003. Entah memiliki bukunya sendiri ataupun pinjam. Tentu saja ada kekhasan yang terlihat ketika kita membaca cerpen-cerpen yang ada di Koran Kompas. Kekhasannya bagi saya adalah kejelian redaksinya yang memilih cerpen-cerpen dengan tema sosial-budaya akan tetapi kental akan kultur yang ada. Tidak rumit, karena selalu dikomparasi dengan kehidupan kontemporer. Hanya saja sebelumnya ada sedikit kekecewaan ketika membaca kumpulan cerpen dari koran ini tiap tahunnya. Tiada lain adalah nama-nama yang sering sekali muncul tiap tahunnya. Tidak perlu saya sebutkan, karena para penikmat kumpulan cerpen dari koran ini tentu tahu siapa saja mereka.

Akan tetapi untuk kumpulan cerpen tahun 2013, agaknya Kompas sudah mulai bisa menemukan cerpenis-cerpenis baru yang karyanya sesuai dengan nafas dan misi surat kabar tersebut. Ada beberapa nama yang sama sekali belum pernah kita mendengarnya di blantika sastra nusantara, walaupun ternyata karya yang disajikannya tetap saja memikat. Tetap saja memberikan warna baru dalam Kumcer Kompas 2013 ini.

Tidak ada tema spesifik dalam kumpulan cerpen yang diberi nama “Klub Solidaritas Suami Hilang” ini. Semuanya menghadirkan tema cerpen yang tidak biasa. Ada cerita percakapan hewan di bawah bulan biru karya Gus Tf Sakai dalam judul cerpen “Bulan Biru” yang seolah-olah mengajarkan pada manusia bagaimana mengelola sebuah kekuasaan. Pada cerpen “Pada Jam 3 Dini Hari” karya Dewi Ria Utari kita akan menemukan percakapan inferior seorang pelukis dengan seorang wanita misterius di jam 3 dini hari setiap harinya. Berdialog dengan wanita aneh tersebut malah membangkitkan kembali inspirasi pelukis tersebut dalam berkarya. Padahal obrolannya tidak jauh dari hal-hal mistis. Penceritaan dalam cerpen ini sangat cerdas. Dalam dialog mereka banak sekali teka-teki yang bertebaran. Walaupun di akhir cerpen telah ditemukan juga solusinya. Solusi yang jika diingat lagi dengan awal cerita tetap menjadi misteri.

Selain itu kita akan menemui bagaimana dunia seorang anak berkebutuhan khusus dalam cerpen karya Triyanto Triwikromo yang berjudul “Serigala di Kelas Almira”. Cerita yang dihadirkan terhadap tokoh sangat tidak lazim, pelik dan membuat kita menghela nafas. Meski begitu, dalam cerpen ini juga dihadirkan ketabahan seorang guru dalam menempa anak tersebut. Cerpen yang cukup memukai dengan menghadirkan sisi lain dari yang biasanya. Seni dalam mendidik anak mungkin akan kita temui dalam sebuah cerpen berjudul “Saia” karya Djenar Maesa Ayu. Meski tidak menghadirkan unsur kesepakatan universal dalam mendidik anak, namun cerpen ini seakan menjadi cerminan bagi orang tua, bagaimana cara mendidik anak yang semestinya. Harus dipisahkan antara didikan dengan kasih sayang.


Ada banyak cerita yang cukup segar dalam menghadirkan metafor kehidupan. Namun juga ada sisi plus dari kumcer ini yang tentu tidak dimiliki oleh kumcer lain di era literasi pop saat ini. Kehadiran tema yang kuat, alur cerita yang ringkas dan tidak bertele-tele, serta unsur magis pada kultur di lingkungan si tokoh yang demikian memikat dihadirkan oleh 23 penulis yang ada. Ada kelemahan, namun tetap tidak menghilangkan keindahan bahasa yang diwujudkan oleh para cerpenis luar biasa di buku ini.

Judul: Cerpen Pilihan Kompas 2013: Klub Solidaritas Suami Hilang
Penerbit: Kompas
Tahun terbit: juni 2014
Jumlah halaman: xx+248 halaman

-Deri IM-


Rabu, 15 Februari 2017

Jejak Jejak yang Terserak

Penulis disini mencoba menceritakan setiap jejak kehidupan yang tak luput dari goresan pena. Banyak pembelajaran dan konflik dari kisah-kisah sederhana yang terkadang membuat kita merasakan kemiripan kisah atau sentilan ringan.  Ada 21 kisah yang diceritakan dalam buku jejak-jejak yang terserak ini.
Saya tertarik dengan kisah yang pertama yaitu tentang arti sebuah salam.  Rasulullah SAW bersabda, “ tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim).
Penulis bercerita tentang lingkungan kerjanya, dimana mengucapkan salam belum menjadi suatu kebiasaan. Hanya beberapa orang yang rajin menebarkan salam ketika bertemu atau memasuki ruangan kerja. Berbeda seratus delapan puluh derajad dengan sebuah kantor di kawasan Cipulir, mungkin ada yang tau daerah ini? Suasana keislamnnya sangat kental, para pegawai pria sering menggunakan baju koko bahkan peci, yang perempuannnya menggunakan jilbab. Ucapan salam akan selalu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu ketika seseorang masuk atau meninggalkan ruangan kantor. Penulis yang saat itu beberapa kali ke kantor tersebut masih belum mampu mengikuti kebiasaan tersebut, sampai akhirnya ia di tegur oleh pegawai disana. Beliau mengingatkan akan pentingnya arti sebuah salam. Sayapun merasa masih belum mampu setiap saat mengucapkan salam dimanapun berada.
Dengan salam yang selalu didengar dari mulut para pegawainya, tak heran bila tumbuh rasa cinta dan kasih sayang diantara mereka, ada rasa keakrapan dan kekeluargaan  yang hangat di tempat tersebut.
Kisah kedua tentang jejak cinta, (QS.Ar Rum :21). Penulis menceritakan bagaimana cinta yang sebenarnya. Ada juga bunga untuk pasangan, ini bukan bunga biasa yang identik dengan bunga mawar, bunga ini luar biasa yaitu bunga ketakwaan, bunga kesetiaan, bunga komunikasi, bunga perhatian, bunga keterbukaan, bunga kejujuran. Bunga-bunga itulah yang harus di pupuk oleh setiap pasangan. Memancing jodohpun diceritakan oleh penulis, bagaimana layaknya seorang pemancing yang rela berlama-lama menunggu umpan mereka dimakan ikan, kenapa harus nunggu lama-lama, kan ikan bisa langsung dibeli di pasar.
Setiap pemancing pasti akan stres jika hanya menunggu saja, tanpa melakukan hal-hal lain selama masa menunggu tersebut. Selama menunggu, seorang pemancing bisa menikmati angin sepoi-sepoi, melihat indahnya langit, mengamati pergerakan awan ibarat kapas raksasa. Puas dengan itu ia alihkan lagi pemandangan kiri dan kanan, ia temukan daun dan dahan menari-nari, adanya gemericik air yang begitu merdhu dan syahdu.
Tiba-tiba ponselnyapun berdering, sebuah topik obrolan jarak jauh yang tanpa terasa membawanya pergi dari kejenuhan menunggu. Lalu apa kaitannya dengan jodoh? setelah segala ikhtiar dilakukan, bisa jadi rasa kecewa yang akan muncul, stres? Jangan sampai menimpa. Cobalah meniru para pemancing tersebut. Nikmati apa yang bisa dikmati selama masa menanti. Ukir prestasi setinggi yang bisa diraih. Mudah mudahan bisa mengalihkan dari sebuah kejenuhan.
Penulis juga bercerita tentang ada surga di kantorku, dalam QS. At-Taubah:105, “Dan bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...
Salah seorang pengguna jalan tol yang penasaran dengan  sikap petugas yang tidak biasa, Ucapan “selamat pagi, pak” dan “terima kasih. Selamat jalan” mengiringi sebuah senyuman. Siapa yang tak senang dengan keramahan tersebut. Usut punya usut, ternyata si bapak, menganggap disaat dia memberikan tiket pada para pengendara, dia telah membantu para pengendara untuk tiba lebih cepat di rumah. Itu semua kebaikan dan ibadah. Ada juga seorang pak satpam yang setia menjaga kendaraan yang lagi parkir.

Ada kisah-kisah lainnya..di setiap cerita ada ayat Al Qur’an dan hadist, yang sesuai dengan kisah yang di ceritakan. Ternyata di sekitar kita ini banyak yang bisa kita abadikan dengan menuliskannya, bisa jadi kisah/ pengalaman itu berulang lagi, seperti buku jejak-jejak yang terserak ini.

Judul: jejak-jejak yang terserak
Penulis: rifki asmat hasan
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2013
Jumlah halaman: 338
Peresensi: Belia Laksmi Masril


Suparman Pulang Kampung

Segala Puji bagi Allah yang telah memberi saya kesempatan jua di tengah sejumlah kegiatan yang cukup menyita waktu. Terlebih kegiatan Agustusan kali ini yang melibatkan banyak pemuda Karang Taruna (termasuk saya), mengingatkan saya akan sebuah Antologi Kasih yang teronggok di sela-sela lautan bubur kayu.

Apakah ada warga kampung saya yang bernama Suparman baru pulang kampung lantas saya teringat akan buku lawas yang didedikasikan untuk para korban gempa Jogja beberapa tahun silam ini? Bukan sodara-sodara.

Namun kerana nyaris kesebelasan cerpen di buku ini menuturkan tokoh seorang pemuda. Yang menurut pandangan kacamata saya pribadi, dari segi isi cerita sangat gemuk akan pesan tersirat maupun tersurat, meskipun setelah saya lumat lagi, saya pikir dan saya rasa, beberapa judul cerpen kurang nyambung dengan isi cerita, namun mungkin saya yang masih kurang ilmu sehingga menganggap beberapa judul cerpen tersebut kurang mewakili isi cerita.

Terkait hal ini, adalah buah karya Sokat, penulis yang pada saat buku ini diterbitkan masih aktif sebagai anggota FLP Jakarta, yang menjadi kisah yang paling memberikan kesan mendalam dalam ingatan saya. Kisah berjudul ‘Lewat Tiga Bulan’ ini mengisahkan Rojali, seorang sarjana muda lulusan ekonomi yang sudah bersusah payah menebar surat lamaran pekerjaan ke seantero perusahaan di Jakarta namun tak ada satu pun yang kesamber apalagi nyangkut. Padahal Rojali masih bisa disebut Fresh Graduate, lha dia lulus baru tiga bulan yang lalu.

Hingga akhirnya sembari menunggu panggilan interview, Rojali mengisi waktu luangnya di Toko Kembang milik Babehnya. Tak jarang saking frustasinya Rojali yang tak kunjung mendapat pekerjaan seperti kawan-kawannya yang lain. Rojali ngedumel akan nasibnya sebagai sarjana ekonomi yang hanya bisa bantu-bantu di Toko Kembang Babehnya, tentu sikap demikian menimbulkan konflik. Namun seiring waktu, konflik antara Rojali dan Babehnya pun reda dengan sendirinya setelah Rojali disadarkan oleh sarjana Pertanian IPB, Ainun anak Haji Nasir, pemilik Toko Kembang di seberang Toko Babehnya Rojali. 

Melalui percakapan antara Rojali dan Ainun, di sanalah Sokat menyampaikan pesan tersuratnya, pun pesan tersiratnya yang cukup mendalam bagi saya. Ketika kita seolah ‘terdampar’ berkegiatan hanya di lingkungan rumah orang tua kita saja. Tidak bisa pergi merantau mengadu nasib ke luar kota bahkan ke luar negeri seperti saudara-saudara maupun kawan-kawan kita. Tak usahlah lantas membuat kita berkeluh kesah apalagi jika pekerjaan yang kita geluti saat ini tidak sesuai dengan ijasah kita. Semisal kisah Rojali tadi, sarjana Ekonomi yang hanya bisa bantu-bantu di Toko Kembang Babehnya. Tanpa ia sadari apalah arti sebuah titel, justru dengan ilmunya itulah ia bisa mengambil alih, meneruskan usaha Babehnya, dengan memperbaiki manajemen keuangannya. Pun dengan Ainun yang telah menginspirasi Rojali, Sarjana Pertanian IPB dengan IPK besar, ikhlas mengamalkan ilmunya untuk membantu mengembangkan usaha Toko Kembang Babehnya.

Selanjutnya kisah dalam buku ini yang tertinggal dalam ingatan saya ialah sebuah Maha Karya Aveus Har ‘Sang Penyiar’. Menuturkan kisah obesesi Landung akan cita-citanya yang membuat saya seolah memakan permen Nano-nano. Ada rasa saya seperti disentil lagi akan impian yang pernah dicita-citakan. Ada juga rasa sentilan humor di sela untaian kata-katanya. Dan rasa-rasa lain yang susah dijabarkan dalam kata-kata (tsaah..)

Buku ini pun menampilkan sebuah Maha Karya khas citarasa Mbak Beby Haryanti Dewi. Pun dengan olahan kata-kata plus guyonan ala Boim Lebon yang menyumbang dua cerpen dalam buku ini, yakni ‘Jangan Panggil Aku Lilis’ dan tentu saja yang menjadi judul buku ini, ‘Suparman Pulang Kampung’

Dan kisah-kisah lainnya pun tak kalah menggelikan namun penuh akan pesan. Seperti buah pena S Gegge Mappangewa berjudul ‘Malu Terindah’ pun buah pena Taufan E. Prast, ‘Doa Sapu Jagat’ yang mengingatkan saya kan kenangan saat menjalani KKN lalu.

Overall, saya puas kembali menyantap buku lawas ini, banyak ilmu yang saya dapat, tak hanya senyam senyum semata. Termasup ilmu kepenulisan yang secara tak langsung dibeberkan kesepuluh penulis buku ini, terkait seperti apa sih tulisan yang meskipun sudah lawas namun masih tertinggal dalam ingatan pembaca dan tanpa dipaksa pun akan dengan sukarela membacanya kembali.

Akhirul kalam, semoga resume kali ini bisa menjadi penyambung nyawa saya di IM ^_^
Cag!

Judul Buku : Suparman Pulang Kampung
Penulis : Boim Lebon, Zaenal Radar T, Taufan E. Prast dkk.
Penerbit: Lingkar Pena Kreativa
Cetakan Kedua: Juli 2007
Jumlah Halaman: VII Halaman dan 177 Halaman

Bandung, 16 Agustus 2016
Ahmad Fauzi

Indonesia Membaca 1