Sabtu, 07 Mei 2016

Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta.






“Harapan tanpa iman adalah kekecewaan yang menunggu waktu. Kebahagiaan tanpa barakah bagai bayang-bayang tanpa cahaya.”
***
Buku ini menjelaskan tentang bahagianya merayakan cinta dalam pelabuhan hidup berumah tangga. Secara gamblang dan mendetail panduan kehidupan berumah tangga dipaparkan dalam buku ini. Dari awal perayaan hidup berumah tangga yang berisikan persiapan hidup berumah tangga dengan parameter persiapannya, mendesain walimah yang barakah, pelaminan  yang mendebarkan, hingga saat suami istri saling menjadi pakaian diantara keduanya. Pun pada akhirnya suami istri harus saling mendekap lebih erat manakala badai menghadang dalam kehidupan.
Poin penting yang diangkat dalam buku ini adalah secara garis besar hidup ini berisi hal yang kita suka dan hal yang tidak kita suka. Dan yang pasti kedua-duanya ada. Kadang seiring, ada kala bergantian, dan berselang-seling. Dalam pernikahan pun demikian. Ada saat, ada waktu, ada kala, ada kondisi, ada hal, ada keadaan, semuanya bisa dalam konteks disukai atau dibenci, menyenangkan atau memprihatinkan, melahirkan tawa ataupun isak, apapun itu, senantiasa berharap ada barakah.
Apa itu barakah?
Barakah adalah bertambahnya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami waktu demi waktu.
Barakah adalah keajaiban yang terjadi pada orang yang beriman.
Barakah, dalam kata Ibnul Qayyim adalah semakin dekatnya kita pada Rabb, semakin akrabnya kita dengan Allah.

Dalam pernikahan, barakah menjawab, barakah menjelaskan, menenangkan, dan menyemangati. Dan disaat apapun barakah itu membawa kebahagiaan. Barakah membari suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apapun masalah dalam rumah tangga. Barakah membawa senyum meski air mata menitik. Barakah itu menyergap rindu ditengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut disaat dada kita sesak oleh masalah.

Barakah itu mengubah kalimat, “Ini salahmu...!” menjadi “Maafkan aku, Cinta...”
Ia mengganti diksi, dari “Kok bisa-bisanya sih kamu...?” menjadi “Aku mengerti, Sayang, sabar ya...”
Barakah juga melafazkan, “Kamu kemana saja sih...?”  agar terdengar, “Aku disini menantimu dalam rindu yang menyesak...”
Dan ia membahasakan, “Aku tuh sebenarnya ingin, kamu...!” agar berbunyi, “Cinta, makasih ya, kau membuatku...”
Subhanallah, bahasa barakah. Logatnya logat cinta.

Sungguh begitu banyak jalan yang menawarkan kebahagiaan, maka utamakanlah memilih perioritas barakah.

Barakallahu laka, agar terciptakan bahagia dalam merayakan cinta. Mengasah kepekaan cinta dalam pernikahan, menghadirkan cita rasa surga, dan melukiskan warna-warna barakah. Karena disaat apapun, barakah selalu membawa kebahagiaan...

Judul buku: Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Diresume oleh: Amrina Anggrarini

0 komentar: