Minggu, 27 Agustus 2017

Membuat Petani Kakao Tersenyum

Hasil gambar untuk Membuat Petani Kakao Tersenyum

Siapa yang tidak suka coklat?. Dari anak kecil sampai dewasa kebanyakan suka dengan coklat, apalagi coklat ini salah satu jenis makanan yang prestisius. Bila pergi ke luar negeri, coklat tak luput dari oleh-oleh si penggemarnya.

Usut punya usut coklat ini dihasilkan dari tanaman kakao, dan ternyata indonesia adalah salah satu negara penghasil biji kakao terbesar di dunia. Percaya atau tidak Indonesia mempunyai 1,9 juta ha lahan kakao. Sehingga kakao ini merupakan penyumbang devisa negara. Irinisnya, kebanyakan petani kakao di Indonesia termasuk dalam golongan menengah ke bawah.

Kata Sambutan dari Direktur Jendral Perkebunan menjadi pendahulu buku ini dilanjutkan sambutan dari gubernur Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Prof Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec yang memberikan apresiasi atas hadirnya buku ini.

Dimulai dengan kisah sang Profesor yang hadir saat acara seminar kakao yang berlangsung di Bogor tanggal 7 April 2015, sebagai salah satu narasumber. Profesor yang usianya menjelang 70 tahun ini dengan mantap naik ke podium. Ia begitu gagah dengan jasnya, tatapannya tajam seperti sepuluh tahun ketika ia menjadi menteri. Ia pernah mengatakan kepada para petani. Pemerintah tidak punya uang dan petani harus mampu menolong dirinya sendiri. Pemerintah mendorong petani untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan. Pola pikir petani yang perlu dirubah, yang menganggap bahwa usahanya tersebut tidak memberikan insentif yang menarik secara ekonomi.

Dari data Ditjebun, dari tahun 2011 sampai tahun 2014 luas areal kakao mengalami penurunan. Ini merupakn fenomena yang janggal, mengingat saat ini bisnis coklat tengah menggiurkan. ICCO meramalkan, dunia akan mengalami kelangkaan bahan baku kakao pada tahun 2020, berarti ada sekitar 2 tahun lagi. Lalu kenapa pengembangan kebun kakao masih belum menarik??

Dibuku ini dijelaskan apa yang menjadi permasalahan pertanian di Indonesia. Banyak petani yang jalan di tempat. Coba lihat Jepang, yang memiliki lahan pertanian terbatas, sukses memperoleh surplus pertanian. Menariknya menurut Theodore adalah pemerintah Jepang ternyata tidak menerapkan subsidi pada produk pertaniaannya, namun bisa meraih surplus pertanian dan mampu melakukan ekspor.

Sementara di India yang mendapat bantuan dana dari Amerika Serikat melalui USAID untuk pengembangan pertanian tidak juga memperoleh hasil yang menggembirakan. Hampir sama dengan Indonesia. Ternyata petani Jepang enggan menggunakan pestisidadan memilih menggunakan pupuk organik. Bagi mereka membeli pestisida bukan kebutuhan yang wajib disediakan. Mereka menerapkan teknologi pertanian sehingga produksinyapun meningkat 90 persen. Petanipun mendapat return. Dalam hal ini tentunya petani akan bergairah menanam kakao jika tanaman tersebut memberikan return yang bagus.

Dalam buku ini juga kita di ajak untuk melirik kelapa sawit. Dimana komoditas ini terlihat begitu glamour di mata petani, sehingga terkadang petani dirayu untuk menerima bantuan kakao. Penulis sebagai orang yang menangani kakao tentu merasa kakao lebih menarik, namun faktanya berbeda. Namun ada beberapa petani kakao yang bisa umroh dan anaknya sudah kuliah walaupun mereka tinggal di rumah panggung.

Beberapa LSM kerap memanfaatkan petani kakao untuk mendapatkan bantuan dana dari perusahaan besar. Umumnya perusahaan membeli kakao petani dengan harga yang sangat rendah, namun disisi lain, mereka menutupinya denga dalih CSR bertema life, care, love, save.

Kunci keberhasilan meningkatkan produksi kakao yaitu peningktan skill dan pengetahuan petani, serta pengetahuan terkait pasar dan mutu.

Dengan hadirnya buku yang berjudul membuat petani kakao tersenyum ini, moga bisa memberikan inspirasi perihal kiat-kiat agar petani kakao di indonesia bisa menikmati harga kakao yang tinggi.

Judul: Membuat Petani Kakao Tersenyum
Penulis: Azwar Abu Bakar
Penerbit: byPASS
Tahun terbit: 2015
Jumlah halaman: 145
Peresensi: Belia Laksmi Masril


0 komentar: