Sabtu, 14 November 2015

Oh My Goodness: Buku Pintar Seorang Creative Junkies

Penulis : Yoris Sebastian
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : September 2012
Tebal halaman : 240 hlm

Bagi saya buku-buku bergenre psikologi kadang harus dibaca saat suasana santai. Agar memudahkan penjelasan di buku bisa diterima dengan baik. Buku bergenre ini sangat dibutuhkan untuk pencerahan dalam mengatasi kesulitan tertentu di pekerjaan atau relasi dengan orang lain. Buku yang berjudul Creative Junki karya Yoris Sebastian ini saya pinjam dari seorang teman. Buku yang sangat berarti baginya karena mendukung pekerjaannya di industri kreatif (design). Baiklah, mari kita bahas hal-hal menarik di buku ini.

Kreatif di bukunya Yoris Sebastian ini diungkapkan “relating or involving the imagination or original ideas.” Atau bisa dibilang kreatif adalah sesuatu yang berhubungan dan melibatkan imajinasi/daya khayal atau gagasan utuh. Sementara “Junki” diungkap sebagai “a person with a compulsive habit or obsessive dependency on something.” Yaitu orang yang memiliki kebiasaan kompulsif atau memiliki ketergantungan berlebihan pada sesuatu. Kompulsif di sini berarti ada suatu dorongan paksa dalam diri orang tersebut, sehingga lahirlah kebiasaan atau ketergantungannya terhadap sesuatu. Secara umum, saya pribadi menyimpulkan bahwa buku ini ingin mengajak kita untuk menjadikan sebuah term “kreatif” sebagai sesuatu yang adiktif. Hmmmm,, ide menarik yang telah diungkap oleh penulis.

Kreativitas itu adalah soal kebiasaan dan pembiasaan, bukan dari faktor keturunan.

Ya, sama dengan terminologi kesuksesan, kreatif bukanlah terlahir dari bakat atau faktor keturunan. Masih banyak orang yang menganggap dirinya tidak kreatif, dan menyerah pada keadaan, atau berteguh keyakinan pada konsepsi yang sebenarnya salah, yaitu kreatif itu karena bakat atau turunan. Kreativitas seakan merupakan barang langka yang hanya dimiliki oleh mereka yang memang punya bakat, atau terlahir dari orang tua yang memang jiwanya kreatif. Padahal ini sepenuhnya salah karena sesungguhnya setiap orang bisa menjadi kreatif. Buku ini mengungkapkan hipotesis bahwa kreatif bisa dibangun dari kebiasaan dan pembiasaan. Bagaimana dari kebiasaan itu kita bisa melahirkan hal-hal baru atau hal-hal luar biasa yang lebih baik dari saat kita mejalani kebiasaan tersebut sebelumnya. Bagaimana apabila hal baru tersebut masih sulit kita terapkan? Di sanalah butuh pembiasaan. Ketika kita menemukan kesulitan dalam melaksanakan sesuatu, jangan berhenti atau menyerah. Tantang daya tahan diri kita terhadap sebuah kesulitan. Kreatif akan lahir hanya karena tinggal menunggu waktu saja.

Kreativitas sebaiknya dilakukan dari hal terkecil, sesuai kapasitas yang kita miliki. “Every big step starts with an inch.” Terkadang orang ingin cepat-cepat membuat sesuatu yang besar. Padahal segala sesuatu ada prosesnya. Setiap ide adalah harta berharga, jangan pernah mematikan ide-ide yang ada, karena ide adalah sumber kreativitas. Tumbuhkanlah ide itu setiap saat. Jika perlu catat untuk dapat diremaind di lain waktu.

Kreatif dan kemampuan otak.

Pada dasarnya setiap manusia dianugerahi dengan kemampuan otak yang luar biasa. Bila kita ingin menjadi kreatif dan inovatif, kita harus menyeimbangkan kemampuan otak kiri dan otak kanan. Namun konsepsi otak kiri dan otak kanan ini kalau menurut saya sebenarnya tidaklah berhubungan dengan kreativitas. Bagi saya, orang yang dominan otak kanannya, belum tentu disebut tidak lebih kreatif dibanding dengan orang yang dominan otak kirinya. Karena kreatif dibangun dari pembiasaan, tentu hal ini tidak menjadi soal.

Kenapa kita harus kreatif?

Dalam setiap detik di kehidupan ini, kita selalu dihadapkan pada sebuah keadaan pengambilan keputusan. Dari mulai bangun pagi hingga bangun pagi hingga kita tidur, kita senantiasa harus membuat keputusan dari pilihan-pilihan yang ada. Agar hidup tidak berjalan sebagaimana biasa, monoton, dan cenderung datar-datar saja, maka diperlukan kreativitas untuk membuat keputusan atas pilihan yang ada. Jadi kreatif dibutuhkan dalma kita membuat keputusan agar keputusan yang telah kita ambil menghadirkan makna berarti dalam hidup kita.

Pelihara kebiasaan kreatifmu

Bagaimana menjadi orang kreatif? Mulailah dengan kebiasaan-kebiasaan yang menghadirkan kreativitas. Selalu membiasakan diri untuk kreatif dalam setiap hal, akan menghadirkan kenyamanan diri dalam menjalani setiap aktivitas yang ada. Selalulah berpikir di luar kebanyakan orang lain berpikir (antimainstream/out of the box). Tetapi setiap kita mengemukakan pikiran di luar pikiran kebanyakan, kita harus menyertakan alasan dan logika yang tepat. Bertanggung jawab atas sebuh pemikiran adalah sebuah pembeda antara kreatif dengan asbun (asal bunyi). Yoris di buku ini menyampaikan “Dont just be different. Be different by reason.” 

Untuk kreatif, tetap menjadi normal tidaklah baik. Kita perlu melakukan hal baru. Jangan takut berbeda. Sebab perbedaan itulah yang menjadikan kita menjadi orang lebih baik lagi di setiap waktu. Misalnya pergi ke suatu tempat yang rutin kita datangi dengan mengambil jalan yang berbeda. Atau bisa dengan mengubah penataan meja kerja, kamar tidur, ruang keluarga, dll. Dengan kita mengubah kebiasaan rutin, kita pasti akan mendapatkan hasil lebih baik. Tapi dengan catatan, setiap tindakan yang kita ambil, harus disertai alasan yang tepat.

Menjadi kreatif dengan berpengetahuan

Pengetahuan adalah salah satu hal terpenting yang wajib dimiliki oleh siapapun yang ingin membiasakan diri untuk kreatif. Orang kreatif selalu belajar dan menambah pengetahuannya, baik dari momen yang dia alami atau dia lihat. Pengetahuan juga merupakan sebuah modal penting agar alasan menjadi kreatif bisa diterima.

Mengakselerasi kreativitas anda.

Jika anda ingin kreativitas anda makin meningkat, bentuklah tim kreatif dari preferensi yang identik atau bahkan sama sekali berbeda. Hal ini bisa dilakukan untuk memberikan cara pandang baru bagi anda. Eksplorasi pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap sesuatu. Carilah kesempatan agar anda dapat memunculkan ide-ide baru dan kreativitas anda.

Think outside the box, execute inside the box

Ketika kita terlibat pada suatu masalah, kita harus bisa melihat masalah secara keseluruhan. Dengan begitu kita bisa menentukan solusi terbaik bagi penyelesaiannya. Kita harus kreatif dan bisa melaksanakan suatu program atau ide kreatif ketika dihadapkan pada keterbatasan. Mengenai hal ini, saya pribadi salut pada orang yang di tengah keterbatasannya tapi bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Kita tentu banyak tahu bahwa di negeri ini banyak “pahlawan” sampah. Orang-orang yang tergerak untuk mengelola sampah dan mengambil manfaat dari hal yang jorok tersebut. Padahal kita juga tahu bahwa mereka adalah orang biasa saja, bukan orang yang berkuasa, memiliki gelar pendidikan yang tinggi, ataupun kekayaan materi yang berlimpah. Mereka adalah orang yang berpikir di luar kotak. Di tengah keterbatasan mereka malah mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Inilah pakem yang disebut berpikir diluar kotak, tapi diwujudkan dalam kotak. Maksudnya, dalam menyelesaikan masalah yang ada, kita harus berpikir kreatif, akan tetapi jangan sampai solusinya malah jauh dari inti permasalahan tersebut.

Kreatif merupakan problem solver

Dengan berpikir kreatif, setidaknya kita bisa memecahkan beragam masalah yang ada di sekitar kita. Sebab menjadi problem solver adalah tujuan akhir dari berpikir kreatif. Banyak orang yang bingung bagaimana caranya menjadi orang kreatif? Sederhana saja, jadilah problem solver. Akan tetapi dalam memecahkan masalah tersebut, selain juga harus bisa dipertanggungjawabkan, kita harus mengkuantifikasi risiko yang ada ketika menjalankan solusinya. Selain itu, solusi yang kita sampaikan juga harus mengandung proporsi antara solusi aman, solusi kreatif dengan risiko kecil, dan solusi kreatif dengan risiko besar. Artinya menjadi kreatif tidaklah harus berlawanan, kita harus tetap beririsan dengan hal yang sudah ada.

Deri IM1

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca.

0 komentar: