Selasa, 28 Juni 2016

700 BATANG CAHAYA






Kumpulan puisi dan cerita yang bertemakan Palestina di buku ini benar-benar mengaduk-aduk emosi saya. Antara sedih, takjub, merinding, dan sebagainya. Pasalnya ketika pengusiran, penyiksaan, pemerkosaan, pembunuhan, sebagai santapan sehari-hari dimata dunia, mulut PBB tetap terkunci. Meski Palestina mereka katakan sudah merdeka. Tapi apalah Palestina tanpa Al-Aqsha, Palestina tidaklah lengkap tanpa Al-Aqsha.

Ada sentuhan berbeda dari antologi Palestina ini. Yakni terdapat puisi dengan bahasa Arab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Yang ditulis oleh Sumayye Mahmud dengan judul          "الضمير الغائب"  yang artinya “Suara nurani yang hilang.” Setiap cerita di buku ini memiliki kekhasannya masing-masing.

Di mulai dari  cerita tentang pemuda zionis dengan jiwa tragis, di mana pemuda itu meragukan tragedi Holocaust. Yang seakan-akan sejarah itu hanya dibuat-buat dengan unsur politik.

Cerita gadis berkerudung guava, yang bercerita tentang seorang gadis kecil yatim piatu  pemberani bernama Noura. Saking beraninya sampai ia berkata
“Kami kuat, kami ingin mati menjadi syuhada! Silahkan bom kami,” teriaknya kepada wartawan yang berasal dari Indonesia itu, sampai puncaknya ketika Noura sedang memakai jilbab putih dan sedang berpuasa bersama saudaranya. Tiba-tiba sirene tanda bahaya meraung, suara teriakan menggema hebat. Sang wartawan mencari-cari Noura dan saudaranya dengan melayang, karena matanya melamur. Suara teriakan, tangisan mengisi udara yang berubah menjadi panas membara. Wartawan itu terseok sampai ia melihat anak kecil yang sedang sekarat menggapai udara. Wartawan itu berhambur memegang tangan gadis kecil itu, kerudung putihnya bersimbah darah. Kerudung itu merah guava bercampur serpihan otak yang bocor terkena serpihan mesiu. Wartawan itu ambruk dan memeluk tubuh gadis kecil itu. Gadis kecil itu tersenyum dan menarik nafas terakhir. Hari ini ia sahur di dunia, sangat mungkin gadis kecil itu berbuka di syurga. Ya Allah , saya membayangkan bagaimana peliknya keadaan di sana, sampai berpuasa dalam keadaan perang seperti itu.

Sampai cerita 700 batang cahaya yang ditulis oleh mba Afifah Afra, yang menceritakan tentang bintang di langit yang penasaran akan spectrum tujuh ratus batang cahaya yang memancar sampai ke langit seperti kembang api raksasa yang berasal dari bola biru yaitu bumi. Hingga ia menjatuhkan dirinya ke bumi dan berakhir dengan menjadi barang dagangan batu bintang yang dijual oleh seorang ibu penjual batu antic.
Ada cuplikan kisah di dalam cerita ini yang membuat saya terharu yaitu ketika zigo barang dagangan yang dijual ibu itu tampak pucat melihat majikannya bersedekah untuk Palestina.
“Kau kenapa?” Tanya batu bintang.
“Tak tahu diri! Majikan kita, meski kekurangan ia selalu bersedekah untuk orang lain daripada mengurusi kepentingan dirinya! Mestinya orang itu tak minta sumbangan kepada majikan kita.” Jawab zigo. Lalu semburat tujuh ratus batang cahaya itu membuncah, kali ini cukup tinggi. Aku terpana.
“Kau tahu darimanakah asal semburat cahaya itu?” Tanyaku pada zigo.
“Itu berasal dari sedekah, aku sudah berkali-kali menyaksikan ibu itu diselimuti cahaya. Itu yang membuatku sangat betah bersamanya. Dan, itu sering membuatku merasa bersalah. Karena jangan-jangan  ketidaklakuan barang dagangan ibu itu disebabkan karena doa-doa kami yang tak ingin berpisah dengannya, karena kami mencintainya.” Subhanallah bahkan barang-barang di sekitarnya enggan berpisah dari orang yang sering bersedekah penuh cahaya itu. Saya jadi malu pada diri saya sendiri. Sepertinya saya masih sedikit sekali bersedekah sampai bisa diselimuti cahaya seperti itu.

Dalam buku ini pun ada puisi yang ditulis oleh mba Healvy Tiana Rosa ini sedikit cuplikannya
“Kami tegaskan sekali lagi! Karena kami rakyat Indonesia. Karena kami bangsa muslim terbesar di dunia. Karena kami manusia. Dan pada tahun 1962 Soekarno pemimpin besar kami, salah satu idola para pemuda Palestina hingga kini berkata ‘Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang penjajahan Israel.”

Buku ini recommended  banget untuk semua kalangan. Agar melihat dan membuka mta bahwa saat ini Negara-negara Timur Tengah sedang diliputi fitnah yang dahsyat. Patutlah kita untuk membantu mereka. Buku ini berhasil membuat saya membaca sampai akhir, begitupun dengan puisi-puisi yang keren banget, bahasanya pun mudah untuk dipahami. Salut sama FLP, hasil pembelian buku ini juga disumbangkan untuk Palestina.

Judul                : 700 Batang cahaya
Penulis             : Healvy Tiana Rosa, dkk.
Penerbit           : FLP Publishing
Tebal               : 216 Halaman
Tahun              : 2015
Peresume         : Nur Arfah
Bulan               : Mei

0 komentar: