Selasa, 28 Juni 2016

PARENT’S STORIES: MEMBESARKAN ANAK YANG BERDAYA






Banyak dari kita pernah mendapatkan informasi seputar parenting yang berseliweran di media sosial. Kita dengan mudah membacanya bahkan tidak sedikit di antara kita yang menyimpan informasi itu sebagai arsip di smartphone. Dengan harapan suatu saat kelak bisa membaca kembali untuk diamalkan. Apalagi kalau kita adalah orang yang masuk ke dalam grup yang sama-sama tertarik seputar parenting. Bisa dipastikan arsipnya akan semakin banyak.

Ada satu buku seputar parenting yang dapat menjadi rujukan untuk para orangtua muda. Ditulis oleh seorang ayah beranak dua, yang memiliki kegelisahan tentang nilai-nilai hidup yang kita tanamkan kepada generasi berikutnya. Ia, Adhitya Mulya, yang juga merupakan penulis novel Sabtu Bersama Bapak, mengulas hal yang sangat mendasar tentang pengajaran nilai hidup kepada anak. Ia mengharapkan agar terdidik generasi berikutnya yang berdaya dalam menghadapi tantangan hidup mereka. Hal tentang pengasuhan anak inilah yang terkadang luput oleh kebanyakan orang tua.

Pemikirannya ditulis ke dalam empat belas bagian seperti, Values, Harga Diri, Dari Mana Anak Berasal, Kekuatan dan Bahaya dari Pujian, Syarat Hidup, Perangkap Sulung, Imbalan untuk Anak, Cinta Tanpa Syarat, Life skill, Parents Know Best?, Menurut Kamu Bagaimana?, Tidur Terpisah, Mentor not Monster, dan Helicopter Parenting. Kesemuanya dibahas dengan struktur yang dimulai dari definisi konseptual yang sederhana, logical fallacy (kekeliruan logika) yang terjadi pada masyarakat, menawarkan alternatif solusi yang lebih baik melalui contoh, melogikakan mengapa hal demikian penting dilakukan, dan menuliskan kesimpulannya. Tenang, buku ini tidak serumit yang dibayangkan. Ia cukup menjadi manual yang membantu kita menerapkannya dengan percaya diri. Bukan berarti mudah juga karena menjadi orangtua berarti siap menghadapi risiko dan tantangan.

Awal buku ini adalah tentang definisi kesuksesan lintas zaman. Setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda-beda tetapi terkadang kita mengasosiasikan kata ‘sukses’-nya seseorang, kepada prestasi (baik materil atau nonmaterial) yang orang tersebut berhasil kumpulkan. Padahal, materi bukanlah parameter kesuksesan. Menurut penulis, definisi sukses adalah mampu menjawab tantangan di zaman masing-masing. Mereka yang kita anggap sukses adalah mereka yang mampu memberdayakan keimanan, kecerdasan, akses, dan kesempatan yang mereka miliki untuk dapat berguna bagi diri sendiri kemudian orang lain. (h. xv)

Senada dengan sub judul buku ini (Membesarkan Anak yang Berdaya) maka, penulis berbagi pengalaman tentang bagaimana sebaiknya kita melakukannya. Kita ingin anak berdaya dalam menghadapi dan mengatasi sendiri rintangan di zamannya. Mereka akan mampu melakukan itu,
Ă¼  jika memiliki values_sebuah jangkar yang menjadi rujukan mereka membedakan mana yang benar dan mana yang salah. (h. 13)
Ă¼  jika dia memiliki harga diri, dan paham akan dari mana datangnya harga diri itu. (h. 22)
Ă¼  jika mereka paham bahwa dari mana mereka berasal adalah hal yang tidak penting. Yang penting adalah ingin menjadi seperti apa mereka, saat mereka dewasa nanti. Yaitu adalah orang yang berguna bagi diri sendiri_dan menjawab tantangannya sendiri_dan berguna bagi orang lain. (h. 31)
Ă¼  jika dia memiliki definisi yang benar akan harga dirinya. Definisi yang benar akan kompetensinya. Definisi yang benar akan di mana kelebihannya, di mana kelemahannya dan bagaimana dia dapat mengembangkan dirinya lebih jauh. Semua itu datang dari bagaimana kita, sebagai orangtua, mendidik, memuji, dan mengkritisi mereka. (h. 42)
Ă¼  kita ingin mereka mampu dan tangguh bersaing dengan sembilan miliar orang. Memiliki syarat hidup yang banyak, tidak akan membantu anak-anak kita bersaing dengan orang sebanyak itu. (h. 55)
Ă¼  mereka mampu melakukannya tanpa ada yang memberi mereka imbalan. Karena untuk berdaya menghadapi tantangan, adalah kewajiban semua orang. Bukan sesuatu yang diimbalkan. (h. 82)
Ă¼  jika sewaktu kecil, kita memberi mereka, cinta tanpa syarat. (h. 97)
Ă¼  jika kita sebagai orangtua, memberikan ruang dan waktu bagi mereka untuk menguasai semua life skill yang mereka perlukan. (h. 110)
Ă¼  dan masa lalu kita, bisa jadi tidak selalu sama dengan masa depan mereka. (h. 121)
Ă¼  jika mereka memiliki kekuatan dan kemauan untuk menantang diri mereka sendiri untuk menemukan solusinya. (h. 133)
Ă¼  jika mereka mandiri. Dan mereka akan mandiri, setelah mereka cukup merasakan rasa aman, nyaman dan perlindungan dari kita, di usia dini. (h.142)
Ă¼  jika mereka memiliki kita sebagai mentor, bukan sebagai monster. (h. 153)

Poin-poin tersebut tidak perlu menjadikan kita memandang hanya sebatas kewajiban maupun hak  orangtua maupun anak. Namun demikian, kita sebagai orangtua perlu memberikan yang terbaik sesuai porsi yang proporsional kepada anak. Jangan lupa pula menyingkirkan gengsi untuk tetap terus belajar meskipun sudah berumur dan bergelar professor. Menurut saya, sepandai-pandai maupun sehati-hatinya kita mendidik anak, kita tidak boleh lupa bahwa semua itu berkat pertolongan Allah sehingga kita bisa melakukan yang terbaik yang kita bisa. Kita juga tak lantas lupa untuk mendoakan anak-anak kita kepada pemilik jiwa-jiwa mereka. Allah.

Secara keseluruhan buku ini sangat bermanfaat dan berharga. Hanya saja masih ada kesalahan ketikan huruf. Tidak terlalu menjadi masalah sih karena terdapat ilustrasi gambar  yang menjadi kunci pengingat di dalam tiap babnya. Ada baiknya kita memiliki buku ini untuk mengetahui teknik spesifik yang tidak saya sampaikan dalam resume.

Judul Buku        : Parent’s Stories: Membesarkan Anak yang Berdaya
Penulis              : Adhitya Mulya
Penerbit            : PandaMedia, Jakarta Selatan
Jumlah Hal.       : 164
Tahun Terbit     : 2016
Peresume         : Novi Trilisiana


0 komentar: