Selasa, 28 Juni 2016

Samita, Sepak Terjang Hui Sing Murid Perempuan Cheng Ho



Judul Buku            : Samita, Sepak Terjang Hui Sing Murid Perempuan Cheng Ho
Penulis                  : Tasaro
Penerbit                : Dar Mizan
Page                       : 648





Novel sejarah ini bergenre romantic-thriller, berlatar awal kehancuran Majapahit. Adalah Laksamana (Jendral Angkatan Laut) Cheng Ho, seorang kasim Muslim kepercayaan Kaisar ketiga Dinasi Ming dipercaya untuk memimpin armada laut dalam rangka menjalin persahabatan dan perdamaian dengan negara-negara tetangga. Cheng Ho memimpin banyak eskpedisi, salah satunya adalah ke Samudra Barat (Indonesia) dengan misi membawa perdamaian dengan kerajaan Majapahit. Kala itu Majapahit sangat mahsyur bahkan sampai ke luar negeri.

Dalam ekspedisi kali ini Cheng Ho membawa 28 ribu ping se (tentara) dan tiga murid terbaiknya yaitu Hui Sing yang merupakan anak angkatnya, Sien Feng, dan Juen Sui. Diantara ketiga muridnya ini hanya Hui Sing, tokoh utama novel ini, yang sudah beragama I-se-lan (Islam). Para ping se memiliki beragam kepercayaan dan agama, namun demikian mereka hidup rukun dibawah kepemimpinan Laksamana Cheng Ho.

Saat Cheng Ho berlabuh di Simongan terjadi dua peristiwa mengejutkan. Pertama, serbuan pasukan Majapahit yang menuduh Cheng Ho dan lurah Simongan bersekutu melawan Majapahit sehingga menimbulkan perang yang menewaskan ratusan ping se. Kedua, hilangnya Kitab Kutub Beku milik Cheng Ho yang diduga dicuri oleh salah satu murid terbaiknya (Sien Feng, Juen Sui, atau Hui Sing). Serangan prajurit Majapahit tentu saja sangat melukai Cheng Ho dan rakyat Simongan yang kehilangan Ki Lurah akibat terbunuh. Para ping se menyarankan untuk membalas, namun Cheng Ho memilih berdamai dan meminta raja bertanggungjawab dalam bentuk lain.

Saat Cheng Ho berada di Majapahit, terjadi peristiwa pembunuhan terhadap salah satu Rakrian Menteri Majapahit. Si pembunuh menggunakan jurus Kutub Beku, yang itu berarti pembunuhan dilakukan oleh salah satu murid Cheng Ho. Namun apa motifnya? Dan siapa orang itu? Disinilah petualangan Hui Sing dimulai.

Di Majapahit Hui Sing bertemu dengan pimpinan pasukan Bhayangkara yang bernama Sad Respati. Benih-benih ketertarikan muncul diantara keduanya, namun saat itu Respati telah memiliki calon istri, Anindita namanya, anak Mahapatih kepercayaan Raja. Saat pasukan Cheng Ho hendak bertolak kembali ke Tiongkok, Cheng Ho rupanya diracun oleh si pencuri Kitab dan itulah awal mula terbongkarnya identitas pencuri Kitab dan persekongkolan pembunuhan di Majapahit. Hui Sing sangat sedih mengetahui siapa yang berkhianat. Di sisi lain hatinya tertinggal di Majapahit. Hal itu membulatkan tekad untuk kembali ke Majapahit, mengingatkan Respati akan bahaya yang mengancam dan memberitahu otak pembunuhan Rakrian.

Perjalanan Hui Sing tidaklah mulus. Dalam suatu pertarungan melawan dua orang penjahat tersohor, Hui Sing jatuh ke jurang. Ia terdampar selama 2 tahun di dalam jurang sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan ke Majapahit. Hui Sing sebenarnya sangat lihai Thifan Pokhan (bela diri pecahan Tee Kumfu dan Kungfu berazaskan Islam) khusus perempuan. (saya baru tahu juga ternyata ada kungfu berazaskan Islam :D, yang konon gerakannya halus, membuat perempuan tetap cantik, dan mampu mempertahankan kondisi tubuh tetap lembut dalam setiap jurusnya). Lewat masa dua tahun itu Hui Sing mengganti namanya menjadi Samita (artinya Bintang). Nama itu adalah pemberian Respati saat mereka bertemu kali pertama di Majapahit.

Bagaimana dengan Respati? Ia menikah dengan Anindita selama dua tahun. Karena kecewa terhadap makar Anindita dan terhadap pemerintahan Majapahit ia pergi berkelana, melepas jabatan dan kekuasannya. Ia berguru selama dua tahun kepada seorang ulama Islam dari Gujarat. Namun sayang hidayah Islam tak kunjung menyentuh hati Respati. Sang ulama hampir menikahkan Respati dengan putrinya. Hingga muncul seorang kakek sableng (yang ternyata guru Hui Sing) yang memberitahu bahwa selama ini sebenarnya diam-diam Hui Sing selalu mengikuti Respati kemanapun pergi. Namun Hui Sing memutuskan untuk kembali ke Tiongkok saat mendengar desas desus bahwa Respati akan menikah dengan putri ulama Gujarat itu.

Respati menyusul Hui Sing ke pelabuhan Surabaya. Disana ia menemui laksamana Cheng Ho yang baru saja berlabuh untuk meminang Hui Sing. Cheng Ho mengingatkan bahwa Hui Sing seorang muslimah dan ia hanya akan menikah dengan seorang muslim. Hui Sing sangat gembira dengan lamaran Respati. Hui Sing meminta keislaman Respati sebagai mas kawinnya. Mereka hidup bahagia dan tinggal di Nusantara. Mereka mendirikan padepokan yang menyediakan fasilitas belajar Ilmu agama, umum, dan pencak silat. Mereka menyebarkan Islam dari padepokan itu, namun mereka tak memaksa murid-muridnya untuk berpindah agama. Hal itu yang menyebabkan padepokannya sangat maju pesat dan dalam kurun waktu singkat telah memiliki ratusan murid.

Kondisi Majapahit saat itu sudah tercerai berai. Sejak kematian raja Hayam Wuruk dan Gajah Mada, terjadi perebutan kekuasaan antara Breh Wirabhumi (anak Hayam Wuruk dari selirnya) dan Wikramawardhana (menantu Hayam Wuruk). Hayam Wuruk sebenarnya sudah memberikan kekuasaan kepada keduanya dimana Wikramawardhana menjadi raja di Majapahit, sedangkan Wirabhumi menjadi raja di Blambangan. Namun orang-orang sekeliling Wirabhumi yang haus kekuasaan tidak menerima keadaan itu dan menghasut raja hingga terjadi perang saudara. Akibatnya rakyat tidak terurus, penyelewengan kekuasaan dan pemberontakan terjadi dimana-mana. Satu per satu kerajaan bawahan Majapahit mulai memberontak dan melepaskan diri. Pada titik itu semua gerakan komunitas rakyat dicurigai sebagai upaya menghimpun kekuatan pemberontakan terhadap Raja.

Termasuk yang dicurigai adalah padepokan Hui Sing dan Respati. Malam itu padepokan mereka diserang oleh pasukan Bhayangkara Majapahit. Padahal Respati pernah menjadi pemimpinnya. Bagaimana nasib Respati dan Hui Sing selanjutnya? Simak sendiri yah di novelnya yang jelas ini bikin saya nangis bombay. Sweet, sad, and heroic. Yang jelas anaknya Hui Sing hilang saat ia membantu suaminya melawan pasukan Bhayangkara. Siapa coba yang nyulik? Ah ini bikin penasaran gimana endingnya anak itu karena gak diceritakan dalam novelnya. Mungkinkah ada seri lanjutannya?

Finally, banyak hikmah sejarah dari novel ini. Pertama, Islam disebarkan luaskan dengan cara damai, Islam sangat menghormati kepercayaan agama lain, dan Islam tidak memaksa umat lain untuk berpindah agama. Ini terlihat dari bagaimana sikap Cheng Ho terhadap para ping se, sikap ulama Gujarat terhadap para muridnya, serta sikap Hui Sing dan Respati terhadap para murid di padepokannya. Pun bagaimana prinsip Cheng Ho, bahwa dalam memerangi orang jahat, perang senjata adalah jalan terakhir ketika tak ada jalan lain yang bisa ditempuh. Tergambar ketika Cheng Ho menghadapi pemberontakan Zhuyi. Islam menyebar melalui pada pedagang Arab, Gujarat, bahkan Tingkok. Jadi kalau selama ini ada muslim yang anti Cina, rasanya kudu kembali membaca sejarah ya.

Kedua, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang adil. Ini sangat terlihat dari gaya kepemimpinan Cheng Ho. Ia mengayomi, mengarahkan, dan tak membeda-bedakan bawahannya. Pun saat salah seorang prajuritnya sakit cacar, ia merawatnya sendiri dengan telaten. Padahal pekerjaan itu bisa saja dilakukan oleh orang lain. Dimanapun Cheng Ho singgah, ia dan para ping se selalu belajar hal baru dari penduduk setempat dan merekapun berbagi ilmu baru kepada penduduk setempat, tentang Islam, tentang bertani, bahkan tak segan membantu para penduduk membuka ladang baru.

Ketiga, bahwa ambisi kekuasaan akan menghancurkan tatanan suatu negara. Terlihat dari latar mula perang saudara Majapahit yang kelak berujung pada kehancuran kerajaan tersebut. Bahkan bibit ambisi kekuasaan itu sebenarnya sudah digaungkan oleh Gajah Mada dengan dalih menyatukan Nusantara. Tragedi di lapangan Bubat menjadi saksi bisu sekaligus awal mula kekecewaan rakyat terhadap kerajaan Majapahit, utamanya Gajah Mada. Tiada gading yang tak retak. Dibalik kebesaran namanya, Majapahit menyimpan sejarah kelam dibawah kekuasaan Mahapatih Gajah Mada.

Terakhir, semoga kita sebagai muslim dapat mengambil hikmah dari kisah masa lalu. Islam datang dengan jalan damai dan sampai kapanpun akan tetap demikian. Tasaro mengajak kita untuk mawas diri. Sejatinya setiap agama pada mulanya diturunkan dengan nilai-nilai yang sama sebagaimana dijelaskan dalam Al Kitab (orisinil) masing-masing. Namun pengikutnyalah yang kemudian menyelewengkan nilai-nilai tersebut bahkan ada yang mengubah isi Al Kitab sesuai keinginannya. Maka nasihat Cheng Ho yang sangat bijak adalah agar umat Islam senantiasa berpegang teguh pada Kulan Cing (Al-Qur’an) karena itu merupakan landasan hukum tertinggi umat Islam yang terjaga keasliannya sampai hari Kiamat kelak, insyaAllah.

Yogyakarta, Mei 2016
-THW-





0 komentar: