Sabtu, 17 Oktober 2015

Effects of caffeine on sleep and cognition

Progress in Brain Research, Vol. 190
Penulis : Jan Sneland Monicque M. Lorist
Tahun : 2011

Pada sutau hari saya ketika saya berkunjung ke kos teman saya ditawari 2 jenis minuman, kopi atau teh. Saya tersenyum dan menjawab “saya tidak terlalu suka teh coklat, lalu kalau saya memilih kopi sama saja seperti apa yang saya punya di kos.”.Saya perhatikan memang kopi adalah menu wajib mahasiswa. Hampir disetiap kos teman saya melihat mereka memiliki banyak kopi instan, begitupun ketika saya berbelanja dipusat perbelanjaan, kopi merupakan salah satu barang yang wajib dibeli tiap bulannya. Lalu saya berfikir bahwa sketika seseorang mengonsumsi kopi, apakah memang suka atau kebutuhan?Oleh sebab itu saya berusaha mencari tau jawabnnya.

Pada jurnal ini efek kafein dijelaskan secara mendalam dan cukup banyak istilah biologi dan psikologi yang tidak umum karenanya saya menambah sumber lain agar mudah ditulis dan dipahami secara sederhana.

Kafein adalah obat perangsang yang bertindak dalam sistem saraf pusat karena kafein larut dalam air dan bersifat lipid sehingga mudah masuk ke otak dan bereaksi pada otak.Kafein bekerja dengan mengurangi efek dari neurotransmitter yang disebut adenosine. Adenosine bertindak sebagai penekan sistem saraf yang mengurangi aktivitas saraf. Karena kafein memiliki bentuk yang sama dengan adenosine, dan juga dapat mengikat pada reseptor seperti adenosine. Lalu terjadi semacam competitive inhibition. Kafein mencegah adenocine dari memperlambat knerja sistem saraf.Itulah kenapa ketika kita minum kopi kita tetap terjaga.

Kafein dapat digunakan secara efektif untuk memanipulasi keadaan mental kita.Hal ini bermanfaat dalam mengurangi rasa kantuk dan menangkal rendahnya kinerja tugas kognitif ketika kurang tidur. Namun, kafein dapat menghasilkan efek merugikan pada waktu tidur berikutnya, yaitu mengakibatkan kantuk di siang hari.

Baranski (2007) dalam studinya menemukan bahwa satu malam kurang tidur tidak menimbulkan adanya gangguan kinerja kognitif.Namun, responden yang mengonsumsi kafein dilaporkan lebih kesulitan untuk tetap terjaga saat mendengarkan ceramah atau belajar dan saat mengemudi mobil. Berdasarkan hasil tersebut, penulis berpendapat bahwa konsumsi kafein dapat mengganggu kebiasaan tidur dan kualitas tidur, sehingga menghambat kinerja kognitif.Faktor lain yang dapat menyebabkan gangguan tidur dalam interaksi dengan kafein adalah kerentanan terhadap stress.

Kafein juga dapat mempercepat kelelahan mental melalui aktivitas yang meningkat dari otak, tanpa sensasi yang menyertai peningkatan kelelahan.Kafein memstimulasi produksi adrenaline.Itu yang menyebabkan meningkatnya detak jantung, meningkatkan laju peredaran darah di otot, membuka saluran udara dan menyebabkan tekanan darah naik. Akibat lain yaitu hati melepaskan gula ekstra dalam aliran darah, sehingga mendorong peningkatan energi.Kafein meningkatkan jumlah dopamine dan dengan cepat terserap ke jaringan otak.Itu yang membuat kita merasa nyaman bahkan dapat kecanduan kopi.

Lund et al. (2010) meneliti kualitas tidur pada mahasiswa (usia 17-24 tahun). Adanya masalah gangguan tidur dilaporkan oleh 60% dari 1.125 siswa.Calamaro dkk memiliki hipotesis bahwa dengan peningkatan penggunaan teknologi, terutama larut malam, memicu lebih banyak kafein yang dikonsumsi agar tetap terjaga.Pola perilaku ini, ditambah dengan dimulainya masa awal sekolah menengah dan sekolah tinggi yang menuntut seseorang bekerja keras hingga seseorang mengalami kurang tidur.Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan dengan kegiatan teknologi di malam hari memang terkait dengan penurunan durasi tidur.Tidak mengherankan, kemampuan untuk tetap waspada dan fungsi kognisi memadaiselama hari berikutnya telah rusak oleh kantuk di siang hari yang berlebihan pada mereka siswa kurang tidur.Selain itu, konsumsi kafein cenderung 76% lebih tinggi pada kelompok ini.Implikasi penting dari suatu keprihatinan strategi efek negatif tambahan pada tidur malam hari ketika mencoba untuk mengkompensasi kantuk di siang hari dengan mengonsumsi kafein.

Penelitian selanjutnya dilakukan kepada siswa yang selama 37 jam studi kurang tidur. Lalu mereka diberikan Tugas belajar terdiri dari mempelajari hubungan antara simbol hiragana Jepang dan suku kata yang diucapkan dan diuji 2 jam kemudian dengan lima hiraganas dari sesi pembelajaran sebelumnya. Sesuai dengan perkiraan, kurang tidur menurunkan jumlah pendeteksian yang benar dan peningkatan waktu reaksi baik di kafein (Kafein >300mg) dan kelompok placebo (kafein <300 mg).

Satu gelas kopi pada umumnya memiliki 200 mg kafein. 6 jam setelah mengonsumsi kopi, kafein hanya berkurang setengah dari jumlah awal, lalu 6 jam kemudian berkurang lagi setengahnya. Jadi dalam 24 jam kafein ditubuh kita tidak benar-benar hilang. Apabila seseorang setiap pagi mengonsumsi kopi, maka sisa kafein dalam tiap 24 jam akan terakumulasi, sehingga meningkatkan stess dan gangguan berpikir. Secara mental kafein akan meningkatkan kesadaran dengan sangat tinggi, sehingga penikmatnya dapat mengalami disorientasi dan halusinasi, 

Dosis kafein yang mematikan adalah 9500 ml, atau setara dengan 48 gelas.Penikmat kopi pasti tau bahwa kopi bersifat deuretik, jadi tidak dimungkinkan bisa meminum sebanyak itu dalam sehari. Jadi terjawab bahwa pada awalnya kafein (terutama dari kopi) adalah kebutuhan yang menunjang kerja setiap orang (terutama dalam berpikir dalam menyelesaikan tugas-tugas), tetapi caffeine is a drug yang bisa membuat penikmatnya kecanduan, so Caffeinate wisely*!!

*Imbangi kurangnya waktu tidur dimalam hari dengan tidur siang sebelumnya

Usahakan untuk membangun system sleep early and wake up early (tidur lebih awal dan bangun lebih awal)

Gunakan waktu untuk bekerja dengan efektif dan berkualitas

Khairisa_IM2

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca.

0 komentar: