Minggu, 16 Juli 2017

Di Tanah Lada





“Kakek Kia Meninggal”, menjadi bab pertama dari novel ini yang langsung menyedot perhatian, terutama ketika tokoh utama berkisah dengan polos tentang kehidupan keluarganya yang mirip cuaca di benua Australia. Disini, tokoh utama mengungkapkan bagaimana rasanya ditinggal orang yang paling diandalkan tapi versi uraian anak-anak.

Bisa dibilang, ini adalah novel karya Ziggy yang pertama saya baca dan akhirnya nagih untuk membaca karyanya yang lain. Dengan iming-iming dicover novel sebagai “Pemenang II Sayembara Menulis DKJ 2014”, lantas saya langsung membeli buku ini. Sebab saya cenderung suka membaca karya juara-juara dari lomba karena karya itu pasti sudah melalui seleksi ketat dari para kurator dan tentu punya alasan mengapa jadi juara.

Novel ini berkisah tentang Ava, gadis kecil berusia tujuh tahun yang punya kemampuan linguistik yang bagus. Dia suka sekali membawa kamus bahasa Indonesia kemana-mana. Kamus itu adalah satu-satunya kenang-kenangan dari kakek Kia. Masalah Ava sudah ada sejak lama, ketika ayahnya memanggilnya Saliva atau Ludah karena menganggap Ava tidak berguna. Tapi selepas kakek Kia meninggal,kehidupan Ava semakin parah karena tidak ada lagi yang memarahi ayah. Ava sekeluarga harus pindah ke Rusun Nero. Disana, ia berkenalan dengan P, seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang juga memiliki nasib yang sama dengan Ava. P tidak punya nama, P juga punya ayah yang jahat (dalam pembicaraan mereka) tapi P tidak punya mama, Ava punya. Meskipun mamanya sering sibuk sendiri terutama ketika bertengkar dengan ayah. Tapi Bbersama P, Ava akhirnya menjalani petualangan. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya karena untuk pergi ke tanah lada, jauh dari ayah mereka. Dan yang sedikit maksa dari novel ini adalah percakapan romantis a la anak-anak. Saya sampai kerut kening dibuatnya. Mungkin saya yang skeptis. Mungkin tidak.

Menurut saya ini novel ironi dan satir, dimana ada banyak sindiran polos dari pihak anak untuk para orangtua. Membaca percakapan antara Ava dan P lumayan bikin nyengir dan kadang-kadang kayak lagi diejek. Terlihat kalau penulis berusaha meletakkan semua pandangannya menjadi pandangan anak kecil yang polos dan kritis. Contohnya begini;

“Kok, mama kamu mau, ya, menikah sama orang yang mau memotong kakinya?” komentarku

“Mama kamu juga sama aja. Kenapa dia mau menikah sama Papa kamu yang jahat begitu? Mama aku, sih, mendingan. Karena Papa jahat, dia kabur. Mama kamu, kok, nggak kabur?”

“Soalnya. Mama sayang aku. Kalau kabur, nanti aku tinggal sendirian sama Papa, dong. Seperti kamu.”

“Iya. Tapi, kalau Mama kamu sayang sama kamu, dia kaburnya bawa kamu.”

Aku memikirkannya sebentar. “Hari ini, Mama bawa aku kabur ke hotel dari Papa.”

“Iya. Kayak gitu, kabur bareng kamu. Seharusnya dia kabur dari dulu.”

“Dulu sih, ada rumah yang bagus. Kalau kabur, sayang rumahnya. Sekarang kan kaburnya dari Rusun Nero, jadi nggak sayang kalau kabur.”

Saya jadi ingat pesan seorang psikolog anak, bahwa dilarang keras bertengkar di depan anak. Kasus Ava dan P, memang mereka berdua tidak jadi anak yang brutal tapi malah hancur dari dalam. Lalu poin berikutnya, lingkungan dan teman sebaya yang cukup memengaruhi psikologis. Saya lumayan syok baca ending novel ini. syok. Ada banyak plot-twist di akhir-akhir cerita dan jangan pernah harap happy ending. Justru endingnya bikin saya termenung dan beberapa saat kemudian bilang, “apaan nih?!” karena saya heran sama pemikiran P dan kepatuhan Ava. Mungkin karena P cuma punya Ava, Ava cuma punya P. Ada rasa percaya dan memiliki yang sulit dijelaskan diantara mereka. Jadi penulis mencoba menghadirkan perasaan “have to always together” padahal kan mereka masih anak-anak.

Buku ini adalah salah satu buku yang mewakili suara hati anak korban KDRT. Baik Ava atau P mereka sama-sama refleksi dari itu semua.  Yang mengganggu saya dari buku ini; karena hobinya bawa kamus kemana-mana, Ava suka mencari kosakata yang baru ia dengar dan menjelaskan arti kata itu kembali. Daripada gemas, saya sedikit mengantuk setiap masuk ke dalam sesi/kalimat ketika Ava menjelaskan arti suatu kata lengkap dengan keterangan kb, kk, dan sebagainya persis seperti di kamus. Mungkin karena saya tahu artinya atau merasa kayak lagi diceramahi anak kecil. Terlebih penulis mengambil sudut pandang pertama. Tidak buruk, karena unik. Tapi bikin pembaca jadi bener-bener harus sabar.

Terlepas dari itu, saya suka kepandaian penulis mengaitkan bab 1 ke bab berikutnya dan menghubungkan cerita dengan penyair termahsyur Chairil Anwar, Lagu Me yang selalu dinyanyikan P, Cuaca di Australia, Cerpen The Egg, The Prince, dan lain-lain. Kelihatan sekali kalau penulis wawasan sastranya luas. Saya jadi banyak tahu juga sekelumit dunia sastra dari novel ini.

Terakhir, buku ini sindiran halus, sehalus Ava ketika mengatakan; malam itu, aku tidur di dalam kamar mandi.

Judul Buku        : Di Tanah Lada
Penulis               : Ziggy Zezsyazeoviennazabarizkie
Tebal Halaman  : 240 Halaman
Penerbit             : GPU
Peresume           : Ika

0 komentar: