Senin, 31 Oktober 2016

Menjadi Guru Untuk Siapa?








Buku yang ditulis oleh ST Kartono, guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta ini mengingatkan bahwa menjadi guru pertama-tama adalah untuk murid, melayani keingintahuan siswa, dan membangun antusiasme belajar. buku ini merupakan kumpulan tulisan opini antara Juni 2008 hinga Maret 2011.
Buku ini terdiri dari 3 Bab. Bab 1 tentang Membangun Impian sebagai Guru. Bab 2 Menghidupi nilai, mengasah Keterampilan mendidik. Bab 3 tentang Perjumpaan dengan Murid.
Pada setiap bab terdapat opini tentang bagaimana profesi guru seharusnya dijalankan dan pengalaman pribadi penulis ketika menjalankan profesinya sebagai guru.
Kebanggaan Menjadi Guru
Kebanggaan menjadi guru hendaknya ditanamkan betul dalam diri pendidik. Sekarang ini profesi guru banyak diminati oleh orang-orang muda. Para calon mahasiswa memilih jurusan keguruan dengan semangat berdasarkan pilihan mereka sendiri. Kebaikan demi kebaikan sekolah pasti akan muncul dari para guru yang optimistik.
Tugas guru semakin komplesks dan berkembang. Banyak pekerjaan administrasi yang cukup menyita perhatian guru. Tanpa disadari guru sering menjadi guru untuk aparat pemerintah, menjadi guru untuk dinas pendidikan, menjadi guru untuk aturan-aturan, menjadi guru untuk kepentingan dagang di sekolah, atau menjadi guru untuk berjualan paham.
Itulah yang terjadi pada kondisi guru sekarang ini. Banyak melupakan tugas pokoknya mendidik siswa. Guru lebih disibukkan dengan urusan administrasi. Guru lebih tergopoh-gopoh menemui panggilan kepala sekolah atau dinas pendidikan ketimbang menemui siswa. Guru lebih takut dipecat atau dimutasi oleh pejabat pemerintah tapi tidak takut mempersiapkan tampilan keteladanan kepada siswa. Guru cenderung lebih tergopoh-gopoh mengerjakan tugas dari dinas ketimbang tugas pokoknya sebagai pengajar. Saat dipanggil pejabat atau pemerintah maka dia akan bersegera. Ketimbang memenuhi panggilan jam mengajar.
Menjalani Profesi Guru dengan Optimis
Tidak sedikit guru yang menjalankan profesinya tanpa kegembiraan. Keluhan tentang ketersediaan waktu yang minim. Sementara itu dia harus mengajarkan materi ini itu, tidak boleh ada materi yang terlewat. Materi pelajaran yang sangat banyak, tetapi waktu tidak mencukupi.
Guru hendaknya jangan hanya mengeluh saja, tetapi harus  menemukan cara penyelesaiannya. Guru bukan seorang penonton, tetapi menjadi pemain. Menjadi sutradara yang mencipta cerita. Menjadi pemain yang menentukan baik-buruknya permainan. Gonta ganti kurikulum tidak perlu direpotkan. Pahami semangat dasar pergantian kurikulum itu, singkirkan materi aksesoris. Rujukkan materi pada buku-buku utama. ST Kartono telah membuktikannya dengan menjadi guru selama 17 tahun tidak sekalipun memakai buku pelajaran atau paket dari siapa pun dan dari penerbit manapun.
Cara berpikir yang optimistik akan menempatkan kesulitan sebagai sebuah tantangan. Jam pelajaran yang terbatas, kurikulum dan buku yang selalu berganti, serta cekaknya finansial justru menjadi tantangan untuk disiasati, diatasi, dan dihadapi serta diselesaikan. Jika guru masih mengeluh tentang siswanya, mempersoalkan berbagai faktor persekolahan sebagai kendala untuk menunaikan tugas keguruannya, maka perlu dipikirkan ulang cara berpikir guru itu sendiri.
Guru harus optimis dengan pekerjaannya. Hanya guru yang mempunyai semangat sajalah yang dapat menularkan semangatnya, hanya guru yang mempunyai gambaran positif sajalah yang mampu memberikan apresiasi positif kepada siswanya.
Tantangan paling besar para guru bukanlah memahamkan pelajaran kepada siswa. Tetapi siswa yang tidak bergairah atau ogah-ogahan di kelas. Irama persekolahan yang banyak libur atau libur-masuk-libur-masuk, terasa efeknya di kelas. Disinilah pentingnya seorang guru membuat suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan bagi siswa.

Dimulai dari Kepala Sekolah
Mendidik, menyampaikan nilai-nilai (value) atau mengajarkan keutamaan hidup adalah tugas utama seorang guru. Ada pemandangan unik di sebuah sekolah dimana kepala sekolahnya menyambut siswa yang datang. Dengan senyuman, menyalami siswa yang melintas menuju kelas. Agar dapat menyalami para siswanya, kepala sekolah harus hadir lebih awal. Berlawanan dengan kebiasaan atasan yang selalu hadir belakangan. Dia tidak mungkin dalam waktu singkat menghafal satu per satu nama siswa, sekurang-kurangnya memberikan keyakinan kepada para siswa bahwa sekolah adalah rumah kedua yang nyaman untuk setiap orang muda belajar, tumbuh, dan berkembang. Kepala sekolah dan semua guru di sekolah menjadi orang tua yang menyejukkan setiap hati.

Pemisahan Kelas
Penelitian Carl Glickman (1991) menyimpulkan hasil bahwa tidak ada keuntungan yang diperoleh dengan menempatkan siswa ke dalam kelas berdasarkan kemampuan akademisna. Siswa yang berprestasi lebih tinggi cenderung tidak menunjukkan adanya peningkatan yang lebih baik ketika ia bersama dengan siswa-siswa yang berprestasi sama tingginya. Di sisi lain, siswa yang prestasi belajarnya kurang justru semakin menurun prestasi belajarnya ketika ia dikelompokkan dengan siswa lain yang memiliki prestasi yang setara. Ada kebosanan yang dirasakan di dalam kelas yang kurang pintar. para siswa di kelas demikian mempunyai gambaran diri buruk, tidak sehebat kelas pintar.
Mengenal Murid
Satu perangkat penting bagi sebagian guru di sekolah adalah album foto siswa tiap kelas. Ini membantu dalam mengisi raport. Tidak sedikit guru yang menempuh cara-cara kebatinan, setengah menerawang ketika menuliskan angka-angka dalam raport. Jangan-jangan, penilaian menyangkut perilaku dan afeksi siswa ditentukan berdasarkan buram-terangnya foto.
Disayangkan jika relasi guru dan siswa dikelas hanya sekedarnya tanpa saling mengenal. Murid harus mengenal gurunya, sementara guru tidak perlu mengenal muridnya.
Padahal kondisi ini bisa disiasati. Misalnya dengan seorang guru yang meminta siswanya memasang papan nama di dadanya pada bulan-bulan pertama memulai pelajaran demi memudahkan menghafal nama siswa. Menghafal nama siswa menjadi awal mengenal lebih lanjut seluruh konteks kehidupan siswa, latar belakang keluarganya, atau penunjukan akan terasa lebih menyentuh siswa dengan menyebut namanya. Bandingkan dengan cara guru menunjuk siswa dengan kata ganti ‘kamu’, ‘kau’, ‘lu’, atau ‘itu yang berbaju merah’, ‘itu yang duduk di belakang sendiri’.
Buku ini sangat aplikatif. Sering terjadi dalam keseharian seorang guru. Mungkin saja banyak guru yang mengalami kejadian seperti yang diceritakan oleh Kartono. Namun kepiawaian Kartono dalam mendokumentasikan kejadian itu yang membuatnya menjadi berarti.

Judul buku : Menjadi guru untuk Muridku
Penulis             : ST Kartono
Cetakan ke      : 5
Tahun terbit    : 2015
Tebal halaman            : 271 halaman
Peresensi         : Supadilah

0 komentar: