Senin, 31 Oktober 2016

Alive (16 orang-72 hari di Neraka Salju)

Pertama kali dikenalkan buku ini oleh Mas Wahyu di Taman Bacaan Pagilang yang berada di Kayumanis (dekat rumah), dengan menggebu-gebu dia bercerita sebuah buku tentang kehidupan yang sebelumnya pernah di film-kan oleh Hollywood dan diperankan oleh karakter kawakan, Ethan Hawkey. Buku ini berjudul Alive, berkisah tentang perjuangan segelintir orang yang selamat dari insiden jatuhnya pesawat Uruguayan Air Force Flight 571. Buku ini berdasarkan kisah nyata dari sekelompok pemain rugby yang berjuang melawan dinginnya salju dan sedikitnya makanan ketika pesawat yang mereka tumpangi jatuh di Pegunungan Andes pada tanggal 12 Oktober 1972.

Kisah bermula dari sekelompok pemain rugby yang bertubuh besar-besar dan berumur 20 tahun-an ingin mengadakan kembali pertandingan di Peru. Mereka menyewa pesawat Fairchild dan berangkat dengan 45 orang. Keberangkatan mereka terpaksa berhenti di Argentina karena cuaca buruk dan berangkat kembali esok harinya, melaju ke Pegunungan Andes namun naas, pesawat tersebut hancur dan terpisah menjadi 2 bagian. 16 orang langsung meninggal, 1 kemudian menghilang karena mencoba menyelamatkan diri dan tersisa 28 orang yang selamat namun diantaranya mendapati luka yang cukup parah.

Makanan yang tersisa hanya berupa cemilan dan coklat-coklat, anggur dan beberapa bungkus rokok. Pakaian pun hanya yang mereka kenakan, karena koper-koper mereka berada di ekor pesawat dan jatuh jauh dari tempat mereka berada. Mereka yang selamat cukup optimis kalau mereka akan tertolong karena mereka melihat dan mendengar pesawat di atas mereka, namun pesawat-pesawat tersebut hanya melintas dan tak melihat mereka.

Perjuangan dimulai, dengan salju yang terus turun dan menghujani mereka, luka yang tak sembuh-sembuh, persediaan makanan habis, mereka harus berjuang bertahan sampai tim penyelamat datang. Lalu, seseorang diantara mereka, Roberto Canessa, seorang mahasiswa kedokteran tingkat 2, mengambil inisiatif untuk mencari makanan lain agar mereka bertahan dan gagasan tersebut adalah memakan daging teman mereka sendiri. Dengan bongkahan pesawat untuk dijadikan pisau, mereka memotong sedikit demi sedikit daging yang ada dan membekukan di tumpukan salju, jika matahari terlihat, mereka mengeringkan daging tersebut di atas pesawat. Awalnya, mereka pun tidak mau dan akhirnya mengalah oleh rasa lapar.

Tak mau menyerah oleh keadaan, mereka membentuk tim ekspedisi untuk mencari bantuan, tim pertama gagal, barulah tim kedua berhasil mencapai bangkai ekor pesawat dan mereka menemukan koper-koper, makanan, serta radio. Bagai menemukan harta karun, begitu pikir mereka saat itu. Namun, sayangnya bencana tak henti-hentinya datang dan longsor salju menewaskan 8 orang dari mereka yang selamat. Satu persatu dari mereka pun meninggal sampai tersisa 16 orang. Ekspedisi ketiga, mereka mengirim 3 orang untuk berjalan lebih jauh lagi, namun yang satu dikirim kembali karena bekal daging manusia yang dibawa ternyata tak cukup untuk 3 orang. Nanda dan Roberto akhirnya berhasil menemukan sapi di pinggir sungai dan ditolong oleh pengembala. Akhirnya, selama 72 hari bertahan mereka dapat makanan yang layak. Dipandu oleh Nando, kepolisian Peru berhasil menyelamatkan 14 orang lainnya. Dengan kondisi mengerikan dan kritis, mereka langsung dilarikan ke Rumah Sakit, sebagian dari mereka bercerita bahwa mereka memakan daging temannya sendiri untuk bertahan hidup. Keluarga dari para korban tentu saja ada yang menerima namun ada juga yang tetap tidak ikhlas mendengar berita tersebut.

Buku ini menurut saya banyak mengajarkan pelajaran hidup, ketika mereka berada dalam titik lemah dan berjuang untuk tidak mati, mereka tetap berdoa kepada Tuhannya dan menyebut doa tersebut sebagai doa Rosario. Tidak menyerah pada keadaan, justru mereka tetap merasa beruntung karena banyak lainnya yang lebih menderita dibanding mereka. Piers Paul Read menggambarkan kisah ini begitu baik sehingga pembaca pun ikut merasa kengerian dan kesedihan yang mereka alami. Emosi akan pro dan kontra ketika mereka memakan daging temannya sendiri pun ikut saya rasakan, sekaligus penggambarannya membuat saya ingin muntah. So, this Is a good books, pokoknya baca sendiri biar kerasa mencekamnya perjuangan mereka.

Tanggal Terbit
 :
 April 2007
Bahasa
 :
 Indonesia
Penerbit
 :
Halaman
 :
 390
Penulis
 :
 Piers Paul Read

0 komentar: