Senin, 31 Oktober 2016

The Geography of Genius

Genius pada jaman romawi diartikan sebagai dewa penguasa yang mengikuti kita kemana dengan kekuatan supranatural. Berdasarkan pengertian tersebut makan setiap orang memiliki genius, bahkan semua tempat memiliki penguasa, lokusgenius. Seiring dengan perkembangan jaman maka ukuran kejeniusan seseorang semakin beragam, IQ diatas 200 misalnya. Genius yang dibicarakan dalam buku ini adala genius kreatif, bentuk kreativitas yang tinggi, tempat lahirnya ide yang baru, mengejutkan dan bernilai.

Lalu, Geografi dan jenius, apa hubungannya?

Pepatah Afrika menyebutkan bahwa “jika perlu seluruh desa untuk membesarkan seorang anak, perlu seluruh penduduk kota untuk melahirkan jenius”. Hampir semua jenius ‘dibentuk’ di sebuah kota dan tidak semua kota menghasilkan orang jenius, selain itu sebuah kejeniusan tidak bertahan lama disuatu tempat, dia memiliki jamannya sendiri. oleh sebab itu penulis buku ini melakukan perjalanan panjang untuk memperlajari sesuatu yang bernama jenius menggunakan dimensi spasial-temporal (jarak dan waktu). Sang penulis yang merupakan pelancong filosofis mendatangi tempat-tempat bersejarah para jenius, yang semuanya adalah kota pada jamannya.
            Pencarian jenius pertama merupakan pengalaman penulis sendiri ketika kuliah di London dan berpetualang dengan kotak Galton. Sir Francis Galton merupakan sepupu Charles Darwin yang jenius dan merupakan orang pertama yang mengukur hal kita pikir tidak dapat diukur. Dia menyebutkan bahwa orang jenius itu dilahirkan, bukan dibentuk. Kenyataannya tidak ada gen jenius. Berdasarkan perhitungan psikolog, kejeniusan orang tua hanya menurun kepada anaknya hanya 10-20%. Hal ini mendukung pepatah lama Thomas Alfa Edson “kesuksesan dibentuk dari 99 keringat dan 1% otak”.

ATHENA
Yunani kuno merupakan tempat lahirnya berbagai ilmu pengetahuan, pemikiran-pemikiran luar biasa, dan penciptaan kebiasaan manusia. Secara tidak kita sadari bahwa kita adalah sebagian dari yunani kuno. Menonton film, menjadi juri, memberikan suara pada sistem demokrasi, berbicara tentang permanian sepak bola, berpidato, pajak, perjanjian tertulis, kapal layar besar bahkan menatap langit malam tanpa bersuara adalah sebagian dari budaya yunani. Hampir semua aspek dalam kehidupan kita terinspirasi dari bangsa yunani. Meminum kopi tidak termasuk, karena bagi mereka kopi adalah minuman para dewa.
            Berjalan kemanapun adalah salah satu budaya yunani kuno. Mereka adalah pejalan hebat, melakukan aktivitas berfikir dan berfilsat saat sedang melakukan perjalanan. Ini dibuktikan pada penelitian di Stanford bahwa tingkat kreatifitas secara konsisten dan signifikan lebih tinggi oleh para pejalan dibandingkan dengan orang yang sering duduk. Namun sebenarnya kota Athena kuno bukanlah kota yang nyaman, kumuh, kotor, memiliki jalan yang sempit dan tidak memiliki keteraturan. Diduga para memimpin Athena sengaja melakukannya agar membingungkan para penyerbu dan merangsang pemikiran kreatif.
            Hasrat berkomeptisi adalah faktor lain pada majunya peradaban Athena. “selalu unggul dan lebih baik dari yang lain” adalah prinsip hidup. Hal ini didukung dengan loyalitas warga Athena terhadap pemerintah negara. Mereka menganggap kewajiban warga negara sebagai kesenangan warga negara. Idiotes merupakan istilah untuk warga negara yang tidak berpartisipasi dalam masalah publik. “orang yang tidak berminat pada masalah negara bukanlah orang yang memikirkan urusannya sendiri, melainkan orang yang tidak punya kepentingan menjadi warga Athena”.
            Athena adalah kota global pertama di dunia, sehingga ahli dalam dunia pelayaran. Gagasan adalah barang yang terangkut dari hampir setiap perjalanan pulang para pedagang. Dan rahasia besar dibalik itu adalah bangsa yunani kuno sebenarnya mereka tidak menciptakan semuanya tetapi ‘meng Athena-kan” hasil budaya bangsa lain.  Alphabet dari funisia, obat-obatan dan seni pahat dari Mesir, Matematika dari Babilonia, literatur dari Sumeria, dll. Mereka sangat terbuka terhadap gagasan asing bahkan Plato pernah berkata “Bangsa Yunani menyempurnakan apa yang dipinjam dari bangsa asing”.
            Kini wajah Athena telah berubah drastis, yang tersisa hanya gaung kemashyuran masalalu. Banyak orang tua dengan senang hati menamai anak mereka Aristoteles, Plato dll. Tapi kota Athena bukan lagi negeri para pejalan kaki dan pemikir, melainkan kota tukang duduk dan pencemas, seperti ungkapan Herodotus “ kebahagiaan manusia tidak pernah bertahan lama di tempat yang sama”.

Judul                 : The Geography of Genius
Pengarang         : Eric Winer
Tahun terbit       : 2016
Penerbit             : Qanita
Part 1                :  Jenius dan Athena

Khairisa_IM 1
3 Oktober 2016

0 komentar: