Rabu, 15 April 2015

Kesebelasan GenHalilintar - My Family My Team

Peresensi                : Yurista Yohasari (IM 2)
Kategori Bacaan    : Non Fiksi
Judul Buku            : Kesebelasan GenHalilintar - My Family My Team
Halaman                : 349
Penulis                   : Lenggogeni Faruk
Penerbit                  : PT Suqma Corpora Indonesia, GenH Media





🌷🌷🌷
Buku yang saya resensi kali ini banyak diperbincangkan di sejumlah grup WA pada Februari lalu saat diadakan event besar IBF di Senayan, Jakarta. Saya katakan event besar, karena banyaknya (sekitar puluhan) penerbit buku yang turut serta meramaikan acara IBF di Senayan kemarin, termasuk penerbit yang dikategorikan Syi'ah karena buku-buku yang dijualnya memang mengambil dari perspektif Syi'ah & saya termasuk membeli beberapa buku disana untuk kepentingan akademis.
Tentang buku ini, awalnya kaget karena harganya diatas 100 ribu. Tapi karena penasaran dengan isinya & berharap mendapat tips-n-trik terkait mengurus 11 anak dengan tetap aktif berbisnis sekaligus travelling, ya akhirnya dibeli juga.
Setelah membaca sampai habis, kesimpulan pertama saya tentang buku ini adalah : ini buku yang isinya membuktikan kesuksesan seorang laki-laki menjadi kepala keluarga, yang ditulis oleh Istri dan anak-anaknya. Sebagaimana ditulis Lenggogeni Faruk sendiri dalam "Phase 5 : GenH Secret", yaitu THE GREAT FATHER~ 💖👨💖
Yang saya suka dari buku ini, didalamnya disajikan materi "Menu 'Diet' Masa Nifas" yaitu menu makanan bagi Ibu melahirkan. Buku ini juga membuktikan bahwa anak-anak dapat diajak bekerja sama untuk mengurus urusan keluarga, kerumahtanggaan sesuai dengan umur & kapasitas fisiknya.
Saat membaca profil kesebelas anak-anak GenH, saya mencari tahu dalam bukunya, beberapa membolak-balik mencari tulisan Ibu Lenggogeni Faruk yang membahas apa saja kiat-kiat membentuk anak-anak yang cerdas, kreatif, & pemberani.
Nihil.
Tapi setelah membaca ulang, pelan-pelan (tapi tetap ndak sabaran), akhirnya saya menyimpulkan sementara, yaitu:
1) Semua anak GenH sudah diajak ikut orangtuanya berbisnis keliling daerah bahkan ke luar negeri secara berkala. Ini modal yang cukup memperkaya & meluaskan wawasan berpikir anak-anak sejak dini, sekaligus melatih berpikir kritis. Anak-anak melihat bagaimana orangtuanya bekerja, tidak hanya terima uang jajan saja. Anak-anak mencontoh orangtuanya bahwa hadiah, kesenangan hanya didapat setelah bekerja cerdas & bekerja ikhlas.
Sedikit bercerita, saya pernah membaca beberapa artikel & berita bagaimana para pebisnis (baik murni pebisnis maupun pebisnis yang juga politisi) mendidik anak-abak mereka. Kesimpulan yang saya dapatkan : TIDAK ADA satu pun yang memanjakan anak-anaknya, bahkan tidak segan mereka melatih anak mereka sendiri dengan cukup keras. Orangtua ini memastikan anak-anak mereka digembleng di tangan yang berpengalaman & hanya menginginkan anak-anak mereka mencapai kesuksesan. Apakah anak-anak itu tidak mendapat kesenangan, mainan, hiburan? Dapat. Tapi dengan syarat & ketentuan yang diberlakukan orangtua mereka. Standar mendidiknya bisa jadi dibawah Amy Chua, The Tiger Mother tetapi fokusnya sama : fokus & disiplin dalam meraih cita-cita.
2) Lancarnya komunikasi & kedekatan hati antar orangtua dengan anak-anak. Ini klise tapi penting supaya anak-anak tidak mudah terpengaruh dengan hal buruk dari luar. Bonusnya, anak-anak akan lapang hati memenuhi harapan orangtua terhadap dirinya.
Buku yang menarik ini, menurut saya, akan jauh lebih paripurna lagi jika Bapak Halilintar ikut menuliskan dengan lengkap bagaimana step-by-step tentang dunia ke-Ayah-an. Terutama bagaimana mengatasi saat anak-anak mengalami tantrum, moody, lelah, atau sedang malas menuruti orangtuanya.

0 komentar: