Sabtu, 19 Maret 2016

(a) Sesudah 50 Tahun Gagalnya Kudeta PKI (1965-2015) dan (b) Matine Gusti Allah

Judul Buku : (a) Sesudah 50 Tahun Gagalnya Kudeta PKI (1965-2015) dan (b) Matine Gusti Allah
Penulis : Taufiq Ismail
Penerbit : Republika Penerbit
Jumlah Hal : 95 + 62
Tahun Terbit : September 2015/ Cetakan 1
Peresume : Novi Trilisiana, IM2

Tidak biasanya Taufiq Ismail menulis karangan nonsastra. Kalau bukan karena teramat pentingnya, tentu buku yang memiliki dua judul kontroversial ini tidak akan pernah ada. Ia menuliskannya untuk kaum muda yang tidak mengalami langsung pemberontakan PKI dan hanya tahu dari membaca buku sejarah di sekolah maupun mendengar dari keluarga. Buku ini lahir karena keresahan Taufiq terhadap kelompok Komunis Gaya Baru (KGB) yang diam-diam mengkader anak muda untuk berpihak pada sosialisme. 

Isi buku berjudul pertama (Sesudah 50 Tahun Gagalnya Kudeta PKI) meliputi:

1. Ideologi Bencana Terbesar Dunia
2. Menghitung Korban Nyawa Manusia Akibat Palu Aritisme
3. Dari Pertarungan Maut Sampai Ide Perdamaian Total

Buku ini menegaskan kepada kita bahwa ideologi komunisme yang tenar di abad ke-20 sesungguhnya sekarang (abad 21) sudah hancur. Berikut adalah kutipan dari penulis tentang ambruknya sosialisme,

“Komunisme atau Marxisme-Leninisme sudah bangkrut di seluruh dunia, tidak laku lagi dijual di toko ideologi, tidak lagi menarik perhatian pembeli yang akalnya waras. Pendukung ideologi yang dulu lama merajarela di dunia, 24 negara jumlahnya itu, akhirnya pada tahun 1990-1991, bagaikan rumah-rumahan kartu domino ditiup kipas angin runtuh berserakan, karena keroposnya Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme-Pol Potisme itu. Kita di Indonesia 25 tahun lebih cepat mengatasinya ketimbang negara-negara itu, dengan membubarkan PKI pada tahun 1966.”

Penulis tidak bermaksud untuk memprovokasi atau membuka luka lama tetapi ia ingin meluruskan sejarah yang dikaburkan oleh simpatisan komunis. Ia berusaha menengahkan solusi damai yang dicontohkan oleh Malaysia dalam mengatasi komunisme. Bahkan tersempil harapan indah pada subjudul buku di sampulnya: “Dimulai dengan Api Semoga Berakhir dengan Air). Menurut saya, buku ini jasa besar Taufiq Ismail bagi Ketahanan NKRI.

***

Mari mengenal singkat komunisme! Ideologi ini menggunakan lambang palu godam bersilang dengan arit. Buku rujukan terpentingnya adalah Manifesto Komunis (1848) yang berfondasi Materialisme mutlak yang ditulis oleh dua anak muda, Karl Marx (30 tahun) dan Friedrich Engels (28). Telah bersaing, bertikai, bertarung politik dan konflik bersenjata habis-habisan dengan kubu anti-komunis sepanjang 74 tahun di abad 20. Gagasan-gagasan Marx dan Engels dilanjutkan dalam tindakan oleh tokoh komunis seluruh dunia seperti, Vladimir Lenin, Josef Stalin, Mao Tse-tung, Josip Bronz Tito, Ho Chi Minh, Fidel Castro, Moeso, D.N. Aidit, Pol Pot dan battalion komandan partai yang tersebar di 90 negara seluruh dunia.

Sebelum komunisme menguasai pemerintahan suatu negara, mereka akan menawarkan gagasan positif seperti mendukung demokrasi, memperjuangkan nasib buruh dan tani, menghormati kebebasan berpendapat, sama-rata-sama-rasa, tidak anti-agama, dan kampiun Hak Asasi Manusia (h.3). (Kalau di Indonesia, PKI dicitrakan mendukung Panca Sila, dasar negara). Aktivis sosialisme memposisikan diri sebagai oposisi pemerintah yang dianggap kapitalis dan tidak memihak rakyat. Mereka menggaungkan yell-yell kuno “revolusi! revolusi!" Demi revolusi, mereka merebut kekuasaan dengan kekerasan yang berdarah dan licik. Disebut juga pemberontakkan ataupun kudeta pembantaian. Sesudah negara sosialis-komunis terbentuk dari kudeta, gagasan positif yang pro rakyat tidak terbukti. Hanya sandiwara belaka berbuah kesengsaraan rakyat.

Nyatanya, setelah negara sosialis-komunis terbentuk, rakyat tidak bebas menjalankan demokrasi. Kalaupun ada pemilu, maka hanya ada satu partai komunis yang terlibat; Buruh dilarang mogok yang membuktikan komunis ternyata lebih kejam dari pemerintah kapitalis; Tuan tanah dibantai dan direbut tanahnya karena dianggap borjuis; Kebebasan berpendapat yang semula diangkat setinggi langit, lalu didustakan dengan memberangus pemikiran anti-komunis; Ketika tokoh-tokoh partai mendapat villa, keluarga rakyat kecil berdesak-desak tinggal di flat sempit yang seragam; Katanya tidak anti-agama, Lenin justru menginstruksikan untuk memerangi agama; Terakhir yang lebih ganas adalah pengkhinatan HAM terbesar selama 74 tahun (1917-1991), Palu Arit membantai 120.000.000 manusia di 76 negara. Hampir 3 kali lipat dari seluruh korban perang selama dunia terkembang sejak Nabi Adam sampai nabi-nabi palsu zaman sekarang (h.4).

Partai Komunis Rusia yang merupakan markas besar pusat komunisme seluruh dunia akhirnya dibubarkan dan dinyatakan terlarang pada 26 Desember 1991 oleh Boris Yeltsin, Presiden Uni Sovyet. Boris muak dengan partainya sendiri dan mengakui komunisme sudah bangkrut total.

Mengapa begitu banyak korban pembantaian sepanjang sosialisme berkuasa? Alasan utamanya adalah sosialis percaya bahwa kekuasaan, yaitu kediktatoran proletariat, harus dipergunakan untuk meruntuhkan orde feodal/kapitalis, kemudian membangun kembali masyarakat dan kebudayaan untuk merealisasikan utopia ini (h.15). Tidak ada yang boleh menghalangi. Semua manusia dianggap kayu dan batu bata yang dipakai untuk membangun dunia baru. 

Penyebab besarnya angka perkiraan korban nyawa manusia yang telah diteliti oleh R.J. Rummel disebabkan karena (h.10):

1. terorisme berdarah,
2. penangkapan berujung maut (perlakuan yang keji),
3. kamp kerja paksa,
4. deportasi fatal,
5. wabah kelaparan yang direncanakan,
6. eksekusi di luar hukum,
7. pengadilan sandiwara,
8. pembunuhan bangsa.

Mereka dibantai dengan darah dingin oleh pemerintahnya sendiri (setelah komunis berkuasa) yang sebelumnya dinaungi undang-undang. Hal ini disebut juga dengan ‘democide’ yang berarti pembantaian massal yang dilakukan oleh negara (h.11). Sampai di sini, saya jadi ingat kisah nyata Shalahuddin al-Ayubbi yang tidak melakukan pembantaian pada rakyat beragama non-Islam saat penaklukan Yerussalem. Rakyat dijamin keyakinanan dan keamanannya oleh Shalahuddin dan tentaranya. Bahkan tidak menyuruh mereka kerja paksa demi pembangunan negara. Untungnya PKI telah 50 tahun lebih dianggap terlarang di Indonesia. Membayangkan jikalau kudeta G 30 S PKI berhasil merebut pemerintahan RI, rasanya seram sekali.

Jika dibandingkan, kejam mana antara Hitler dan Stalin? Sebagian besar kita agaknya yakin Hitler lah yang lebih kejam. Wajar saja. Telah ratusan film dan ribuan buku ditulis mengenai Hitler sehingga mencitrakan dirinya sebagai pembunuh terbesar dalam sejarah peperangan dunia. Nyatanya, Hilter pernah mengungkapkan bahwa ia adalah pengagum dan berguru pada Stalin. Hitler membantai 25.600.000 dan Stalin 46.000.000 (h.23).

Selengkapnya mengenai taktik komunisme di seluruh dunia dalam menguasai dunia dibahas pada halaman-halaman berikutnya. Penuh intrik dan melawan fitrah manusia. Saya menarik garis lurus bahwa kesemuanya mengarah pada perilaku setan dan iblis. Semakin tinggi pangkatnya dalam partai, semakin kental sifat keiblisannya. Sialnya, orang baik-baik pun tertipu pada tipu muslihat mereka sehingga memberikan dukungan.

Partai komunisme seluruh dunia yang berpusat di Uni Sovyet telah bubar tetapi ideologi tersebut bisa jadi belum tercabut hingga ke akarnya. Bahkan, menyisakan kedengkian dan keinginan membalaskan dendam. Baik pelaku komunis maupun korbannya. Maka betapa indahnya konflik ini diakhir dengan perdamaian, saling memaafkan. Pembahasan buku ini lalu ditutup dengan solusi terbaik yang mestinya diambil.

Penulis memberikan gambaran penyelesaian oleh Pemerintah Malaysia dengan PKM (Partai Komunis Malaya), sebagai contoh yang mesti kita tiru. Penulis pun sampai melampirkan butir-butir “Persetujuan antara Pemerintah Malaysia dan PKM untuk Penghentian Permusuhan”. Pemberontakan PKM selama 40 tahun (lebih lama dari Indonesia) tersebut berhenti dengan tidak mengingat-ingat lagi luka dan bahu membahu membangun negeri. Kedua belah pihak saling mengoreksi diri dan meyakini untuk apa berbunuh-bunuhan antar-bangsa sendiri demi ideologi jahanam ini. Demikianlah.

***

Buku dengan judul pertama, belum secara lengkap menyajikan sisi “Setelah 50 Tahun Gagalnya Kudeta PKI” kecuali hanya berupa pemunculan potensi balas dendam KGB dalam mempengaruhi anak muda lewat LSM dan penerbitan buku serta harapan-harapan penulis tentang perdamaian. Sebagian isi buku lebih menampilkan fakta kekejaman komunisme seluruh dunia. Mengenai aksi-reaksi terhadap kerusuhan dan kudeta PKI, lebih banyak dibahas di judul ke-dua: “Matine Gusti Allah” yang akan saya lanjutkan di resume berikutnya.

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

0 komentar: