Jumat, 25 Maret 2016

Bilang Begini, Maksudnya Begitu


Judul                : Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Pengarang        : Sapardi Djoko Damono
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978-602-03-1122-7

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana ;
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana ;
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Puisi diatas, seperti kita tahu adalah karangan dari Guru Besar UI, Bp. Sapardi Djoko Damono, yang dengan karyanya menjadi sebagian kita, yang walaupun bukan anak sastra, ikut menjadi mencintai suatu puisi. Kali ini, yang saya ingin bahas dan resume adalah buku beliau yang berjudul Bilang Begini, Maksudnya Begitu. Berbeda dengan bukunya yang lain, buku ini semacam ajakan dari beliau untuk mengapresiasi karya sastra dengan pengenalan akan sejumlah alat kebahasaan yang dimanfaatkan penyair untuk menyampaikan maksud yang mungkin saja sebenarnya adalah sebuah cerita, gagasan, sikap, atau mungkin amanat.
Gerimis bukan berarti hujan, bunga belum tentu berarti kembang dan karena puisi adalah hasil dari kemampuan penyair bermain kata-kata, tak semua orang serta-merta dapat mengartikannya secara harfiah. Buku setebal 138 halaman ini menjelaskan bermacam-macam arti dari karya sastra per kata, hasil dari beberapa penyair terkenal. Dengan cover yang menarik, malahan membuat buku ini menjadi lebih menarik lagi untuk dibeli, karena jujur saja saya beli karena covernya yang lucu dan berwarna-warni. Sayangnya, bagi bukan pecinta sastra, buku ini mungkin akan membuat bosan, karena di dalamnya hanya terdapat penjelasan dan tak ada cerita penghiburan sama sekali.
Di buku ini juga dijelaskan bermacam-macam bentuk puisi, seperti contohnya adalah Soneta, yang sampai sekarang masih tetap dipakai oleh penyair-penyair. Aturan utama dari Soneta adalah terdiri dari 14 larik, peraturan ini mutlak dan tak boleh dilanggar walaupun rimanya dalam setiap bait berubah-ubah, contohnya bait utama a-b-a-b, bait kedua b-a-b-a laliu bait ketiga c-c-c dan bait keempat juga c-c-c. Karya sastra juga menyediakan jawaban bagi berbagai persoalan yang kita hadapi dalam hidup, atas dasar kenyataan itulah pembaca menganggap bahwa amanat adalah suatu bagian dari karya sastra. 

Kalau Tuan pergi ke Kelang,
Sahaya antar sampai ke Linggi ;
Kalau Tuan menjadi Elang,
Sahaya menjadi kayu tinggi.

Apa maksud pantun diatas? Awalnya saya pikir  mungkin kalau sudah menjadi orang yang tinggi, kita tidak boleh sombong dan ternyata arti sebenarnya adalah hubungan cinta antara pria dan wanita yang diibaratkan dengan burung elang dan kayu tinggi. Pantun juga adalah sebuah tradisi lisan yang sekali diucapkan maknanya harus sampai kepada pendengar, bukan pembaca. Dari buku ini saya banyak mengerti apa maksud dari suatu karya sastra dan mendapat banyak kosakata bahasa Indonesia yang baik, intiya buku ini seperti panduan bagi kita, yang baru terjun mengagumi karya sastra. Sekian resume saya kali ini, semoga bermanfaat.

-Vanda Deosar-

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

0 komentar: