Sabtu, 19 Maret 2016

INGATLAH UNTUK BERCERMIN

INGATLAH UNTUK BERCERMIN
Judul Buku      : Ingatlah untuk Bercermin
Penulis             : Salim A. Fillah dan Tim Konselor RKI (Rumah Keluarga Indonesia)
Penerbit           : PT. Era Adicitra Intermedia
Tahun Terbit    : Agustus 2015 / Cetakan Kedua
Jumlah Hal.     : 228 Halaman



Tentang cinta dan pernikahan, lambat laun saya (mungkin juga Anda) mulai keder dengan berbagai kisah nyata yang menunjukkan wajah muram ikatan suci itu. Mengapa wajah muram ? Ya, karena ternyata yang banyak saya temui adalah wajah muram akibat keretakan, perselingkuhan, surga yang tak dirindukan untuk mengistilahkan poligami hingga perceraian. Tak tanggung-tanggung, korban maupun non korban (perempuan) yang merasakan dan yang mengamati pun dengan penuh percaya diri mengklaim bahwa semua laki-laki itu sama saja. Tidak ada yang setia.

“Sebaik apapun laki-laki itu, pasti kurang, apalagi jika kita sudah mulai menua, tak lagi menarik. Alah, Cuma teori yang banyak. Nyatanya semua sama !” ungkap seseorang yang merasa menjadi korban wajah muram itu. 

Jleb rasanya. Saya yang belum merasakannya pun menjadi kikuk. Tak pernah ingin merasakannya, na’udzubillah. Saya pun terus menggali, pasti tidak semuanya seperti itu. Saya yakin. Saya percaya masih banyak stok laki-laki setia. 

Benar. Saya mendapat jawaban yang menenangkan dari buku berwarna merah yang berjudul Ingatlah untuk Bercermin setebal 228 halaman yang disusun oleh Ust. Salim A. Fillah bersama para konselor keluarga di komunitas Rumah Keluarga Indonesia (RKI). Lembar demi lembar yang tersaji dalam buku berukuran sedang itu terasa renyah dibaca dengan gaya bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah masuk bahkan menusuk hati. 

Buku ini berisi kumpulan kisah yang mengangkat realita kehidupan unik, menarik dan tersembunyi dalam bilik-bilik yang amat privasi. Para penulis mengajak kita untuk bercermin dengan menyajikan lima bagian nyentrik yaitu Dalam Limpahan Barakah, Bermula dari Kata, Memaknai Kesetiaan, Anak dan Pewarisan serta Menyikapi Ketidaksempurnaan yang dikupas dengan beberapa kisah yang sangat inspiratif. 

Mengawali bagian I, Ust. Salim menulis sebuah kisah sarat hikmah yang berjudul Ingatkan Suamimu untuk Bercermin. “Para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin.” Maksudnya bukan sekedar makna kias tentang muhasabah atau perbaikan akhlak, tetapi benar-benar soal bercermin di depan kaca dalam makna lahiriah yang sangat menentukan masa depan serta membutuhkan kekompakan antara suami dan istri.

Ingatlah untuk bercermin, sebuah seri ketahanan keluarga yang membuka mata hati untuk menjadikan komitmen berkeluarga sebagai pijakan utama berasaskan taqwa kepada Allah SWT, berkekuatan cinta tulus ikhlas dan keyakinan serta perjuangan mempertahankan keutuhan rumah tangga hingga akhir waktu. Juga mengajarkan bagaimana seharusnya cinta mulai dari memperindah diri, memilih calon beserta serangkaian prosesnya hingga bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga itu bergulir waktu demi waktu yang tentu dihadapkan dengan berbagai warna hidup mulai urusan awal memulai hidup baru, pasang surut keuangan, lika-liku pendidikan anak, menjaga keharmonisan dan kasih sayang, kesetiaan pasangan, bagaimana merawat cinta meski sudah sama-sama berusia senja sampai ujian yang bernama nafsu dan lawan jenis. 

Saya semakin yakin, keindahan rumah tangga semakin terpancar kuat dengan nilai-nilai Islam yang dijunjung tinggi. Dan cinta tak sesempit urusan fisik dan tak berbatas menopause sebagaimana yang saya tangkap dari salah satu kisah pendek berjudul Setia Hingga Akhir Usia yang membuat seorang suami gagal poligami setelah menyaksikan kesetiaan sepasang kakek-nenek meski sudah mendapat restu sang istri yang sangat bijak, ikhlas, setia dan sabar. 

Salah satu pesan dahsyat menyadarkan kita bahwa pernikahan pada akhirnya bukan hanya kumpulan dua orang yang saling menuntut agar hasrat dan kepuasan dirinya terpenuhi. Pernikahan adalah sikap untuk saling terbuka, mengerti dan memahami. Bahkan, tak sekedar mengerti dan memahami, tapi sekaligus menumbuhkan.

Terakhir, sepenggal kalimat romantis menutup bagian akhir buku ini, “Doraemon bisa mengeluarkan apapun dari kantong ajaibnya. Tapi yakinlah Dik, dia tak akan mampu mengeluarkan cintaku kepadamu dari hatiku!”

Sungguh luar biasa ! Saya tetap kuat meyakini, masih banyak stok pasangan setia dan sangat menjaga. Tentu semua sangat bergantung pada kedua pasangan bagaimana menjaganya dan bagaimana koneksinya dengan Sang Pemilik Cinta. Alhamdulillah... Lega rasanya. 

*****
By: Qurrotu Ainy Qurani

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

0 komentar: