Minggu, 19 Agustus 2018

Lima Sekawan: Karang Setan




Anne, Dicky, Julian, George, dan hewan peliharaannya: Timmy, berlibur di karang setan. Di sana ada mercusuar yang sudah tak terpakai milik Utik, anak dari profesor Hawling. Paman Kirrin dan Profesor Hawling tak keberatan anak-anak menginap di tempat sepi itu. Tapi ibu George tidak ingin mereka melawan bahaya, maka diperintahkan anak-anak mengirimkan kartu pos setiap hari untuk memberi kabar. Pada awalnya tidak terjadi apa-apa. Mercusuar itu sepi dan bila air pasang, perahu harus dinaikkan agar tidak hilang tersapu ombak. Namun, kejadian aneh mulai terjadi saat anak-anak tahu ada seseorang yang mencuri kunci pintu mercusuar bersamaan dengan hilangnya dompet dan barang-barang lainnya. Mereka merasa harus berjaga, saling bergantian agar tidak ada orang jahat yang masuk.

Kakek Jeramiah banyak menceritakan tentang mercusuar, gua-gua dan para pencoleng. Disekitar mercusuar terdapat gua Pencoleng, konon gua itu tempat menyimpan harta karun para pencoleng. Pada saat masih anak-anak, Kakek Jeramiah tidak sengaja mengintip peta harta karun pencoleng, namun Kakek Jeramiah ketahuan dan dikejar lalu akan dijeburkan ke laut, untungnya Kakek Jeramiah masih bisa melarikan diri.

Saat di mercusuar, Utik mengatakan kalau ada peta kuno. Ketika mereka melihat peta itu, terlihat lubang fondasi. Julian dengan segera menuruninya. Setelah itu dia menceritakan ada air berputar di bawah fondasi. Tiba-tiba terdengar suara memanggil, ternyata pak polisi, dia mencurigai Jacob, penjaga gua Pencoleng yang masih keturunan One Ear Bill melakukan sebuah kejahatan. Mereka mendatangi rumah Jacob, ternyata benar, ada barang-barang mereka. Keesokan harinya mereka menemui Kakek Jeramiah untuk mengantarkan mereka ke gua Pencoleng. Mereka berangkat, kecuali Timmy, anjing yang baik menjaga mercusuar. Setelah sampai di gua terdapat banyak lentera yang redup. Tiba-tiba Kakek Jeramiah berteriak dan membuat kaget. Merekapun mencari ide, Julian ingat lubang fondasi. Dia dan Dick menuruninya sampai kebawah. Saat mereka melihat ke atas tampak harta karun yang sangat banyak. Saat di tikungan mereka menabrak Jacob dan Ebby, uang emas itupun berjatuhan, mereka saling berebut untuk mendapatkan uang emas tersebut. Maka terjadilah saling kejar mengejar.

Kemudian Mereka mencari ide agar bisa keluar dari gua pencoleng ini, Utik mengatakan kalau ada minyak lampu dan lonceng yang besarnya sama dengannya. Lampupun dinyalakan, lonceng juga dibunyikan, lalu mereka menaiki perahu menuju mercusuar, sampailah mereka dipintu, kemudian mereka mendobraknya agar bisa keluar. Keesokan harinya banyak orang berkumpul di Karang Setan, lalu merekapun menceritankan tentang harta karun itu kemudian menyerahkannya pada negara.

Judul Novel                 : Lima Sekawan: Karang Setan
Penulis                         : Enid Blyton
Penerjemah                  : Agus Setiadi

Bandung, 30 Oktober 2017
Muhammad Insan Aulia

0 komentar: