Selasa, 20 Januari 2015

Bibir Tersenyum Hati Menangis: Seberapa Munafikkah Aku Ini?



Judul               : Bibir Tersenyum Hati Menangis: Seberapa Munafikkah Aku Ini?
Penulis            : Muhammad Muhyidin
Penerbit          : DIVA Press
Tebal               : 283 halaman




            Buku ini, meski judulnya menye-menye, tapi isinya sangat tegas. Saya pernah menjumpai buku dengan judul serupa yang pembahasannya sangat lembut dan lebih condong untuk dibaca akhwat. Namun, yang satu ini lebih menonjolkan “Seberapa munafikkah aku ini”-nya. Dalam buku ini banyak dibahas pula tentang interaksi dengan orang lain di masyarakat agar terhindar dari manis di bibir saja. Secara garis besar, buku ini menitikberatkan pada upaya kita sebagai manusia untuk menentukan pilihan hidup yang tepat, menjalaninya dengan baik dan ikhlas, dan terhindar dari kemunafikan.
            Buku ini terbagi menjadi 7 bab yang baru saya selesaikan 4 diantaranya. Jadi saya hari ini akan focus pada 4 bab awal saja. Pembahasan awal buku ini mengurai dilemma yang banyak terjadi di masyarakat. Kebanyakan dari kita sudah seperti robot. Kita menjalankan pekerjaan ataupun kewajiban kita setiap harinya hanya sebatas rutinitas. Bahkan seperti ada software pada otak kita yang otomatis akan tersenyum saat tiba di kantor, menyapa bos dan teman-teman, pergi makan siang sambil bercengkrama, pulang, istirahat, kemudian terbangun lagi untuk memutar siklus yang sama. Tanpa sadar kita telah menghidupkan robot dalam diri kita sendiri.
            Untuk terhindar dari kehidupan robot seperti itu yang cenderung mendorong kita untuk memunafikkan diri sendiri secara tidak sadar, penulis menuntun kita untuk mencoba membongkar timbunan masalah rutinitas kita agar tidak terjebak pada pekerjaan yang membuat kita tidak bisa lari kemana-mana. Bongkaran timbunan masalah tersebut dimulai dengan membuka diri dan mengurai akar masalah, kemudian kita harus bisa menguasai dan menjadi diri sendiri bukan menjadi yang diinginkan orang lain, kita juga harus memiliki harapan, harapan bukan khayalan. Selain itu, mungkin juga perlu kita ubah cara menyikapi keadaan dan menghadapi kenyataan. Dengan begitu, kita akan jujur pada diri kita sendiri. Saat kita tersenyum, hati kita juga tersenyum, tidak menggerutu.
            Di buku ini juga diuraikan banyak sebab yang menjadikan kita memunafikkan diri sendiri. Beberapa diantaranya disebabkan oleh sifat alamiah seperti egoism, penyakit hati, kecenderungan bersaing, dan hasrat. Penulis mengibaratkan hasrat sebagai mesin yang merusak hidup. Saat kita dapat mengendalikan hasrat, kita akan selamat. Namun, saat hasrat yang mengendalikan kita, siap-siap kolaps. Banyak orang menjadi budak bagi dirinya sendiri akibat ketergantungannya pada pemenuhan hasrat. Dengan mudah dia akan memunafikkan dirinya sendiri. Menjilat bos agar dipercaya menangani proyek-proyek besar, berkata manis sana sini agar mendapat kedudukan bahkan menipu diri sendiri agar menjadi seperti yang orang lain ingin lihat. Hasrat memiliki banyak jebakan yang akan menjerumuskan manusia jika kita tidak dapat mengendalikannya.
            Beberapa cara untuk mengendalikan hasrat yang diuraikan oleh penulis adalah (1) Sadarilah bahwa semua hasrat selalu meminta pemenuhan, (2) Merasa cukuplah dan jangan merasa sebaliknya, (3) Syukuri apa yang sudah didapatkan, (4) Bersabarlah dengan kesulitan dan penderitaan, dan (5) Berserah dirilah kepada kehendak Allah SWT. Untuk setiap penjelasan, penulis tak lupa selalu menyertakan ayat Al Qur’an atau hadist yang sesuai dengan pembahasannya sehingga pembaca mendapatkan pencerahan secara lengkap, InsyaAllah.
            Demikin resume saya untuk bulan ini. Semoga bermanfaat.

Yogyakarta, 5 Januari 2015

Dyah Ayu Widyastuti/IM1

0 komentar: