Selasa, 20 Januari 2015

Metodologi Sejarah



Judul                     : Metodologi Sejarah (Edisi Kedua)
Penulis                  : Kuntowijoyo (Guru Besar Ilmu Sejarah UGM)
BAB 1                    : Penulisan Sejarah di Indonesia


Tidak banyak orang yang mengetahui awal mula historiografi atau penulisan sejarah di Indonesia, sejarah Indonesia secara runtut waktu dapat dibagi menjadi historiografi tradisional dan historiografi modern. Historiografi tradisional banyak dijumpai pada kitab-kitab sejarah pada zaman kerajaan sampai penulisan babad dalam khasanah sastra. Sedangkan historiografi modern dimulai pada abad 19. Kepedulian masyarakat Indonesia terhadap sejarah tentu tidak perlu dipertanyakan lagi dengan bukti berkas-berkas sejarah yang telah disebutkan sebelumnya, namun secara sistematis pengorganisasian kepedulian-kepedulian terhadap sejarah baru dimulai di abad 19. Dimulai dari mendominasinya penulisan sejarah Indonesia yang Eropa-sentris, yaitu penulisan sejarah yang dilakukan orang-orang Eropa termasuk penjajah didalamnya dari dalam geladak-geladak kapal dagang dan perang mereka. Tentu secara hasil ini akan sangat rancu, bagaimana seseorang yang tidak berasal dari daerah tersebut, tidak hidup di masyarakat tersebut, bahkan baru menginjakkan kaki dua tiga bulan, sudah dapat menuliskan rentetan kejadian di negara tersebut.  Sehingga kesadaran yang muncul adalah bagaimana orang Indonesia dapat berperan sentral bagi sejarah bangsanya sendiri. Kesadaran ini ditindaklanjuti dengan pembentukan kelembangan yang mengurusi penerbitan sejarah, pendidikan sejarah, dan kepustakaan sejarah, dan sebagainya. Momen kebangkitan sejarah tersebut terjadi di rentang waktu 1940-1960.  Dimulai didirikannya jurusan sejarah di institusi pendidikan formal, diadakannya seminar nasional sejarah yang pertama, dan semakin membaiknya peranan Badan Arsip Nasional.

Pada periode awal historiografi modern Indonesia, tentu Indonesia-sentris yang dibahas disini, masih dominan dilakukan oleh sejarawan akademis. Sejarawan akademis adalah sejarawan yang berada di institusi pendidikan formal. Contohnya yaitu dosen dan mahasiswa di universitas-universitas. Lewat hasil-hasil seminar, skripsi mahasiswa, penelitian di lembaga-lembaga penelitian. Setelah periode awal, sekitar tahun 1970-1980, sejarah mulai mendapatkan tempatnya. Marak seminar-seminar dan penulisan sejarah, serta penerbitan buku-buku sejarah yang sangat berguna bagi masyakarat. Tema penulisan sejarah sudah sangat meluas hingga ilmu-ilmu seperti geografi, linguistik, antropologi, dan sebagainya. Seperti yang Kuntowijoyo katakan dalam pengantar buku ini, Sejarah adalah proses, bukan struktur. Sehingga jelaslah perbedaan antara penulisan sejarah geografi dengan penulisan deskripsi ilmu geografi itu sendiri. Sejarah adalah ilmu tentang perubahan (March Bloch).

Hambatan yang dihadapi sejarawan akademisyaitu sebab pengorganisasian sejarawan akademis dilakukan oleh negara terkadang terbentur oleh halangan ideologi. Sehingga buku yang “tidak sesuai” atau dianggap mengancam tentu tidak akan sampai pada fase penerbitan, padahal sebenarnya buku tersebut akan sangat berguna. Tidak hanya sejarawan akademis, sejarawan non-akademis juga berperan dalam menambah khasanah sejarah Indonesia. Pemerintah mulai megucurkan dana sebagai usaha peningkatan kualitas penulisan sejarah. Militer salah satu yang mengambil peran tersebut, dokumentasi kejadian perang-perang, rekonstruksi peristiwa, perlawanan terhadap penjajah menjadi sekian dari banyak pekerjaan sejawaran militer. Buku yang populer natara lain Sekitar Perang Kemerdekaan oleh A.H. Nasution dan Kisah Geilya Kalimantan oleh Hasan Basry. Selain itu dijelaskan dalam buku ini tentang Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional yang melibatkan partisipan dari berbagai daerah, secara kuantitas hasil proyek ini sangat masif sehingga dapat menjadi bahan bacaan masyarakat. Yang terakhir yang bekerja dalam penulisan sejarah yaitu pada sektor sejarah populer. Pada sektor ini dilakukan oleh penerbit-penerbit swasta yang sering mengambil peran-peran yang absen dilakukan pada penulisan sejarah di sektor lainnya.

Selanjutnya perkembangan sejarah secara umum terus meningkat dengan upaya sejarawan berada di lembaga-lembaga publik, semakin baiknya performa instrumen sejarah seperti go public­-nya perpustakaan kerajaan, terobosan Perpustakaan Nasioanl dalam inventarisasi berkas-berkas sejarah, masifnya sektor swasta dalam menggarap sejarah. Dengan ini tentu kita berharap menjadi seorang Indonesia yang seutuhnya, Indoensia yang memahami sejarah bangsanya. JAS MERAH! Jangan sekali-kali Melupakan Sejarah (Bung Karno). Selesai





0 komentar: