Selasa, 20 Januari 2015

Menjadi Pemuda Peka Zaman




Judul                     : Menjadi Pemuda Peka Zaman
Penulis                  : Dr. Raghib As-Sirjani
Penerbit                : AQWAM Jembatan Ilmu
Tebal Buku           : 128 hal


Sebagai prolog, saya merasa penting untuk menjelaskan tentang mengapa buku ini bisa ada ditangan saya dan menarik saya untuk membacanya. Tidak ada referensi jaminan bahwa buku ini baik dan bagus sekali untuk dibaca sebelumnya, atau dalam istilah, recommended sekali untuk dijadikan referensi peningkatan pemahaman. Buku ini saya baca di pertengahan tahun 2014 kemarin, disaat banyaknya forum yang saya hadiri, dimana didalamnya berbicara tentang problematika umat, problematika dakwah kampus, dll. Dari sana saya merasa bahwa saya butuh asupan lebih tentang tema diskusi ini. Sampai akhirnya menemukan buku “Menjadi Pemuda Peka Zaman” ini di jajaran rak buku perpustakaan Musholla Fakultas.
Menarik. Buku ini ditulis oleh salah seorang Dosen Kehormatan di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo. Tapi, di lapangan dalam medan dakwah, beliau dikenal sebagai tokoh andalan dalam setiap diskusi sejarah dan pemikiran islam. Salah satu bukunya yang best seller yang selalu dijadikan embel-embel dalam setiap menjelaskan profil beliau adalah “Misteri Shalat Subuh.” Begitu sedikit profil dari Penulis yang semoga tidak mengurangi kemahiran beliau dalam berbagai disiplin ilmu.
Selanjutnya adalah mengenai buku “Menjadi Pemuda Peka Zaman” ini, beliau menjelaskan bahwa problem pemuda kita saat ini adalah tentang bagaimana komitmen yang ada dalam diri adalah sebatas tentang kepentingan pribadi saja, mutlak kepentingan pribadi. Menurutnya, jelas ini masalah besar zaman ini, dan saya setuju itu. Beliau menceritakan bahwa, ketika sedang mengisi kuliah umum atau ceramah di sebuah seminar bertemakan “Probelmatika Generasi Muda”, beliau memulai forumnya dengan sebuah pertanyaan singkat, yakni: “Problem apa yang sedang kamu hadapi saat ini, yang jika problem itu diselesaikan, maka kamu akan mejadi orang yang bahagia dan sejahtera?” Dan tebak, jawaban apa yang beliau peroleh dari pertanyaannya? adalah tentang kepentingan pribadi semata.
-          Takut menganggur setelah lulus kuliah
-          Keingingan untuk segera menikah
-          Sulitnya materi kuliah
-          Keinginan membeli telepon genggam disaat himpitan ekonomi
-          Dll.
Hampir tidak ada satu pun yang menjawab tentang keprihatinan akan beberapa negara islam yang sedang berada dalam konflik perang, dijajah, atau serangan dan hantaman pers terhadap islam, atau dalam takaran nasionalisme, utang yang terus menggunung oleh negara sendiri sementara korupsi semakin merajalela. Mereka mutlak menjawab hanya sebatas dalam kepentingan pribadi saja. Tidak ada sebuah kepemahaman akan kebersatuan umat.
Di buku ini beliau banyak mengambil pelajaran dari generasi pertama islam untuk dijadikan referensi dalam bersikap dan beradab bagi kita para pemuda muslim, seperti kisah Muadz bin Amr bin Jamuh dan Mu’awwidz bin Arfa’ dalam Perang Badar, merupakan salah satu kisah favorit yang paling menarik dan membuat diri ini monohok atas kontribusi apa yang telah diri ini berikan untuk Agama Allah ini, untuk umat ini. 
Tak lupa beliau jelaskan tentang akar masalah yang harus segera disadari oleh kita para pemuda muslim dan dicari penyelesainnya, seperti:
-          hilangnya ruh tarbiyah islamiyah, kalaupun masih ada, ia tak lagi utuh.
-     hilangnya suri teladan dan panutan yang baik, aish, kudet perkara informasi terbaru selebriti seperti artis kota, artis korea dan barat lebih menjadi aib dibandingkan dengan kudet tentang informasi kehidupan dan amalan shalih Rasulullah dan para sahabat dan tabiin.
-       frustasi dan kecewa, tak ada lagi sabar dan syukur atas setiap Qadarullah, kita lebih mudah menyerah lagi putus asa.
-       media dan informasi, dua hal yang urgensinya sering kita pandang sebelah mata, tidak bisa menyangkal bahwa eksistensi islam dimata dunia perlu juga kita bangun melalui dua hal ini, media dan informasi.
Kemudian lain hal yang saya dapatkan tentang problem pemuda zaman ini ketika duduk dalam kelas presentasi usbu’ ilmy (pekan keilmuan) asrama, bahwa problem pemuda zaman ini adalah hilangnya adab dalam menuntut ilmu. Nah, mengapa ini bisa menjadi problem pemuda zaman ini? Sederhananya adalah untuk bisa “Menjadi Pemuda Peka Zaman” kita harus mengetahui ilmunya dulu, mengapa kita perlu peka akan peran kita di zaman ini? Atau mengapa kita perlu sibuk mengurusi urusan orang lain yang jelas itu tidak menguntungkan sama sekali terhadap kita? Nah, untuk mengetahui itu semua kita butuh yang namanya ilmu, dan kemudian untuk mendapatkan ilmu tersebut kita butuh yang namanya adab, agar ilmu yang kita peroleh adalah ilmu dalam kepemahaman yang sempurna. Sehingga gerak kita dalam menyelesaikan problematika umat saat ini tidak sekadar gerak taqlid semata.
Selain itu, di buku ini beliau juga memberikan motivasi-motovasi yang cukup konkret untuk dilakukan segera dalam misi bahagia dunia, akhirat surga, misalnya:
-          penting untuk mengenali agama islam secara kaffah
-          menambatkan hati dengan masjid
-          menyambung tali silaturahmi
-          selektif dalam memilih teman
-          dll.
Nah, begitu.
Begitu ulasan singkat tentang buku “Menjadi Pemuda Peka Zaman” karya Dr. Raghib As-Sirjani ini, membaca buku ini cukup memberikan suntikan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya tentang urusan diri sendiri saja, ada banyak urusan jamaah yang baiknya kita tidak boleh menutup mata dan acuh dan berprasangka “sungguh, itu bukan urusanku.” Mari ambil bagian dalam dakwah mewujudkan agama Allah tegak dimuka bumi, tidak secara nafsi, tapi bergabung dalam jamaah, karena sesungguhnya berjalan bersama jamaah itu lebih baik dan besar maslahatnya dibandingkan berjalan sendiri.

Resume 1: Indonesia Membaca
Oleh: Try Antika

0 komentar: