Minggu, 31 Mei 2015

Rahasia Sang Maestro

Judul Buku      : Rahasia Sang Maestro ( Inspired by TRUE STORY )
Penulis             : Hendra Surya
Penerbit           : PT. ELEX MEDIA KOMPUTINDO








Sebuah seni yang bernilai jutaan rupiah
Seorang murid tingkat dasar 
Seorang penderita stuttering

“ Hey, tidak ada yang ada tahu bagaimana takdir seseorang saat ini dan yang akan datang! “
Apapun masalah kita, Sejelek apapun itu tapi MASA DEPAN kita BERSIH dan CERAH. 
Hendi berdiri mematung dibawah pohon akasia payung yang rindang dihalaman sekolah. Matanya melotot marah memperhatikan teman-teman sekolahnya yang mencibir, sembari berteriak dan berlarian mengitari dirinya. “Bla. . . Bla . . . Bla. . . hendi gagap, Hendi gagap , Hendi gagap . . .!” teriak mereka bersahutan. Mereka selalu menjadikan hendi sebagai bahan olok- olokan setiap hari. Ketidakmampuan Hendi untuk berbicara secara normal seperti layaknya Hartono dan kawan –kawannya menjadi sasaran empuk ejekan.  Setiap istirahat sekolah merupakan saat- saat yang sangat menyakitkan dan menyesakkan dada bagi Hendi.  Hendi pun merasa iri melihat teman-temannya dengan riang dan bebas bermain bersama, Matanya berkaca- kaca. Hatinya teriris sembilu. Dia merasa tidak pernah menjaili temannya .” Mengapa . . . mengapa aku selalu dikucilkan begini? “ teriak kata hatinya. Ibu Guru Erika sangat prihatin memperhatikan Hendi yang menundukkan kepala. Ternyata, Hendi sudah dihantui perasaan buruk. Karena cacatnya itu, ia menjadi tidak percaya diri dan selalu memandang buruk dirinya sendiri . Jika dibiarkan akan merusak masa depannya, Perasaan inferior Hendi ini harus segera ditanggulangi sedini mungkin, batin Ibu Guru Erika. “ Hendi, coba minum teh manis dan makan kue yang ibu bawa dari rumah ini. Jangan sungkan – sungkan sama Ibu.” Hendi seperti tidak percaya dengan pendengarannya, dipandanginya wajah ibu gurunya. Beliau masih tersenyum manis, sambil menganggukkan kepala. “ kamu masih mau menghargai pemberian Ibu, bukan?!” sambung Ibu Guru Erika. Hendi pun menikmati teh manis dan kue yang dibawakan Ibu Erika, “ Ibu mau Hendi jadi murid kebanggan Ibu! Sekarang hendi mau janji untuk belajar giat lagi dan tidak akan mengecewakan Ibu?” ujar Ibu guru, mulai memberi semangat. Beliau dengan cermat memperhatikan reaksi Hendi. “ Baik, Bu . . .! Te, te tetapi har, hartono selalu mengganggu Bu. “ Iya , itu ibu tahu. Mungkin kamu selalu mendapatkan ejekan bukan hanya oleh Hartono. “ Kamu harus dapat menerima kekurangan kamu itu. Pelajari kekurangan kamu dan berusaha perbaiki sedapat mungkin. Kamu tidak boleh patah arang oleh ejekan itu. Jadikan ejekan itu pemacu semangat untuk maju. Tunjukkan bahwa kamu bisa menjadi orang yang terbaik, jauh lebih baik dari orang yang mengejekmu itu” kata Ibu guru Erika.  Hendi pun mulai merubah keberanianya untuk bergaul pada teman- temanya akan tetapi niat baik hendi tidak bersambut baik ketika dia berusaha bermain dengan anak – anak disekitar rumahnya. Ibu – Ibu yang melihat Hendi bermain dengan anak- anaknya mulai menyerang Hendi dengan penghinaan, cacian bahkan Hendi berkelahi karena tidak dapat menahan amarahnya lagi. Sering kali Ibunya mendapatkan laporan atas perilaku Hendi, Ibunya tak tahan dan menghukum hendi agar tidak main keluar dan segera membantu ibunya. Setelah hendi menyelesaikan hukuman yang diberi Ibu nya dengan mengobras pakaian. “ Setelah selesai membantu Ibu, hendi pun beristirahat di Rumah pohon sambil melongok dan memandangi setiap penjuru kampungnya. Dikawasan tempat tinggalnya, ia melihat tumpukan tempurung dan potongan- potongan kayu yang menarik perhatiannya, berbekal uang yang diberikan kakeknya untuk membeli beberapa peralatan yang akan ia gunakan nantinya. Hendi mampu mengubah Limbah Tempurung kelapa dan potongan kayu menjadi sebuah “ Lukisan artistik dan memiliki karakter “. Seminggu sudah ia membuat 10 lukisan dan ia memajang hasil karyanya di ruang tamunya hingga pelanggan Ibu nya yang bernama Ibu Enny Sulastri melihat hasil karya hendi dan ia memuji hasil karyanya hendi. Ibu Enny membeli beberapa lukisan hendi dan berjanji akan membawa lukisan ini ke DEKARNAS untuk dikaji dan dikembangkan sebagai produk unggulan daerah.Ibu Enny membantu Hendi untuk mencari buyer, sebulan kemudian ia telah resmi menjadi “Maestro CILIK”dan  membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk kampungnya (yg ditugaskan untuk membantu pembuatan Lukisan dlm skala besar ),Sang Maestro Cilik pun mendapatkan penghargaan “ UPAKARTI dari pemerintah kota MEDAN. Ada tawa ,tangisan , kenangan dan Mimpi yg terus di untai oleh "SANG MAESTRO CILIK dan Ibu nya serta keluarganya .

0 komentar: