Rabu, 15 Februari 2017

Jejak Jejak yang Terserak

Penulis disini mencoba menceritakan setiap jejak kehidupan yang tak luput dari goresan pena. Banyak pembelajaran dan konflik dari kisah-kisah sederhana yang terkadang membuat kita merasakan kemiripan kisah atau sentilan ringan.  Ada 21 kisah yang diceritakan dalam buku jejak-jejak yang terserak ini.
Saya tertarik dengan kisah yang pertama yaitu tentang arti sebuah salam.  Rasulullah SAW bersabda, “ tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai, maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim).
Penulis bercerita tentang lingkungan kerjanya, dimana mengucapkan salam belum menjadi suatu kebiasaan. Hanya beberapa orang yang rajin menebarkan salam ketika bertemu atau memasuki ruangan kerja. Berbeda seratus delapan puluh derajad dengan sebuah kantor di kawasan Cipulir, mungkin ada yang tau daerah ini? Suasana keislamnnya sangat kental, para pegawai pria sering menggunakan baju koko bahkan peci, yang perempuannnya menggunakan jilbab. Ucapan salam akan selalu terdengar bersamaan dengan terbukanya pintu ketika seseorang masuk atau meninggalkan ruangan kantor. Penulis yang saat itu beberapa kali ke kantor tersebut masih belum mampu mengikuti kebiasaan tersebut, sampai akhirnya ia di tegur oleh pegawai disana. Beliau mengingatkan akan pentingnya arti sebuah salam. Sayapun merasa masih belum mampu setiap saat mengucapkan salam dimanapun berada.
Dengan salam yang selalu didengar dari mulut para pegawainya, tak heran bila tumbuh rasa cinta dan kasih sayang diantara mereka, ada rasa keakrapan dan kekeluargaan  yang hangat di tempat tersebut.
Kisah kedua tentang jejak cinta, (QS.Ar Rum :21). Penulis menceritakan bagaimana cinta yang sebenarnya. Ada juga bunga untuk pasangan, ini bukan bunga biasa yang identik dengan bunga mawar, bunga ini luar biasa yaitu bunga ketakwaan, bunga kesetiaan, bunga komunikasi, bunga perhatian, bunga keterbukaan, bunga kejujuran. Bunga-bunga itulah yang harus di pupuk oleh setiap pasangan. Memancing jodohpun diceritakan oleh penulis, bagaimana layaknya seorang pemancing yang rela berlama-lama menunggu umpan mereka dimakan ikan, kenapa harus nunggu lama-lama, kan ikan bisa langsung dibeli di pasar.
Setiap pemancing pasti akan stres jika hanya menunggu saja, tanpa melakukan hal-hal lain selama masa menunggu tersebut. Selama menunggu, seorang pemancing bisa menikmati angin sepoi-sepoi, melihat indahnya langit, mengamati pergerakan awan ibarat kapas raksasa. Puas dengan itu ia alihkan lagi pemandangan kiri dan kanan, ia temukan daun dan dahan menari-nari, adanya gemericik air yang begitu merdhu dan syahdu.
Tiba-tiba ponselnyapun berdering, sebuah topik obrolan jarak jauh yang tanpa terasa membawanya pergi dari kejenuhan menunggu. Lalu apa kaitannya dengan jodoh? setelah segala ikhtiar dilakukan, bisa jadi rasa kecewa yang akan muncul, stres? Jangan sampai menimpa. Cobalah meniru para pemancing tersebut. Nikmati apa yang bisa dikmati selama masa menanti. Ukir prestasi setinggi yang bisa diraih. Mudah mudahan bisa mengalihkan dari sebuah kejenuhan.
Penulis juga bercerita tentang ada surga di kantorku, dalam QS. At-Taubah:105, “Dan bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...
Salah seorang pengguna jalan tol yang penasaran dengan  sikap petugas yang tidak biasa, Ucapan “selamat pagi, pak” dan “terima kasih. Selamat jalan” mengiringi sebuah senyuman. Siapa yang tak senang dengan keramahan tersebut. Usut punya usut, ternyata si bapak, menganggap disaat dia memberikan tiket pada para pengendara, dia telah membantu para pengendara untuk tiba lebih cepat di rumah. Itu semua kebaikan dan ibadah. Ada juga seorang pak satpam yang setia menjaga kendaraan yang lagi parkir.

Ada kisah-kisah lainnya..di setiap cerita ada ayat Al Qur’an dan hadist, yang sesuai dengan kisah yang di ceritakan. Ternyata di sekitar kita ini banyak yang bisa kita abadikan dengan menuliskannya, bisa jadi kisah/ pengalaman itu berulang lagi, seperti buku jejak-jejak yang terserak ini.

Judul: jejak-jejak yang terserak
Penulis: rifki asmat hasan
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2013
Jumlah halaman: 338
Peresensi: Belia Laksmi Masril


0 komentar: