Senin, 08 September 2014

Mimpi Sejuta Dolar




ZIZA – IM7
Judul : Mimpi Sejuta Dolar
Pengarang : Merry Riana & Aberthiene Endah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Bab 8: Pintu Pun Terbuka
Pertunangan dengan Alva

Selepas kegagalan berbisnis saham, Merry tidak menyiksa dirinya berlama-lama bersedih. Merry lulus dengan baik, dan hak itu harus disyukuri dengan perasaan riang. Keluarga Merry akan datang ke Singapura dan mereka akan merayakan keberhasilan kuliah Merry. Namun demikian, pikiran kritis Merry tetap berjalan. Setelah lulus menjadi sarjana, akan bekerja apa nantinya?. Pikiran-pikiran kritis itu mewarnai benak Merry di masa perayaan hatinya terhadap kelulusan menjadi sarjana.

Kebahagiaan Merry bukan hanya itu. Hubungan Merry dengan Alva telah sampai ke jenjang yang meyakinkan. Bukan hanya meyakinkan diri Merry, tetapi juga keluarga. Merry merasakan pengalaman batin yang sangat indah bersama Alva. Bagaimana cinta telah menciptakan semangat yang berkorbar dan hari-hari yang penuh dengan energy positif. Bagi Merry, Alva sungguh laki-laki yang “Kaya”. Semangat juang dan hatinya yang positif tidak bisa dinilai dengan apa pun. Dia dalah pilihan yang tepat untuk hidupnya.

Kedekatan dan sinergi Merry dan Alva pada akhirnya memang menjadi fondasi yang kokoh bagi keberhasilan mereka di usia muda. Banyak orang menanyakan apa rahasia sukses Merry?. Merry selalu mengatakan isilah hidup ini dengan energy cinta. Jangan pernah meremehkan arti relasi yang harmonis dengan orang sekitar. Sebab di sanalah berkumpul energy luar biasa yang bisa menerbangkan diri kita menuju cita-cita besar yang kita impikan. Kesuksesan sangat dipengaruhi oleh seberapa tenteram diri kita saat menjalankan perjuangan. Seberapa banyak cinta yang bisa menghidupkan semangat kita. Ketika Merry dan Alva merasa cocok, mereka merasa mantap untuk memutuskan bahwa pernikahan menjadi cita-cita mereka berdua. Dan niat ke arah itu semakin membakar semangat mereka untuk bergerak agresif meraih sukses. Mereka memutuskan untuk bertunangan dulu sebelum memiliki biaya yang cukup untuk menikah.

Orang tua dan keluarga Merry datang ke Singapura pada bulan Agustus 2002. Wisuda kelulusannya akan diwarnai oleh upacara pertunangan dengan Alva di gereja St. Francis Asisi. Gereja bersejarah bagi Merry karena tempat ibadah itulah yang menjadi wadah Merry menangis selama bertahan hidup prihatin di NTU. Hari itu begitu membahagiakan bagi Merry. Pagi itu Merry berpelukan dengan mama. Merry sentuh dan genggam jari tua itu yang setiap hari dengan khusyuk menhembuskan doa terbaik untuk Merry. Merry merasa hidupnya dilimpahi cinta oleh orang-orang yang menyayanginya. Mama Merry masih menyempatkan diri menyisiri rambut Merry. Papa dan dua adiknya juga tampak bersemangat pagi itu. Mereka sudah mengenakan jas yang rapi. Alva, saudara-saudara dan orang tuanya juga sudah rapi. Melihat kehangatan itu, satu hal yang memenuhi kepala dan hatinya, betapa besar harapannya untuk secepatnya bisa membahagiakan mereka.

Melawan Arus
Niat untuk menjadi wirausahawan telah menjadi keputusan Merry dan Alva, dan sejak awal mereka tak sungkan-sungkan mengatakannya pada teman-teman mereka ketika terjadi pembicaraan mengenai tujuan kerja di bulan terakhir mereka di NTU. Dan yang terjadi adalah mereka dicemooh. Tidak ada modal, tidak ada relasi, tak punya ilmu bisnis khusus, ada utang besar, berijazah sarjana, tapi malah hendak mencari peluang usaha yang belum pasti. Bagi teman-teman Merry ini benar-benar lelucon. Merry dan Alva berusaha tegar dan tak goyah dengan cemoohan itu.
Keputusan berwirausaha ini didahului dengan meminta restu dari kedua orang tua mereka. Ayah Alva yang memang entrepreneur sejati sangat merestui. Namun, justru dilemma ada pada mama Merry, yang menangis pada saat Merry mengutarakan keinginannya untuk berwirausaha. Mama Merry sangat khawatir, nasib Merry akan sama seperti bapak Merry, yang kurang berhasil dalam berwirausaha. Merry pun berkompromi pada kekhawatiran mamanya. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan Alva, Merry ambil jalan tengah. Merry akan berjuang dengan niat berwirausaha selama tiga bulan dulu. Bila dalam tempo tiga bulan itu Merry mengalami kegagaln, Merry akan segera melamar pekerjaan dan menjadi pegawai kantoran. Tapi jika Merry dihampiri tanda-tanda sukses, wirausaha pun lanjut. Orang tua Merry pun akhirnya setuju.

Beres mendapatkan restu, Merry dan Alva berunding. Bisnis atau wirausaha apa yang akan mereka jalankan?. Menimbang kondisi mereka yang tidak memiliki modal, mereka melihat bidang sales adalah pilihan yang sangat tepat. Alva melihat keterbatasan Merry sebagai sumber alasan untuk memilih sales. Pertama, Merry tidak pandai berbahasa inggris dengan lancar, masih kaku dan miskin kosakata. Kedua, kenalan mereka juga terbatas hanya kawan kampus. Ketiga, usaha mereka sebelumnya gagal. Alva melihat, bidang sales akan menggenjot untuk mendobrak keterbatasan mereka. Karena pekerjaan sales harus banyak berkomunikasi, maka bahasa inggris Merry akan terstimulasi jadi terlatih. Lalu, karena relasi mereka terbatas, maka pekerjaan sales pun akan mendorong mereka untuk memperluas jangkauan jejaring. Dan karena mereka sebelumnya sempat mencetak kegagalan, maka pekerjaan sales akan menjadi pelecut untuk menjual sebanyak mungkin produk. Itulah positifnya Alva. Dia selalu bisa melihat peluang dibalik kekurangan dan melihat sisi edukasinya.

Langkah berikutnya, Merry dan Alva melakukan survey dengan banyak browsing, dan membaca surat kabar. Di Singapura, pekerjaan sales yang marak dan memperlihatkan keuntungan yang signifikan ada tiga jenis, sales property, sales MLM, dan sales asuransi. Merry lebih sreg memilih sales produk financial, khususnya asuransi, karena fenomena yang sangat berbeda antara Singapuran dan Indonesia. Di Singapura prospek usaha asuransi sangat baik, masyarakatnya sangat sadar akan pentingnya asuransi, dan telah menjadi pengetahuan umum.

Menjadi Seorang Sales
Tidak sulit mencari informasi tentang kantor-kantor yang menaungi pemasar produk financial. Tapi ternyata sulit untuk menemukan kantor yang mau menerima lamaran mereka. Para pemasar produk keuangan harus warga Negara Singapura atau mereka yang telah terdaftar sebagai peduduk resmi. Sedangkan status mereka saat itu masih student. Bisa diurus administrasinya, namun agak merepotkan. Mereka datangi satu persatu kantor penjual produk keuangan, dan akhirnya pada kunjungan kantor ke empat, mereka diterima, di kantor yang sangat sederhana di Tanjong Pagar.

Mulailah mereka bekerja di kantor sales Prudential di kawasan Tanjong Pagar itu. Seperti yang sudah diatur dalam persyaratan, Merry dan Alva harus mendapatkan beberapa lisensi pemasaran produk financial dan harus lulus membawa 3 jenis sertifikasi. Dengan sangat yakin dan penuh percaya diri Merry mempelajari beberapa textbook yang masing-masing tebalnya ratusan halaman. Cukup sulit bagi mereka, karena sangat berbeda dengan apa yang mereka pelajari sebelumnya di bangku kuliah. Setiap ujian menarik sekitar 120 dolar. Jadi mereka harus merogoh kocek masing-masing sekitar 400 dolar, sehingga Merry harus lebih berhemat untuk biaya makan sehari-hari.

Satu dari tiga sertifikat yang diminta tidak bisa diselesaikan Merry tepat waktu dan Merry failed dalam ujian. Sadarlah Merry bahwa pekerjaan ini tidak mudah. Selain itu Merry dan Alva diberikan tugas menyusun 100 nama, lengkap dengan nomor telepon sebagai calon klien yang akan mereka hubungi nantinya. Merry kelabakan, sekuat-kuatnya Merry mengingat nama teman-temannya di kampus, namun nyatanya tak begitu saja Merry bisa mengunmpulkan 100 nama. Merry gagal lagi. Sementara Alva bisa lulus dengan nilai yang sangat baik. Tes ini sangat penting karena, memiliki jejaring adalah harga mati bagi seorang sales.

Tiga sertifikat itu akhirnya berhasil didapatkan. Dan hari pertama bekerja pun dimulai. Merry dan Alva sepakat membagi tugas. Merry dengan kelebihnnya yang rajin bergerak dan gigih akan menjalankan tugas tampil di depan untuk melakukan penjualan. Sementara Alva yang sangat telaten mendalami buku-buku mengenai asuransi akan bertugas menjadi pengatur strategi dan mengurus semua keperluan administrasi serta operasional Merry.

Merry yang gagal pada saat tugas menuliskan 100 nama dan nomor telepon, akhirnya diberikan yellow pages oleh managernya, untuk dihubungi minimal 100 sehari agar ada kemungkinan 1 orang yang akan mau bertemu dengan Merry. Ya dari 100 hanya 1 kemungkinan yang akan bertemu, dan itu pun belum tentu deal. Untuk mendapatkan 1 transaksi minimal harus ada 3 orang yang mau bertemu. Berarti Merry harus menelpon 300 orang per hari. Wuih!

Hari pertama menelpon, Merry gagal mendapatkan satu orang pun untuk bersedia bertemu. Dua minggu berselang, dan hasil pekerjaan mereka sangat menyedihkan. Merry hanya bisa menjual satu saja produk financial setelah beratus-ratus orang Ia telpon. Menurut Alva, memasarkan produk keuangan dengan serangan telepon adalah sebentuk cold calling, alias telepon yang tidak menjanjikan kehangatan dan jawaban menggembirakan. Alva menyarankan agar Merry menjalankan konsep door knocking dulu, yakni mendatangi rumah-rumah atau apartemen dan memasarkan produk keuangan langsung di kediaman calon konsumen. Alva juga menyarankan agar Merry mendatangi kampus mereka NTU untuk menawarkan langsung kepada dosen-dosen NTU. Merry setuju dengan ide Alva, dan menemui seorang professor disana. Merry diterima dengan baik, sehingga ia bisa menjelaskan dengan leluasa, dan sang professor mendengarkan dengan serius dan apresiatif. Merry berpikir, kali ini akan berhasil. Namun tak berapa lama setelah Merry menjelaskan, professor bersuara, dan bertanya tentang perekonomian Singapura, dan bagaimana industry perbankan bisa memberikan kontribusinya bagi pembagunan, dan blablabla…, Merry gelagapan tak siap menghadai pertanyaan seperti itu. Dan akhirnya terjadilah kuliah ekonomi dadakan didalam ruangan tersebut. Professor tersebut tidak tertarik sama sekali pada produk keuangan yang Merry tawarkan. Merry keluar dengan gontai.

Merry dan Alva berdiskusi mencari ide lain karena, dua konsep sebelumnya gagal. Mereka berpikir, nampaknya konsep street prospecting akan menjadi jalan keluar. Dengan turun ke jalan, Merry tidak perlu lagi repot mendatangi rumah dan kesulitan untuk bisa diterima. Merry juga tidak perlu lagi menebak-nebak seperti apa si penghuni rumah, apakah menyeramkan, ataukah potensial. Dengan street prospecting, pertimbangan calon nasabah dan presentasi bisa langusng dilakukan di tempat terbuka, tanpa khawatir orang ini membahayakan atau tidak.

Pelajaran penting yang bisa diambil dari fase ini adalah tidak putus asa, terus mencari jalan keluar terbaik, dan berani menghadapi tantangan!.

Bersambung bab 9 …

sumber gambar: merrryriana.co.id

Menikah Untuk Bahagia





Judul               : Menikah untuk Bahagia
Penulis             : Indra Noveldy & Nunik Hermawati
Penerbit           : Noura Books
Pembuat          : Amiris Sholehah,  IM 6
 Beberapa bulan terahir saya tertarik dan mulai melirik deretan buku-buku tentang pernikahan yang berjejer rapi di rak toko buku, beberapa sudah saya beli tapi belum sempat membacanya. Sampai akhirnya kiriman buku dari seorang teman dengan judul “Menikah untuk Bahagia” yang belum sempat saya beli itu serasa membuat saya mulai membuka lembar perlembar kemudian membacanya. Endors dari salah satu penulis dan motivator beken menambah rasa penasaran isi buku ini. Buku ini ditulis oleh Indra Noveldy & Nunik Hermawati, pasutri yang juga pasangan konsultan pernikahan. Tak ada kata ragu lagi bagi saya untuk membaca buku ini. Pengantar dengan bahasa santai dan renyah dari penulisnya itu mampu mengajak saya untuk terus asyik membaca buku ini, banyak hikmah dan penuh dengan pengalaman seru berumah tangga. Satu hal yang menjadi tantangan bagi saya dan Anda yang punya nasib sama dengan saya “tidak begitu paham bahasa inggris” bersiaplah untuk menyediakan kamus bahasa Inggris di dekat Anda karena istilah yang dipakai penulis kebanyakan berbahasa Inggris.
Di awal tulisan,  si penulis mengajak kita untuk merenung tentang niat atau tujuan awal dari sebuah pernikahan. Setiap pasangan suami istri pasti mempunyai tujuan dalam pernikahan. Jawaban sederhana dan yang paling sering kita dengar saat ditanyakan tentang tujuan menikah adalah untuk ibadah, karena sudah cukup umur, tekanan lingkungan atau ingin memiliki anak. Jawaban paling normatif biasanya adalah untuk membangun keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, meskipun beberapa dari mereka yang mengakatan tidak memahami maksudnya namun kalimat ini dianggap menjadi jawaban paling baik. Nah, buku Menikah untuk Bahagia ini menurut saya adalah buku yang mengupas tentang bagaimana kita membangun surga di rumah kita sendiri melalui sakinah, mawaddah wa rahmah itu tadi.  Ada satu sub judul yang membuat saya geli dan ingin segera membacanya “Hukum Alam dalam Pernikahan” awalnya saya bertanya-tanya, benarkah ada? Saya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala saat membaca jawabannya karena ternyata saya sering sekali mendengar dan bahkan saya sendiri mempunyai harapan hal itu menjadi kebiasaan dalam hidup saya “Memberi, memberi, memberi” yup, saya yakin bahwa memberi adalah sebuah proses dimana nantinya kita akan menerima.
Satu kalimat lagi yang membuat saya merasa beruntung membaca buku ini sebelum menikah “Soulmate itu diciptakan, bukan ditemukan” untuk menjadi soulmate atau mencari soulmate  itu kita harus berjuang seumur hidup, bagaimana caranya? Jika pernikahan itu adalah impian maka nikmati prosesnya, tidak mudah memang tapi disitulah tuntutan untuk memperjuangkannya. sepertinya tiga lembar A4 tak cukup untuk membahas soulmate itu sendiri, saya sarankan teman-teman membaca sendiri ya!.
 Saya rasa konsep yang penulis usung dalam sebuah pernikahan ini tidak melulu untuk pasutri, bagi saya yang belum menikah tentu banyak hal yang bisa saya ambil, tidak hanya untuk bekal menikah saja tapi lebih pada bagaimana saya harus bersikap pada kedua orang tua dan saudara saya di rumah, teman-teman organisasi saya, teman sejawat di tempat kerja dan lingkungan lainnya. Konsep “Nyaman-trust-install” sangat mempengaruhi pola berpikir saya setelah  mencoba menerapkannya. Ajaib, saya merasa tidak salah membaca buku. Konsep ini bisa kita pakai disaat menginginkan kondisi yang  lebih baik atau mengubah situasi lebih tentram, rumah tangga mungkin hanya sebagai salah satu contoh karena pada dasarnya konsep ini diciptakan untuk skala yang lebih luas. Proses nyaman-trust-install merupakan 3 hal yang tak bisa di lepas atau diubah polanya karena ini merupakan rumus paten dari si penulis, untuk mengubah sebuah situasi atau kondisi menjadi lebih baik maka buatlah dulu orang-orang sekitar merasa nyaman dengan keberadaan kita maka lambat laun mereka akan mempercayai kita kemudian setelah itu kita bisa bersama-sama menginstallnya.
Siapa yang tak mendambakan kebahagiaan dalam pernikahannya? Buku ini adalah buku yang sarat dengan pengetahuan dan keterampilan berumahtangga. Melalui perenungan kita diajak untuk bangkit dari keterpurukan, menghadirkan solusi dalam setiap permasalahan khususnya pernikahan. Akhirnya saya hanya bisa menyimpulkan bahwa pernikahan yang kita impikan itu penuh dengan perjuangan.  Mari memantaskan diri!
sumber gambar: www.menikahuntukbahagia.com


Senin, 01 September 2014

How to Master Your Habits





Judul               : How to Master your Habits
Penulis             : Felix Y. Siauw
Penerbit           : Al-Fatih Press
Pembuat          : Amiris Sholehah,  IM 6

Berkali-kali saya mengikuti training motivasi, berkali-kali juga saya dibuat kecewa. Kenapa begitu? Karena saya hanya termotivasi saat berada di dalam ruangan dan pada saat itu saja. Ketika motivator menutup acara kemudian saya keluar ruangan dan bertemu teman yang kemudian kita membahas agenda lainnya maka hilanglah semua motivasi yang sudah saya dapat tadi. Anda mempunyai problem yang sama seperti saya? Jangan khawatir, ada buku ampuh yang mampu menyembuhkan penyakit itu. “How to Master your Habits” judulnya, yang mengangguk-angguk sendiri pasti sudah pernah membaca dan menerapkannya. Ya, buku yang simple dan tidak cukup direspon dengan kata “WOW” saja ini akan mengajak kita naik gunung, naik kora-kora, panjat tebing atau hal lain yang menurutmu ekstream, siapa mau?
Di awal tulisannya Felix Y. Siauw mengajak kita untuk mengenalkan orang tua keren terlebih dahulu, siapa mereka? Mereka adalah practice dan repetition, benar-benar keluarga yang sangat harmonis, dari orang tua keren ini mereka mempunyai anak bernama habits. Ustadz keturunan Tiong hoa ini dalam bukunya mengajak kita untuk bangkit dan melawan apapun yang berasal dari syetan : Rasa malas, suka menunda-nunda, bosan, gagal move on, pesimis dan saudara-saudaranya kemudian mengajak serta optimis, tekad kuat, visioner, daya juang dan saudara-saudaranya juga untuk bergandengan tangan menggapai impian.
Persis seperti yang saya sebut di atas agar kita mempunyai keahlian pada satu bidang kita akan diajak seolah-olah mendaki gunung, mungkin kamu merasa membiasakan sesuatu itu adalah hal mudah, tapi saya yakin kemudahan itu hanya ada dalam pikiran saja untuk mengaplikasikannya kita butuh banyak hal. Seperti halnya pendaki gunung, agar menjadi ahli dan bisa mencapai puncak, pada awal mendaki Ia akan bertemu dengan tantangan dan rintangan, mereka berdua biasanya datang dari dalam diri kita sendiri. Ingin menyerah karena kecapaian, putus asa karena tidak segera sampai di puncak, atau malas melewati medan terjal dan hal lain yang bisa membuat kita berhenti sebelum benar-benar berjuang.  Seperti itulah tantangannya, kita mau menjadi ahli tapi kadang ingin instan, tak mau melewati prosesnya. Bagi mereka yang mau menikmati proses mendaki itu, setelah sampai dipunggung gunung atau medan paling ektream sekalipun ia akan semakin semangat karena sebelumnya ia sudah terbiasa dengan lelahnya, pegalnya, medan terjal bahkan ia akan sangat menikmati perjalanannya hingga akhirnya bisa sampai pada puncak. Maka berbahagialah bagi orang yang sangat menghargai dan menikmati proses dalam hidupnya.
Hal yang menarik dari buku ini juga, tanpa sadar kita akan diajak terbiasa menyebut orang tua habits, practice dan repetition. Bersama mereka nantinya habits akan mengarungi kisah yang akan menyejarah, ia adalah keahlian kita. Anda bertekad menjadi ahli? maka mari biasakan diri agar menjadi ahli! Beraksi, bongkar, bangkit, lawan, hajar tuh syetan yang menyelimuti hati! Bisa ala biasa.

sumber gambar: www.thegirlswithbrokenwings.wordpress.com

Lapis-Lapis Keberkahan




Judul: Lapis-Lapis Keberkahan
Penulis: Salim A. Fillah
Penerbit: Pro-U Media

"Mesra dalam Ringkasnya Hidup"

Bayi yang lahir disunnahkan untuk dikumandangkan adzan di telinga dan setiap muslim akan dishalatkan ketika wafat. Maka sungguh, hidup dari lahir hingga mati, hanyalah sependek jarak adzan & shalat. Betapa singkat hidup kita, tetapi jasad yg terbaring akan menghadapi banyak pertanyaan dari setiap detik yang pernah dilaluinya.
Tugas hidup kita adalah mengemudikn hati menuju Allah di jalan yg lurus. Hati sama dengan qalb. Ia mempunyai makna taqallaba (bolak-balik). Maka harus snantiasa kita dekatkan kepada Allah Sang Maha Membolak-balikkan hati. Sabda Nabi saw "Hati-hati ini berada diantra jari jemari Allah Yang Maha Pengasih, Dia bolak-balikkan mnurut apa yg dikehendakiNya."
Mari kita belajar dari sosok yg paling mesra dgn Rabbnya. Dialah Ibrahim alaihissalam yg bergelar "khalilurrahman". Ibrahim senantiasa hidup bersama Allah. Ia mencariNya dengan segenap keyakinan dan menggambarkan hubungannya dengan Allah seakan-akan ia melihat-Nya: "Yaitu Rabb yg telah menciptakanku, maka Dia memberiku petunjuk. Dan Dialah yg memberiku makan dan memberiku minum. Dan apabila aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkanku. Dan yg akan mematikanku kemudian menghidupkanku kembali. Dan yg amat ku inginkan untuk mengampuni kesalahanku pada Hari Pembalasan." (Q.S Asy-Syu'araa': 78-82)
1. "Yaitu Rabb yang telah mnciptakanku, maka Dia memberiku petunjuk"
Bercerminlah dan akan kita dapati sebaik-baik bentuk dan rupa. Tapi jika tidak ada petunjuk dari Allah, diri manusia takkan mampu melampaui derajat hewan. Maka sangat penting memohon petunjuk Allah agar kita menjadi makhluk mulia. "Ya Allah yang telah membaikkan rupaku, baikanlah pula akhlakku."
2. "Dan Dialah yang memberiku makan dan minum"
Tidak ada satu pun makhluk yang diciptakan sia-sia, yang tidak dijamin penghidupannya oleh Allah, dan tidak akan dimatikan melainkan telah Allah genapkn seluruh rezekinya.
3. "Dan apabila aku sakit, maka Dialah yang menyembuhkanku"
Sakit adalah musibah yang Allah timpakan untuk menguji manusia. Begitu pun dengan rasa takut,  kekurangan harta, lapar, dll. Setiap kita akan mngalaminya dan kabar gembira bagi mereka yang bersabar.
Dalam ayat tsb, Nabi Ibrahim meneladankan adab. Ia tidak menyalahkan Allah atas penyakit atau keburukan yg dideritanya. Ia hanya mengatakan apabila dirinya sakit dan ia tegaaskan bahwa segala penawar hanya berasal dari Allah swt.
4. "Dan Dia yg mematikanku kemudian menghidupkanku kembali"
Ibrahim menambahkan pemahaman tentang hakikat mati dan hidup. Bahwa kita rindu untuk berjumpa dengan Allah, sebab kita beriman kpadaNya. Kita mengharapkan adanya akhirat, sebab kita beramal shalih. Di sanalah stiap kebajikan dibalas dengan sempurna. Dan pintu yang harus kita masuki untuk menjumpai keindahan ganjaran surga serta kenikmatan bertemu dengan Allah adalah melalui kematian.
5. "Dan yg amat kuinginkan untuk mengampuni kesalahanku pada Hari Pembalasan"
Ini adalah keinginan paling puncak Ibrahim. Ia tidak merasa dirinya bebas dari kesalahan, justru ia khawatir atas kesalahannya.
Begitulah manusia mulia, yg semata mengharapkan keridhaan Allah. Mari hidup dlm lapis-lapis keberkahan, memesrakankan hati kepada pemiliknya, sebagaimana kemesraan Ibrahim dengan Rabbnya.

Ira_IM2

sumber gambar: www.hidayatullah.com