Jumat, 25 Maret 2016

GAJAH MADA


Judul Buku                : Gajahmada
Penulis                      : Langit Kresna Hariadi
Penerbit                    : Tiga Serangkai
Jumlah halaman       : 592

Berawal dari rasa penasaran tentang siapa dan mengapa nama Gajahmada begitu populer, saya antusias berburu novel serial Gajahmada. Kresna Hariadi dengan sangat piawai menampilkan sosok politikus dan ambisius Gajahmada dalam novel ini. Menegangkan, bikin penasaran, dan selalu penuh kejutan. Kresna Hariadi mampu memadukan romantisme, kelucuan, emosi, dan konflik dengan sangat apik pada buku ini.
Serial Gajahmada 1 mengisahkan perjalanan karir Gajahmada pada titik nol. Seorang prajurit biasa yang baru diangkat menjadi Bekel, jabatan terendah dalam satuan keprajuritan Majapahit kala itu. Ia memimpin sebuah pasukan kecil bernama Bhayangkara. Pasukan ini sangat istimewa karena disaring dari orang-orang pilihan dan digembleng secara khusus sehingga masing-masing anggota punya kemampuan diatas rata-rata baik dalam kecerdasan, olah kanuragan (kemampuan bela diri), ataupun senjata (panah dan pisau).

Tugas pasukan Bhayangkara selain sebagai pengawal kerajaan adalah sebagai telik sandi (mata-mata), tak ada benteng musuh serapat apapun yang tak dapat ditembus oleh telik sandi Bhayangkara. Pasukan ini menjadi layer terakhir untuk menjaga keamanan raja dan keluarganya. Pasukan ini pula yang menjadi inspirasi dibentuknya Kopasus pada tubuh TNI. Strategi militer pasukan Bhayangkara banyak diadaptasi menjadi strategi militer saat ini.

Kerajaan Majapahit saat itu dipimpin oleh Kalagemet yang bergelar Sri Jayanegara, keturunan lelaki satu-satunya Raden Wijaya yang menjadi raja Majapahit sebelumnya. Petualangan Gajahmada dimulai saat suatu hari kabut tebal tiba-tiba menyelimuti Majapahit. Kemunculan bintang kemukus berekor panjang (meteor kali yah?) menambah suasana semakin ganjil dan mencekam. Suara burung gagak dan lolongan anjing yang terus menerus menambah suasana semakin mencekam. Beberapa orang sepuh yang awas paningal salah satunya adalah Arya Tadah, Mahapatih Majapahit saat itu, mempercayai hal itu sebagai pertanda buruk.

Kabut tebal dan badai bintang kemukus di malam hari pernah terjadi di masa lampau, sehari sebelum Ken Arok menyerbu Kediri saat menggulingkan Kertajaya. Suasana serupa juga pernah melanda kotaraja Singasari sebelum digempur oleh Jayakatwang. Di masa lampau, dua suasana aneh itu rupanya penanda akan terjadinya perang besar yang menelan banyak korban. Apakah ini juga penanda perang untuk Majapahit? Pertanyaannya, siapa yang berani melakukan makar mengingat saat itu Majapahit tak pernah ada konflik dengan pihak manapun.

Dalam kondisi malam yang mencekam itu Gajahmada didatangi oleh orang tak dikenal dengan nama sandi Bagaskara Manjer Kawuryan (matahari bersinar terang) memberikan informasi rahasia yang mengejutkan. Bahwa besok pagi akan ada pasukan pemberontak berkekuatan segelar sepapan yang akan menyerbu Majapahit untuk membunuh raja dan mengambil alih kerajaan (istilah sekarang kudeta). Untuk mengetahui pergerakan musuh, Gajahmada mencoba memilah setiap nama yang mungkin berpeluang sebagai pemberontak, tapi nihil, ia tak punya gambaran siapapun. Malam itu Gajahmada harus menemukan siapa dalangnya atau dia akan kehilangan Majapahit.

Dalam situasi ini terlihat betapa cerdas dan tangkas Gajahmada mengomando pasukan Bhayangkara dalam mengatasi situasi yang rumit dan sangat mendesak. Majapahit saat itu memiliki tiga kesatuan prajurit yang masing-masing berkekuatan segelar sepapan, yakni Jala Rananggana, Jalapati, dan Jalayuda. Hasil olah telik sandi Bhayangkara menemukan bahwa salah satu pasukan itu berada di pihak pemberontak. Gajahmada yang hanya berpangkat bekel, dengan bekal lencana kepatihan dari Mahapatih Arya Tadah dengan sigap malam itu juga melakukan diplomasi dengan dua kesatuan lain yang belum diketahui afiliasinya.

Rupanya hanya pasukan Jalapati yang dipimpin oleh Banyak Sora yang masih mendukung raja. Pasukan Jala Rananggana yang dipimpin Pujut Luntar sudah dipastikan pro pemberontak. Pasukan Jalayuda yang dipimpin Panji Watang bersikap netral tapi dibalik netral tersebut sungguh ada niat yang lebih keji untuk melibas siapapun yang menang dan menjadikan dirinya sebagai raja. Yang lebih mencengangkan adalah otak pemberontakan ternyata pejabat-pejabat yang baru saja diberi gelar kehormatan oleh raja. Mereka adalah para rakrian winehsuka yaitu Ra Kuti sebagai pemimpin, Ra Tanca, Ra Pangsa, Ra Banyak, Ra Yuyu, dan Ra Wedeng. Mereka adalah orang-orang yang tidak puas atas kepemimpinan raja dan haus kekuasaan. Sejarah telah membuktikan bahwa hanya pasukan militer yang berani melakukan kudeta. Kedua bahwa keserakahan manusia akan kekuasaan dan jabatan menjadi penyebab berbagai konflik politik bahkan peperangan.

Singkat cerita Ra Kuti, dkk, berhasil menguasai Majapahit yang menyebabkan Sri Jayanegara dan keluarga harus mengungsi dan nomaden untuk menghindari kejaran pasukan Ra Kuti yang terus memburunya. Dalam pelarian ini banyak kisah tragis tapi lucu menimpa raja karena raja yang terbiasa hidup mewah dan dilayani harus hidup ala prajurit Bhayangkara. Dalam pelarian, dengan menyembunyikan identitasnya, Sri Jayanegara berlindung di rumah-rumah penduduk di pelosok desa. Pengalaman itu membuatnya lebih tahu kondisi rakyat yang miskin dan berjanji untuk lebih memperhatian kesejahteraan rakyat kelak jika ia selamat.

Selama pelarian, raja hanya ditemani oleh Gajahmada, jasa inilah yang membuatnya kelak sangat dipercaya oleh keluarga kerajaan Majapahit. Awalnya, Gajahmada melibatkan pasukan Bhayangkara untuk melindungi raja saat pelarian. Namun rupanya ada dua pengkhianat diantara mereka sehingga beberapa kali raja hampir terbunuh saat bersembunyi. Gajahmada pun memutuskan hanya dia yang menemani raja saat pelarian.

Ra Kuti, si otak pemberontak, menerapkan sistem tangan besi saat berkuasa. Terjadi banyak perkosaan, perampasan harta, bahkan pembunuhan massal saat rakyat melakukan pepe (unjuk rasa) yang dilakukan oleh prajurit Ra Kuti. Siapapun yang berani menentang Ra Kuti dihukum gantung atau dipenjara. Rakyat secara nyata tidak suka terhadap Ra Kuti. Apalah artinya raja tanpa dukungan rakyat. Gajahmada dan pasukan Bhayangkara memanfaatkan kondisi itu untuk menghimpun kembali kekuatan rakyat dan pejabat yang masih pro raja.

Seperti kisah sejarah pada umumnya, dalam novel ini banyak sekali nama-nama tokoh dan gelar-gelar raja yang panjang-panjang dan sulit dieja. Di buku pertama ini saya kudu beberapa kali back to halaman sebelumnya untuk ngecek lagi tokoh ini siapa yah? Bahkan untuk nulis resume ini saya juga kudu ngecek lagi nama-namanya untuk menghindari kesalahan speeling. Trus ada beberapa istilah Jawa yang tak dijelaskan artinya ditulis italic seperti brubuh, nabastala, klebet, jigang, dampar, dll. Untuk buku Gajahmada 2 dan 3 tak terlalu banyak nama tokoh, kalaupun ada nama tokoh baru atau istilah baru diberi footnote sehingga tak harus back to previous page.

Semasa sekolah menengah, pelajaran sejarah bagi saya paling membosankan. Monoton, gak jelas alurnya, enggak banget terbawa arus emosi sejarahnya saat baca. Menulis ulang sejarah dalam bentuk novel akan menjadi inovasi unik dalam memahami sejarah. Kreshna Hariadi pun perlu riset bertahun-tahun untuk menyajikan inti cerita sehingga mendekati kejadian sebenarnya. Tentu ditambah bumbu fiksi yang membuat alurnya semakin gurih. Adalah Prapanca yang juga memiliki banyak nama, sang wartawan sejarah, penulis kitab Negarakertagama, melanglangbuana ke berbagai wilayah Nusantara untuk menuliskan berbagai kejadian yang ia lihat dan ia alami, termasuk salah satunya kesaksian tentang kisah Majapahit dan sepak terjang Gajahmada. Berkat kepiawaian dan kegigihan mereka dalam menulis sejarah, kita yang hidup di jaman sekarang, ratusan tahun melewati masa itu, bisa mengambil hikmah dari kisah masa lampau.

Finally, apakah Gajahmada berhasil merebut kembali kekuasaan dari tangan Ra Kuti? Siapakah prajurit Bhayangkara yang berkhianat? Siapakah Bagaskara Manjer Kawuryan, orang yang selalu hadir secara misterius dihadapan Gajahmada untuk mengabarkan sepak terjang musuh? Orang misterius ini pula yang mengabarkan adanya mata-mata di tubuh Bhayangkara. Perjalanan untuk menemukan tiga teka-teki tersebut menjadi kenikmatan tersendiri dalam melahap novel ini. Endingnya seperti saya bilang, sungguh tak terduga. Jika penasaran silahkan temukan sendiri dalam novelnya. Recomended bagi penyuka thriller dan atau literasi sejarah.

Yogyakarta, Maret 2016
-THW-

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

Sabtu, 19 Maret 2016

Hidup adalah perjuangan

Hidup adalah perjuangan
Judul Buku : Hidup adalah perjuangan
Jml Hal       : 372
Penulis       : Azwar Sutan Malaka
Penerbit      : Bening

Hidup adalah perjuangan, pejuang sejati tak pernah mati, buku ini berkisah tentang seorang lelaki muda sebagai pewaris tradisi matrilineal yang menpertahankan sebuah  kebenaran demi peradabannya/leluhurnya/budayanya.

"kita tidak boleh punah. kita harus memperjuangkan peradaban kita agar tetap ada di dunia ini. kita harus memperjuangkannya sebelum kita benar-benar punah atau dipunahkan." Begitulah yang ada di benak dan pikiran Alif sebagai seorang anak lelaki yang berada dalam budaya tradisi Matrilineal. Kisah ini berasal dari Negeri Purnama, sebuah kerajaan dengan sistem pemerintah bernasab pada perempuan (ibu), perempuan lah yang memiliki hak atas warisan tanah, ladang, rumah, dan mewariskan suku kepada anak perempuannya nanti. tidak hanya di Negeri Purnama di negeri lain pun sama budaya mereka bernasab pada garis ibu (negeri adalah sebuah kerajaan/suku kecil tetapi berpengaruh terhadap masyarakat sekitar pada jaman kejayaanya.

Dikisahkan negeri ini sudah berada di masa moderen saat ini, sudah terdapat Hand Phone, kendaraan motor, bis, dan mobil pribadi. Seperti halnya Kerajaan kerajaan yang ada di Indonesia maka, kerajaan ini tak seberdaya dulu, karena saat ini sudah ada sistem pemerintahan yang resmi dari Negara (Kecamatan, Walikota, Bupati), alhasil kerajaan hanyalah sebuah budaya yang hanya orang sekitar yang mengenal dan masih memegang teguh budaya leluhurnya. Dibalik itu semua ada pihak lain yang ingin menjadikan kerajaan seperti ini sebagai objek wisata
 Dimana sebuah tatanan luhur kerajaan jaman dulu, yang berjaya dan membawa kemakmuran, kearifan dalam bermasyarakat, dan kini akan menjadi sebuah tontonan dengan label Menunjukkan budaya daerah demi rupiah.

Beginilah kisah perjuangan Alif sang raja muda dari Negeri Purnama, ia adalah anak tunggal dari garis Ibu nya, dimana sang ibu adalah sang pewaris dari kerajaan tersebut. Ibu Alif adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara, kakaknya laki-laki dan meninggal muda, adeknya bernama tek Dinar (perempuan) dan memiliki 2 anak perempuan.

Alif dan ibunya tinggal di rumah gadang bekas istana (Ayah Alif meninggal sudah lama), sebagai pewaris kerajaan mereka yang merawat rumah gadang bekas istana, ladang dan sawah yang di miliki dari turun temurun. Perjuangan Alif dimulai saat  seorang investor asing ingin membeli rumah gadang bekas istana dan menjadikannya sebagai tempat pariwisata, namanya Frans sang investor berdarah dingin, sang Tek Dinar (bibi Alif) lah yang mengundang Frans untuk membeli dan menjadikan rumah gadang bekas istana Purnama itu untuk menjadi tempat wisata. Ide tek Dinar untuk menjual rumah gadang bekas istana Purnama ini karena rakus akan harta.

Pemegang hak waris akan rumah gadang bekas Istana Purnama adalah ibu Alif, maka semua yang berkaitan dengan persetujuan penjualan rumah gadang bekas istana ada di tangan Alif sebagai Raja Muda Kerajaan Purnama. Alif seorang yang memegang teguh budaya dan adatnya ia tak berpendidikan tetapi ia tahu akan budaya dan adat istiadat Islam yang dipegang teguh dari nenek moyangnya. Perjuangan Alif dalan mempertahankan Bekas Istana Purnama dari tangan Frans harus di bayar mahal oleh Alif, bukan harta tapi nyawa.

Nyawa dari seorang perempuan bernama Narysa, perempuan yang dulu pernah di cintai Alif tetapi kini ia menikah dengan seorang dokter. Narysa tewas di rumahnya saat menolong Raja Muda Alif dari kejaran anak buah Frans (Alif dalam kondisi terluka parah, sayatan pada tubuhnya dan luka memar di sekujur tubuhnya), ia di tembak pada bagian perutnya yang saat itu sedang mengandung besar, Narysa tewas dipangkuan suami nya dan Alif melihat dari kejauhan untuk menyelamatkan diri.

Nyawa ke dua yang hilang adalah Aila istri Alif. Baru beberapa hari menikah dengan Alif, Aila meninggal akibat kecelakaan (ditabrak.sepeda motor saat akan menyebrang jalan). Kecelakaan yang terlihat alami ini sebenarnya adalah rencana dan ulah dari Frans dan antek anteknya. Kematian Aila ini terjadi selang beberapa hari meninggalnya ibu Alif. Lengkap sudah penderitaan Alif, hingga membuat nya menjadi orang stress, tidak makan, tidak mengurus diri hingga berbulan bulan sampai badan dan penampilan Raja Muda Alif tak lagi gagah dahulu.

Nasib Alif memang begitu pelik, hidup dengan budaya matrilineal yang bernasab pada Ibu, maka kini ia tak memiliki apa apa. Rumah gadang bekas kerajaan beserta sawah dan ladang kini menjadi hak Tek Dinar (adik ibunya) karena begitulah warisan dari kerajaan matrilineal, Alif tak ada hak atas harta yang menghidupinya selama ini. Seharusnya Alif bisa ikut istrinya, ke rumah kerajaan   Aila, tetapi kini Aila pun telah tiada maka Alif hanya bagaikan debu bertebrangan entah kemana tak ada pijakan pasti, ia tak ada hak lagi atas harta ibu nya pun atas harta dari Aila.

Puas sekali Frans melihat keadaan Alif, dan kini mudah bagi Frans untuk membeli Rumah Gadang Kerajaan Purnama karena cukup berhubungan dengan tek Dinar selaku pemegang kekuasaan Kerajaan Purnama. Lantas sia sialah seluruh perjuangan Alif dalam mempertahankan tradiai leluhurnya selama ini.

Lamunan Alif atas deritanya selama ini membuatnya seperti orang gila, tak terurus kurus dan tak ada harapan hidup lagi di wajahnya, semangatnya lenyap, ambisinya tak bersisa dan kematian nampaknya indah untuknya. di tengah kepedihannya ada mahasiswa Belanda bernama Shannon yang melakukan penelitian di Negeri Purnama, nasehat Shannon untuk Alif yang sedang berduka berkepanjangan

"... pilihan mu untuk berlarut-larut dalam kesedihan. saya rasa kita harus rasional, yang hidup pasti akan mati. tidak mungkin kan kau ingin mati hanya karena istri mu mati. Kau harus melanjutkan hidup mu."

Dalam duka nya datang pula Said (suami Narysa gadis yang ia cintai dulu, yang tewas karena ulah Frans dan antek anteknya). Said memberikan nasehat
"Lupakanlah. sekarang mari kita nikmati sisa-sisa hidup ini."
kesedihan Alif tentu telah dirasakan pula oleh Said yang kehilangan 2 orang sekaligus, istri dan anaknya dalam kandungan.

Berangsur kondisi Alif membaik dan kini ia berusaha keras untuk menggagalkan rencana tek Dinar dan Frans untuk menjadikan Rumah Gadang bekas Kerajaan Purnama sebagai tempat wisata. Alif dibantu Shannon dan Nayla (Dosen di perguruan tinggi yang membantu penelitian Shannon), usaha mereka penuh lika dan liku hingga nyawa Shannon pun ikut terenggut menjadi korban dari kebengisan Frans. semua perjuangan memang penuh perih, sebelum kematian Shannon yang jatuh dari menara jam, Frans terlebih yang mati dengan sebab yang sama (jatuh dari menara jam), menara yang menjadi saksi akan perkelahian Alif dengan Frans, serta cinta Alif terhadap Shannon yang belum terungkapkan dengan kata. Lengkap sudah semua orang yang dekat dengan Alif tak berumur panjang, seolah tak ada kebahagiaan untuk hidupnya.


Akhirnya usaha mereka Alif, Shannon dan Nayla berhasil dengan melibatkan pemerintah kota (Bapak Wali Kota). Rumah Gadang Bekas kerajaan purnama tidak dapat dijual dan kini akan di perhatikan pemerintah setempat.

Alif ia lelaki yang bertubi tubi selalu terluka, terluka dalam dada yang teramat menyiksa. Saat bahagianya tak begitu lama, perih dan pahit selalu menghampirinya, apakah ini takdirnya ? tapi ia tak akan berputus asa, tak akan seperti dahulu saat kehilangan istri tercintanya Aila.

Alif lelaki yang telah didera derita adalah pejuang sejati, seorang pejuang tak akan mati, meski jasad telah ditelan bumi, cita-cita nya dalam memperjuangkan keberadaan dan kelangsungan leluhurnya, di Negeri Purnama dengan budaya Matrilineal yang bernasab pada Ibu.

- Cita-cita itu akan abadi, seabadi keikhlasan, seabadi niat suci, seabadi perjuangan, dan seabadi ketulusan -

Pelajaran utama yang diambil adalah, selalu lah berjuang, bangkitlah kembali setelah kau terpuruk, ingatlah selalu pada Alloh karena semua atas kehendak Nya.

~ Selama ada Perjuangan maka disana ada Tantangan ~

Salam

Eko Yasin
Situbondo, 12 Maret 2016

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

Apa Bentuk Komitmen Sy Kepada Islam?

Apa Bentuk Komitmen Sy Kepada Islam?
Judul buku : Apa Bentuk Komitmen Sy Kepada Islam?
Penulis : DR. Fathi Yakan
Penerjemah : Asep Sobari, Lc
Penerbit : Al I'tishom
Jumlah halaman : 181
Cetakan ke 7 : Mei 2015

Kehidupan yang telah kita tempuh sejauh ini, barangkali kesyukuran trbesar kita adalah terlahir dalam keadaan Islam. Faktanya, kita merasa asing dg Islam. Seolah kita berada d satu lembah sementara Islam berada di lembah lain. Akibatnya kita tidak memahami Islam secara utuh, tidak memahami komitmen kita pada Islam dan konsekuensi yg ada. Berangkat dari hal inilah sang penulis yg sekaligus ulama ini menerbitkan buku yang cukup fenomenal ini. Setiap karyanya kerap menjadi rujukan ulama, da'i dan aktivis dakwah. Meski sang DR kini tiada namun sejatinya dia tetap hidup seperti karyanya yg hidup di hati para pembacanya.

Buku ini terdiri dari 2 bagian. Bagian 1 mengulas tentang apa bentuk komitmen kita kepada Islam? Dan bagian kedua fokus kepada apa bentuk komitmen kita kepada harakah Islamiyah? 

Bentuk komitmen pertama kepada Islam adalah saya harus mengislamkan aqidah saya. Kenapa aqidah? Karna aqidah adalah syarat menjadi muslim yg baik. Dan dalam beberapa kesempatan pernh saya mendengar jika aqidah seorang muslim melenceng maka keislamannya patut dipertanyakan. Ada beberapa runutan yg dibahas, salah satu yg dpt sy petik adalah percaya bahwa manusia melakukan hal baik dan buruk atas kehendaknya sendiri. Tapi dia tdk bisa brbuat baik, kecuali atas seizin Allah, dan bila trjerumus dalam kejahatan itu bukan krna Allah, melainkan hanya dlm batas kehendakNya. 

Poin kedua, saya harus mengislamkam ibadah sy, ibadah merupakan anak tangga yang menghubungkan hamba dengan Rabbnya. Di sisi lain ia jg berpengaruh terhadap perilaku ke sesama. Ibadah yg benar terpancar kepada sikap dan akhlak. Maka tak jarang kita temui, seseorang yang secara kasat mata ahli ibadah namun dalam bermuamalah sangat bermasalah. Yang saya garis bawahi pada poin ini adalah menjauhi perkara2 yang syubhat, yg tidak diketahui halal haramnya, "dan barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat maka dia telah trjerumus dalam haram".

Poin ketiga saya harus mengislamkan keluarga dan rumah tangga saya. Diantara pengaruh yang ditumbuhkembangkan oleh Islam dalam diri manusia (saat ia beriman) adalah timbul kepedulian trhadap sekitar, dan mau mnympaikan kebenaran (hal48). Langkah konkret yang mesti ditmpuh adalah membangun keluarga sendiri mnjadi keluarga muslim sebelum trjun ke masyarakat luas. Artinya mmbawa misi Islam ke lingkup masyarakat terkecil yakni istri, anak, mertua dsb. Maka selektif memilih pasangan (dalam akhlak dan ibadah) sangat dianjurkan bhkan dalam sebuah hadist dikatakan 'budak yg buruk rupa lagi mskin namun baik agamanya lebih baik (dr mereka)'.

Poin keempat yang penulis jabarkan disini adalah saya harus mmpu mengalahkan nafsu saya. Kitalah yg menentukan ingin dikalahkan nafsu, dikuasai nafsu atau yg mmpu melawan nafsu. Yang mnjadi filter adalah hati dan akal, maka belajar menjadi wajib hukumnya. Tak trbatas terhadap apapun, belajar bisa dimana dan kapan saja. Tawazhun (seimbang) antara agama dan dunia, karna ketidaktahuan bisa saja menjurumuskan kita sewaktu2.

Pada bagian kedua saya cukup ambil beberapa poin saja, harakah islamiyah lebih kepada kontribusi kita dalam pergerakan atas nama Islam. Sang penulis yang juga kontributor dakwah ini mengatakan saya harus mmpersembhkan hidup saya utk Islam. Sebagaimana tujuan Allah mnciptakan manusia dalam QS adz dzariyat 56, semata utk beribadah kepadaNya. Mk sekolah, kerja, berumah tangga dan segala aktivitas yg menyibukkan lainnya niatkan utk ibadah, ibadah dan ibadah. Namun kebanyakan kita kata DR Fathi Yakan mengabdikan hidup utk dunia karna terbuai dg kemegahan yg dihadirkan. 

Saya harus meyakini kewajiban berjuang untuk Islam lanjut penulis. Berjuang utk Islam, mmbangun masyarakat yang berkomitmen dengan Islam, membangun negara yang menerapkan Islam sebagai landasan hukum, sistem Pemerintahan dan Undang2 serta mengusung dakwah Islam untuk menegakkan kebenaran.
Tugas ini menurut penulis adalah kewajiban syar'i yg tidak gugur hingga lahirnya kekuasaan yang akan mmgemban amanah tersebut.
Lalu di susul statement, Selama kekuasaan ini belum terwujud maka lemahnya totalitas dan kemalasan kaum muslimin d anggap dosa dalam prtimbangan syariat. Dosa tersebut tidak dapat di hapus kecuali dengan cepat brgerak untuk mengemban seluruh perjuangan menegakkan Islam. 

Padang, 12/3/2016

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

(a) Sesudah 50 Tahun Gagalnya Kudeta PKI (1965-2015) dan (b) Matine Gusti Allah

Judul Buku : (a) Sesudah 50 Tahun Gagalnya Kudeta PKI (1965-2015) dan (b) Matine Gusti Allah
Penulis : Taufiq Ismail
Penerbit : Republika Penerbit
Jumlah Hal : 95 + 62
Tahun Terbit : September 2015/ Cetakan 1
Peresume : Novi Trilisiana, IM2

Tidak biasanya Taufiq Ismail menulis karangan nonsastra. Kalau bukan karena teramat pentingnya, tentu buku yang memiliki dua judul kontroversial ini tidak akan pernah ada. Ia menuliskannya untuk kaum muda yang tidak mengalami langsung pemberontakan PKI dan hanya tahu dari membaca buku sejarah di sekolah maupun mendengar dari keluarga. Buku ini lahir karena keresahan Taufiq terhadap kelompok Komunis Gaya Baru (KGB) yang diam-diam mengkader anak muda untuk berpihak pada sosialisme. 

Isi buku berjudul pertama (Sesudah 50 Tahun Gagalnya Kudeta PKI) meliputi:

1. Ideologi Bencana Terbesar Dunia
2. Menghitung Korban Nyawa Manusia Akibat Palu Aritisme
3. Dari Pertarungan Maut Sampai Ide Perdamaian Total

Buku ini menegaskan kepada kita bahwa ideologi komunisme yang tenar di abad ke-20 sesungguhnya sekarang (abad 21) sudah hancur. Berikut adalah kutipan dari penulis tentang ambruknya sosialisme,

“Komunisme atau Marxisme-Leninisme sudah bangkrut di seluruh dunia, tidak laku lagi dijual di toko ideologi, tidak lagi menarik perhatian pembeli yang akalnya waras. Pendukung ideologi yang dulu lama merajarela di dunia, 24 negara jumlahnya itu, akhirnya pada tahun 1990-1991, bagaikan rumah-rumahan kartu domino ditiup kipas angin runtuh berserakan, karena keroposnya Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme-Pol Potisme itu. Kita di Indonesia 25 tahun lebih cepat mengatasinya ketimbang negara-negara itu, dengan membubarkan PKI pada tahun 1966.”

Penulis tidak bermaksud untuk memprovokasi atau membuka luka lama tetapi ia ingin meluruskan sejarah yang dikaburkan oleh simpatisan komunis. Ia berusaha menengahkan solusi damai yang dicontohkan oleh Malaysia dalam mengatasi komunisme. Bahkan tersempil harapan indah pada subjudul buku di sampulnya: “Dimulai dengan Api Semoga Berakhir dengan Air). Menurut saya, buku ini jasa besar Taufiq Ismail bagi Ketahanan NKRI.

***

Mari mengenal singkat komunisme! Ideologi ini menggunakan lambang palu godam bersilang dengan arit. Buku rujukan terpentingnya adalah Manifesto Komunis (1848) yang berfondasi Materialisme mutlak yang ditulis oleh dua anak muda, Karl Marx (30 tahun) dan Friedrich Engels (28). Telah bersaing, bertikai, bertarung politik dan konflik bersenjata habis-habisan dengan kubu anti-komunis sepanjang 74 tahun di abad 20. Gagasan-gagasan Marx dan Engels dilanjutkan dalam tindakan oleh tokoh komunis seluruh dunia seperti, Vladimir Lenin, Josef Stalin, Mao Tse-tung, Josip Bronz Tito, Ho Chi Minh, Fidel Castro, Moeso, D.N. Aidit, Pol Pot dan battalion komandan partai yang tersebar di 90 negara seluruh dunia.

Sebelum komunisme menguasai pemerintahan suatu negara, mereka akan menawarkan gagasan positif seperti mendukung demokrasi, memperjuangkan nasib buruh dan tani, menghormati kebebasan berpendapat, sama-rata-sama-rasa, tidak anti-agama, dan kampiun Hak Asasi Manusia (h.3). (Kalau di Indonesia, PKI dicitrakan mendukung Panca Sila, dasar negara). Aktivis sosialisme memposisikan diri sebagai oposisi pemerintah yang dianggap kapitalis dan tidak memihak rakyat. Mereka menggaungkan yell-yell kuno “revolusi! revolusi!" Demi revolusi, mereka merebut kekuasaan dengan kekerasan yang berdarah dan licik. Disebut juga pemberontakkan ataupun kudeta pembantaian. Sesudah negara sosialis-komunis terbentuk dari kudeta, gagasan positif yang pro rakyat tidak terbukti. Hanya sandiwara belaka berbuah kesengsaraan rakyat.

Nyatanya, setelah negara sosialis-komunis terbentuk, rakyat tidak bebas menjalankan demokrasi. Kalaupun ada pemilu, maka hanya ada satu partai komunis yang terlibat; Buruh dilarang mogok yang membuktikan komunis ternyata lebih kejam dari pemerintah kapitalis; Tuan tanah dibantai dan direbut tanahnya karena dianggap borjuis; Kebebasan berpendapat yang semula diangkat setinggi langit, lalu didustakan dengan memberangus pemikiran anti-komunis; Ketika tokoh-tokoh partai mendapat villa, keluarga rakyat kecil berdesak-desak tinggal di flat sempit yang seragam; Katanya tidak anti-agama, Lenin justru menginstruksikan untuk memerangi agama; Terakhir yang lebih ganas adalah pengkhinatan HAM terbesar selama 74 tahun (1917-1991), Palu Arit membantai 120.000.000 manusia di 76 negara. Hampir 3 kali lipat dari seluruh korban perang selama dunia terkembang sejak Nabi Adam sampai nabi-nabi palsu zaman sekarang (h.4).

Partai Komunis Rusia yang merupakan markas besar pusat komunisme seluruh dunia akhirnya dibubarkan dan dinyatakan terlarang pada 26 Desember 1991 oleh Boris Yeltsin, Presiden Uni Sovyet. Boris muak dengan partainya sendiri dan mengakui komunisme sudah bangkrut total.

Mengapa begitu banyak korban pembantaian sepanjang sosialisme berkuasa? Alasan utamanya adalah sosialis percaya bahwa kekuasaan, yaitu kediktatoran proletariat, harus dipergunakan untuk meruntuhkan orde feodal/kapitalis, kemudian membangun kembali masyarakat dan kebudayaan untuk merealisasikan utopia ini (h.15). Tidak ada yang boleh menghalangi. Semua manusia dianggap kayu dan batu bata yang dipakai untuk membangun dunia baru. 

Penyebab besarnya angka perkiraan korban nyawa manusia yang telah diteliti oleh R.J. Rummel disebabkan karena (h.10):

1. terorisme berdarah,
2. penangkapan berujung maut (perlakuan yang keji),
3. kamp kerja paksa,
4. deportasi fatal,
5. wabah kelaparan yang direncanakan,
6. eksekusi di luar hukum,
7. pengadilan sandiwara,
8. pembunuhan bangsa.

Mereka dibantai dengan darah dingin oleh pemerintahnya sendiri (setelah komunis berkuasa) yang sebelumnya dinaungi undang-undang. Hal ini disebut juga dengan ‘democide’ yang berarti pembantaian massal yang dilakukan oleh negara (h.11). Sampai di sini, saya jadi ingat kisah nyata Shalahuddin al-Ayubbi yang tidak melakukan pembantaian pada rakyat beragama non-Islam saat penaklukan Yerussalem. Rakyat dijamin keyakinanan dan keamanannya oleh Shalahuddin dan tentaranya. Bahkan tidak menyuruh mereka kerja paksa demi pembangunan negara. Untungnya PKI telah 50 tahun lebih dianggap terlarang di Indonesia. Membayangkan jikalau kudeta G 30 S PKI berhasil merebut pemerintahan RI, rasanya seram sekali.

Jika dibandingkan, kejam mana antara Hitler dan Stalin? Sebagian besar kita agaknya yakin Hitler lah yang lebih kejam. Wajar saja. Telah ratusan film dan ribuan buku ditulis mengenai Hitler sehingga mencitrakan dirinya sebagai pembunuh terbesar dalam sejarah peperangan dunia. Nyatanya, Hilter pernah mengungkapkan bahwa ia adalah pengagum dan berguru pada Stalin. Hitler membantai 25.600.000 dan Stalin 46.000.000 (h.23).

Selengkapnya mengenai taktik komunisme di seluruh dunia dalam menguasai dunia dibahas pada halaman-halaman berikutnya. Penuh intrik dan melawan fitrah manusia. Saya menarik garis lurus bahwa kesemuanya mengarah pada perilaku setan dan iblis. Semakin tinggi pangkatnya dalam partai, semakin kental sifat keiblisannya. Sialnya, orang baik-baik pun tertipu pada tipu muslihat mereka sehingga memberikan dukungan.

Partai komunisme seluruh dunia yang berpusat di Uni Sovyet telah bubar tetapi ideologi tersebut bisa jadi belum tercabut hingga ke akarnya. Bahkan, menyisakan kedengkian dan keinginan membalaskan dendam. Baik pelaku komunis maupun korbannya. Maka betapa indahnya konflik ini diakhir dengan perdamaian, saling memaafkan. Pembahasan buku ini lalu ditutup dengan solusi terbaik yang mestinya diambil.

Penulis memberikan gambaran penyelesaian oleh Pemerintah Malaysia dengan PKM (Partai Komunis Malaya), sebagai contoh yang mesti kita tiru. Penulis pun sampai melampirkan butir-butir “Persetujuan antara Pemerintah Malaysia dan PKM untuk Penghentian Permusuhan”. Pemberontakan PKM selama 40 tahun (lebih lama dari Indonesia) tersebut berhenti dengan tidak mengingat-ingat lagi luka dan bahu membahu membangun negeri. Kedua belah pihak saling mengoreksi diri dan meyakini untuk apa berbunuh-bunuhan antar-bangsa sendiri demi ideologi jahanam ini. Demikianlah.

***

Buku dengan judul pertama, belum secara lengkap menyajikan sisi “Setelah 50 Tahun Gagalnya Kudeta PKI” kecuali hanya berupa pemunculan potensi balas dendam KGB dalam mempengaruhi anak muda lewat LSM dan penerbitan buku serta harapan-harapan penulis tentang perdamaian. Sebagian isi buku lebih menampilkan fakta kekejaman komunisme seluruh dunia. Mengenai aksi-reaksi terhadap kerusuhan dan kudeta PKI, lebih banyak dibahas di judul ke-dua: “Matine Gusti Allah” yang akan saya lanjutkan di resume berikutnya.

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

INGATLAH UNTUK BERCERMIN

INGATLAH UNTUK BERCERMIN
Judul Buku      : Ingatlah untuk Bercermin
Penulis             : Salim A. Fillah dan Tim Konselor RKI (Rumah Keluarga Indonesia)
Penerbit           : PT. Era Adicitra Intermedia
Tahun Terbit    : Agustus 2015 / Cetakan Kedua
Jumlah Hal.     : 228 Halaman



Tentang cinta dan pernikahan, lambat laun saya (mungkin juga Anda) mulai keder dengan berbagai kisah nyata yang menunjukkan wajah muram ikatan suci itu. Mengapa wajah muram ? Ya, karena ternyata yang banyak saya temui adalah wajah muram akibat keretakan, perselingkuhan, surga yang tak dirindukan untuk mengistilahkan poligami hingga perceraian. Tak tanggung-tanggung, korban maupun non korban (perempuan) yang merasakan dan yang mengamati pun dengan penuh percaya diri mengklaim bahwa semua laki-laki itu sama saja. Tidak ada yang setia.

“Sebaik apapun laki-laki itu, pasti kurang, apalagi jika kita sudah mulai menua, tak lagi menarik. Alah, Cuma teori yang banyak. Nyatanya semua sama !” ungkap seseorang yang merasa menjadi korban wajah muram itu. 

Jleb rasanya. Saya yang belum merasakannya pun menjadi kikuk. Tak pernah ingin merasakannya, na’udzubillah. Saya pun terus menggali, pasti tidak semuanya seperti itu. Saya yakin. Saya percaya masih banyak stok laki-laki setia. 

Benar. Saya mendapat jawaban yang menenangkan dari buku berwarna merah yang berjudul Ingatlah untuk Bercermin setebal 228 halaman yang disusun oleh Ust. Salim A. Fillah bersama para konselor keluarga di komunitas Rumah Keluarga Indonesia (RKI). Lembar demi lembar yang tersaji dalam buku berukuran sedang itu terasa renyah dibaca dengan gaya bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah masuk bahkan menusuk hati. 

Buku ini berisi kumpulan kisah yang mengangkat realita kehidupan unik, menarik dan tersembunyi dalam bilik-bilik yang amat privasi. Para penulis mengajak kita untuk bercermin dengan menyajikan lima bagian nyentrik yaitu Dalam Limpahan Barakah, Bermula dari Kata, Memaknai Kesetiaan, Anak dan Pewarisan serta Menyikapi Ketidaksempurnaan yang dikupas dengan beberapa kisah yang sangat inspiratif. 

Mengawali bagian I, Ust. Salim menulis sebuah kisah sarat hikmah yang berjudul Ingatkan Suamimu untuk Bercermin. “Para istri, ingatkanlah suamimu untuk bercermin.” Maksudnya bukan sekedar makna kias tentang muhasabah atau perbaikan akhlak, tetapi benar-benar soal bercermin di depan kaca dalam makna lahiriah yang sangat menentukan masa depan serta membutuhkan kekompakan antara suami dan istri.

Ingatlah untuk bercermin, sebuah seri ketahanan keluarga yang membuka mata hati untuk menjadikan komitmen berkeluarga sebagai pijakan utama berasaskan taqwa kepada Allah SWT, berkekuatan cinta tulus ikhlas dan keyakinan serta perjuangan mempertahankan keutuhan rumah tangga hingga akhir waktu. Juga mengajarkan bagaimana seharusnya cinta mulai dari memperindah diri, memilih calon beserta serangkaian prosesnya hingga bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga itu bergulir waktu demi waktu yang tentu dihadapkan dengan berbagai warna hidup mulai urusan awal memulai hidup baru, pasang surut keuangan, lika-liku pendidikan anak, menjaga keharmonisan dan kasih sayang, kesetiaan pasangan, bagaimana merawat cinta meski sudah sama-sama berusia senja sampai ujian yang bernama nafsu dan lawan jenis. 

Saya semakin yakin, keindahan rumah tangga semakin terpancar kuat dengan nilai-nilai Islam yang dijunjung tinggi. Dan cinta tak sesempit urusan fisik dan tak berbatas menopause sebagaimana yang saya tangkap dari salah satu kisah pendek berjudul Setia Hingga Akhir Usia yang membuat seorang suami gagal poligami setelah menyaksikan kesetiaan sepasang kakek-nenek meski sudah mendapat restu sang istri yang sangat bijak, ikhlas, setia dan sabar. 

Salah satu pesan dahsyat menyadarkan kita bahwa pernikahan pada akhirnya bukan hanya kumpulan dua orang yang saling menuntut agar hasrat dan kepuasan dirinya terpenuhi. Pernikahan adalah sikap untuk saling terbuka, mengerti dan memahami. Bahkan, tak sekedar mengerti dan memahami, tapi sekaligus menumbuhkan.

Terakhir, sepenggal kalimat romantis menutup bagian akhir buku ini, “Doraemon bisa mengeluarkan apapun dari kantong ajaibnya. Tapi yakinlah Dik, dia tak akan mampu mengeluarkan cintaku kepadamu dari hatiku!”

Sungguh luar biasa ! Saya tetap kuat meyakini, masih banyak stok pasangan setia dan sangat menjaga. Tentu semua sangat bergantung pada kedua pasangan bagaimana menjaganya dan bagaimana koneksinya dengan Sang Pemilik Cinta. Alhamdulillah... Lega rasanya. 

*****
By: Qurrotu Ainy Qurani

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca. 

Antara Umar Bin Khaththab Dan Khalid

Judul buku: Antara Umar Bin Khaththab Dan Khalid Bin Walid

Penulis: Hepi Andi Bastoni
Penerbit : Pustaka Al Bustan
Jumlh halaman: 203
Trisa yunita

Siapa yang tak kenal Umar bin Kaththab dan Khalid bin Walid. Keduanya adalah tokoh pemberani dan ahli perang. Namun yang menarik adalah bahwa ternyata karir keduanya berbeda. Umar, sepanjang hayatnya tak pernah diangkat menjadi panglima perang. Sementara Khalid belum genap 3 bulan sejak menyatakan keimanannya sudah dipercaya memimpin perang Mu’tah untuk menggantikan 3 panglima sebelumnya yang telah syahid. Dan sejak itu, hampir semua perang besar melawan orang murtad di era Abu Bakar ash Shiddiq, Khalid bin Walid lah panglimanya.

Namun walau sesama pemberani keduanya punya karakter yang berbeda. Keberanian Umar bersifat defensif sehingga lebih cocok untuk menjadi negarawan sementara Khalid bersifat ofensif sehingga lebih cocok menjadi panglima perang. Umar cenderung pada sikap hati hati dan bijaksana sementara Khalid bersifat mendobrak dan melawan. Mungkin karena faktor latar belakang keluarga yang berbeda. Umar berasal dari kabilah yang sering menjadi tempat bertanya dan meminta keadilan, sementara Walid berasal dari kabilah yang ahli perang dan mewah.

Nyatanya memang Nabi mengetahui perbedaan keberanian kedua tokoh ini. Sehingga kedua keberanian ini sama sama dibutuhkan dan saling melengkapi namun di tempatnya masing masing.

Hal yang menarik dari kedua tokoh pemberani ini adalah bahwa keduanya wafat di atas tempat tidur. ‘aku mencari kematian di berbagai tempat. Aku telah menghadapi musuh sehingga tak sejengkalpun dalam tubuhku kecuali ada bekas tebasan pedang atau tusukan panah, atau tikaman tombak. Tapi sekarang aku meninggal di tempat tidurku seperti keledai tua…’ (Khalid Bin Walid)

‘segala puji bagi Alloh yang telah menjadikan kematianku bukan di tangan seorang muslim’ (Umar Bin Khaththab)
Kesamaan lain dari keduanya.. kedua manusia pemberani ini ternyata menemui syahidnya di tempat tidur.

Buku tulisan Hepy Andi ini merupakan kumpulan beberapa artikel yang pernah dimuat di majalah Sabili. Berisi tentang beberapa kisah tentang Umar bin Kaththab, Khalid bin Walid , dan beberapa sahabat Nabi lainnya, seperti Abu Hurairoh, Amr bin Ash dll. Namun kemudian direvisi dengan lebih menekankan bukan pada biografinya namun pada kejadian kejadian yang dialami oleh mereka dan apa ibroh/hikmah yang bisa diambil dari kisah/kejadian itu.

Salah satu kisah yg diangkat adl saat Khalid bin Walid diberhentikan dari jabatan panglima perang oleh Umar bin Kaththab.

Pemberhentian itu termasuk hal pertama yang dilakukan oleh Umar setelah dilantik sebagai khalifah, dan saat itu Khalid sedang memimpin pasukan pada perang Yarmuk. Pemberhentian ini merupakan peristiwa politik yang sangat fenomenal dan penuh kontroversi. Namun disitulah dengan indahnya nilai2 islam bersinar. Para sahabat disebut sahabat karena mereka memahami islam bukan hanya sekedar norma namun benar benar sudah terinternailisasi ke dalam hati, pikiran dan semangat mereka.

Bagi Khalid, sekalipun sudah tidak menjadi panglima perang, beliau tetap gigih berperang di garis depan dengan berani dan mengantarkan kaum muslimin kembali pada kemenangan. Dengan mengatakan aku berperang karena Alloh bukan karena Umar. Tekad beliau tidak berkurang walau sedikit. Bahkan banyak yang mengatakan justru di perang inilah Khalid bin Walid mencapai puncak prestasi dalam hidupnya.

Bagi Umar, pemberhentian ini bukan karena ketidaksukaan pada Khalid namun untuk menghindarkan ketergantungan tentara muslimin pada sosok Khalid.

Bagi kaum muslimin sendiri mereka teruji keimanan dan ketaatannya dengan tetap menunjukkan performa yang prima tanpa melihat siapa yang menjadi pemimpin. Dan masih banyak ibroh lainnya.

Bukunya kecil, ringan dan enak dibaca sambil iseng.. He he
Cocok buat sy yg sedang bingung mau baca apa.. 🙈

Terima Kasih Telah Mengunjungi Blog Indonesi Membaca.