Selasa, 20 Januari 2015

Menjadi Pemuda Peka Zaman




Judul                     : Menjadi Pemuda Peka Zaman
Penulis                  : Dr. Raghib As-Sirjani
Penerbit                : AQWAM Jembatan Ilmu
Tebal Buku           : 128 hal


Sebagai prolog, saya merasa penting untuk menjelaskan tentang mengapa buku ini bisa ada ditangan saya dan menarik saya untuk membacanya. Tidak ada referensi jaminan bahwa buku ini baik dan bagus sekali untuk dibaca sebelumnya, atau dalam istilah, recommended sekali untuk dijadikan referensi peningkatan pemahaman. Buku ini saya baca di pertengahan tahun 2014 kemarin, disaat banyaknya forum yang saya hadiri, dimana didalamnya berbicara tentang problematika umat, problematika dakwah kampus, dll. Dari sana saya merasa bahwa saya butuh asupan lebih tentang tema diskusi ini. Sampai akhirnya menemukan buku “Menjadi Pemuda Peka Zaman” ini di jajaran rak buku perpustakaan Musholla Fakultas.
Menarik. Buku ini ditulis oleh salah seorang Dosen Kehormatan di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo. Tapi, di lapangan dalam medan dakwah, beliau dikenal sebagai tokoh andalan dalam setiap diskusi sejarah dan pemikiran islam. Salah satu bukunya yang best seller yang selalu dijadikan embel-embel dalam setiap menjelaskan profil beliau adalah “Misteri Shalat Subuh.” Begitu sedikit profil dari Penulis yang semoga tidak mengurangi kemahiran beliau dalam berbagai disiplin ilmu.
Selanjutnya adalah mengenai buku “Menjadi Pemuda Peka Zaman” ini, beliau menjelaskan bahwa problem pemuda kita saat ini adalah tentang bagaimana komitmen yang ada dalam diri adalah sebatas tentang kepentingan pribadi saja, mutlak kepentingan pribadi. Menurutnya, jelas ini masalah besar zaman ini, dan saya setuju itu. Beliau menceritakan bahwa, ketika sedang mengisi kuliah umum atau ceramah di sebuah seminar bertemakan “Probelmatika Generasi Muda”, beliau memulai forumnya dengan sebuah pertanyaan singkat, yakni: “Problem apa yang sedang kamu hadapi saat ini, yang jika problem itu diselesaikan, maka kamu akan mejadi orang yang bahagia dan sejahtera?” Dan tebak, jawaban apa yang beliau peroleh dari pertanyaannya? adalah tentang kepentingan pribadi semata.
-          Takut menganggur setelah lulus kuliah
-          Keingingan untuk segera menikah
-          Sulitnya materi kuliah
-          Keinginan membeli telepon genggam disaat himpitan ekonomi
-          Dll.
Hampir tidak ada satu pun yang menjawab tentang keprihatinan akan beberapa negara islam yang sedang berada dalam konflik perang, dijajah, atau serangan dan hantaman pers terhadap islam, atau dalam takaran nasionalisme, utang yang terus menggunung oleh negara sendiri sementara korupsi semakin merajalela. Mereka mutlak menjawab hanya sebatas dalam kepentingan pribadi saja. Tidak ada sebuah kepemahaman akan kebersatuan umat.
Di buku ini beliau banyak mengambil pelajaran dari generasi pertama islam untuk dijadikan referensi dalam bersikap dan beradab bagi kita para pemuda muslim, seperti kisah Muadz bin Amr bin Jamuh dan Mu’awwidz bin Arfa’ dalam Perang Badar, merupakan salah satu kisah favorit yang paling menarik dan membuat diri ini monohok atas kontribusi apa yang telah diri ini berikan untuk Agama Allah ini, untuk umat ini. 
Tak lupa beliau jelaskan tentang akar masalah yang harus segera disadari oleh kita para pemuda muslim dan dicari penyelesainnya, seperti:
-          hilangnya ruh tarbiyah islamiyah, kalaupun masih ada, ia tak lagi utuh.
-     hilangnya suri teladan dan panutan yang baik, aish, kudet perkara informasi terbaru selebriti seperti artis kota, artis korea dan barat lebih menjadi aib dibandingkan dengan kudet tentang informasi kehidupan dan amalan shalih Rasulullah dan para sahabat dan tabiin.
-       frustasi dan kecewa, tak ada lagi sabar dan syukur atas setiap Qadarullah, kita lebih mudah menyerah lagi putus asa.
-       media dan informasi, dua hal yang urgensinya sering kita pandang sebelah mata, tidak bisa menyangkal bahwa eksistensi islam dimata dunia perlu juga kita bangun melalui dua hal ini, media dan informasi.
Kemudian lain hal yang saya dapatkan tentang problem pemuda zaman ini ketika duduk dalam kelas presentasi usbu’ ilmy (pekan keilmuan) asrama, bahwa problem pemuda zaman ini adalah hilangnya adab dalam menuntut ilmu. Nah, mengapa ini bisa menjadi problem pemuda zaman ini? Sederhananya adalah untuk bisa “Menjadi Pemuda Peka Zaman” kita harus mengetahui ilmunya dulu, mengapa kita perlu peka akan peran kita di zaman ini? Atau mengapa kita perlu sibuk mengurusi urusan orang lain yang jelas itu tidak menguntungkan sama sekali terhadap kita? Nah, untuk mengetahui itu semua kita butuh yang namanya ilmu, dan kemudian untuk mendapatkan ilmu tersebut kita butuh yang namanya adab, agar ilmu yang kita peroleh adalah ilmu dalam kepemahaman yang sempurna. Sehingga gerak kita dalam menyelesaikan problematika umat saat ini tidak sekadar gerak taqlid semata.
Selain itu, di buku ini beliau juga memberikan motivasi-motovasi yang cukup konkret untuk dilakukan segera dalam misi bahagia dunia, akhirat surga, misalnya:
-          penting untuk mengenali agama islam secara kaffah
-          menambatkan hati dengan masjid
-          menyambung tali silaturahmi
-          selektif dalam memilih teman
-          dll.
Nah, begitu.
Begitu ulasan singkat tentang buku “Menjadi Pemuda Peka Zaman” karya Dr. Raghib As-Sirjani ini, membaca buku ini cukup memberikan suntikan kesadaran bahwa hidup ini tidak hanya tentang urusan diri sendiri saja, ada banyak urusan jamaah yang baiknya kita tidak boleh menutup mata dan acuh dan berprasangka “sungguh, itu bukan urusanku.” Mari ambil bagian dalam dakwah mewujudkan agama Allah tegak dimuka bumi, tidak secara nafsi, tapi bergabung dalam jamaah, karena sesungguhnya berjalan bersama jamaah itu lebih baik dan besar maslahatnya dibandingkan berjalan sendiri.

Resume 1: Indonesia Membaca
Oleh: Try Antika

Senin, 19 Januari 2015

Open Your Heart, Follow Your Prophet



Judul                  : open your heart, follow your prophet
Pengarang          : @teladanrosul (sebuah akun twitter yg dikelola oleh @arifahmanlubis)
Penerbit             : Qultum media
Jumlah hal         : 179

Peresume : Tenti Juita Putri




Bismillahirrohmanirrohim..

Chapter 3
#your golden ticket
"Ridha Allah bergantung pada keridhaan orangtua, dan murka Allah bergantung pada kemurkaan orangtua" (HR Bukhori)

Bener Nih Pengen Dapet Ridha Ortu?
Sebelum menjawab pertanyaan itu yuk kita simak kisah-kisah berikut ini :
Abdullah bin Mas'ud sangat menghayati pesan Rosulullah yang mengatakan amal yang paling utama selain sholat adalah berbakti kepada kedua orangtua. Suatu malam yang dingin, saat ia terlelap dalam tidur, sang ibunda membangunkannya agar ia mengambil air minum. Abdullah pun segera mengambilkan air dan bergegas membawakannya kepada sang ibu. Tapi, sang ibu ternyata sudah ketiduran. Kemudian apa yang dilakukan Abdullah? Ia berdiri di dekat ibunya sambil memegang gelas berisi air sampai pagi.

Selain Abdullah kita juga mengenal nama Ali bin Husain, cucu Ali bin Abi Thalib. Seperti halnya Abdullah, Ali juga dikenal sangat berbakti kepada ibunya. Mesti begitu, konon ia tidak pernah makan bersama ibunya. Banyak yang penasaran akan tingkah Ali. Bukankah dengan makan bersama orangtua menunjukkan rasa hormat kepada mereka? Saat ditanya Alipun menjawab,"Aku takut kalau kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik ibuku, sehingga aku mendurhakainya." Subhanallah....

Orangtuamu, Tiket Surgamu
"Orangtuamu adalah jembatan menuju surga atau neraka" (HR Ath-Thabrani)

"Kedua orangtuamu itu pintu surga yang paling tengah kalau kalian mau memasukinya, jagalah orangtua kalian, kalau kalian enggan memasukinya silahkan menyia-nyiakannya" (HR At-Turmudzi)
Apa sih yang dimaksud dengan pintu paling tengah? Yaitu pintu surga yg paling baik. "Ah, lewat pintu mana sja sama kan? Toh sama sama masuk surga?". Betul sih, tapi ibarat konser musik, tempat duduk buat penonton kan macam-macam. Ada yang kelas festival, VIP, VVIP, gold, dan platinum.
Biarpun sama sama nonton konser. Tapi gak asik kan kalau nontonnya sambil desak-desakan, kaki terinjak dan sebagainya.

Kalau kamu pengen dapet surga Firdaus alias surga tertinggi (ibaratnya kelas platimun) ya kamu harus masuk lewat pintu yang telah disediakan. Bukan pintu yang lain. Sebaliknya kalau kamu hnya punya tiket festival, ya nggak boleh dong masuk lewat pintu platinum. Jadi mau lewat pintu yang mana? That's your choice.

Doa OrangTua, Bekal Luar Biasa
Tau nggak? Imam masjidil Haram yang paling terkenal, Abdurrahman As-Sudais, yang lantunan suaranya saat membaca ayat Al-Qur'an begitu khas, punya pengalaman menarik tentang orang tuanya. Beliau memiliki ibu yang salehah dan sangat mencintainya. Saat Abdurrahman masih kecil dan nakal, sang ibu selalu 'memarahinya' dengan berkata,"Abdurrahman jangan nakal! Ibu doakan kau menjadi imam Masjidil Haram."
Kebiasan ibunda Abdurrahman tersebut berlangsung hingga sang anak dewasa. Sekarang, ketika teringat doa doa sang ibunda, Abdurrahman tak bisa berbuat banyak selain mengucapkan syukur kpd Allah karena telah diberikan ibunda yang solehah. Nah teman, jika nanti kamu menikah dan punya anak atau yang sudah menikah dan punya anak, gak usah marah-marah nggak jelas. Doakan saja anakmu biar menjadi anak yang baik dan sukses.

Bagaimana Bakti Kita?
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai anak untuk berbakti kepada kedua ortu. Apa saja?
1. Patuhi perintahnya, selama itu baik dan tidak melanggar agama
2. Muliakan keduanya dengan menjaga tutur kata dan perilaku kita
3. Bersikap rendah hati dihadapan mereka
4. Tabung sebagian gaji atau keuntungan usaha untuk orang tua.
5. Jika orang tua sedang kesulitan ekonomi, tingkatkan perhatian dan sisihkan lebih banyak rezeki untuk mereka
6. Dalam mengambil keputusan penting dalam hdup, libatkan orangtua untuk bermusyawarah
7. Jangan lupa mendoakan kedua orangtua.

Alhamdulillah, sekian resume dari saya. Semoga kita menjadi anak-anak yang selalu berbakti kepada orang tua kita. Amiinn....

That's All

Judul                          : That's All
Penulis                       : Tami 'Pepeng' Ferrasta 
Penerbit                     : Cicero Publishing 
Cetakan                     : 2009 
Jumlah hal                 : 223 



Buku ini saya dapatkan langsung dari penulisnya saat berkunjung ke 'Gua Pepeng' di bilangan Cinere Depok. Terbit Februari. Beruntung saya dan teman-teman datang di bulan Maret, sehingga dapat souvenir.. he he.. 

Buku mungil ini berjudul sangat sederhana, 'That's All'. Tapi isinya sangat tidak sederhana, begitu dalam dan penuh dengan hikmah/pelajaran kehidupan 

Buku ini adalah autobiografi singkat dari seorang perempuan yang sejak kelahirannya didoakan oleh eyang-eyangnya agar  kelak menjadi anak yang berkarakter seperti ibunda Mariam dan Siti Aisyah Rodiallohu anhum. Dan sepertinya doa-doa itu dikabulkan Alloh.. 

Utami Mariam Siti Aisyah (mbak Tami), istri dari Ferasta 'Pepeng' Soebardi (mas Peng), pria yang dipilih Sang Pemiliknya untuk menjalani hidup sambil berkawan dengan penyakit 'multiple schlerosis', penyakit yang menggerogoti saraf pusat, hingga lumpuh. Penyakit langka yang berasal dari negri dengan 4 musim, penyakit yang lebih banyak diderita oleh kaum hawa dan belum ada obat nya. Mas Peng terpilih untuk menjalani kehidupan bersama penyakit itu sejak 2005. Dan mbak Tami adalah perempuan yang dipilih Alloh untuk menjalani hidupnya mendampingi pria itu.

Membaca buku ini, kadang kita akan dibikin tersenyum, mengingat memang Mas Peng adalah orang yang kocak. Misalnya saat mbak Tami bercerita bagaimana kehidupan mereka saat baru menikah. "Oooo.. ternyata kamu kalau bangun tidur belekan juga yaa" kata mas Peng ke mbak Tami. "Saya adalah laki laki yang tidak akan berebutan kursi dengan siapapun, karena saya sudah bawa kursi sendiri dari rumah. (Saat itu mas Peng sudah harus naik kursi roda kemana mana) 

Tapi siapa yang tidak akan meneteskan air mata, membaca bagian: "Peng, kita tidak punya bensin. Bahkan untuk motor pun tidak ada sedikitpun. Bagaimana mengantar anak sekolah besok? Keluh mbak Tami dari ujung tempat tidur mas Peng. Peng diam saja. Sebenarnya mbak Tami pun bingung. Mas Peng sendiri kondisinya sedang terbaring di tempat tidur. Semula mas Peng diam, tapi kemudian memanggil, "sini", meminta mbak Tami mendekat. "Sabar yaa. Alloh buanyaaak bensin Nya." Hati saya seperti teriris membaca nya. Mbak Tami juga hatinya teriris, trus nangis, sama kayak saya juga, nangis. Trus kata mas Peng, "kok nangis, kata-kata saya salah yaa?" "Nggak salah, malah pas banget" "Pas nangis, kurang nangis, lebih juga nangis, bingung saya sama kamu". He he.. Dari nangis, jadi senyum lagi.

Dan banyak lagi kisah-kisah lainnya. Suka duka mbak Tami menemani mas Peng. Hikmah-hikmah kehidupan yang mereka dapatkan dari kesulitan-kesulitan  yang harus dijalani dengan sabar. 

Buat teman-teman yang masih sering nggak puas dengan kehidupan.. baca buku ini 

Buat teman-teman yang masih nggak yakin kalau Alloh Maha pengabul doa.. bacalah buku ini 

Buat teman-teman yang sering galau karena merasa kurang aja secara materi.. bacalah buku ini.. 

Buat teman-teman yang merasa begitu banyak ujian dan cobaan.. bacalah buku sederhana ini.. 

Buat wanita yang sudah jadi istri dan ibu, atau yang baru mau akan jadi istri, bacalah buku ini. Akan melengkapi wawasan kita bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga dengan ceria walau banyak keterbatasan. 

#Trisa Yunita

Keajaiban Terowongan Gaza



Judul buku              : Keajaiban Terowongan Gaza
Penulis                    : Nandang Burhanudin
Tahun terbit            : 2014
Penerbit                  : Fitrah Rabbani
Tebal buku             : 131 hal



Buku ini selesai dicetak bulan 9 kemarin, dan alhamdulillah saya dapatkan gratis pada saat bedah buku. Buku yang telah saya baca ini, sungguh sangat luar biasa. Karena menggambarkan perjuangan para pejuang HAMAS di Gaza beserta kesabaran dan keteguhan rakyat Gaza yang terus menerus diserang oleh Israel. Namun, subhanallah strategi perang yang mereka buat sangat luar biasa dan dapat membuat Israel menjadi ketakutan dengan strategi yang mereka buat. Strategi itu adalah pembuatan terowongan..

Buku ini terdiri atas 5 bagian, dimana tiap bagian tersebut memiliki pesan yang sangat sarat ilmu dan pengetahuan terkait rakyat Gaza, dan pejuang HAMAS. Untuk bagian pertama, berisi tentang inovasi terowongan Gaza yang masuk kelas dunia. Dimana kedalamannya adalah 5-40 meter dengan pekerja yang masih termasuk usia produktif..

Bagian 2, terkait perjuangan HAMAS dan jihad Islam..
Disinilah jelas terurai bagaimana akhlak dan prilaku dari rakyat Gaza dan HAMAS.

Bagian 3. Disinilah mulai nampak kegigihannya rakyat Gaza beserta pejuang HAMAS. Dan mereka berhasil memojokkan Israel dalam perang nyata, walaupun akhirnya propaganda Israel di dunia maya sangat banyak ditebar.

Bagian 4. Pantang menyerahnya Gaza, semangat juang yang tinggi serta strategi perang yang jitu, akhirnya membuat Israel mulai berpikir dalam menyerang Gaza

Bagian terakhirnya dalam buku ini, bertemakan Kita dan Palestina. 

Semangat perlawanan jihad dari Palestina tersebut adalah harapan dari Islam politik seutuhnya. Selain itu, karena kita juga pastinya ingin merasakan semangat juang yang mereka miliki, maka cara yang harus kita lakukan adalah memutuskan jalur distribusi ekonomi Israel. Yaitu dengan tidak membeli barang-barang yang mendukung pertahanan Israel.

~Winda, IM1~

Sejenak Hening

Judul buku              : Sejenak Hening
Penulis                    : Adjie Silarus
Tebal buku              : 310 halaman
Penerbit                   : Metagraf


Awalnya saya hanya iseng mengambil buku bersampul putih ini di toko buku. Tampilannya yang bersih dan cantik membuat saya memutuskan untuk membawanya pulang.

Misi penulis sudah dikemukakan sejak awal melalui sub judul "menjalani setiap hari dalam hidup dengan sadar, sederhana, dan bahagia". Uniknya, penulis bermain dengan analogi yang sederhana dan mudah dipahami, serta menuangkannya dalam bentuk 43 artikel pendek. Setiap artikel dilengkapi dengan foto-foto cantik yang meski hitam-putih, mampu menguatkan visualisasi pesan dalam buku ini.

"Sejenak hening" mengajak kita untuk hidup dengan penuh kesadaran, menjadi pribadi yang stabil secara emosi, mampu menciptakan kebahagiaan dalam diri sendiri saat ini juga, tanpa perlu menunda-nunda munculnya kebahagiaan itu.

Resume hari ini inshaallah baru menceritakan sebagian isi buku, karena saya baru menamatkan 10 artikel pertama dalam buku ini :)

Diawali dengan "menutup jendela", mas adjie mengajak kita untuk mengambil alih sepenuhnya kesadaran kita, bahwa kita harus bisa menyaring hal-hal positif dari lingkungan. Sebaliknya, hal-hal buruk yang akan mempengaruhi pikiran dan perasaan harus dihalangi dengan analogi "menutup jendela" jiwa. 

"Menikmati momen sekarang" merupakan tips berikutnya untuk bisa merasakan bahagia dengan kesadaran penuh. Setiap hal yang kita alami saat ini, harus bisa dijalani dengan sepenuh hati. Dicontohkan, ketika bekerja keras mencapai cita-cita, adakalanya kita lupa mensyukurinya. Lupa menikmati setiap prosesnya. Momen sekarang yang kita pilih untuk tidak kita nikmati itu menjadi salah satu "penundaan kebahagiaan". Bayangan untuk menjadi bahagia kadang muncul ketika kita sedang berada dalam keadaan tertekan, banyak kesibukan, atau diamanahi banyak pekerjaan. Padahal seharusnya bahagia itu sederhana. Dengan memutuskan "menjadi bahagia" alih-alih "ingin menjadi bahagia", kita sudah satu langkah lebih dekat dengan kebahagiaan.

Ingat dengan kalimat "bahagia itu ada pada setiap hati yang bersyukur"? Bersyukur dengan keadaan dan apa yang kita miliki saat ini juga merupakan hal lain yang mampu memantik perasaan bahagia. Cara lain untuk bahagia adalah "melatih senyum". Mengawali hari dengan senyum tidak hanya membuat kita makin berpikir positif, bahkan orang lain yang melihat akan ikut bahagia. Senyum itu menular. Demikian halnya stress. Oleh sebab itu, ketika stress melanda, kita diharapkan untuk bisa terbuka pada orang lain (bukan mengeluh), sehingga orang lain lebih "aware" dan tidak ikut tertular.

Terakhir, sebagai bentuk pertahanan diri terhadap pengaruh buruk dari luar, kita perlu melengkapi diri dengan "sepatu baja" yang bisa dibawa ke mana-mana. Bukannya dengan melapisi jalanan berlubang dan berduri dengan karpet empuk. Maksudnya, kita harus menguatkan mental dan pikiran kita sehingga tak mudah terpengaruh aura negatif dari orang lain. Seperti halnya "menutup jendela jiwa", kendali atas diri kita sepenuhnya berada di tangan kita sendiri.

Sebelum mengakhiri resume hari ini, saya ingin menyampaikan kutipan dari salah satu drama korea favorit saya dulu:

"Ada dua macam kebahagiaan. Yang pertama, saat menjalani suatu hari dengan biasa-biasa saja, dan baru menyadari beberapa saat setelahnya bahwa kita bahagia. Yang kedua, saat kita sadar pada saat itu juga bahwa kita bahagia. Kebahagiaan yang kedua adalah yang berharga".

Keputusan untuk bahagia dan menikmati setiap saat dalam hidup dengan penuh kesadaran (untuk bahagia), bagi saya, itulah yang paling berharga :)

~yusnita_IM1~

Senin, 12 Januari 2015

Hebron Journal

Judul buku       : Journal Hebron
Pengarang        :  Arthur G. Gish
Penerbit           : Mizan
Tebal buku      : 548 halaman

Penulis bernama Arthur G. Gish, seorang aktivis perdamaian dari Amerika yang melawan kekejaman Israel di Palestina dengan jalan cinta dan anti kekerasan, dalam pengantar yang disampaikan oleh Putut  Widjarnoko bahwa Art panggilan Arthur beliau adalah pejuang perdamaian yang Kaffah. Art tergabung dalam organisasi CPT (Christian Paecemaker Teams) sejak 1995, mengunjungi mesir tiap musim dingin sekitar tiga bulan, hingga tahun 2008 sebanyak 13 kali ke Palestina, istrinya pun anggota dari CPT tapi aktif di Irak. Art dan istrinya tinggal di Athens dengan rumah yang sangat sederhana, menggunakan pertanian organik tanpa pupuk kimia untuk penyubur dan membuat pupuk kompos bahkan ketika ada acara di Islamic center menghadiri acara akan selalu mebawa kaleng-kaleng untuk mengumpulkan tulang-tulang, sisa makanan untuk dijadikan pupuk kompos, membawa piring dan gelas sendiri karena tidak mau menggunakan styrofoam, bahkan menjilat piringnya untuk memastikan tidak ada makanan yang tersisa, gaya hidup zuhud kaum sufi, seorang humanis yang prihatin kepada nasib orang-orang tertindas. Bahkan tak tanggung-tanggung menghadang tank Israel yang berniat menghancurkan pasar  orang Palestina hingga moncong tank berhenti beberapa centimeter di depan mukanya. Inilah gambaran yang diperlihatkan pada sampulnya.
Tujuan dari CPT salah satu poinnya untuk mempelajari, berbicara dengan semua pihak yang terlibat dalam konflik, bertindak sebagai pengamat Internasional, mengawasi apa yang terjadi, melaporkan apa yang dilihat. Rekonsiliasi dapat terjadi hanya setelah segala ketidakadilan diakui. Aksi langsung anti kekerasan sering dibutuhkan untuk mengungkapkan terjadinya penindasan karena sering sulit bagi baik para korban maupun penindas. Salah satu alat yang bagus digunakan dengan mediasi namun ketika kedua belah pihak tidak berhasil maka dibutuhkan aksi langsung anti kekerasan.
Buku ini terdapat lima Jurnal, dimulai dari 16 Desember 1995 – 21 Januari 1996, 28 Januari – 21 Maret 1997, 29 Januari – 8 Maret 1999, 16 Desember 1999 – 15 Februari 2000, 13 Desember 2000 – 31 Januari 2001, karena buku ini ditulis pada yahun 2001 hingga dituliskan pun hanya sampai tahun 2001.
Buku membawa kita berada di tengah perang di Hebron, kota kecil yang dihuni sekitar 120.000 penduduk, mayoritas Muslim, yang awalnya kaum Yahudi dan muslim hidup berdampingan namun akibat Zionis yang diikuti besarnya gelombang kedatangan warga Yahudi ke Palestina, berkembang sebagai anti semitisme di eropa dan Amerika Utara, sebagai hasrat agar Yahudi hidup merdeka seperti sedia kala.
Awal keberadaan Art dan kawan-kawan di Hebron 16 Desember 1995, demikianlah yang mereka lakukan, berinteraksi dengan penduduk, berjalan-jalan kesana kemari bahkan menjadi alasan kepada penduduk disana bahwa hobby mereka adalah jalan-jalan ketika dipertanyakan pasposrt, berdiskusi dengan tentara Israel, melakukan perlawanan-perlawanan, bahkan melakukan perlawanan terhadap bocah-bocah pemukim (Israel) ikut terlibat dalam pergolakan pemukim dengan warga Palestina, ikut berdiskusi dengan tentara, HAMAS, lebih sering mengunjungi rumah ke rumah sambil mendengarkan cerita para yang tidak terlihat olehnya ketika pembantaian, perang ataupun bom-bom meledak, rumah-rumah digusur, penghinaan, cacian. Ada jalan-jalan utama yang tidak boleh dilalui oleh warga Palestina. Kehati-hatian dalam melakukan tindakan hingga kaum pemukim tidak mengusir Art dan kawan-kawan dari Hebron tetap dipertahankan, sudah menjadi hal biasa ketika pemukim tidak menyukai kedatangan CPT di Hebron, walaupun CPT berada di Hebron bukan hanya untuk membela warga Palestina.  Jika penasaran silahkan dibaca J



sumber gambar: indrailjas.blogspot.com