Rabu, 15 Februari 2017

Anak-Anak Angin

Buku ini saya pinjam dari teman, tertarik dengan covernya dan ringkasan yang ada di sampul bagian belakang. Terdapat peta indonesia diantara kedua sampul yang bertuliskan "Dari Jakarta ke Halmahera Selatan". Buku ini karya kak Bayu yang merupakan cerita perjalanan beliau selama mengabdi mengikuti kegiatan Indonesia Mengajar yang didirikan oleh Bp Anies Baswedan. Dari awal untuk mengikuti kegiatan IM selain modal tekat yang kuat serta seleksi yang ketat pun dengan keluarga juga harus rela melepas anaknya untuk pergi mengabdi di pelosok negeri. Hal ini menjadi salah satu tantangan kak Bayu, pertama kali Ayah beliau tidak setuju/keberatan kak Bayu mengabdi mengikuti kegiatan IM, dengan modal nekat beliau pun berangkat ke Halmahera Selatan. 

Jangan di bayangkan pendidikan disana sebaik di pulau jawa, tp jangan pula di kira gedung" sekolah disana seburuk yang ada di berita-berita. Bahkan gedung sekolah pun memadai, dan layak lebih baik dari pada sekolahan yang ad di pedalaman pulau jawa (pedalaman banten). Tetapi benar saja sekolah disana tidak sama dengan di Jawa yang terlihat nyata perbedaanya adalah kualitas pendidikan, baik dari murid-muridnya maupun pengajarnya (guru). 

Di kisahkan mas Bayu di tempatkan menjadi wali murid kelas 3, disana dia mendapati kondisi yang sulit, bagaimana tidak anak-anak kelas 3 belum bisa apa-apa, berhitung ataupun membaca. Ini adalah salah satu tantangan yang dihadapi mas Bayu, lalu tantangan yang lainnya adalah sikap dan perilaku anak-anak disana, jangankan bertingkah baik, sopan santun pun sepertinya tidak di ajarkan oleh orang tuanya. Meludah di kelas, tak memperhatikan guru, kaki di atas meja itu yang sering anak-anak lakukan saat guru sedang menerangkan pelajaran di depan. Dari tantangan tersebut mas Bayu kemudian memulai dengan aturan-aturan yang diterapkan untuk menjadikan baik kelas tersebut. Bagaimana pelajaran bisa di lakukan, bagaimana ilmu bisa didapatkan jika anak-anak sendiri pun tak bersemangat dalam sekolah, dan sekolah hanya menjadi rutinitas biasa saja tanpa ada semangat dalam menjalankannya. Oh ya.. Tidak hanya anak-anak saja yang berfikir seperti itu bahkan orang tua mereka pun juga memiliki pikiran yang sama, tak jarang murid-murid mas Bayu banyak absen karena mereka di minta membantu orang tua untuk bekerja di ladang, di pantai membantu mencari rezeki. Sering anak-anak selepas istirahat tidak kembali lagi ke sekolahan melainkan pulang ke rumah atau bermain. Begitulah kondisi masyarakat di Bibinoi, maka tak heran jika anak kelas 3, 4 bahkan 6 pun ada yang belum bisa membaca dengan lancar. 

Pendidikan di Halmahera bukan seperti di pulau jawa, bukan dengan menggunakan kelembutan melainkan dengan kekerasan pun tak apa. Untuk pertama kalinya kak Bayu mengajar dengan tangan berbicara,, yupss.. Maksudnya karena tak bisa lagi menahan emosi dengan kebandelan anak kelas 4, akhirnya pipi anak laki-laki kelas 4 tersebut panas oleh tamparan tangan kak Bayu. 

Bukan orang jawa namanya jika melakukan hal itu tak menyesal, begitulah yang dialami kak Bayu, ia merasa bersalah karena tak sanggup menahan emosinya. Tapi beda halnya denga guru yang lain, bukan tangan lagi senjata mereka tetapi rotan. Guru-guru yang lain biasa menghukum anak-anak dengan melakukan tindak kekerasan, dengan memecutkan rotan pada bagian bawah kaki anak-anak. Tapi jangan pula berfikir orang tua mereka akan mengadukan masalah itu ke komnas perlindungan anak, atau guru-guru akan di penjara, atau anak-anak akan berhenti pergi ke sekolah. Tidak semuanya, anak-anak akan tetap dengan biasanya, mereka sudah dididik dengan cara yang keras, baik dari keluarga dan di sekolah, hingga kak Bayu menyadari hukuman fisik tak mampu membuat mereka berubah, yang perlu di rubah adalah kesadaran hati, dan menghukum dengan melalui hati. Untuk tamparan ke 2 kak bayu gunakan pada anak kelas 4 juga dengan beda guru, hal ini dilakukan atas permintaan ibu Guru untuk membantu merubah si anak. Kak Bayu sebelumnya meminta maaf pada sang anak lalu Tamparan pun mendarat di pipi sang anak, air mata pun menetes di pipi sang anak, kemudian dengan lembut kak Bayu memohon maaf dan menasehati dari hati ke hati, dengan dekapan sang guru muda itu akhirnya keesokan hari anak tersebut berubah 180°. Yeh... Sukses bukan dengan cara yang lembut. 

Dalam bukunya kak Bayu menyampaikan "Berdedikasi selalu memberikan kepuasan yang tak pernah bisa dibayar dengan uang. Tak bisa ditakar dengan apa pun. Dedikasi datang dari dalam diri dan hanya kita sendiri yang mampu menimbangnya. Sejauh mana kita memberikan hati sepenuhnya pada apa yang kita pilih dan jalani." Guru di Bibinoi belum semua PNS, ada beberapa guru yang hanya mendapatkan bayaran 150rb, jauh dari kata layak apalagi tak rutin setiap bulan datang, bisa jadi selama 3bln sekali baru dibayarkan, tapi bagaimana lagi begitu kondisinya. Dengan jumlah hanya beberapa orang, 7 orang ditambah kak Bayu itu masih sangat kurang terlebih jika ada guru yang harus rapat di kecamatan, yang harus ditempuh dengan perahu dan di sesuaikan kondisi laut, bisa-bisa 2-3 hr kelas tanpa guru karena sang guru sendang pergi tak jua segera kembali. Untuk anak kelas 4, 5, dan 6 yang belum bisa membaca, kak Bayu berkata 

"Tidak ada murid yang bodoh di dunia ini, yang ada hanya guru yang buruk, yang tak mampu menaikkan dan mengembangkan potensi anak didiknya. Setiap murid pasti punya kelebihan masing-masing. Tinggal pintar-pintarnya guru mencari celah bagaimana mengasah kemampuan mereka. Bagaimana membuat mereka menganggap belajar adalah hal yang membawa keceriaan."

 "Belajar adalah kebutuhan. Ketika murid sudah merasa ingin pintar, maka guru berhasil dalam satu poin. Merealisasikan mereka menjadi pintar tentu poin yang berbeda." ~Menjadi pintar bukanlah pilihan satu-satunya, tetapi menjadi baik dan berguna adalah kewajiban kita

sekian... Terimakasih

Judul : Anak Anak Angin 
penulis : Bayu Adi Persada 
hlm : 266 
peresume: Eko Yasin 


0 komentar: