Minggu, 05 April 2015

Ayah ada, ayah tiada



Judul               : Ayah ada, ayah tiada
Penulis             : Irwan Rinaldi
Jenis                : Kumpulan puisi
Penerbit           : AyahPres
Tahun terbit     : 2011




Tidak kurang dari satu jam untuk menamatkan buku ini, tapi butuh berjam-jam hingga berhari-hari untuk dapat memahami makna dari kumpulan puisi yang ditulis seorang ayah yang sehari-hari memang aktif berkegiatan di bidang keAyahan.
Buku ini seolah mewakili suara hati anak-anak tentang peran ayah dalam kesehariannya.
Ayah, aku selalu rindu,
Tapi mungkin kau tak tahu,
Tak menyadari dan tak
Memahaminya....”
Masih ada jutaan anak di negeri ini, yang berayah secara fisik, namun tak berayah secara psikologis. Setiap kata yang tertuang dalam suara hati anak-anak dalam buku ini, adalah kerinduan mereka tentang ayahnya.
Ayah, lebih dari para pencari nafkah. Ayah, sepatutnya “hidup” dalam setiap detik waktu yang dilalui anak-anak, pagi, siang, dan malam, tak tergantikan. Kehadiran ayah seutuhnya dimasa kanak, akan menjadi salah satu penentu masa depan mereka.
Seperti potongan bait dalam puisi berjudul “kehilangan”
Aku kehilangan,
Tapi tak tahu apa yang hilang
Aku kehilangan
di setiap berangkat sekolah....”
Barangkali ini adalah salah satu puncak episode suara hati anak-anak terhadap peran ayahnya. Puncak kehampaan dalam hidup mereka selama dua puluh empat jam. Berayah ada berayah tiada. Anak-anak berpamitan kepada ayahnya secara khusu’ karena anak-anak tahu persis bahwa mereka akan berpisah dengan ayahya berjam-jam lamanya.
Namun sayangnya, prosesi perpisahan pagi hari bagi para sebagian ayah bukanlah moment penting. Ketika bersalaman atau berpamitan, kadang sang ayah hanya sekedar memberikan tangan saja tanpa memberikanpandangan mata. Kadang para ayah sambil memainkan telepon genggam, membaca koran dan sejenisnya. Sehingga anak-anak hanya mendapatkan ayahnya secara fisik tapi tidak ada secara psikologis.
Seringkali para ayah tidak tahu seperti apa komunikasi yang dipakai ketika bersama anak-anak di pagi hari. Kesibukan dan dikejar-kejar waktu membuat para ayah menjadikan kebersamaan dengan anak-anak di pagi hari berlangsung seperti bursa efek. Semua bicara semua bergerak tapi tidak saling menyambung.
Pertemuan singkat dengan anak anak tidak ‘disambi’ dengan kegiatan lain seperti terima telepon atau sejenisnya. Hindari membuat komunikasi yang menyudutkan, mencerca, menjebak dan lainnya.
NB: Untuk para ayah dan calon ayah, peran dan tokoh keayaahan diluar rumah dan luar sekolah sekarang ini menjadi sesuatu yang langka. Orang-orang dewasa serta fasilitas umum biasanya tidak banyak berpihak kepada anak-anak. Namun pasti ada  keadaan atau momen yang masih berkesan bagi anak-anak. Momen tersebut tidak akan bermakna andai ayah tidak melakukan sharing dengan anak-anak. Hal ini bisa dilakukan ketika pulang kerja, makan malam, kerjakan PR bersama atau menjelang tidur... Semoga menginspirasi J

Bogor, 26 Januari 2015
Nurjanah
Indonesia Membaca 3

0 komentar: