Senin, 27 Februari 2017

#sharing

Mungkin ada yang sudah tau atau pernah mendengar siapa itu Handry Satriago? Beliau saat ini adalah CEO GE (General Electric). Hampir seluruh isi buku ini base on experience beliau. Kontennya tentang motivasi dan inspirasi, baik itu untuk skala pribadi, hubungan sosial, ataupun leadership. Uniknya, buku ini sebenarnya merupakan hasil tweet beliau di medsos twitter, karena itu pula diberi judul sharing dengan ada hastag didepannya. Pasalnya, beliau memiliki prinsip bahwa sharing knowledge dan experience tidak hanya bermanfaat untuk orang yang mendapat sharing tersebut, tapi juga untuk yang men-sharing sesuatu. Karena dengan sharing seseorang menjalani proses belajar dan mengajar sekaligus. Buku ini ringan dibaca, bahasanya lugas tak berbelit, apalagi setiap point sharing diberi nomor, tidak dalam paragraph-paragraf.
Bagian pertama yang saya baca yakni tentang perjalanan hidup. Bab ini lebih seperti penguatan dan pembangunan pondasi mental ketika menghadapi masalah. Hastag pertama yang disharing yaitu #kursiroda. Beliau (Handry Satriago) memang lumpuh sejak 27 tahun silam, saat masih dibangku sekolah. Bagi kebanyakan orang mungkin akan sangat depresi dengan keadaan tersebut, apalagi notabene tidak berasal dari keluarga kaya. Tapi pilihan cara menghadapi masalah itulah yang akhirnya membentuk mental seseorang. Kata beliau, orang lumpuh dengan kursi roda, pilihannya cuma 2, jabanin-keluar rumah, atau terima nasib dirumah aja. Dan kedua pilihan tersebut tak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Jadi kalo memilih terima nasib dirumah aja, ruginya ada dua, sudah di kursi roda, tak pula bisa melihat dunia. Intinya sich facing reality, apapun masalahnya, hadapi dan nikmati. Karena setiap kesulitan yang diberikan selalu satu paket dengan kemudahan, asal diikhtiarkan.
Dalam sharing ini, Handry juga tak lupa menggambarkan sosok-sosok yang berperan penting dalam kehidupan beliau. Tak lain seperti ibu, ayah dan para sahabat. Jangan anggap kesuksesan yang diraih sekarang karena turunan dari orang tua yang kaya, sama sekali tidak. Tapi tak lain dari didikan luhur keduanya. Sang ayah yang selalu mengajarkan untuk terus berjuang menggapai impian “grow no matter what”, diajarkan dengan keras/tegas dan no excuse. Sementara sang ibu yang mengajarkan tentang penerimaan “accepting” apapun yang sedang dihadapi, dijalani dan dinikmati dengan penuh rasa syukur. Bagi Handry, gabungan keduanya “grow” dan “accepting” memberikan efek yang dahsyat bahkan hingga sekarang saat menjadi leader. Keduanya menjadi penyeimbang dan memunculkan kebijaksanaan dalam bersikap. Tak hanya peran orang tua, namun juga teman-teman serta orang disekitar yang bersikap care saat beliau membutuhkan pertolongan.

Namun diatas itu semua, ada hal yang sangat penting yaitu berserah diri kepada Tuhan. Bagi sebagian besar orang, berserah diri atau pasrah sering disalahartikan sebagai langkah pasif. Namun sebenarnya, itu merupakan proses aktif, proses yang tak hanya menunggu hasil, proses yang tak hanya semata dijalani dengan doa. Salah satu kutipan menarik, saya berterima kasih pada Tuhan, bahwa setelah 26 tahun “melawan”, saya sadar kursi roda ini memberikan lebih banyak dari yang diambil dari saya. Akhirnya, memang tak ada celah untuk membuat kita tidak bersyukur, yakin bahwa jalan yang diberikan oleh Tuhan adalah jalan yang terbaik untuk kita lalui.

Judul               : #sharing
Penulis             : Handry Satriago
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku      : 422 hal

0 komentar: