Selasa, 28 Februari 2017

Perempuan di Titik Nol

Tragis. Kata kata itu yang keluar dari pikiran saya selepas membaca novel dengan tebal 150 halaman ini. Tragis ketika saya mulai memikirkan tentang dunia yang notabene di era modern ini sering terjadi permasalah pertentangan gender. Tragis ketika saya mulai memikirkan betapa banyak kasus kekerasan dan pelecahan seksual yang terjadi kepada anak-anak kecil di bawah umur.

Saya bersyukur terlahir menjadi islam yang sangat meninggikan derajat kaum perempuan, saya juga bersyukur menjadi rakyat Indonesia yang mana kebudayaannya sangat menghormati perempuan. Tapi, banyak pula yang menganggap bahwa perempuan itu lemah, tidak bisa menjadi pemimpin. Manis awalnya saja saat pertama menikah seterusnya sepah di buang. Perempuan seperti mahluk tak berdaya di bawah laki-laki hidung belang. Allah, maaf jika saya terbawa emosi. Saya sendiri termasuk perempuan yang setuju jika pemimpin itu laki-laki sedangkan perempuan memimpin di rumah, membaca novel ini saya jadi teringat entah di daerah mana di Indonesia masih ada perbudakan perempuan, anak kecil dikawinkan dengan lelaki yang sudah beristri bahkan istri yang masih mengandung pun jika anak dalam kandungannya sudah ‘dibayar’ lunas oleh lelaki berduit setelah siap ‘dibuahi’ lelaki itu bisa mengambil dan memeliharanya di rumah. Allah, padahal Indonesia sudah merdeka 59 tahun lamanya.

Seperti halnya saat saya membaca novel ini, emosi saya seperti teraduk-aduk, antara membenarkan dan tidak membenarkan. Membenarkan bahwa mayoritas lelaki memiliki kebobrokan jiwa, sehingga tak jarang kita sering mendengar pelecehan-pelecehan yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Tidak membenarkan karena banyak perkataan tokoh pertama ini bahwa “Pelacur yang sangat rendah adalah seorang istri di bawah suaminya.” Naudzubilah, saya mengerti kenapa tokoh utama berkata seperti itu.

Lansung saja ini kisah tentang seorang pelacur bernama firdaus, seorang pelacur yang divonis hukuman gantung karena telah membunuh seorang laki-laki. Dari balik sel penjara firdaus menceritakan bagaimana lika-likunya di kehidupan, dari sejak ia masih menjadi gadis di sebuah desa terpencil sampai menjadi pelacur kelas atas di kota Kairo Mesir.

Nawal El-Saadawi adalah seorang dokter bangsa mesir, ia menulis kisah ini berdasarkan kisah nyata di balik sel penjara wanita. Sebagai seorang ahli psikolog dan dokter ia penasaran dengan kehidupan-kehidupan wanita di balik sel pejara. Terutama tentang Firdaus. Firdaus sama sekali tidak mau bertemu dengan siapapun, bahkan kehadiran Nawal di penjara tidak ia hiraukan. Firdaus adalah satu satunya perempuan di dalam tahanan sel yang tidak pernah mau ditemui siapapun. Ia  mendukung kematiannya yang tinggal beberapa hari lagi. Ia malah sangat gembira akan kabar hukumannya dan menolak grasi dari presiden yang diusulkan oleh nawal. Sang dokter penjara.

“betapapun suksesnya seorang pelacur, dia tidak pernah dapat mengenal semua lelaki, akan tetapi semua lelaki yang saya kenal, tiap orang diantara meereka telah mengobarkan dalam diri saya satu hasrat saja. Untuk mengangkat tangan saya dan menghantamkannya ke muka mereka . Akan tetapi karena saya seorang perempuan saya tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Dan karena saya seorang pelacur, saya sembunyikan rasa takut saya di bawah lapis-lapis solekan muka saya.”

Itu adalah salah satu cuplikan firdaus saat menceritakan kisahnya kepada dokter penjara. Sejak kecil Firdaus tidak pernah mengenal ibunya. Ia dibesarkan oleh ibu tiri dan ayah kandungnya, Firdaus selalu bertanya hal yang sama di mana  ibunya? Tetapi ibu tirinya selalu memukulnya dan bilang “Ibumu seorang pelacur!” tentu bagi anak seusianya dia tidak mengerti apa itu pelacur. Firdaus selalu di asingkan tetapi dia memiliki teman laki-laki tapi ah, saya sangat miris menceritakannya. Saya jadi berfikir jika nanti saya punya anak akan selalu saya awasi anak saya bermain dengan temannya. Kalian akan terkejut jika mambacanya. Teman laki-lakinya mengajak firdaus bermain permainan suami istri. Allah. Dan yang sangat menyakiti saya ketika pamannya sendiri melakukan hal yang sama terhadap Firdaus. Allah. Mengerikan. Firdaus tidak pernah tahu apa-apa, namanya juga anak kecil pasti kalau dibujug dan diiming-imingi sesuatu pasti mau. dia tidak tahu perbuatan itu salah atau tidak,  karena keduaorangtuanya tidak memperdulikan Firdaus. Yang Firdaus tau perbuatan yang dilakukan teman dan pamannya memang membuatnya sakit tapi itu mengasyikkan baginya. Allah.

Dan hal itu berlangsung sampai besar! Sampai pamannya sudah beristri! Ketika  besar firdaus di jual oleh pamannya kepada seorang yang sudah beristri! firdaus selalu disiksa, dipukul! Sampai akhirnya Firdaus kabur tetapi dalam kaburnya ia malah bertemu seorang germo. Dari situlah Firdaus mengetahui tentang dirinya yang begitu cantik dan gemulai. Dari situlah ia mulai mengerti tentang bayaran mahal dan sebagainya.

Semenjak Firdaus kabur dari germo itu, dan mulai bisnis sendiri ia melayani laki-laki dengan tarif yang super duper mahal, ia juga mempunyai syarat untuk lelaki yang ingin bersamanya. Hingga ia menjadi pelacur kelas atas di Kairo Mesir.

Apakah Firdaus tidak ingin hidup normal seperti remaja lain? Atau apakah firdaus tidak ingin mengenal cinta? Apakah firdaus pernah jatuh cinta dan ingin bekerja? Atau apakah ia tidak mau mengambil langkah benar untuk dirinya sendiri? Apakah ia tidak mau menjadi suci? Siapa sebenarnya yang dibunuh firdaus?  itu semua akan terjawab jika anda membacanya.

Ada banyak pelajaran yand dapat dipetik, ini tentang bagaimana kita mendidik anak di masa kecilnya, edukasi pelajaran tentang agama antara hubungan laki-laki dan perempuan harus diterapkan penting untuk anak-anak kita. Saya sangat prihatin karena banyak kasus hamil diluar nikah zaman sekarang ini.  Karena bukanlah hal keren jika anak anak kita sudah hamil di luar nikah. Naudzubilah. Satu hal yang pasti tentang kisah Firdaus ini bahwa ia memang sudah dididik dari kecil seperti ini, dari mulai orangtua, paman, teman sampai ia dijadikan istri kedua. Saya salut kepada Nawal El Saadawi yang sangat berani menulis buku ini, meski karena hal ini dirinya pernah dipenjara karena memperjuangkan hak hak wanita.  Sekian..

Judul                : Perempuan Di Titik Nol
Penulis             : Nawal El Saadawi
Penerbit           : Yayasan Obor Indonesia
Tebal               : 150 Halaman
Cetakan           : kesepuluh

Peresume         : Nur Arfah

0 komentar: