Rabu, 15 Februari 2017

Burlian

Dia anak lelaki, anak ke 3 dari empat bersaudara, ia memiliki kakak perempuan yang sering di panggil ayuk Eli dan kakak laki-laki nya Pukat, dia punya adek perempuan yang bernama Amelia, Ia duduk di SD kelas 4, cerita dalam buku ini menggambarkan kehidupan Burlian dan keluarga jauh di daerah pedesaan, pedalaman pulau Sumatera. Ayah dan Mamak Burlian dekerja sebagai petani dan berladang (berkebun), begitu juga warga desa lainya, mereka menggolah lahan kopi, karet, durian, dan tanaman lainnya.

Kisah dalam buku ini diceritakan pada masa lampau tahun dimana belum ada listrik, belum ada jalan beraspal, belum ada telepon, sudah ada tv dengan layar hitam putih dengan ukuran 14 inci yang dimiliki ayah Burlian, dan biasanya setiap malam di lihat warga sekampung, dengan menggenakan sarung dan selimut, duduk manis di depan layar bergerombol warga sekampung duduk manis di depan tv, dengan sesekali dan lebih sering menggomentari tayangan yang ada. Tentu chanel tv nya tidak sebanyak sekarang, dulu paling mendominasi adalah TVRI, tontonan yang paling seru adalah Piala Dunia dimana sekaligus sebagai ajang taruhan (berjudi) nampaknya masih ada sampai sekarang budaya ini haha..

Burlian tinggal di desa jauh dari dunia kota, meskipun ada Stasiun alat transportasi buatan Belanda yang digunakan untuk menggangkut batu bara dan transportasi umum untuk mencapai kota. Jangan bayangkan seperti saat ini dengan mudahnya transportasi umum, tapi perlu di sadari masih banyak daerah terpencil yang belum tersentuh pembangunan, terutama daerah pedalaman Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Irian Papua, bersyukurlah kita yang tinggal di kota, tapi kalian harus iri dengan kehidupan orang desa yang hidupnya menggandalkan alam.

Burlian dan warga kampung biasanya mandi di sungai, mandi pagi sebelum berangkat ke sekolah dan mandi sore setelah beraktifitas, tentu air yang jernih dan bersih, masih banyak ikan dan udang yang sering di sajikan Mamak untuk lauk makan. Berangkat ke sekolah dengan jalan kaki dengan menghirup segarnya udara pedesaan, bagaimana tidak masih terlalu banyak hutan dan kebun dibandingkan perkotaan yang lebih banyak asap dan suara bising lainnya, disini juga ada suara bising yaitu suara dari binatang binatang hutan, jika kalian pernah ke puncak tentu kalian akan mendengarnya.

Warga desa berladang setiap hari, dan dari ladang itulah mereka mencukupi kebutuhan sehari hari. Saat libur sekolah Burlian sering diajak pamanya untuk pergi ke hutan menunggu durian jatuh, ya panen durian yang terbaik adalah dengan menunggu buahnya jatuh sendiri, buah yang masak dengan tangkai nya yang sudah lapuk, dan tak kuasa lagi menahan berat badanya maka seketika itu ia akan menjatuhkan diri buuuggg... bahagialah mereka yang menunggu sang raja buah yang telah masak dan jatuh. Burlian dan paman menunggu di pondok sederhana biasanya bisa ditunggu seharian full, dan buah durian akan jatuh saat matahari mulai meninggi, saat satu buah jatuh jangan segera diambil karena akan berbahaya, satu jatuh masih ada kemungkinan buah lainnya akan jatuh pula, so.. berbahaya buat kepala kita beradu dengan Raja buah itu.

Burlian masih SD begitu juga dengan ayuk Eli dan kak Pukat yang beberapa tahun di atasnya, dengan kehidupan desa jauh dari kota tentu fasilitas yang ada sangat minim, jangan dikira meskipun di pedesaan semangat sekolah akan surut, meskipun beberapa anak dan keluarga juga demikian, mereka menganggap cukup dengan bisa membaca maka usailah sudah sekolah mereka. Biasanya setelah nak kelas 5 orang tua yang tidak memperdulikan pendidikan lebih memilih anak mereka pergi ke ladang membantu orang tua dari pada kesekolah, dipikiran mereka buat apa sekolah tinggi tinggi toh nanti kerja di kebun. Eitsss... tolidak demikian dengan keluarga Burlian dan masih banyak keluarga yang perduli pendidikan lainnya. pernah sekali Burlian dan Kak Pukat bolos dari sekolah untuk pergi ke ladang mencari belalang, hal ini ternyata dinketahui Mamak. keesokan harinya Mamak mengajak mereka berladang mencari kayu bakar, Burlian dan kak Pukat senang mendengar perintah mamak karena lebih menyenangkan ke Ladang dari pada sekolah, alhasil seharian penuh mereka bolak balik Rumah - Ladang dengan membawa keranjang di punggung dan diisi banyak kayu bakar, dari awalnya senang menjadi penyesalan karena dikira hanya sekali menggambil selesai, ternyata sampai gudang kayu bakar di rumah cukup untuk persediaan berbulan bulan, mereka berhenti selepas Maghrib. Setelah selesai semua pekerjaan mereka sadar pentingnya sekolah dibanding hanya berkebun saja, Malam itu pun mereka tidur lelap saking capeknya, dan saat pagi mereka merasa tidur baru sebentar kenapa sudah pagi saja ? eitss ada perintah mamak untuk berladang saja tak usah sekolah, seketika mereka berteriak "Aku mau sekolah saja.,, masih bisa bermain sama teman dari pada berladang lebih capek". begitulah pengajaran Mamak terhadap anak anaknya yang lebih memilih bermain di ladang dari pada sekolah, begitulah penjelasan Mamak pada anak anaknya akan pebtingnya sekolah dan ilmu. 

Ada kisah haru menjalani kehidupan di pelosok desa, mulai dari fasilitas yang menggenaskan, guru yang hanya ada 3 atau 2 orang, lebih sering 2 orang dan harus menggajar 6 kelas, jangan kau tanya bagaimana mutu dan kualitasnya pendidikannya, karena mereka guru honorer yang puluhan tahun belum diangkat PNS karena kalah saing dengan uang haha.. sekarang juga masih sepertinya.. kalian bisa membaca kisah haru tentang sekolah Burlian, dari sekolah ambruk dan menewaskan teman kembarnya, bantuan buku dan sahabat Burlian yang merelakan nyawanya demi Burlian.

Sebelum mengakhiri resume, Karena Burlian tinggal di pedesaan dan bisa dikatakan di tengah hutan maka masih banyak di temui buah Cimpedak, buahnya seperti nangka tapi bentuk lebih kecil, bulat dan panjang, dan baunya dari jarak puluhan meter pun tercium saat sudah masak atau sudah jatuh ke tanah, kisah di dalam buku ini sungguh mengasikan, terutama peresume sendiri masa kecilnya memang seperti kisah Burlian, jadi bisa benar benar merasakan bagaimana kondisi kehidupan di pelosok, kehidupan dekat dengan hutan, kehidupan jauh dari kemoderenan jaman, kehidupan dengan fasilitas sekolah yang minim, dan tentunya kehidupan dengan penuh bahagia.

Kan kau dapati kisah Burlian saat akan dimakan buaya, kisah Burlian mengintip Putri Mandi (rusa yang terjaga kelestariannya), burlian bertemu orang Jepang, Burlian bertemu menteri dan kisah menarik lainnya... silahkan di baca sendiri untuk lebih lengkapnya.

Judul : Burlian
Penulis : Tere Liye
Jml Halaman : 339
Penerbit : Republika
Peresume : Eko Yasin



0 komentar: