Rabu, 15 Februari 2017

Sekolah untuk Kehidupan

Membincangkan masalah pendidikan seolah tidak ada habisnya. Begitu pula dengan buku ini yang mengupas kegelisahan tentang pendidikan di Indonesia. Sebuah kecemasan, pendidikan yang belum berhasil mencetak produk yang sesuai dengan nilai-nilai pendidikan itu sendiri. Begitu luhur nilai-nilai yang diajarkan di sekolah. Dulu orang Indonesia terkenal dengan sifat ramah, santun, saling menghormati satu sama lain, jujur, peduli tiba-tiba menjadi orang yang beringas, suka menghujat, dan saling menyakiti. Orang yang dikenal jujur, religius, dan dihormati tiba-tiba diberitakan terlibat perbuatan yang melanggar hukum. Produk pendidikan yang kontraproduktif bagi dunia pendidikan itu sendiri.
Dengan berani, penulis buku ini , yang merupakan anggota tim Pengembang Kurikulum 2013 Kemendikbud memaparkan kurikulum pendidikan belum memfasilitasi sekolah, guru, dan siswa untuk mendapatkan bekal di masa depan. Dunia pendidikan di rasa makin jauh dari makna hakiki pendidikan yang sesungguhnya.  Bukan salah guru, bukan salah sekolah, atau bukan salah siswa. Melainkan sistem pendidikan yang masuh amburadul. Tidak selaras dengan pendidikan bagi manusia.
Sekolah adalah masa-masa persiapan untuk menghadapi kehidupan di dunia nyata. Maka, segala sesuatu yang dipelajarinya haruslah sesuatu yang akan dialami kelak. Apakah sekolah sudah melakukan semua itu? Apakah sekolah membelajarkan segala sesuatu untuk persiapan anak hidup di masa depan?
Buku ini terbagi dalam empat bagian. Bagian pertama, memuat kondisi pendidikan Indonesia. Bagian kedua, pengalaman penulis dalam kegiatan pendidikan. Ketiga, koreksi sistem pendidikan. Keempat, paradigma guru dan sekolah.
Penulis mengupas beberapa kesalahan bangun rancang pada sistem pendidikan kita.
Kenaifan Tes IQ
Tidak ada satu alatpun yang mampu mengukur kemampuan otak manusia. Kemampuan otak, positifnya tidak terbatas, negatifnya pun juga tidak terbatas. Itu pernyataan John Dewey ketika ditanya terhadap tes IQ.
Melalui sebuah alat tes yang kita buat, kita berani mengatakan bahwa hanya sedikit manusia yang istimewa. Dan inilah manusia yang memiliki derajat lebih tinggi daripada yang lain. Bergaul dengan sesama. Hari-harinya hanya diisi dengan latihan dan latihan menjawab soal. Mereka istimewa. Dan orang-orang diluar mereka, tidak istimewa.
Tes IQ membuat penyamarataan kemampuan manusia yang sejatinya berbeda-beda. Memandang manusia cerdas dalam satu bingkai kemampuan.

Rangking yang Mematikan
Semua orang tua mendorong anaknya untuk menjadi nomor satu di kelasnya. Menggunakan nilai rata-rata sebagai dasar merangking anak sama dengan meracuni dan membunuh mereka secara perlahan. Sifat humanis makin lama makin hilang. Lama kelamaan, hati mereka akan tertutup. Padahal setiap anak berbeda. Kemampuan dan bakatnya berbeda. Bisakah membandingkan rambutan dengan mangga? Padahal bentuk dan kandungannya berbeda. Harganya pun berbeda, tergantung trend selera. Perbandingan untuk buah saja tidak mungkin dilakukan. Apalagi, manusia. Karena manusia itu unik.
Perangkingan memberikan peluang pada satu anak. Meskipun sistem ini seolah-olah memberikan peluang kepada semua anak. Toh, hanya satu yang akan mendapatkan satu jenis rangking itu.

Sekolah Unggulan
Di negeri ini, sepertinya, orang lumpuh harus belajar dengan sesama orang lumpuh. Orang miskin harta dan miskin prestasi harus mencari sekolah pinggiran yang diasuh oleh guru yang seadanya. Di negeri ini pula, untuk mendapatkan layanan pendidikan yang baik, kita harus menjadi pintar dulu. Untuk diterima di sekolah unggulan, hanya mereka yang pintar akademis saja. Sekolah unggul, hanya menerima anak-anak unggul saja.
Sesuai pengalaman pendidikan penulis yang berlatar belakang di ranah Minang yang identik dengan pendidikan di surau, alam buku ini kita akan menemukan petuah-petuah bijak dari para orang tua kita. Beberapa dalam bahasa Minang.
Indak do kusuik nan ndak salasai, indak karuah nan ndak bisa dijaniahkan (semua kusut bisa diselesaikan dan semua keruh dapat dijernihkan). Batenggang di banang sahalai (buktikan bahwa kamu mampu melewati sehelai benang yang hampir putus). Jika kamu berhasil melewati kawat baja yang super kuat, kamu tidak perlu bangga karena siapapun bisa melakukannya. Disinilah perbedaan derajat manusia, sukses dengan melewati rintangan. Berbeda dengan sukses yang dikondisikan. Alam takambang jadi guru (tau kan artinya..hehe..). karajo nan bapokok, silang nan bapangka (usaha didasari niat yang tulus, dan setiap persoalan pasti ada penyebabnya) atau jiko tasasek, kembali ka pangka (jika tersesat, kembali ke hakikatnya). Pepatah yang memiliki kedalaman makna.
Segala kesemrawutan pendidikan bukan tidak ada solusinya. Kemauan memperbaiki sistem pendidikan terus dilakukan banyak pihak. Gagasan tentang sekolah harus diperbaiki. Sistem yang ada, melahirkan hasil yang ada. Jika diinginkan hasil yang lain, sistem harus diubah. Beberapa langkah perubahannya diungkapkan dalam buku ini. Menjadi solusi untuk memperbaiki sistem pendidikan kita.
Makna pendidikan adalah membantu anak untuk berkemauan keras dalam memilih arah jalan hidupnya sendiri (Engku Sjafei). Pendidikan diartikan sebagai pelayanan terhadap individu agar berkembang secara maksimal sesuai dengan potensi masing-masing. Setiap anak berkembag dari kekuatan yang bersumber pada potensi dalam dirinya. Bukan karena diberi. Proses belajar haruslah sesuai dengan kemampuan siswa. Belajar merupakan proses merdeka yang melepaskan siswa dari kungkungan sistem pendidikan yang diinginkan pemerintah.

Judul Buku          : Sekolah untuk Kehidupan
Penulis                : Zulfikri Anas
Penerbit               : AMP Pres dan Pustaka Bina Putera
Tahun                  : 2013
Jumlah hal           : 226 halaman

Peresume             : Supadilah


0 komentar: