Rabu, 15 Februari 2017

Psikologi Pengantin

Jangan pernah mencintai seseorang yang tidak mencintai Allah. Jika Allah saja ditinggalkan, apalagi hanya seorang dirimu?
(Imam Syafi'i)

Buku ini mengurai secara singkat berbagai kesulitan yang muncul di tahun-tahun awal pernikahan. Pun dapat memperkaya khazanah keilmuan siapapun yang telah menikah di atas jangka waktu sepuluh tahun.

Permasalahan yang diangkat dalam buku ini diambil dari penelitian psikologi dan ilmu sosial lainnya. Dengan solusi yang ditawarkan adalah menggunakan pendekatan agama dan keilmuan.

Per-ni-kah-an
Betapa indahnya pernikahan.
Tahun pertama demikian manis dicecap. Air mata tumpah dipundaknya. Tawa merekah bersamanya. Walau di saku dompet hanya tersisa receh, ada saja kebahagiaan menanti.
Namun,
Iyakah pernikahan hanya berisi manis dan terang benderang?

Ternyata tidak.

Pernikahan membuka seluruh jati diri pasangan dan jati diri kita pribadi. Dalam kejujuran hari-hari tanpa topeng, terlihat dia tak segagah raja di pelaminan. Dalam keseharian, dia tak seanggun ratu di pesta pernikahan. Kecewa, marah, jengkel, gusar, lelah, sedih, segala macam rasa negatif muncul bergantian. Bahkan sebagian menyimpan bertumpuk tumpuk pikiran untuk diledakkan suatu saat.

Buku ini hadir dan berusaha mengupayakan solusi-solusi dalam pernikahan. Terdiri dari tiga bab pembahasan: pre-wedding, honeymoon and sex, dan post wedding.

Tidak banyak pembahasan dalam buku ini. Namun cukup detail dalam menguraikan permasalahan yang hadir dalam kehidupan pernikahan. Dibahas dari pemilihan jodoh, permasalahan dengan keluarga, karier dan rencana masa depan, mahar, pernak-pernik pernikahan beserta biayanya, pendidikan seks, rumah tinggal setelah menikah, anak, sampai me-time saat berumah tangga.

Ada bagian yang paling saya suka dibuku ini: Saat hidup membutuhkan petualangan. Dan pernikahan seharusnya menjadi ajang kebersamaan untuk menuntaskan masalah masing-masing pihak. Lalu disini dijelaskan tentang saling memahami dan mendukung antara satu dengan yang lainnya. Sehingga tidak ada keegoisan semata diantara keduanya.

Ada pula penjelasan tentang masa depan disertai contoh nyata. Yang ternyata semua hal mengenai pernikahan harus dipersiapkan dengan perencanaan masa depan.

Termasuk permasalahan manajemen keuangan. Yang ternyata masalah ini menduduki peringkat pertama dalam permasalahan rumah tangga. Oleh karena itu, masalah keuangan sesungguhnya harus terbuka sejak awal pernikahan. Dan kejujuran, keterbukaan, komitmen, serta berbagi tanggung jawab harus mewarnai sepasang suami istri.

Pun ada pula stabilisator. Penjelasan permasalahan suami istri saat masalah-masalah kehidupan itu hadir. Yang bahkan masalah sepele bisa jadi boomerang kehidupan rumah tangga jika tak mampu menyelesaikannya.

"Lelaki menikah, berharap pasangannya tak pernah berubah. Perempuan menikah, berharap pasangannya tidak pernah berubah. Sayangnya, kedua belah pihak pasti kecewa."
(Albert Einstein)


Judul buku: Psikologi Pengantin
Penulis: Sinta Yudisia
Penerbit: Indiva
Jumlah hal: 200

Peresume: Amrina Anggrarini


0 komentar: