Selasa, 28 Februari 2017

Sehari Di Kediaman Rasulullah

Mayoritas kaum muslimin pada hari ini terjebak diantara dua sikap yang kontradikrif terhadap Rasulullah, ada yang berlebih lebihan terhadap Beliau bahkan sampai terseret ke dalam perbuatab syirik dan ada pula yang memandang remeh kedudukan Beliau sebagai utusan Allah SWT.

Buku kecil ini hadir sebagai upaya memperkenalkan biografi dan seluk beluk kehidupan Rasulullah. Kehidupan Rasulullah SAW adalah sebagai penuh tauladan bagi umat, acuan dakwah sekaligus peduman hidup. “ Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung”(Al-Qalam:4).

Kita akan mengadakan kunjungan istimewa, mengunjungi Rasulullah SAW di rumah beliau melalui untaian kata dan kalimat. Seiring dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan, banyak literatur-literatur yang dibaca kaum muslimin, mereka dapat dengan mudah mengunjungi Timur dan Barat melalui buku-buku, tulisan-tulisan dan film. Penulis mengingatkan kita akan kunjungan syar’i ke rumah Rasulullah SAW dari pada mereka.

Rasulullah SAW sendiri menegaskan bahwa mencintai beliau termasuk salah satu sebab mendapat manisnya iman. Perjalanan menuju rumah Rasulullah SAW merupakan sebuah perjalanan yang sarat ibrah dan pelajaran, penuh teladan yaitu perjalanan melalui kitab-kitab dan riwayat-riwayat dari lisan para sahabat.

Rasulullah menetap di kota Mekkah selama lebih kurang sepuluh tahun setelah itu hijrah ke Madinah. Mengunjungi kota Madinah, maka akan terlihat gunung Uhud yang dikatakan Rasulullah SAW “ ini adalah gunung yang mencintai kami, dan kamipun mencintainya (Muttafaq ‘alaih).

sebelum memasuki kediaman Rasulullah SAW, sejenak kita melihat bangunannya. Sebuah bangunan kecil yang sangat sederhana yang sangat zuhud terhadap dunia. Beliau tidak menoleh pandangan pada kemewahan dan gemerlapan harta benda dunia. Yang menjadi penyejuk mata hati beliau hanyalah ibadah sholat.

‘ Aku tak tertarik dengan dunia! Kehadiranku di dunia hanyalah bagaikan seorang pengendara  yang tengah berjalan di panas terik matahari, lalu berteduh di bawah naungan pohon beberapa saat, kemudian segera pergi dan meninggalkannya (untuk kembali melanjutkan perjalanan). (HR. At Tirmidzi).

Saat memasuki rumah beliau, terlihat kamar-kamar yang sederhana, dibangun dari pelepah kurma dan polesan tanah, sebagian lagi dengan batu yang di tata sedemikian rupa. Langit- langit rumah tersebut dapat dijangkau dengan tangan. Kesederhanaan itu penuh dengan cahaya keimanan dan ketaatan dengan wahyu dan risalah ilahi.

Sahabat yang melihat langsung Rasulullah SAW menceritakan agar kita seolah-olah melihat beliau. Al-Bara bin Azib menuturkan” nabi adalah seorang yang sangat tampan wajahnya, sangat bagus postur tubuhnya, beliau tidak jangkung dan tidak pula pendek.” (diriwayatkan oleh al-  Bukhari).

Beliau adalah seorang yang rendah hati lagi lemah lembut. Kepedulian beliau terhadap umat ialah dengan memperhatikan tingkatan intelektualitas dan pemahaman mereka di dalam berkomunikasi, hal itu menunjukkan beliau adala seorang yang sangat penyantun lagi sabar.

Rasulullah SAW biasa minum dengan sebuah gelas terbuat dari kayu yang tebal dan disepuh denga besi. Dengan gelas itu Rasulullah biasa meminum air, Nabidz, madu dan susu.

Beliau juga sangat setia menjaga hubungan tali silaturrahim dengan karib kerabat. Khadihah melukiskan sifat beliau dengan ucapannya “ Engkau adalah seorang yang suka menyambung tali silaturrahim dan selalu berkata jujur”. Betapa besarnya kecintaan Rasulullah kepada karib kerabatnya, beliau mendakwahi, membimbing, serta menyelamatkan mereka dari api neraka. Beliau begitu tabah dalam menghadapi segala macam kesulitan untuk itu. Saat berusia 7 tahun beliau menziarahi makam ibunya.

Aktivitas Rasulullah SAW, tidak ada satu perkarapun yang melalaikan Rasulullah dari beribadah dan berbuat ketaatan. Beliau segera menyambut seruan adzan dan meninggalkan segala aktivitas duniawi.

Dalam aktivitas terhadap makanan, beliau memakan apa yang disajikan, beliau tidak menolak makanan yang dihidangkan dan tidak mencari-cari apa yang tidak tersedia.

Rasulullah adalah seorang yang banyak berdoa, memohon dan menunjukkan ketergantungan kepada Allah. Beliau senantiasa berdoa dalam keadaan lapangmaupun sempit. Saat perang Badar, beliau berdoa kepada Alla SWThingga selendang beliau jatuh dari kedua pundaknya.

Dipenghujung kunjungan, Rasulullah  SAW memiliki hak yang wajib ditunaikan untuknya. Supaya menyempurnakan kebaikan yang kita peroleh.

Perpisahan, kita akan bertolak meninggalkan rumah yang dibangun di atas pilar-pilar iman dan ketaatan. Tinggalllah sunnah Rasulullah SAW dalam genggaman kita, sebagai rambu kehidupan yang menghendaki keselamatan dan sebagai pedoman bagi yang menghendaki hidayah.

Judul buku: Sehari Di Kediaman Rasulullah
Penulis: Abdul Malik Bin Muhammad Al-Qasim
Penerbit: Darul Haq
Halaman: 126
Peresume: Belia Laksmi Masril
24 Februari 2017


0 komentar: